Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Setelah janji pernikahan terucap dan status mereka sah di mata Tuhan serta hukum, malam itu Asterion Grand Hotel berubah menjadi lautan cahaya.
Ballroom yang siang tadi sunyi kini dipenuhi para tamu penting,rekan bisnis, pemimpin perusahaan, hingga sosok-sosok berpengaruh yang namanya jarang muncul di media. Musik orkestra mengalun lembut, berpadu dengan kilau lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit.
Xerra melangkah masuk di sisi Evans.
Gaun krem yang dikenakannya jatuh sempurna, membentuk lekuk tubuhnya dengan anggun tanpa berlebihan. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, tiara kecil berkilau di antara helaian rambutnya. Di leher jenjangnya, kalung berinisial E memantulkan cahaya.
Evans melirik ke samping.
“Kau membuat semua orang lupa caranya bernapas.”
Xerra menoleh, menahan senyum.
“Om berlebihan.”
Evans mendekat sedikit, suaranya rendah.
“Tidak. Aku hanya jujur.”
Beberapa tamu menunduk hormat saat Evans melintas. Tatapan mereka beralih pada Xerra penasaran, kagum, dan sebagian… tidak senang.
Di sudut ballroom, seorang wanita dengan gaun merah marun menatap Xerra tanpa berkedip.
Dona.
Tangannya mengepal di balik clutch mahal.
“Jadi itu dia,” gumamnya pada rekan di sampingnya. “Gadis yang membuat Evans Pattinson menikah.”
Evans berhenti sejenak, menerima ucapan selamat dari seorang mitra bisnis.
“Selamat, Tuan Pattinson. Istri Anda luar biasa.”
Evans mengangguk singkat.
“Aku tahu.”
Xerra terkejut dengan jawaban itu, lalu berbisik,
“Om, banyak yang melihat…”
Evans menoleh padanya, tatapannya tenang tapi protektif.
“Biarkan. Kau istriku.”
Kata itu membuat dada Xerra menghangat. Tangannya tanpa sadar menggenggam lengan Evans lebih erat.
Tak lama, musik berubah. Lampu meredup perlahan, menyisakan cahaya lembut di tengah ballroom.
MC mengumumkan,
“Mohon perhatian. Tarian pertama pasangan pengantin.”
Evans mengulurkan tangan.
“Mau?”
Xerra menatap tangan itu sejenak, lalu mengangguk.
“Iya.”
Mereka melangkah ke tengah lantai dansa. Musik mengalun pelan, romantis.
Evans menarik Xerra mendekat, satu tangannya bertengger di pinggangnya, satu lagi menggenggam tangan kecil itu.
“Kau gugup,” katanya.
Xerra tersenyum kecil.
“Sedikit.”
“Lihat aku saja,” ucap Evans. “Lupakan yang lain.”
Xerra menuruti. Di mata pria itu, ballroom seolah menghilang.
Di sekeliling mereka, bisik-bisik terdengar.
“Dia tampak begitu muda…” “Beruntung sekali…” “Evans terlihat berbeda…”
Dona memalingkan wajah, rahangnya mengeras.
Saat musik mencapai nada terakhir, Evans berhenti. Ia menatap Xerra dalam-dalam.
“Aku bangga padamu,” katanya pelan.
“Kenapa?” tanya Xerra.
“Karena kau berdiri di sini tanpa gentar.”
Xerra tersenyum, matanya berkaca-kaca.
“Karena Om ada di sampingku.”
Evans tidak menjawab. Ia hanya menunduk sedikit dan mengecup bibir Xerra dengan lembut,cukup lama untuk membuat seluruh ruangan terdiam, cukup singkat untuk tetap elegan.
Tepuk tangan membahana.
Wajah Xerra memerah,Ia kemudian menyembunyikan wajahnya di dada Evans.
“Semua orang melihat…”
Evans terkekeh pelan.
“Biarkan. Aku suka mereka tahu kau milikku.”
Di kejauhan, Maxim dan Melanie menyaksikan dengan wajah penuh perhitungan.
Sementara Liona menggigit bibirnya, menahan rasa iri yang tak mampu ia sembunyikan.
Dan di tengah gemerlap malam itu, Xerra menyadari satu hal
Ia bukan lagi gadis yang mudah disingkirkan.
Ia adalah istri Evans Pattinson.
Malam semakin larut ketika resepsi berakhir.
Ballroom Asterion Grand Hotel kembali sunyi, menyisakan jejak cahaya dan bunga yang perlahan layu. Para tamu terakhir telah berpamitan, meninggalkan pasangan pengantin itu pada dunia mereka sendiri.
Suite pengantin berada di lantai tertinggi hotel.
Pintu tertutup pelan di belakang mereka.
Klik.
Suara kecil itu membuat Xerra terdiam sejenak. Ia berdiri di tengah ruangan luas bernuansa hangat,lampu temaram, tirai putih bergoyang pelan tertiup angin malam London, dan ranjang besar yang tertata rapi dengan kelopak mawar.
Evans melepas jasnya perlahan, lalu menoleh.
“Kau lelah?” tanyanya.
Xerra mengangguk kecil. “Sedikit… tapi lebih ke gugup.”
Evans mendekat, langkahnya tenang, tidak tergesa. Ia berhenti di hadapan Xerra, menatapnya sejenak seolah memastikan sesuatu.
“Kau aman,” katanya pelan. “Di sini. Denganku.”
Kata-kata itu membuat bahu Xerra yang tegang perlahan mengendur.
Evans mengangkat tangannya, membantu melepas tiara kecil dari rambut Xerra dengan sangat hati-hati, seakan benda rapuh itu adalah bagian dari dirinya.
“Kalau berat, bilang,” ujarnya.
Xerra tersenyum tipis. “Om selalu bicara seperti itu.”
“Karena aku tidak ingin kau merasa terpaksa,” jawab Evans jujur.
Ia lalu membantu membuka kait kalung berinisial E di leher Xerra, tapi tidak langsung mengambilnya. Evans justru membiarkan liontin itu jatuh kembali ke dada Xerra.
“Biarkan,” katanya. “Aku suka melihatnya di lehermu.”
Xerra menunduk, hatinya menghangat.
Mereka duduk berdampingan di tepi ranjang. Tidak ada kata-kata berlebihan. Hanya keheningan yang tidak canggung,keheningan yang penuh makna.
Xerra akhirnya bersuara, suaranya nyaris berbisik.
“Om… aku tidak menyangka hidupku bisa sampai di titik ini.”
Evans menoleh. “Titik yang mana?”
“Dicintai. Dipilih. Diperjuangkan,” jawab Xerra jujur.
Evans terdiam sejenak. Lalu tangannya terangkat, mengusap pipi Xerra dengan ibu jari.
“Aku tidak pernah merencanakan pernikahan,” katanya pelan. “Hidupku terlalu gelap untuk itu.”
Xerra menatapnya. “Lalu kenapa Om memilihku?”
Evans menunduk sedikit, dahinya hampir menyentuh dahi Xerra.
“Karena kau tidak pernah takut padaku,” jawabnya. “Dan karena kau tetap berdiri… meski dunia berkali-kali mencoba menjatuhkanmu.”
Xerra memeluk Evans lebih dulu.
Pelukan itu erat, jujur, tanpa ragu.
Hati Evans tersentuh pelukan itu bukan permintaan perlindungan, melainkan kepercayaan penuh.
Tangannya terangkat membalas pelukan itu, satu tangan mengusap punggung Xerra, satu lagi mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.
“Kau istriku sekarang,” bisiknya. “Dan aku akan menjagamu. Dengan caraku.”
Xerra mengangguk di dadanya. “Aku tahu.”
Malam itu mereka tidak berbicara banyak.
Mereka hanya saling mengenal dalam diam,dalam sentuhan sederhana, napas yang menyatu, dan rasa aman yang selama ini asing bagi keduanya.
Di sisi lain kota, di sebuah kamar hotel lain, Maxim dan Melanie duduk saling berhadapan.
“Dia benar-benar menikah dengan Evans Pattinson,” gumam Melanie dengan mata berkilat penuh ambisi.
Maxim menyeringai tipis. “Itu berarti kita punya jalan masuk.”
“Kita harus memanfaatkannya,” lanjut Melanie. “Xerra sekarang istrinya. Itu posisi yang tidak bisa kita abaikan.”
Maxim mengangguk pelan. “Tenang saja. Selama dia darah keluarga Collins… kita akan selalu punya cara.”
Namun malam itu, di lantai tertinggi Asterion Grand Hotel, Xerra tidak memikirkan mereka.
Ia tertidur dalam pelukan Evans.
Tidur dalam damai dan tenang.