Putri Regina Prayoga, gadis berusia 28 tahun yang hendak menyerahkan diri kepada sang kekasih yang telah di pacari nya selama 3 tahun belakangan ini, harus menelan pahitnya pengkhianatan.
Tepat di hari jadi mereka yang ke 3, Regina yang akan memberi kejutan kepada sang kekasih, justru mendapatkan kejutan yang lebih besar. Ia mendapati Alvino, sang kekasih, tengah bergelut dengan sekretarisnya di ruang tamu apartemen pria itu.
Membanting pintu dengan kasar, gadis itu berlari meninggalkan dua manusia yang tengah sibuk berbagi peluh. Hari masih sore, Regina memutuskan mengunjungi salah satu klub malam di pusat kota untuk menenangkan dirinya.
Dan, hidup Regina pun berubah dari sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21. Di Rumah Keluarga Sanjaya.
Tiba di kediaman keluarga Sanjaya. Regina di sambut hangat oleh nyonya Aurel. Hal itu membuat William memicingkan matanya.
William memang tidak pernah melihat kedatangan Regina ke rumahnya saat wanita itu masih berstatus sekretaris sang papa. Jadi dia tidak begitu tau bagaimana perlakuan sang mama terhadap Regina.
Nyonya Aurel mengajak Regina ke ruangan khusus yang sering ia pergunakan untuk melakukan perawatan kecantikan dengan Willona. Disana sudah ada Willona dan tiga orang terapis panggilan.
Di rumah keluarga Sanjaya, memang tersedia ruangan yang di rancang khusus untuk melakukan perawatan tubuh. Semua peralatan spa, dari ujung kepala hingga kaki, tersedia disana, mereka hanya perlu memanggil orang yang ahli di bidangnya saja.
Regina juga merasakan hal yang sama seperti William. Meski tidak pernah di perlakukan buruk, namun Ia tidak pernah di perlakukan berlebihan seperti ini oleh keluarga atasannya.
“Hai, Re.. kamu sudah datang?” Willona menghampiri Regina, memeluk sebentar kemudian saling membenturkan pipi. Hal yang sering mereka lakukan saat bertemu.
Meski Willona dua tahun lebih muda, namun Regina tak mengijinkan model cantik itu memanggilnya mbak atau kakak. Cukup memanggil nama, supaya mereka lebih akrab.
Para terapis meminta mereka melakukan sauna terlebih dulu, untuk membuka pori - pori kulit agar mudah di bersihkan. Setelah itu, ketiga wanita itu di minta untuk tidur tengkurap di atas ranjang yang khusus untuk melakukan perawatan tubuh.
Setelah melakukan sauna, para terapis mengaplikasi lulur pada punggung dan lengan para wanita itu. Guna untuk membersihkan sel kulit mati, debu dan kotoran yang menempel di kulit.
Setelah sel kulit mati dan kotoran terangkat, para terapis yang semuanya wanita muda itu, melakukan tahap pemijatan, untuk melancarkan peredaran darah, dan juga untuk merelaksasikan tubuh dan saraf yang tegang.
Hampir 30 menit melakukan pijat, sampailah mereka di tahap berikutnya, yaitu mengaplikasikan masker pada punggung dan juga lengan, untuk menutup kembali pori-pori kulit yang terbuka setelah di lulur tadi.
*****
Sementara para wanita sedang asyik melakukan perawatan, berbeda dengan William, ia merasa uring-uringan, ini sudah hampir satu jam lebih, namun belum ada satu pun makhluk lemah itu, keluar dari ruangan perawatan kecantikan.
“Will.. kemari.. temani papa main game.. sudah lama kita tidak bertanding.” Pak Antony berseru dari ruang keluarga, pria paruh baya itu bersiap menyalakan televisi untuk menghubungkan video game nya.
“Seperti bocah saja.” Gerutu William, namun ia tetap melangkah mendekati sang papa.
“Ya, dulu saat papa masih bocah, tidak ada yang seperti ini. Jadi sekarang papa mau bermain sepuasnya.” Pak Antony mendengar putranya menggerutu.
“Pa, bermain yang lain kek, catur, golf, atau apalah yang lebih cocok untuk orang tua, ini malah bermain video games.”
Pak Antony terkekeh, ia pun menyerahkan satu stick kepada sang putra, dan satunya lagu sudah ia kuasai.
Di layar besar muncul dua gambar monster yang siap beradu. Yang di kanan jagoan milik William dan di kiri jagoan sang papa.
“Lama sekali, sih?” William kembali menggerutu melihat ke arah ruang perawatan. Namun pintu kayu itu, masih setia tertutup rapat.
“Masih loading.” Jawab pak Antony yang mengira William memaki permainannya.
“Bukan gamesnya, pa.”
Pak Antony memutar sedikit wajahnya untuk menatap sang putra, ia mendapati pemuda itu menatap pintu ruang perawatan.
Pria paruh baya itu pun menyeringai, terlintas ide untuk memulai mengerjai sang putra tunggalnya.
“Biarkan saja. Wanita memang memerlukan waktu lama untuk melakukan perawatan tubuh. Papa rasa dua jam lagi baru selesai. Setelah perawatan badan, mereka akan melakukan perawatan rambut dan wajah.”
Pak Antony berucap panjang lebar tanpa diminta. Membuat William menganga tak percaya mendengar penjelasan sang papa.
“Untuk apa melakukan perawatan selama itu? Apa mereka tidak kelaparan?”
“Untuk terlihat tetap cantik lah. Supaya tetap terlihat segar di hadapan orang lain, terutama lawan jenisnya.”
William berdecak sebal. Ia hampir membanting stick yang di pegangnya.
“Sudah, ayo kita mulai.” Pak Antony memulai permainan. Namun, jagoan milik William terkesan lamban dalam bergerak. Karena William merasa malas untuk bermain.
Pikiran pria itu melanglang buana. Regina sudah begitu cantik. Wanita itu pasti akan bertambah cantik jika melakukan perawatan.
Hati William mendadak panas. Kala memikirkan, akan semakin banyak mata pria di luar sana yang tertuju pada sekretaris plus-plusnya itu.
“Kamu tidak mau melawan papa?” Pak Antony menjeda permainan.
“Malas pa. Aku mau ikut perawatan saja.”
Pak Antony terkekeh.
“Apa papa tidak bosan menunggu mereka?” Tanya William sembari menyadarkan tubuhnya di pinggiran meja. Mereka kini tengah duduk di atas lantai beralas karpet, di ruang keluarga.
Pria berumur 60 tahun itu menggeleng.
“Karena itu, papa membuatkan ruangan khusus untuk mereka melakukan perawatan. Papa tidak mau mereka memamerkan tubuh yang hampir naked, di luar rumah.”
“Lalu untuk apa membiarkan mereka melakukan perawatan? Papa tidak takut jika banyak pria yang akan melirik mama saat di luar rumah?” William berucap sembari memicingkan mata pada sang papa.
Pak Antony menghela nafasnya pelan.
“Sebenarnya, ini sengaja mama dan adik kamu lakukan untuk Regina. Kemarin papa bercerita tentang dia yang di pukul oleh kekasihnya. Jadi, Willona berinisiatif mengajak gadis itu melakukan perawatan kecantikan, untuk merelaksasikan tubuh dan pikirannya.”
Pak Antony menjeda ucapannya. Ia kembali menghela nafasnya pelan. Usia yang semakin bertambah, membuatnya tidak bisa terlalu berbicara panjang lebar.
“Selain itu, siapa tau setelah melakukan perawatan ini, Regina makin cantik. Semakin banyak pria yang mendekat.”
Netra William membola sempurna mendengar ucapan terakhir sang papa.
‘Apa maksudnya ucapan pria tua ini?’
“Maksud papa apa?”
Pak Antony mengulum bibirnya dalam. Menahan agar tidak terbahak di depan sang putra.
“Papa tidak suka Regina dengan kekasihnya yang sekarang, jadi papa berencana mencarikan pria lain yang lebih baik dari pemuda itu.”
“Apa? Memangnya papa siapa nya Regina?” William berusaha tidak terpancing, agar sang papa tidak mencurigainya.
“Papa sudah menganggap Regina seperti putri papa. Papa mengenalnya jauh sebelum kamu. Dia gadis mandiri yang kuat, mampu bertahan hidup jauh dari kedua orang tuanya.”
‘Gadis, gadis. Hey pak tua, andai papa tau yang sebenarnya, apa papa akan tetap memanggilnya gadis? Eh, tetapi tunggu, dia memang terasa seperti masih gadis kan? Ah.. Boy.. jangan terpancing sekarang. Wanita itu masih berdarah.’
“Sial.”
“Kamu mengumpat papa?”
“Ti-tidak. Aku hanya baru ingat, belum mengabari Jimmy tentang urusan klub. Nanti malam, salah satu temanku akan mengadakan pesta bujang.” Jawabnya berdusta. Ia tidak mungkin mengatakan jika dirinya mengumpat si boy, yang mulai menggeliat karena memikirkan Regina.
“Temanmu sudah melakukan pesta bujang. Kamu sendiri kapan? Ah papa lupa, mana ada yang mau dengan pria nakal seperti kamu.”
William mencebik kesal. Papanya selalu saja menyebut dia pria nakal. Padahal ia tidak senakal yang sang papa pikirkan.
“Papa meremehkan aku? Tunggu saja. Nanti aku bawa Dewi Sinta kemari sebagai calon mantu di keluarga ini.”
Kini giliran pak Antony yang memicingkan mata pada sang putra.
“Mana mungkin Dewi Sinta mau dengan Hanoman.”
“Hei, aku ini sang Rama.” Ucapnya dengan emosi karena di katakan raja kera oleh sang papa. “Enak saja papa menyebutku Hanoman. Kalau aku Hanoman itu artinya papa, ayahnya Hanoman dong.” William seketika terbahak dengan ucapannya.
“Dasar kamu anak durjana.”
.
.
.
Bersambung