Selamat datang di novel ku
menerima kritik dan saran
bisa folow instagram juga ;@namjoneya_0594
Pernikahan biasanya didasari oleh cinta namun tidak dengan Hira dan Axell/Gus Mahen. Keduanya menikah karena sebuah insiden naas menimpa calon istri Axell dan Hira berada diTKP.
Hira sebagai pengantin penganti namun setelah menikah kehidupannya penuh dengan teror, hingga membuat nya sempat mengalami gangguan kecemasan. Hingga suatu tragedi membuat nya tak bisa sadar dalam waktu lama , Sedangkan Axell tanpa sadar menyayangi istri dengan berlindung dibalik kata “Aku akan bertanggung jawab menjadi seorang suami”.
Keduanya tetap harus mencari tau siapa pelaku peneror dan pembunuhan misterius.
Dan akankah mereka menemukan pelakunya? Akan kah cinta mereka menjadi kekuatan untuk melawan segala lika-liku kehidupan atau justru malah salah satu dari mereka berhasil dibunuh lagi? .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tini Timmy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Dengan jarak wajah beberapa inci, dia dapat merasakan hembusan hangat nafas pria yang memiliki tinggi 178 cm, berkulit putih bersih, hidung mancung, mata sedikit sipit , wajah yang dingin namun menyimpan beragam cerita. Hira memandangi wajah suaminya lama, jari-jemarinya terulur meraba pipi dan hidung mancung Axell.
“Apakah jika ingatanku yang baru berlalu beberapa bulan ini kembali, apa aku pernah mencintainya? Apa aku rasa itu telah tumbuh walaupun sedikit saja. Dan apa dia mencintaiku sejak awal? Entahlah jika pun sekarang dia mencintaiku maka aku juga harus berusaha membuka hati untuknya.” batin Hira, dia mengusap perlahan pipi Axell di iringi senyuman manis, ia merasakan kulitnya begitu halus dan glowing bahkan wajahnya kalah glowing.
“Skincare apa yang dipakai dia, kok bisa se glowing ini.” Gumam Hira berdecak kagum melihat ukiran sang Pencipta tampak begitu sempurna.
Axell membuka matanya “Air wudhu,” sahut Axell secara tiba-tiba membuat Hira terkejut, dia sangat malu ternyata Axell belum benar-benar memejamkan kedua matanya. Hira meronta ingin keluar dari dekapan suaminya namun Axell semakin mempererat hingga dia kehabisan tenaga.
“Cie udah gak galau lagi, wajahku ini bisa jadi obat galau kamu ternyata. Gimana apakah wajahku sangat sempurna dan menawan? Sampai kamu terkagum-kagum seperti tadi?” Tanya Axell dengan ulasan senyuman manisnya.
“Ka-kamu mendengarnya?” tanya Hira ragu-ragu.
Axell hanya tersenyum tipis, Hira sangat malu berarti sedari tadi Axell mendengar celotehan randomnya. Hira menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan berharap Axell tidak akan mengganggunya.
Namun Axell tetaplah Axell dia dengan jahil mendekatkan wajahnya ke tangan Hira, sehingga jika Hira melepas tangannya dia akan melihat dengan jelas wajah suaminya.
“Kamu ngapain mendekati ku?” tanya Hira dengan waspada.
“Biar kamu gampang liat muka ku, biar tidurnya nyenyak,” jawab Axell singkat.
Sedikit membingungkan Hira, sejak kapan memandangi wajah orang lain bisa membuatnya tidur dengan nyenyak.
“Tidak, aku hanya bercanda. Ayo tidur sudah malam, jangan sedih lagi ada aku disini yang siap menyediakan sandaran untuk kamu Ning Hira.” Axell sedikit menjauhkan wajahnya dan melonggarkan pelukan agar Hira dapat bernafas dengan normal.
"Good night Little Girl," Tutur Axell lalu mengecup kening istrinya.
Tak berselang lama Axell sudah benar-benar menutup matanya, Hira yang melihat wajah Axell sangat manis saat tidur, dia pun ikut tertidur menyelam ke alam mimpi yang entah indah ataupun buruk.
Keesokan harinya perlahan mengerjapkan kedua matanya, tangannya meraba ke samping tempat tidur sebelah kiri. Dia tak menemukan Axell sama sekali bahkan lampu dikamar belum mati di tengah kebingungannya Hira menemukan Axell sedang keluar dari kamar mandi.
Seingat Hira setelah shalat subuh Axell tidur lagi di sampingnya namun ternyata dia mandi terlebih dahulu. Tanpa disadari pandangan matanya terus tertuju pada Axell hingga sosok nya tepat berdiri dihadapannya dengan mengenakan handuk kimono berwarna putih dan rambutnya masih basah.
Sejenak Hira terpaku melihat Axell hingga tanpa sadar keningnya di kecup oleh sang suami.
Saat tersadar Hira tergesa-gesa melangkah ke ruang ganti, Axell yang melihat tingkah laku istrinya pun terkekeh. Tak berselang lama Hira kembali dengan mengenakan handuk seperti kemben dan duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan Axell. Axell mengisi bathtub dan menambahkan beberapa ramuan dan sabun, sedangkan Hira mulai beranjak dari tempat duduk menuju bathtub, perlahan berjalan dan tepat melewati Axell yang masih diam berdiri disamping bathtub.
Hira tak tahu jika lantai itu licin, dan saat kakinya memijak lantai licin dia terpeleset dan tangannya tak sengaja menarik Axell yang masih diam mengawasinya.
Keduanya masuk ke dalam bathtub, air didalamnya memencar ke segala arah hingga terdengar suara kecebur yang begitu keras. Axell segera bangun kala menyadari dia menindih tubuh Hira.
“Sa-sakit,” Rintih Hira kala kepalanya terbentur bathtub. Axell segera mengangkat tubuh Hira, rasa khawatir mencelos ke dalam hatinya.
Axell memangku tubuh Hira di dalam bathtub dia mengusap pelan wajah Hira yang masih senantiasa memejamkan kedua matanya. Hira benar-benar merasakan sakit kepala yang begitu hebat .
“Hira!Hira! Tolong jawab aku!”
“Sa-sakit…”
“Coba tarik nafas, terus hembuskan perlahan. Jangan panik, kamu harus tenang. Kontrol diri kamu lalu buka mata." Pinta Axell, mencoba tetap tenang walaupun hatinya sudah tidak karuan.
Hira mengikuti arahan Axell , rasa sakitnya berkurang lalu perlahan dia membuka kedua matanya dan melihat cahaya lampu yang nampak begitu menyilaukan sampai membuat kedua matanya kembali tertutup.
Axell yang paham langsung mematikan lampu namun bukannya tenang malah Hira langsung memeluk Axell dengan erat. Dia takut akan kegelapan yang menurutnya sangat mengerikan walaupun terkadang kegelapan malam selalu menjadi obat penatnya selama seharian.
Axell diam membiarkan Hira tenang terlebih dahulu, setelah dirasa cukup dia mencoba bangun dan Hira mulai merasa rileks di dalam bathtub berendam ramuan yang diracik Axell.
Dia beranjak dari bathtub dan menyambar handuk yang berada tak jauh darinya, langsung memakai dan menuju ruang ganti . Meninggalkan Hira sejenak, dia mengenakan celana pendek berwarna hitam dan kaos berwarna coklat.
Setelah selesai dia menuju kamar mandi lagi dengan membawa handuk kimono dan baju baru untuk Hira. Niatnya memang tak ingin lama namun Hira berteriak meminta bantuan. Tanpa ba-bi- bu Axell langsung menggendong Hira ke ruang ganti setelah memakaikan handuk kimono nya.
“Kamu pergi lah, aku ingin berganti pakaian!”
“Emm baiklah, jangan terlalu lama. Umma sudah menunggu untuk sarapan,” lalu Axell pergi meninggalkan Hira.
Axell berjalan ke ruang kerjanya yang berada di dalam kamar itu, terdengar teleponnya berdering. Tertera nama Dirga, mungkin ada kabar terkini mengenai Mela atau obat yang dia cari.
“Lapor Tuan, nona Mela akan dipenjara 6 tahun penjara sedangkan obat yang Tuan minta sudah ada. Nanti sekretaris Delin yang mengantar karena saya ada jadwal mewakili anda meeting.”
“Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu dan jangan lupa kirim foto asli obat itu beserta resep dan aturan minumnya.”
“Semua sudah saya masukkan ke dalam amplop coklat nanti Delin akan membawa nya juga,” jawab Dirga.
“Tidak, Aku hanya ingin yang belum di fotokopi!”
“Baiklah Tuan saya akan segera mengirimkannya.”
Lalu telepon tertutup, Axell berjalan keluar ruangan dan mendapati Hira sedang duduk di depan meja rias. Dia sedang mengeringkan rambut memakai handuk sebelum memakai hair dryer . Entah mengapa kaki Axell terasa tertuntun untuk menghampiri Hira.
Melangkah pelan hingga sang empu tak menyadari jika Axell sudah ada di belakangnya. Axell memeluk Hira dari belakang namun Hira terkejut dan langsung berbalik badan memukul Axell menggunakan vas bunga yang ada di meja.
“Aduh!”
Hira diam sejenak mencerna apa yang sudah ia lakukan. “Ma-maaf aku kira ___”
Axell menaruh jari telunjuknya tangan kanan di kedua bibir Hira hingga membuat sang empu bingung, sementara tangan kiri Axell memegang kepala yang terasa berdenyut.