NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 : Hukuman

Kepalan tangan Shen Rui yang berlapis es murni hanya berjarak satu inci dari hidung Wang Jian yang sudah memucat. Namun, sebelum tinju itu mendarat dan meratakan tulang rawan sang tuan muda, dua bayangan berkelebat dengan kecepatan tak kasat mata menembus sisa-sisa badai angin.

SREEEK! TLETAK!

"AW! AW! AW! SAKITTT!"

Tiga jeritan melengking menggema bersamaan. Tetua Pertama dan Guru Wu sudah berdiri di tengah arena pertempuran yang hancur lebur. Tangan kiri Tetua Pertama menjepit telinga Yui, sementara tangan kanannya menjewer telinga Wang Jian hingga pemuda congkak itu berjinjit kesakitan. Di sisi lain, Guru Wu masing-masing menjewer telinga Li Mo dan Zhao Qi, sementara Shen Yuan hanya ditatap dengan aura membunuh.

"MENGHANCURKAN ASRAMA DI TENGAH MALAM?! APA KALIAN PIKIR PERGURUAN CANG YUE INI ARENA SABUNG AYAM?!" Raungan Tetua Pertama menggelegar, membuat sisa-sisa lentera yang masih utuh langsung pecah berkeping-keping.

"T-Tetua! Lepaskan, telingaku bisa robek!" jerit Wang Jian, wajahnya berlinang air mata. "Ini semua salah Shen Rui! Dia dan kakaknya menyerang kami dengan sihir es dan angin secara pengecut!"

"Enak saja kau memutarbalikkan fakta, Babi Panggang!" sungut Yui tak mau kalah, meski ia harus meringis menahan sakit di telinganya. "Tetua yang maha melihat dan maha bijaksana! Hamba yang lemah dan suci ini sedang bersantai menatap bintang, tapi tiga anjing liar ini tiba-tiba datang menggonggong menghina orang tua hamba! Sebagai anak berbakti, wajar kan kalau hamba berniat membekukan mulut kotor mereka?!"

Yuan melangkah maju, menangkupkan tangannya memberi hormat meski wajahnya sangat kusut. "Tetua, Guru Wu. Saya bisa bersaksi. Wang Jian yang memulai serangan api terlebih dahulu. Kami hanya membela diri agar asrama tidak terbakar."

"Hei, Kak Yuan! Kau tidak perlu bersikap sopan pada mereka!" potong Yui seenaknya, menunjuk wajah Wang Jian. "Kita tidak butuh pembelaan! Lepaskan saja telingaku, Tetua! Biarkan aku menyelesaikan pertarungan ini secara jantan! Aku jamin besok pagi tiga orang ini sudah berubah menjadi patung es untuk pajangan taman sekte!"

Yuan membelalak. Urat kesabarannya putus seketika. "Shen Rui, tutup mulutmu! Aku sedang berusaha menyelamatkan leher kita dari pemenggalan, dasar idiot!"

"Tsk, Kakak tidak asyik! Kau terlalu penakut!" balas Yui mencibir, benar-benar tidak tahu diuntung.

"CUKUP!" bentak Guru Wu, mengetukkan tongkatnya ke lantai kayu yang hangus. "Saling menyalahkan, berteriak, dan menghancurkan fasilitas sekte! Kalian berlima sama-sama bersalah! Dan kalian tidak akan lepas dari hukuman berat!"

Tetua Pertama melepaskan jewerannya, memandang kelima pemuda itu dengan tatapan iblis pencabut nyawa.

"Mulai besok pagi, kalian berlima akan dihukum bersama! Kalian akan ditugaskan menggembala Sapi Spiritual Bertanduk Besi di Ladang Ginseng!"

Mata kelima pemuda itu melotot seketika.

"M-menggembala sapi?!" pekik Wang Jian ngeri. "Tapi Tetua! Saya ini Tuan Muda dari Klan Wang! Tangan saya diciptakan untuk memegang pedang pusaka, bukan untuk memegang tali kendali sapi dan menginjak kotorannya!"

"Aku tidak peduli kau Tuan Muda atau Kaisar Langit sekalipun!" sembur Tetua Pertama tepat di wajah Wang Jian. "Selama satu minggu penuh, kalian berlima akan menjaga sapi-sapi itu agar tidak memakan ginseng pusaka! Jika ada satu daun ginseng saja yang tergigit, aku akan mencabut kuku kalian satu per satu!"

Tetua Pertama kemudian menoleh pada Guru Wu. "Guru Wu, masukkan kelima pembuat onar ini ke dalam Ruang Hukuman Teratai Hitam! Malam ini mereka harus tidur dalam satu ruangan. Suruh Paman Lao mengawasi pintu mereka. Jika terdengar satu saja suara perkelahian, tambah hukuman mereka menjadi sebulan penuh menyikat kandang babi!"

---

Pintu kayu jati berpelat besi ditutup dengan bantingan keras. BLAM!

Suara kunci diputar dari luar terdengar jelas. Kelima remaja itu kini berdiri di dalam sebuah ruangan berukuran sedang yang hanya memiliki satu ranjang kayu besar, satu meja kecil, dan sebuah jendela berterali besi. Di luar pintu, bayangan Paman Lao yang sedang duduk memegang tongkat bambu tercetak jelas di kertas jendela.

Suasana di dalam ruangan sangat canggung dan penuh kebencian.

"Ini semua gara-gara kau, gembel es!" geram Zhao Qi sambil menunjuk hidung Yui.

"Sst!" desis Li Mo panik, menutup mulut Zhao Qi. "Jangan keras-keras! Paman Lao bisa mendengarnya!"

Yui sama sekali tidak peduli. Ia melenggang santai menuju satu-satunya ranjang di ruangan itu, lalu langsung menjatuhkan tubuhnya di tengah-tengah kasur tipis, merentangkan tangan dan kakinya seperti bintang laut, menguasai seluruh selimut.

"Minggir kau, Shen Rui! Ranjang itu milikku!" bisik Wang Jian garang, berusaha menarik selimut dari tubuh Yui. "Aku yang punya kasta tertinggi di sini! Kalian semua tidur di lantai!"

"Kasta tertinggi di Kerajaan Babi, mungkin," ejek Yui berbisik santai, menarik kembali selimut itu dengan kekuatan tenaga dalamnya. "Siapa cepat dia dapat. Kalau kau mau kasur ini, silakan panggil ibumu untuk membelikannya yang baru. Kak Yuan, ayo bantu aku menendang tiga parasit ini ke sudut ruangan!"

Yuan, yang sedari tadi berdiri mematung di dekat pintu, memijat pelipisnya dengan kedua tangan. Aura frustrasinya begitu pekat hingga bisa dipotong dengan pisau.

"Aku tidak kenal denganmu," ucap Yuan datar, matanya menatap kosong ke dinding.

"Eh? Kak Yuan, jangan begitu. Kita kan saudara kembar yang sehati dan sejiwa!" rengek Yui dengan nada dibuat-buat.

"Jika aku bisa menukar jiwa itu dengan seekor keledai yang patuh, aku akan melakukannya malam ini juga," desis Yuan. Tanpa banyak bicara, Yuan mengambil sebuah tikar bambu tua dari sudut ruangan, menggelarnya di lantai batu yang dingin, lalu berbaring memunggungi mereka semua. "Malam ini, aku adalah anak tunggal. Kalian mau saling bunuh memperebutkan kasur itu, silakan. Jika Paman Lao masuk dan menghukum kita, aku akan bersumpah bahwa aku tidak melihat apa-apa."

"Wah, kejamnya dunia ini," keluh Yui dramatis. Namun ia segera kembali sibuk tarik-menarik selimut dengan Wang Jian.

"Lepaskan selimutnya, Shen Rui!"

"Tidak mau! Kakiku kedinginan!"

"Kau pengguna elemen es, idiot! Kenapa kau bisa kedinginan?!"

"Es-ku butuh kehangatan untuk berkembang!"

Perdebatan berbisik itu terus berlangsung selama setengah jam. Yuan menutupi telinganya dengan kedua tangan. Ia sangat lelah. Pikiran tentang iblis serigala, identitas rahasia, dan hukuman besok pagi benar-benar menguras tenaganya.

Tiba-tiba, Yui berhenti menarik selimut. "Tunggu, kalian mencium sesuatu tidak? Banyak nyamuk rawa di ruangan hukuman ini."

Yui merogoh kantong jubahnya dan mengeluarkan sebuah gulungan dupa spiral berwarna hijau pekat.

"Apa itu?" tanya Li Mo curiga.

"Ini Dupa Anti Nyamuk Rawa Biru tingkat tinggi yang kudapatkan dari Bibi Pasar," jawab Yui bangga. Ia menjentikkan jarinya, mengeluarkan percikan api kecil dari batu api, dan membakar ujung dupa tersebut. Asap hijau kehitaman mulai mengepul tebal, menyebar dengan cepat mengisi bagian bawah ruangan.

"Tidur yang nyenyak, Nyamuk, dan Tuan Muda Babi," gumam Yui puas, meletakkan dupa itu di lantai.

Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi yang berada di atas ranjang terbatuk-batuk kecil menahan bau menyengat itu, tapi mereka terlalu lelah untuk berdebat lagi dan perlahan jatuh tertidur karena efek sedatif (penenang) ringan dari dupa tersebut.

Namun, asap hijau pekat itu bergulung-gulung turun ke lantai... tepat ke arah tikar bambu tempat Shen Yuan sedang tidur.

Yuan perlahan membuka matanya. Tenggorokannya mendadak terasa terbakar. Kepalanya berputar hebat. Matanya perih bukan main.

"Rui..." bisik Yuan parau, suaranya terputus-putus. "Uhuk... racun apa... yang kau bakar..."

Yui menoleh dari atas kasur, menatap kakaknya dengan mata berkedip polos. "Dupa nyamuk, Kak. Wangi, kan? Sangat ampuh membuat rileks."

"Uhuk... itu... dupa pebius beruang hutan... bodoh..."

Mata Yuan berputar ke atas. Kekuatan elemen anginnya bahkan tidak sempat keluar untuk membuang asap itu. Kepalanya terkulai ke lantai. Brukk. Shen Yuan, sang jenius disiplin, pingsan dengan mulut sedikit berbusa karena menghirup dupa dosis tinggi secara langsung dari lantai.

"Wah, Kak Yuan tidur cepat sekali. Hebat, ilmu meditasinya memang nomor satu," puji Yui takjub, sama sekali tidak menyadari kakaknya sedang keracunan ringan. Yui merapatkan selimutnya dan memejamkan mata dengan senyum puas.

Keheningan malam akhirnya menyelimuti Ruang Hukuman Teratai Hitam. Hanya terdengar suara dengkuran keras dari Wang Jian dan napas teratur Yui.

Sampai kemudian...

Tepat di tengah malam buta, saat kabut dari gunung mulai turun menyelimuti perguruan...

Gletek... gletek...

Suara aneh itu terdengar dari arah pintu kayu yang terkunci. Bukan suara Paman Lao yang sedang berjaga. Melainkan suara kuku-kuku panjang yang sedang menggaruk pelat besi dengan gerakan perlahan, kasar, dan teratur.

Gletek... Srekkk...

Yui langsung membuka matanya. Kantuknya hilang seketika. Ia duduk perlahan di atas kasur, matanya menatap lekat-lekat ke arah celah bawah pintu.

Di sana, tidak ada bayangan Paman Lao lagi. Yang ada hanyalah aroma amis darah segar yang menyusup masuk melalui celah lantai, mengalahkan bau dupa nyamuk, diiringi suara dengusan napas berat yang jelas-jelas bukan milik manusia.

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!