Harap bijak dalam memilih bacaan, sebagian konten ini berunsur dewasa 21+
Demi menyelamatkan panti asuhan yang akan di gusur, Fatimah rela menikah dengan pria setengah baya berusia 50 tahun. Tetapi laki - laki itu sama sekali tak pernah menyentuhnya. Kenapa ? dan ada rahasia apa di balik pernikahannya....
Lalu bagaimana reaksi Glenn Wijaya Liem yang melihat Ayahnya sendiri menikahi wanita yang diam-diam ia cintai sejak tiga tahun yang lalu.... kuy ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu ??
Fatimah melangkahkan kakinya mengikuti Glenn yang berjalan keluar dari kantornya. Sesampainya di parkiran mobilnya, Glenn segera masuk dan duduk di balik kemudi.
Setelah mendengar deru mesin mobil menyala, Fatimah segera membuka pintu belakang dan bergegas masuk. Belum juga mendudukkan dirinya Glenn sudah mencibirnya.
"Apa pria setampan aku cocok menjadi sopir ?" sindir Glenn dengan menatap Fatimah dari balik kaca spion.
Tanpa berkomentar, Fatimah keluar lagi dan menutup kembali pintu mobil tersebut. Setelah itu, ia membuka pintu mobil bagian depan dan segera duduk di sebelahnya Glenn.
Setelah Fatimah duduk di kursinya dan memasang sefty beltnya, Glenn segera melajukan mobilnya menuju restoran di mana mereka akan mengadakan meeting. "Maaf Direktur, apa meetingnya di majukan ?" tanya Fatimah memastikan, karena berkas yang dia kerjakan belum kelar.
"Tidak."
"Lalu kenapa berangkat lebih awal ?" tanya Fatimah ingin tahu.
"Kenapa kamu cerewet sekali sih." bentak Glenn dengan intonasi yang sedikit tinggi.
"Astaghfirullah." batin Fatimah,setelah itu ia lebih memilih untuk menutup mulutnya dari pada kena semprot lagi, sepertinya hari ini bossnya itu lagi moody.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam membisu dengan pikiran masing-masing, sedangkan Glenn sesekali melirik gadis yang duduk di sebelahnya itu.
Sesampainya di restoran Colombia lounge, Glenn segera melangkahkan kakinya menuju tempat meeting yang sudah di reservasi sebelumnya.
"Duduklah dan selesaikan berkas-berkasnya sebelum meeting di mulai." perintah Glenn kemudian.
Fatimah segera mendudukkan dirinya dan mulai berjibaku dengan berkas di tangannya, sedangkan Glenn yang duduk di depannya nampak bermain ponsel.
"Direktur, saya permisi dulu ke belakang." ucap Fatimah setelah menyusun rapi mapnya.
"Jangan lama-lama sebentar lagi meeting di mulai."
"Baik."
Fatimah segera beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju toilet wanita, setelah selesai dengan urusannya ia bergegas keluar tapi baru melangkahkan kakinya dari toilet ia di kejutkan oleh seseorang yang selama ini ia hindari.
"Fatimah ?" Johanes nampak terkejut ketika melihat wanita yang selama ini ia cari.
"Kak Jo." Fatimah terlihat gugup, kenapa juga harus bertemu pria itu lagi. Kalau Glenn melihat pasti akan membuat masalah lagi dengannya.
"Apa kamu bersembunyi di lubang semut, aku mencari mu tapi tidak pernah ketemu ?"
"Untuk apa mencariku, bukannya kita nggak ada urusan apa-apa."
"Tentu saja, aku selalu memikirkan mu."
"Kak ku mohon jangan membuat ku dalam masalah." pinta Fatimah.
"Apa karena laki-laki itu, laki-laki yang sudah menggusur Panti asuhan dimana kamu tinggal sebelumnya ?"
"Dari mana kamu tahu aku tinggal di Panti, kamu tidak berhak mencari tahu kehidupan pribadiku."
"Jadi kamu sudah tahu, kalau tempat tinggal kamu sebelumnya di gusur dan di bangun hotel."
"Bukan urusan kamu." Fatimah segera melangkahkan kakinya pergi.
"Fatimah tunggu, ini kartu namaku hubungi aku jika kamu butuh bantuanku." ujar Johanes.
Setelah menyimpan kartu tersebut Fatimah segera berlalu pergi meninggalkan Johanes yang masih tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Kamu selalu membuatku penasaran." batin Johanes seraya melihat Fatimah yang berjalan semakin jauh meninggalkannya.
Kemudian Fatimah duduk di kursinya kembali, ia terlihat termenung memikirkan kata-kata Johanes tadi. "Kenapa di bangun hotel, bukannya dulu tuan Candra bilang akan di bangun jalan tol. Apa beliau membohongiku, apa alasan sebenarnya, tidak mungkin kan hanya untuk menikahi ku, menganggap ku istri saja enggak, ya meskipun beliau sangat baik padaku ?" Fatimah bertanya-tanya dalam hati.
"Kamu kenapa ?" tanya Glenn ketika melihat Fatimah sedari tadi terlihat melamun.
"Eh, enggak apa-apa." sahut Fatimah datar.
Beberapa saat kemudian meeting dimulai, dari isi pembicaraan tersebut Fatimah bisa menyimpulkan kalau perusahaan tempat di mana ia bekerja sedang membutuhkan banyak furniture untuk hotel terbarunya. Apa itu berarti yang di katakan Johanes benar, pikirnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Fatimah tampak diam membisu sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Bahkan Glenn yang sedari tadi mengajaknya bicara hanya di jawab sekenanya.
"Kamu kenapa ?" tanya Glenn ia terlihat menepikan mobilnya.
"Eh nggak, kenapa berhenti ?"
"Apa ada masalah ?"
"Nggak, hanya capek saja.
"Oh ya sudah." Glenn melajukan mobilnya lagi menembus jalanan yang lumayan macet sore itu, karena jamnya pulang kerja.
Sesampainya di rumah Fatimah bergegas masuk ke dalam karena sore ini dia ada janji dengan Gio untuk mengajarinya mengaji. Meski tuan Candra masih keturunan chinese tapi mendiang istrinya orang jawa.
Sedangkan Fatimah sendiri asli suku Banjar, Kalimantan. Dia lahir dan besar di pulau Kalimantan tapi setelah ibunya meninggal, tuan Candra membawanya ke Jakarta dan menaruhnya di Panti asuhan.
"Kak baru pulang ?" sapa Gio dengan sarung dan songkok di kepalanya ketika melihat Fatimah baru masuk ke dalam rumahnya.
"Tungguin ya, kakak mandi dulu." Fatimah bergegas ke kamarnya.
"Sudah tobat dek ?" ledek Glenn ketika melihat penampilan adiknya itu.
"Gio masih suci jadi buat apa tobat, kakak itu yang perlu tobat di rukiah kalau perlu." celetuk Gio tidak mau kalah.
"Bocah sialan, jangan lari kamu." Glenn mengejar adiknya yang sudah berlari menaiki tangga duluan.
Jessica yang sedang berada di meja makan terlihat sangat geram dengan perubahan saudara-saudaranya yang lebih akrab dengan Fatimah daripada dirinya.
Setelah membersihkan dirinya Fatimah bergegas ke kamar Gio, kamar yang di dominasi warna putih biru itu terlihat sangat rapi memang sepertinya anak-anak tuan Candra sangat menyukai kerapihan.
"Assalamualaikum." sapa Fatimah.
"Walaikumsalam kak." sahut Gio.
"Nggak apa nih kita belajar di kamar, biasanya kan di luar kalau kakak bantu ngerjain PR."
"Di sini saja Kak, Gio malu."
"Kamu punya malu juga ?" ledek Fatimah.
"Gio malas di ledek sama kak Glenn, kalau Gio masih iqro'." sahut laki-laki yang baru menginjak kelas 3 sekolah menengah pertama itu.
"Memangnya kak Glenn bisa ngaji ?"
"Dia paling jago kak, tapi ngajinya pas ke makam Mama saja."
"Oh, jadi dia jago ngaji." batin Fatimah.
"Ya sudah ayo, udah wudhu kan ?"
"Sudah kak."
Setelah belajar ngaji, seperti biasa Fatimah selalu membantu memeriksa pekerjaan rumah Gio, Ketulusan Fatimah itu yang membuat Gio yang tadinya dingin dan cuek sekarang sangat akrab dengannya.
"Kak." tegur Gio ketika dia baru merapikan bukunya.
"Apa ?"
"Apa kakak mencintai Papa ?"
"Hah." Fatimah terkejut kenapa tiba-tiba Gio menanyakan hal itu.
"Apa kakak mencintai Papa ?"
"Hmmm, kakak sayang Papa dan juga kalian semua."
"Tapi sepertinya Papa tidak mencintai kakak."
"Astaghfirullah, nih bocah kenapa bisa bilang gitu sih." batin Fatimah.
"Sudah anak kecil tidak boleh ikut campur urusan orang dewasa."
"Maaf kak, tapi kakak harus tahu ini meski kakak akan sakit hati." ucap Gio sambil membuka laci nakasnya.
"Ini, Gio menemukan di laci meja kerjanya Papa tidak hanya satu tapi banyak." Gio menyerahkan selembar Foto pada Fatimah.
"Ibu." batin Fatimah dalam hati ia menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat di dalam foto tersebut.