NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Di pusat desa, berdiri sebuah rumah megah milik kepala desa. Dibangun dari kayu ulin yang kokoh dan beratapkan genting tanah liat, bangunan itu menjulang sebagai lambang kemakmuran kontras mencolok di tengah deretan gubuk-gubuk sederhana yang mengelilinginya.

Kediaman itu nyaris tak pernah sepi. Setiap hari, berbagai kalangan datang silih berganti: warga desa, para pekerja, hingga petani yang berbondong-bondong menyerahkan hasil panen mereka. Semua hasil itu nantinya akan dijual kembali ke kota Mandala.

Namun hari ini terasa berbeda.

Kemarau panjang yang melanda telah mengganggu sistem irigasi yang selama ini menjadi andalan warga. Di bawah terik matahari yang menyengat, lahan pertanian mengering lebih cepat dari biasanya, membuat hasil panen kali ini jauh dari harapan.

Tirta bersama beberapa pekerja kasarnya, tampak memanggul karung-karung berisi padi di atas bahu mereka. Suasana hening sejenak, sebelum sebuah suara berat memecah keheningan.

“Arya Jaya, ini adalah hasil panen di ladangku selama beberapa bulan terakhir. Mungkin tak sebanyak tahun sebelumnya, tapi tetap cukup untuk memenuhi kewajiban. Mohon Anda menerimanya.”

Nada suaranya terdengar sopan, namun sarat dengan keluhan.

Tirta Wardana, salah satu tokoh terpandang di Desa Batu Sungai. Dari pakaian rapi dan kain mahal yang membalut tubuhnya, jelas terlihat bahwa ia hidup dalam kecukupan.

Tepat setelah kalimat itu keluar, pintu utama balai desa terbuka.

Seorang pria paruh baya melangkah keluar. Wajahnya tegas, sorot matanya tenang namun penuh wibawa. Ia mengenakan pakaian sederhana yang bersih, dengan ikat kepala kain hitam... tanda kedudukannya sebagai pemimpin desa.

Ia adalah Arya Jaya.

Sosok yang dihormati karena kebijaksanaan dan ketegasannya. Banyak yang tahu, pria ini bukan orang yang mudah digoyahkan, bahkan oleh tekanan dari orang seperti Tirta Wardana.

Arya Jaya berhenti beberapa langkah di depan mereka. Tangannya terlipat di belakang punggung, pandangannya menelusuri karung-karung padi sebelum beralih pada Tirta.

“Tirta,” katanya singkat.

“Panenmu tetap dihargai, meski hasilnya menurun. Tapi aku harap kau tidak menyerahkannya sekadar sebagai formalitas.”

Ia dapat menangkap keengganan yang tersembunyi di balik sorot mata Tirta, keberatan yang tak diucapkan, namun jelas terasa.

Di Desa Batu Sungai, setiap tuan tanah dengan ladang luas diwajibkan menjual sebagian hasil panennya kepada pihak desa. Aturan itu dibuat untuk mencegah monopoli, menghindari penimbunan pangan, membayar kewajiban kepada kerajaan, serta membangun cadangan logistik saat krisis melanda.

Namun di musim kemarau seperti ini, kewajiban yang paling masuk akal sekalipun bisa terasa menyesakkan.

“Aku hanya menjalankan kewajibanku, Arya,” jawab Tirta tenang.

“Tak lebih, tak kurang. Jika hasil panen menurun, kau tentu tahu alasannya. Kemarau panjang, serta gangguan binatang buas yang belakangan makin agresif. Tidak ada seorang pun yang bisa mengatasi semuanya sekaligus.”

Arya Jaya mengangguk pelan. Ia tidak langsung membantah, namun tatapannya seakan menembus lapisan kata-kata Tirta, menangkap makna tersembunyi di balik keluhan halus itu.

“Baik,” katanya akhirnya.

“Aku sudah menyiapkan beberapa kantung keping tembaga untukmu. Surat penerimaan akan disiapkan dalam beberapa hari. Aku akan mengutus seseorang untuk mengantarkannya ke kediamanmu.”

Alis Tirta terangkat sedikit, cukup untuk menunjukkan ketidakpuasan. Namun ekspresi itu segera lenyap, digantikan senyum sopan.

“Tentu. Apa pun demi keadilan dan kesejahteraan desa ini,” katanya ringan.

“Kalau begitu, saya mohon izin mengundurkan diri.”

Tanpa menunggu jawaban, Tirta berbalik. Langkahnya cepat namun terukur. Tangannya terkepal di sisi tubuh, dan saat ia menjauh, sebuah senyum tipis melengkung di wajahnya... bukan senyum kemenangan, melainkan sesuatu yang lebih dalam, seakan menyimpan makna yang hanya ia sendiri pahami.

Arya Jaya menghela napas panjang.

Belakangan ini, beban tanggung jawabnya terasa semakin berat. Panen yang memburuk, keluhan warga yang menumpuk, hingga urusan kayu bakar di hutan... semuanya menuntut perhatian tanpa henti.

Di tengah lamunannya, pandangannya menangkap sosok yang berjalan mendekat dari arah berlawanan.

Jihan.

Pemuda itu melangkah menepi, menyisih dari rombongan Tirta yang kian menjauh. Sekilas, Jihan menangkap ekspresi kesal di wajah pria itu, namun ia tak memikirkannya terlalu jauh. Langkahnya terus berlanjut menuju kepala desa yang masih berada di luar.

“Kepala Desa,” sapanya dengan hormat.

“Ah, Jihan. Kukira kau tak akan datang hari ini,” jawab Arya Jaya.

“Maaf jika kedatanganku terlambat. Aku harus mengurus ibu terlebih dulu.”

“Tak perlu meminta maaf,”

“Sudah berapa kali kubilang, panggil saja ‘Pak Arya’. Tak perlu kaku.”

“Tapi itu—”

“Ini perintah.”

Jihan tersenyum kecil.

“Baik, Pak Arya.”

Arya Jaya menatapnya sejenak. Baginya, Jihan bukan sekadar warga desa. Anak itu telah bekerja keras sejak usia belia, menunjukkan keteguhan hati yang jarang ditemui. Bahkan secara fisik, Jihan mampu menyelesaikan tugas-tugas berat yang semula diragukan banyak orang.

“Kebetulan,” ujar Arya Jaya kemudian.

“Di seberang sungai, di dalam hutan, Joko sudah menebang beberapa pohon. Tapi ia diserang binatang buas dan tak berani kembali.”

Ia terdiam sejenak, ragu. Menyuruh Jihan ke sana sama saja mendorongnya ke bahaya.

Namun sebelum Arya Jaya sempat menarik ucapannya, suara Jihan terdengar lebih dulu, mantap dan penuh keyakinan.

“Jihan akan mengambilnya.”

“Tidak. Itu terlalu berbahaya untukmu.”

“Tak perlu khawatir, Pak Arya. Jihan akan berhati-hati. Jika ada tanda bahaya, aku akan kembali.”

Arya Jaya menatapnya lama, lalu menghela napas.

“Baik. Tapi ingat, jika keadaan tak aman, jangan memaksakan diri. Nyawamu jauh lebih berharga daripada sebatang kayu.”

“Jihan mengerti.”

"Kalu begitu Jihan pamit"

Tepat saat Jihan melangkah, tatapan Arya menyipit memindai tubuh Jihan, dahinya berkerut mencari sesuatu yang seharusnya ada disana, namun nyatanya tidak sama sekali.

"Tunggu!"

Jihan mematung. Lalu berbalik dengan wajah yang masih memancarkan tekad membara.

Kepala desa menghela napas panjang, jarinya menunjuk kearah tangan Jihan yang kosong melompong

"Bocah, bukan hanya fisikmu yang kuat, tapi sekarang sepertinya kamu berencana memotong kayu dengan gigi."

"Eh..."

Jihan tersenyum kaku, wibawa yang tadinya terpancar dari suaranya kini mendadak menguap.

"Sepertinya... semangat Jihan berangkat lebih cepat daripada kapak, Pak."

Arya Jaya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat pemuda yang tadinya tampak sangat meyakinkan itu kini justru terlihat kebingungan.

"Kembalilah ambil peralatanmu digudang desa. Kayu dihutan tidak akan tumbang hanya dengan pukulan bocah berusia 14 tahun!"

Jihan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu membungkuk hormat dengan canggung sebelum balik kanan menjemput peralatan nya yang tertinggal di gudang desa.

1
Ancient
Ayoo jangan lupa tinggalkan likenya🙏 biar author Semangat 🫶
Zhareeva Mumtazah anjazani
Lah jika arya mati siapa yang akan jadi kepala desa selanjutnya?
DownBaby
BENERKAN UNTUK MENYDARKAN JIHAN PERLU PENGORBANAN YANG SETARA JUGA
DownBaby
hell nah novel ini kedepannya bkl penuh tragedi/Sob/
Ar`vinno
apa tuh
Erigo
mungkinkah...
Embun Pagi
Lanjut Thor
DownBaby
JIHAN
Erigo
SERU BANGET THOR LANJUT, KASIHAN AMA JIHAN ASLI DI FITNAH AMA PENDUDUK DESA, KEHILANGAN IBUNYA😭
Ancient: Itulah ujian untuk Jihan hehe
total 1 replies
Erigo
Yah jelas sekali dengan kondisinya sekarag, Jihan menjadi gila🤭
Erigo
Terdengar familiar

"Tuhan telah mati dan kita membunuhnya"
Erigo
bagus Jihan
Erigo
WOI LU KAN YANG NYAMPERIN
Erigo
Makin seru, tapi kasihan Jihan di fitnah mlu😭
Erigo
Thor
Erigo
begitulah manusia
Erigo
👍
Erigo
Apakah bakal jadi guru Jihan?
Djumadi Dudung
orang nglamun kog panjang bnr
Ancient: itu transisi flashback kak
total 1 replies
Erigo
tuh kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!