seorang wanita dari Negara Asia, memutuskan untuk berlibur ke Negara terpencil di bagian timur tengah, hanya untuk bisa melupakan Mantan pacarnya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Yang dia pikir hanya akan mendapatkan pengalaman baru, tapi ternyata malah menemukan pasangan hidupnya, seorang pria pemilik kafe.
Walau begitu, wanita dari Asia itu tidak mengetahui bahwa pria tersebut, merupakan seorang penerus atau Pangeran mahkota di negara itu.
bisa dikatakan, di buang batu jalanan, malah dapat pengganti batu zamrud di negara asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Ashan membawa Tiffany ke dalam kamarnya, kamar utama. Di sana, ia menurunkan Tiffany tepat di atas kasur.
"Ashan!? Apa yang ingin kamu lakukan? Apa yang ingin kamu buktikan?" teriak Tiffany sambil menjaga tubuhnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, sayang? Tunggu di sini, saya ingin menunjukkan sesuatu kepadamu," seru Ashan, bergegas ke sebuah lemari meja dan mengeluarkan sesuatu.
Setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan, ia langsung membawanya ke hadapan Tiffany. Benda itu berbentuk kotak kayu dengan ukuran sedang.
Dengan cepat, ia pun duduk di samping Tiffany, sambil tersenyum ia memberikan kotak tersebut kepada Tiffany.
Tiffany pun memandang kotak dan wajah Ashan dengan kebingungan. "Apa ini, Ashan?" tanya Tiffany.
"Bukalah," pinta Ashan.
Karena didorong dengan rasa penasaran juga, Tiffany pun patuh. Perlahan-lahan dan hati-hati, ia membuka kotak tersebut.
Terlihat di sana ada sebuah gulungan kertas dan satu kotak kecil berisikan cincin emas, yang memili permata terindah yang tidak pernah di lihat Tiffany selama hidupnya.
"Apa maksud semua ini, Ashan?" Ashan hanya terdiam saat ditanya terus-terusan oleh Tiffany. Ia hanya mengambil gulungan kertas tersebut dari dalam kotak dan memperlihatkannya kepada Tiffany.
"Ini merupakan sebuah Titah Raja. Saya menyimpannya untuk diberikan kepada pasangan saya di masa depan. Tertulis di atas kertas bahwa saya akan menikah dengan seseorang yang mendapatkan titah ini dan menggunakan cincin Permaisuri. Dan saya mau kamu yang mendapatkan ini, Tiffany. Baca dan cap tandai kertas ini dengan cap merah. Maka kamu resmi menjadi istriku," ucap Ashan dengan sungguh-sungguh.
"Wohooo... Tunggu dulu, Ashan, bukankah ini terlalu cepat?" lirih Tiffany, terkejut dengan ucapan Ashan yang serius itu.
"Tenanglah... Saya tidak memaksamu untuk melakukannya sekarang, tapi saya mohon tahan ini sebagai tanda bahwa saya serius ingin bersamamu. Jika kamu sudah mencintai saya, segera tandai titah tersebut," ucap Ashan sungguh-sungguh.
Melihat bahwa Ashan tidak berusaha memaksanya, Tiffany segera merasa lega. "Hm, akan aku jaga dengan baik," seru Tiffany sambil memeluk kotak kayu tersebut dengan erat.
Dan saat Ashan mengetahui bahwa Tiffany ingin menjaga kotak tersebut dengan baik, Ashan pun merasa puas.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, sayang? Apa masih ingin mendiami saya lagi?" tanya Ashan, kini kembali menggoda Tiffany.
"Apaan? Sejak kapan aku diamini kamu? Kan aku bilang aku sedang memikirkan sesuatu tadi. Oh ya, bukankah kamu mengatakan kamu ingin rapat? Pergilah, aku tidak akan menganggu lagi. Aku akan kembali ke kamarku dengan tenang. Sampai jumpa, Ashan..." seru Tiffany, buru-buru berdiri dari sana dan meninggalkan Ashan yang masih terduduk di atas kasur.
"Apa dia mencoba kabur dari saya? Sial, dia semakin menggoda," gumam Ashan sambil tersenyum, menutup wajahnya dengan kasar, menahan diri untuk tidak terlalu berlebihan lagi. Ia hanya bisa setengah melirik ke arah Tiffany yang berlari menjauh darinya.
...----------------...
Siang pun tiba, rapat pun dimulai. Pada saat itu, Ashan duduk dengan wajah serius di atas singgasana, menghadap ke semua parlemen kerajaan yang menatapnya dengan ketakutan. Mereka semua sudah mendengar bahwa akan ada pemberontakan besar-besaran dari Abul Zakar.
Itu bukanlah informasi yang tidak bisa diperoleh oleh Ashan, karena diam-diam Ashan menyebarkan beberapa mata-mata istana ke seluruh pelosok negaranya untuk melihat keadaan. Pada saat itu juga, ia mendengarkan semua laporan yang dikirimkan dari mata-mata kepada Yamin, dan Yamin membacakan semua laporan tersebut kepada Ashan.
"Dan Pangeran, kabar mata-mata yang kita kirimkan diketahui oleh mereka, dan tragisnya mereka sudah dilenyapkan oleh para pemberontak. Kini kita tidak memiliki informan lagi untuk memberitahukan kabar selanjutnya para pemberontak tersebut," ujar Yamin.
"Hm semoga amal mereka diterima di sisi Tuhan," ucap Ashan menadahkan tangannya sambil berdoa saat mendengar itu. Ia sedih saat mendengar beberapa orang yang ia kirim harus kehilangan nyawa, tapi bagaimana pun mereka telah bertugas dengan baik.
"Bawa beberapa emas ke keluarga mereka, hadiahkan makanan juga pakaian untuk keluarga yang sedang berduka," perintah Ashan kepada beberapa prajurit yang sedang berdiri siap di hadapan Ashan dengan serius. "Baik, Pangeran!" ucap beberapa prajurit di sana dengan cepat mereka bergerak.
"Abul Zakar? Apa ada yang mengenalnya atau sekedar mendengar nama orang ini?" tanya Ashan menatap ke semua orang yang berdiri di sana.
Mendengar pertanyaan dari Ashan, mereka pun mulai berbisik dan menanyakan kepada orang di sampingnya, maupun kepada diri mereka, apa mereka pernah mengenal Abul Zakar. Sampai lah ada seseorang yang mengacungkan tangannya setengah ke atas dan berkata, "Saya mengenalnya, Pangeran."
Ashan pun melirik ke arah sumber suara tersebut, dengan mengangkat satu alisnya Ashan mulai bertanya lagi. "Siapa kamu, Pak Tua? Dan katakan, siapa Abul Zakar yang kamu kenali itu?"
"Hamba hanyalah seorang pesuruh, Pangeran. Hamba datang menemani tuan hamba. Tapi saat hamba mendengar bahwa Pangeran menanyakan tentang Abul Zakar, hamba mengenalnya," tutur Pak Tua tersebut. "Saya sangat mengenali orang ini, Pangeran. Karena dia merupakan anak dari Sabahat saya. Abul Zakar, nama yang tidak asing bagi saya, apalagi saat mendengar bahwa dia yang merupakan pemimpin pemberontak. Saya pastikan dialah orang yang saya kenal."
"lanjutkan ucapanmu, jangan berhenti sebelum saya suruh," tegas Ashan.
"Ba_baik, dulu semasa kecil, hidup kami seperti budak. Kami ditindas habis-habisan oleh orang yang berkuasa, termasuk ayah Abul Zakar. Sampai suatu saat Abul Zakar mencuri makanan dari rumah tempat ayahnya bekerja, dan ayahnya lah yang harus mendapatkan hukuman dan penyiksaan sehingga membuat ia meninggal dunia. Saat Abul Zakar mengetahui ayahnya telah tiada, ia menaruh dendam sangat besar kepada semua orang yang memiliki harta dan kekuasaan. Dia juga bermimpi suatu saat akan menjadi orang-orang yang ia benci itu. Tapi hamba tidak tahu mengapa Abul Zakar sampai ingin melakukan pemberontakan di kerajaan Al-Khansa, mungkin saja_"
"_cukup, saya tidak ingin kamu membelanya walau itu hanya sebuah pendapat. Cukup sampai di sini," ucap Ashan langsung menghentikan ucapan Pak Tua tersebut.
"Yamin! Siapkan seluruh tentara bawah, dan perintahkan mereka menemui saya di Hutan Al-Khansa. Saya ingin bergabung dengan mereka dan melihat langsung kekuatan Abul Zakar ini!" teriak Ashan, yang cukup menggelegar di dalam istana, membuat semua orang di sana seketika merasa tegang.
"Baik, Pangeran," ucap Yamin, memberikan salam untuk Ashan, dan bergegas pergi untuk mengabari hal ini kepada Sait, pemimpin tentara bawah.
*Hah... Untung saja Tiffany tidak mengikuti rapat ini* batin Ashan merasa bersyukur saat mengetahui isi rapat ini tidak ada Tiffany. *Saya sudah ceroboh, saya berharap semua orang bisa melihat wanita saya duduk bersama saya di atas singgasana, tapi ini belum bisa terjadi sampai Tiffany menerima saya*
...*********BERSAMBUNG*******...
kan memank begitu status kalian Fany...
Ashan sudah memintamu pada keluarga mu di telpon tempo hari...
jangan kasi peluang untuk mereka mengganggu Tiffany...
apalagi Cindy untuk mendekati mu...
jadi ingat pelakor aku kk 😆😆😆🙏🙏🙏
lanjut up lagi thor
Tiffany aja manggil Ashan tanpa embel2 pangeran,masa kamu masih panggil Nona...panggil nama aja lebih akrab nya
udah pangeran,brondong pula 😍😍😍