NovelToon NovelToon
Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

​"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
​Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
​Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
​Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pagi Pertama di Rumah Dinas

Pagi pertama di rumah dinas disambut oleh suara denting logam yang sangat keras serta memekakkan telinga dari arah dapur yang masih sangat gelap. Maya Anindya terbangun dengan sentakan hebat hingga hampir terjatuh dari tempat tidur yang ukurannya sangat sempit untuk dua orang tersebut. Dia mengerjapkan matanya berulang-ulang sambil mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih berceceran di antara rasa lelah yang luar biasa hebat.

"Mengapa Anda sudah membuat keributan di jam yang masih sangat buta seperti ini?" tanya Maya Anindya dengan suara yang sangat serak.

Arga Dirgantara tidak menghentikan kegiatannya melainkan justru terus mengasah sebilah pisau komando dengan gerakan yang sangat bertenaga serta teratur. Cahaya lampu neon yang sedikit berkedip-kedip menerangi wajah tegasnya yang kini dipenuhi oleh butiran keringat dingin akibat menahan rasa sakit pada lukanya. Pria itu menoleh sejenak dengan tatapan mata yang tetap tajam laksana elang yang sedang mengintai mangsanya dari ketinggian.

"Pukul empat pagi adalah waktu bagi seorang prajurit untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi kapan-kapan saja," jawab Arga Dirgantara dengan nada bicara yang sangat datar.

Maya Anindya menarik selimutnya dengan sangat erat karena merasakan hawa dingin yang menusuk tulang-tulang rusuknya di pagi yang sangat sunyi tersebut. Dia menatap punggung tegap suaminya yang hanya tertutup oleh kaus dalam berwarna hitam sementara perban putih di perutnya mulai menunjukkan noda kemerahan yang samar-samar. Rasa cemas kembali merayapi hatinya saat menyadari bahwa kehidupan damainya telah ditukar dengan dunia yang penuh dengan kekerasan serta disiplin yang sangat mencekam.

"Apakah luka Anda sudah mulai membaik atau justru menjadi semakin parah karena Anda tidak mau beristirahat sedikit-pun?" tanya Maya Anindya dengan nada yang mulai menunjukkan rasa peduli.

Lelaki perwira itu meletakkan pisaunya di atas meja kayu yang sudah sangat tua lalu berjalan mendekati istrinya dengan langkah kaki yang sangat tegap serta berwibawa. Dia berlutut di samping tempat tidur sambil meraih pergelangan tangan Maya Anindya untuk memeriksa denyut nadinya dengan sangat teliti serta penuh dengan kehati-hatian. Keheningan yang sangat panjang menyelimuti mereka berdua hingga hanya suara detak jam dinding yang terdengar sangat mendominasi suasana ruangan.

"Luka ini tidak sebanding dengan nyawamu yang harus saya lindungi sampai titik darah yang penghabisan," tegas Arga Dirgantara sambil menatap lurus ke dalam bola mata istrinya.

Maya merasakan wajahnya menjadi sangat panas karena jarak di antara mereka yang sangat dekat hingga dia bisa mencium bau antiseptik yang bercampur dengan aroma tubuh pria tersebut. Dia menyadari bahwa meskipun pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak di atas kertas, namun keberadaan Arga Dirgantara telah menjadi satu-satunya sandarannya saat ini. Namun ketenangan singkat itu mendadak sirna saat pintu depan rumah dinas digedor dengan sangat keras oleh seseorang dari arah luar sana.

"Letnan Satu Arga, segera buka pintu karena komandan ingin melihat laporan rahasiamu sekarang juga!" teriak sebuah suara parau yang sangat asing di telinga Maya.

Gadis remaja itu langsung memucat laksana kertas putih saat melihat suaminya segera meraih senjata api yang selalu tergeletak di samping bantal tidurnya tersebut. Dia melihat Arga Dirgantara memberikan kode isyarat agar dia segera bersembunyi di dalam lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati yang sangat tebal serta berat. Rasa takut yang sangat mendalam mulai menguasai seluruh sel-sel tubuhnya saat dia mendengar suara langkah kaki yang sangat banyak mulai memasuki teras rumah.

"Tetaplah berada di dalam sana dan jangan pernah mengeluarkan suara sekecil-pun meskipun kamu mendengar sesuatu yang sangat buruk terjadi di ruangan ini," bisik Arga Dirgantara sambil menutup pintu lemari dengan sangat rapat.

Melalui celah kecil di antara pintu lemari, Maya Anindya melihat suaminya berdiri tegak di tengah ruangan dengan posisi siap tempur yang sangat mengerikan bagi orang awam. Dia bisa merasakan napasnya sendiri yang menjadi sangat pendek serta tersengal-sengal karena tekanan mental yang sudah tidak tertahankan lagi sejak semalam. Suasana pagi yang seharusnya tenang kini berubah menjadi medan perang yang penuh dengan rahasia serta aroma kopi dan mesiu.

1
muna aprilia
lanjutkan
Ihda Rozi
lanjut
merry
nyiksa ank org kmu ga,, pdhl maya gk salah lohh,, ko berhrp maya truma gt biar nyesel tu si Arga bini msh kecill dihukum kyk bgtt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!