Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Di sisi lain, Alexander duduk di ruang kerjanya yang remang. Lampu meja menyoroti amplop putih di tangannya. Jari-jarinya bergetar halus saat membuka isi surat itu.
“Surat pengunduran diri?” gumamnya, suaranya dingin namun penuh emosi yang sulit ditebak. Rahangnya mengeras, matanya menyipit membaca baris demi baris tulisan Elena.
Dia benar-benar mau kabur dariku.
Alexander menjatuhkan surat itu ke meja, menatap kosong ke layar laptop yang masih menyala. Namun bukan hanya surat itu yang membuat dadanya sesak. Di sebelah surat pengunduran diri, ada hasil tes DNA yang baru ia terima sore tadi.
Alexander menutup matanya sejenak sebelum akhirnya membukanya lagi dan menatap hasil tersebut dengan tatapan sulit percaya.
“Leon… benar-benar darah dagingku.” suaranya bergetar lirih, meski wajahnya tetap terlihat tegas.
Tangannya mengepal. Perasaan marah, kecewa, dan… entah bagaimana juga lega, bercampur jadi satu. Marah karena Elena menyembunyikan ini darinya selama lima tahun. Namun di sisi lain, ada kehangatan yang tak bisa ia tolak, Leon adalah putranya.
Alexander berdiri, langkahnya mondar-mandir di ruang kerja. “Elena…” desisnya dengan nada tajam. “Kau pikir bisa pergi begitu saja? Setelah semua ini? Setelah mencuri anakku dariku?”
Ponselnya ia raih, menekan nomor bawahannya. “Kunci akses ke semua bandara, terminal, pelabuhan. Mulai malam ini. Aku tidak peduli dengan cara apa. Aku tidak akan membiarkan Elena kabur membawa anakku.”
Setelah menutup telepon, Alexander kembali duduk, wajahnya dingin namun matanya menyala penuh tekad.
“Kau tidak bisa kabur dariku, Elena. Leon… dia akan tetap berada di sisiku. Di tempatnya seharusnya.”
Malam itu, jalanan sudah mulai lengang. Mobil hitam Alexander berhenti tepat di depan gedung apartemen sederhana tempat Elena tinggal. Ia keluar dengan langkah mantap, jas hitamnya berayun mengikuti gerakan tubuhnya. Wajahnya tanpa ekspresi, namun matanya menyala penuh amarah dan tekad.
Seorang satpam yang berjaga di lobi berdiri kaku begitu melihatnya. “Tuan… maaf, ini—”
Alexander hanya mengangkat alis, tatapannya dingin menusuk. “Nama Elena. Nomor unit 1205. Berikan akses padaku.”
Satpam itu menelan ludah, tubuhnya gemetar. Dia tahu siapa pria itu, sorot mata pria ini membuat seluruh keberaniannya lenyap. Dengan ragu, ia segera menekan tombol di panel kontrol, memberikan izin akses lift pribadi menuju lantai dua belas.
Tanpa menunggu, Alexander melangkah masuk ke lift. Pintu tertutup dengan bunyi dentingan halus. Tangannya mengepal, suaranya nyaris berbisik namun penuh amarah terpendam.
“Kau benar-benar nekat, Elena. Berani mengundurkan diri… dan berencana kabur dengan anakku.”
Denting lain terdengar. Pintu lift terbuka. Alexander melangkah keluar, lorong sepi hanya diterangi lampu redup. Sepatunya beradu dengan lantai marmer, setiap langkah terasa berat sekaligus penuh wibawa.
Begitu sampai di depan pintu unit Elena, ia tidak perlu repot mengetuk. Kartu akses khusus yang diberikan bawahannya sudah ada di tangannya. Sekejap saja, pintu terbuka dengan bunyi klik lembut.
Alexander masuk.
Ruangan apartemen itu masih terang oleh lampu kecil di ruang tamu. Aroma samar kopi dan sabun cuci piring menyambutnya. Namun yang membuat sorot matanya semakin tajam adalah koper terbuka di atas sofa, dengan pakaian yang setengah terlipat di dalamnya.
Alexander mendekat, jemarinya menyentuh kain kecil milik Leon. Ia memejamkan mata sejenak, hatinya bergejolak antara amarah dan perasaan yang tak ia mengerti.
“Jadi benar, Elena… kau mau melarikan diri dariku.”
Suara langkah kecil tiba-tiba terdengar dari lorong kamar. Alexander menoleh cepat. Di sana, Leon berdiri dengan piyama biru muda, memeluk boneka beruangnya. Wajahnya polos, matanya menatap lurus ke arah pria yang baru saja masuk.
“Paman… kenapa malam-malam ada di sini?” suara Leon terdengar pelan namun tenang.
Alexander terdiam, hatinya bergetar melihat sosok mungil itu. Perlahan ia berjongkok, mencoba menyejajarkan pandangan. Senyum tipis muncul di wajahnya, meski sorot matanya masih dipenuhi badai.
“Papa datang… untuk menjemputmu.”
Leon berkedip, lalu tersenyum samar. Namun di balik senyum polos itu, ada kilatan yang hanya ia sendiri yang tahu.
Leon menatap pria itu dengan wajah polos, meski sorot matanya berkilat tenang. “Paman… eh, Papa, kalau aku ikut, Mama juga harus ikut. Aku tidak mau meninggalkan Mama.”
Alexander mengerutkan kening. “Leon… Papa bisa menjagamu sendiri. Kau tidak perlu khawatir.”
Leon menggeleng pelan, pelukannya pada boneka beruang makin erat. “Tidak. Aku sayang sekali sama Mama. Kalau Papa mau bawa aku, Papa harus bawa Mama juga. Kalau tidak… aku tidak mau pergi.”
Alexander terdiam. Tatapannya melembut sedikit saat melihat wajah anak itu yang begitu yakin dengan ucapannya. Dalam hatinya, ia tidak bisa memungkiri, meski Elena menyembunyikan Leon darinya, namun wanita itu telah merawat anak ini dengan penuh kasih sayang.
“Leon…” Alexander menarik napas dalam, lalu berjongkok agar sejajar dengan anak itu. “Papa tahu Mama berharga bagimu. Papa juga tahu betapa Mama sudah berjuang. Tapi… Mama yang membuat Papa jauh darimu selama ini.”
Leon menatap lurus ke mata Alexander. “Tapi Mama juga yang bikin aku tumbuh bahagia, Papa. Jadi kalau Papa sayang aku… Papa juga harus jaga Mama.”
Alexander terdiam cukup lama. Ucapan polos itu menusuk hatinya lebih dalam daripada seribu tuduhan. Ia mengembuskan napas berat, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah. Kalau itu syaratmu, Leon, Papa terima. Mama akan ikut bersama kita.”
Senyum kecil muncul di wajah Leon. “Terima kasih, Papa.”
Alexander berdiri tegak kembali, sorot matanya berkilat penuh tekad. Ia melangkah ke arah kamar Elena. Pintu sedikit terbuka, menampakkan wanita itu yang tertidur lelap dengan wajah masih terlihat lelah karena tangis.
Alexander mendekat, berdiri di samping ranjang. Tatapannya penuh arti, seolah mencampur aduk marah, kecewa, dan… sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.
“Elena…” bisiknya lirih, hampir hanya terdengar oleh dirinya sendiri. “Kau pikir bisa terus lari dariku. Tapi mulai malam ini… kau tidak punya pilihan lagi.”
Perlahan ia membungkuk, mengulurkan tangan kokohnya dan mengangkat tubuh Elena dengan hati-hati ke dalam gendongan. Elena menggeliat sebentar, namun tidak benar-benar terbangun.
Alexander tersenyum samar, senyum yang berbahaya. “Kau akan mengerti, Elena. Kau milikku… sama seperti Leon adalah milikku.”
Saat ia keluar dari kamar dengan Elena di pelukannya, dua pengawal setia sudah menunggu di ruang tamu. Salah satunya menunduk hormat. “Tuan, mobil sudah siap.”
Alexander mengangguk singkat. “Bawa Leon.”
Pengawal lain berlutut di hadapan Leon, mengulurkan tangan. “Tuan kecil, mari ikut saya.”
Leon menatap pengawal itu sebentar, lalu melihat ke arah ayahnya. “Papa, Mama benar-benar ikut kan?”
Alexander menoleh, menatap putranya dengan sorot tegas. “Ya, Leon. Mama ikut. Papa sudah berjanji padamu.”
Barulah Leon mengangguk pelan, menggenggam tangan pengawal itu. “Baiklah, ayo.”
Mereka berjalan bersama keluar apartemen. Alexander yang menggendong Elena di pelukannya, sementara pengawal menggandeng Leon dengan hati-hati. Lift khusus sudah menunggu, pintunya terbuka begitu mereka mendekat.
Di dalam mobil hitam mewah yang sudah menunggu di depan, Alexander masuk lebih dulu, meletakkan Elena dengan hati-hati di kursi belakang, kepalanya bersandar pada bahunya. Leon masuk setelahnya, duduk di samping ibunya sambil masih memegang boneka beruangnya.
Mobil melaju perlahan menembus malam.
Leon menatap Alexander dari kejauhan. “Papa…”
Alexander menoleh. “Ya, Leon?”
“Aku percaya sama Papa… tapi jangan pernah sakiti Mama.”
Alexander mengerjapkan mata, lalu tersenyum samar. “Papa tidak akan menyakitinya. Mama hanya keras kepala. Tapi cepat atau lambat… Mama akan mengerti.”
Leon menatap ibunya yang tertidur, lalu kembali beralih ke ayahnya. “Aku akan ingat janji Papa.”
Alexander menatap keluar jendela, matanya berkilat penuh tekad. “Dan Papa juga akan menepati janji itu.”
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya