Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Bayang-Bayang Musim Dingin di Antara Sujud
Pelukan Gavin terasa bagaikan satu-satunya jangkar yang menahan Naya dari gulungan ombak penyesalan yang siap menenggelamkannya. Di dalam ruang kerja berdinding kaca yang dingin itu, aroma kayu cendana dan sabun maskulin milik Gavin—aroma yang selalu memberi rasa aman sejak hari pertama mereka bernikah—kini menyusup lembut ke dalam sela-sela napas Naya yang masih terengah oleh sisa isak tangis.
"Gavin... maafkan aku," bisik Naya berulang kali. Suaranya tenggelam di dada bidang suaminya. Jemari tangannya mencengkeram erat kemeja putih Gavin, seolah takut jika pria itu melepaskannya, seluruh kenyataan ini akan berbalik menjadi mimpi buruk yang baru. "Aku... aku sangat jahat. Aku meragukanmu. Aku membayangkan hal-hal yang begitu mengerikan tentangmu..."
Gavin tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru mempererat dekapannya, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Naya, menyembunyikan wajahnya di celah antara leher dan bahu Naya yang terbalut kain hijab hitam. Usapan lembut jemari Gavin di punggung Naya terasa bagaikan usaha perlahan untuk meredakan badai yang baru saja mengamuk di antara mereka.
"Kamu tidak jahat, Naya," suara Gavin terdengar serak, parau oleh air mata yang belum sepenuhnya mengering. "Aku yang salah... Aku tidak cukup terbuka padamu sejak awal. Aku terlalu takut bayang-bayang masa lalu dan kekejaman Eleanor akan menyentuhmu. Aku ingin melindungimu dari rasa sakit itu, tapi justru kerahasiaanku yang melukaimu."
Gavin perlahan melonggarkan pelukannya. Kedua tangannya yang kokoh namun lembut membingkai wajah Naya. Ibu jarinya menyapu sisa-sisa air mata yang membasahi pipi mulus istrinya. Matanya yang tajam kini menatap Naya dengan ketulusan yang teramat dalam—sebuah tatapan yang dulu pernah Naya anggap sebagai kepalsuan, namun kini ia sadari sebagai muara dari seluruh cinta yang dijaga oleh pria itu.
"Naya, dengarkan aku," ucap Gavin lembut, menatap tepat ke iris mata Naya yang sembap. "Sejak hari pertama aku mengikrarkan ijab kabul di hadapan Allah dan ayahmu, tidak ada wanita lain di dalam hati ini selain kamu. Alana adalah takdir masa laluku yang harus kulepaskan, tetapi kamu... kamu adalah takdir yang kupilih untuk kuperjuangkan hingga ke surga."
Dada Naya bergemuruh. Kata-kata itu menghantam lubuk hatinya yang paling dalam, menyalakan sembilu rasa bersalah yang kian menyengat.
Betapa ironisnya hidup ini, pikir Naya. Pria di hadapannya ini begitu suci menjaga cintanya, begitu tulus merangkul segala kekurangan dan rahasia yang Naya simpan. Sementara Naya? Ia mengawali hubungan ini dengan sebuah identitas palsu, sebuah topeng kebohongan yang ia kenakan hanya karena ia terlalu takut menghadapi kenyataan hidupnya yang kelam.
Naya menunduk, tidak sanggup menatap sorot mata Gavin yang begitu memuja. "Kamu tidak tahu seberapa kotornya aku, Gavin... Aku menyembunyikan begitu banyak hal darimu. Aku berpura-pura menjadi wanita solehah yang anggun, padahal aku hanya seorang gadis yang melarikan diri dari ketakutan. Aku belajar mencintai agamamu, belajar bersujud di atas sajadah, hanya agar aku pantas bersanding denganmu dan tidak ketahuan bahwa aku adalah seorang pembohong..."
Gavin menghela napas panjang. Tanpa ragu, ia memeluk kepala Naya, mendaratkan kecupan hangat yang sangat lama di atas hijab hitam yang mengenakan kening istrinya.
"Aku sudah tahu, Naya," bisik Gavin lirih di atas kepala istrinya.
Naya membeku seketika. Tubuhnya menegang di dalam dekapan Gavin. Ia mendongak perlahan, menatap wajah suaminya dengan mata membelalak tak percaya. "Apa... apa maksudmu?"
Gavin tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh duka dan pengertian yang teramat sangat. "Aku tahu siapa kamu sejak hari kedua setelah pernikahan kita. Aku tahu ketakutanmu, aku tahu bagaimana kamu berjuang menghafal bacaan shalat di tengah malam saat kamu pikir aku sudah tertidur pulas. Aku melihatmu menangis terisak di atas sajadah, meratapi setiap bacaan ayat yang belum sempurna kamu lafalkan."
Naya menahan napas. Air matanya kembali menetes, kali ini bukan karena amarah atau kecemburuan, melainkan karena rasa malu dan keharuan yang meluap-luap.
"Lalu... kenapa kamu tidak membenciku? Kenapa kamu tidak mengusirku?" tanya Naya dengan suara bergetar hebat. "Aku membohongimu, Gavin! Aku masuk ke dalam hidupmu dengan kepalsuan!"
"Karena aku melihat ketulusan di balik ketakutanmu," jawab Gavin mantap. Tangannya kembali menggenggam erat jemari Naya yang dingin. "Seorang pembohong yang jahat tidak akan meneteskan air mata penyesalan di atas sajadah setiap malam. Kamu mungkin mengawali langkahmu dengan ketakutan, Naya... tapi aku melihat bagaimana hatimu perlahan-lahan luluh dan berusaha mencintai Allah, berusaha mencintai Islam, bukan lagi hanya karena aku, tetapi karena kamu menemukan kedamaian di dalamnya. Bagaimana bisa aku membenci wanita yang sedang berjuang menyempurnakan agamanya demi bersanding denganku?"
Hancur sudah seluruh pertahanan jiwa Naya. Ia menyandarkan dahi di dada Gavin, menangis sesenggukan. Selama ini, ia menyiksa dirinya sendiri dengan rasa bersalah, menganggap dirinya tidak layak untuk Gavin, merasa bahwa pernikahan ini adalah sebuah panggung sandiwara yang dipaksakan. Namun ternyata, di balik dinding kaca yang mengurung kehidupan mereka, Gavin telah melihat seluruh kerapuhan jiwanya dan tetap memilih untuk mencintainya tanpa syarat.
Namun, kedamaian di dalam ruangan itu mendadak terusik.
Layar ponsel Gavin yang tergeletak di atas meja kaca masih menyala, menampilkan pesan misterius dari nomor tak dikenal yang sebelumnya masuk saat mereka terlarut dalam pelukan.
Gavin merenggangkan pelukannya dan menoleh ke arah meja. Pandangannya terpaku pada ponselnya. Merasakan perubahan sikap suaminya, Naya ikut menoleh dan memperhatikan kerutan dalam yang tiba-tiba muncul di dahi Gavin.
"Ada apa, Gavin?" tanya Naya pelan sambil menyapu air mata di pipinya.
Gavin tidak langsung menjawab. Ia meraih ponsel tersebut dan membaca ulang pesan singkat yang tertera di sana:
‘Pemain utamanya mungkin sudah mati, Gavin. Tapi permainan Eleanor belum benar-benar berakhir. Nikmatilah air mata pernikahan kalian... sebelum rahasia terbesar tentang kematian almarhum ibu Naya terkuak.’
Seketika itu juga, warna di wajah Gavin kembali memudar. Rahangnya mengetat, dan matanya memancarkan amarah yang sangat pekat—amarah yang bercampur dengan kecemasan yang luar biasa.
"Gavin? Ada apa?" Naya mengulurkan tangan, menyentuh lengan Gavin dengan ragu. "Pesan dari siapa?"
Gavin dengan cepat mematikan layar ponselnya dan membalikkannya di atas meja. Ia menatap Naya dengan berusaha mengontrol raut wajahnya, memaksakan sebuah senyuman tipis yang terasa begitu dipaksakan. "Bukan apa-apa, Naya. Hanya pesan spam dari relasi bisnis."
Naya menggeleng pelan. Ia mengenal Gavin cukup baik untuk tahu kapan suaminya sedang menyembunyikan sesuatu. "Jangan bohong padaku lagi, Gavin. Tolong... kita baru saja melewati kesalahpahaman yang hampir menghancurkan kita. Katakan padaku, pesan itu tentang apa? Kenapa menyebut nama Ibu?"
Gavin menghembuskan napas berat. Pria itu menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya, tampak begitu frustrasi dan tertekan. "Naya... ada hal-hal dari masa lalu yang belum saatnya kamu ketahui. Ini terlalu berbahaya untukmu."
"Ini tentang ibuku, Gavin!" tegas Naya, suaranya meninggi dengan getaran kepedihan yang nyata. "Ibu meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan tabrak lari yang sampai sekarang tidak pernah terungkap pelakunya! Apa hubungannya dengan Eleanor? Apa hubungannya denganmu?!"
Gavin terdiam. Ia memandangi wajah istrinya yang penuh dahaga akan kebenaran. Dalam hatinya, Gavin bergolak hebat. Ia tahu betul betapa dalamnya luka yang ditinggalkan oleh kematian ibu Naya. Ibu Naya adalah sosok wanita muslimah yang lembut, sosok yang membesarkan Naya sendirian di tengah kemiskinan dan penderitaan, sebelum akhirnya tewas mengenaskan di tepi jalan raya Jakarta pada suatu malam yang berhujan deras.
"Gavin, tolong..." bisik Naya lirih, matanya memohon. "Jangan biarkan aku hidup dalam kegelapan lagi. Jika ada rahasia di balik kematian Ibuku, aku berhak tahu."
Gavin mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia menarik Naya menuju sofa kulit berukuran besar di sudut ruangan, mendudukkan istrinya dengan perlahan, lalu ia sendiri berlutut di lantai tepat di hadapan Naya. Ia menggenggam kedua tangan Naya, menyalurkan sedikit rasa hangat di tengah kebenaran yang dingin dan menyakitkan.
"Kecelakaan yang menimpa ibumu... itu bukan kecelakaan biasa, Naya," bisik Gavin dengan suara yang sangat pelan, seolah takut dinding-dinding kaca di ruangan itu memiliki telinga.
Jantung Naya berdegup kencang, bagaikan dihantam palu godam. "Apa... apa maksudmu?"
"Malam itu... lima tahun yang lalu," Gavin menelan ludah dengan susah payah, matanya berkaca-kaca menahan emosi. "Ibumu bekerja sebagai asisten rumah tangga pribadi di kediaman keluarga Eleanor. Ibumu tidak sengaja mendengar percakapan rahasia antara Eleanor dan pengacaranya tentang rencana pembunuhan berencana terhadap ayahku—rencana untuk merebut seluruh saham Ardiansyah Group."
Naya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak lebar, memantulkan ketakutan yang teramat sangat. "Tidak... tidak mungkin..."
"Ibumu ketakutan dan berusaha melarikan diri malam itu juga untuk melaporkan apa yang ia dengar kepada polisi," lanjut Gavin, suaranya makin gemetar. "Tapi Eleanor menyadarinya. Dia memerintahkan orang-orang suruhannya untuk mengejar ibumu. Mobil yang menabrak ibumu hingga tewas di jalanan sepi itu... adalah mobil suruhan Eleanor."
DEG.
Dunia di sekitar Naya terasa runtuh seketika. Suara di sekelilingnya mendadak berdengung keras. Pandangannya kabur oleh air mata yang merebak hebat. Bayangan ibunya yang terbaring bersimbah darah di ruang jenazah lima tahun lalu—bayangan yang selama ini menjadi mimpi buruk terbesarnya—kini berputar kembali di dalam ingatannya dengan fakta yang puluhan kali lebih mengerikan.
Ibunya tidak tewas dalam kecelakaan tragis yang tak disengaja. Ibunya dibunuh. Dibunuh secara keji hanya karena berusaha menyuarakan kebenaran.
"Ibu..." jerit Naya parau. Ia mencengkeram dadanya yang mendadak terasa amat sesak, seolah pasokan udara di ruangan itu dihisap habis secara tiba-tiba. "Ibu dibunuh... Ibu mati karena wanita iblis itu?!"
Gavin membumbung maju, merengkuh tubuh Naya yang berguncang hebat karena histeria. "Maafkan aku, Naya... Maafkan aku! Aku baru mengetahui fakta ini tiga bulan lalu saat aku mencari tahu silsilah keluargamu secara mendalam. Itulah alasan sebenarnya kenapa aku bersikeras menghancurkan Eleanor! Bukan hanya demi menyelamatkan Ardiansyah Group, bukan hanya demi membalas dendam atas penderitaan Alana... tapi juga demi menuntut keadilan untuk ibumu!"
Naya menangis meraung-raung di dalam dekapan Gavin. Rasa sakit yang ia rasakan saat ini jauh lebih dahsyat daripada saat ia menyangka Gavin berselingkuh. Ini adalah rasa sakit atas ketidakadilan, atas nasib ibunya yang malang, dan atas kenyataan bahwa ia selama ini hidup berdekatan dengan lingkaran setan yang meminum darah ibunya sendiri.
"Kenapa dunia begitu jahat padaku, Gavin?" bisik Naya di antara isak tangisnya yang memilukan. "Kenapa ibuku yang begitu baik harus mati dengan cara seperti itu? Kenapa aku harus terlibat dalam semua kegilaan ini?!"
Gavin mengecup pelipis Naya berulang kali, menyatukan air matanya dengan air mata istrinya. "Aku tidak tahu kenapa takdir membawa kita ke jalan yang begitu berliku ini, Naya. Tapi aku bersumpah demi Allah... aku tidak akan pernah membiarkan Eleanor lolos. Dia akan membayar setiap tetes air mata yang jatuh dari matamu, setiap tetes darah yang mengalir dari tubuh ibumu."
Naya perlahan meredakan tangisnya, meski napasnya masih tersengal-sengal. Di dalam pelukan Gavin, ia merasakan sebuah pusaran emosi yang aneh. Dulu, ia menganggap perkawinan ini sebagai sebuah pelarian. Kemudian, ia menganggapnya sebagai panggung sandiwara yang penuh kebohongan. Namun kini, di tengah cucuran air mata dan duka yang mendalam, ia menyadari satu hal: pernikahan ini adalah takdir yang sengaja dirajut oleh Sang Pencipta untuk mempertemukan dua jiwa yang sama-sama terluka, agar mereka bisa saling menyembuhkan dan menegakkan keadilan bersama.
Naya melepaskan diri dari dekapan Gavin. Ia menatap wajah suaminya, menyapu air mata yang mengalir di pipi pria itu.
"Gavin," panggil Naya dengan suara yang kini terdengar lebih mantap, walau masih menyisakan getaran duka. "Apakah Eleanor tahu kalau aku adalah putri dari wanita yang ia bunuh?"
Gavin menatap Naya dengan cemas, lalu menggeleng pelan. "Belum secara pasti. Pesan singkat tadi... itu bukti bahwa Eleanor atau orang-orangnya mulai mencurigai identitasmu. Mereka tahu namamu, tapi mereka belum memiliki bukti hukum bahwa kamu adalah ahli waris tunggal dari korban tabrak lari lima tahun lalu."
Naya memejamkan mata sejenak. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia melihat bayangan ibunya sedang tersenyum lembut—sebuah senyuman yang selalu menguatkannya di masa-masa tersulit. Saat ia membuka matanya kembali, sorot matanya yang biasanya lembut kini dipenuhi oleh tekad yang membara.
"Kalau begitu, jangan biarkan dia bersembunyi lagi," ucap Naya tegas.
Gavin tertegun. "Naya... apa maksudmu?"
"Selama ini aku selalu lari," ujar Naya, jemarinya mengepal di atas pangkuannya. "Aku lari dari kemiskinan, lari dari identitas asliku, lari dari kenyataan bahwa aku tidak sempurna. Aku menggunakan ketakutanku sebagai alasan untuk berbohong. Tapi hari ini... aku tidak akan lari lagi. Jika Eleanor ingin menggunakan rahasia kematian ibuku untuk menghancurkan pernikahan kita, maka aku yang akan menggunakan kebenaran itu untuk menjebloskannya ke dalam penjara!"
Gavin menatap istrinya dengan tatapan takjub. Wanita lembut yang dulu selalu gemetar ketakutan saat mendengar nama Eleanor, kini berdiri tegak dengan keberanian yang terlahir dari puing-puing kepedihan.
"Kamu yakin, Naya?" tanya Gavin pelan, memastikan. "Jalan ini akan sangat berbahaya. Eleanor adalah wanita yang tidak memiliki hati. Dia bisa melakukan apa saja saat terdesak."
"Aku tidak takut lagi, Gavin," Naya menggenggam erat tangan Gavin, menyalurkan tekadnya. "Selama kamu berdiri di sampingku, selama kita melangkah di jalan yang diridhai Allah... aku tidak takut pada apa pun. Kita akan hadapi ini bersama-sama. Demi Alana, demi Ibu, dan demi cinta kita yang telah diuji oleh begitu banyak air mata."
Gavin tersenyum—senyuman tulus yang memancarkan rasa bangga dan cinta yang tak terhingga. Pria itu menarik Naya ke dalam pelukannya sekali lagi, mengecup puncak kepalanya dengan penuh penyerahan diri kepada Sang Maha Kuasa.
Malam harinya, kediaman Ardiansyah tampak begitu tenang di bawah guyuran hujan gerimis yang membasahi kota Jakarta. Di dalam kamar utama yang luas dan berhiaskan pencahayaan hangat, Naya berdiri di depan cermin besar.
Ia mengenakan mukena putih bersih dengan renda halus di pinggirannya. Di belakangnya, Gavin baru saja selesai memakai sarung tenun dan baju koko berwarna abu-abu. Pria itu menghentikan langkahnya, menatap bayangan istrinya di dalam cermin dengan sorot mata penuh pemujaan.
Gavin melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Naya, lalu melingkarkan tangannya di bahu Naya yang terbalut mukena.
"Kamu sangat cantik, Naya," bisik Gavin lembut di dekat telinganya. "Terutama saat kamu bersiap untuk menghadap-Nya."
Naya menatap bayangan mereka di cermin. Seorang pria tangguh yang memiliki segalanya, dan seorang wanita biasa yang penuh dengan kelemahan. Namun di atas sajadah yang telah dibentangkan di sudut ruangan, mereka adalah dua hamba yang setara—dua jiwa yang disatukan dalam ikatan pernikahan yang suci.
"Dulu..." suara Naya terdengar lirih, matanya berkaca-kaca menatap bayangan Gavin di cermin. "Dulu aku belajar shalat dan membaca Al-Qur'an hanya karena takut kamu menyadari kebohonganku. Aku berpura-pura menjadi wanita solehah agar tidak kehilanganmu..."
Gavin tersenyum hangat, mengusap bahu istrinya. "Dan sekarang?"
Naya memutar tubuhnya, menatap tepat ke dada Gavin. "Sekarang, aku bersujud karena aku sadar betapa besarnya kasih sayang Allah padaku. Dia membimbingku melewati jalan yang gelap, memberiku suami yang begitu tulus mencintaiku, dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Aku mencintai agama ini, Gavin... bukan lagi hanya karena mencintaimu, tapi karena aku menemukan kehidupan yang sebenarnya di dalamnya."
Air mata keharuan menetes di pipi Gavin. Pria itu mengangguk pelan, menyapu air mata istrinya dengan kecupan lembut di kening.
"Kalau begitu, mari kita bersujud bersama," ajak Gavin pelan. "Memohon petunjuk dan perlindungan untuk perang yang akan kita hadapi besok."
Gavin melangkah ke depan sajadah sebagai imam, sementara Naya mengambil posisi di belakangnya sebagai makmum. Saat Gavin mengangkat kedua tangannya dan mengumandangkan takbiratul ihram dengan suaranya yang merdu dan penuh penghayatan, dada Naya bergetar hebat.
Allah-u Akbar...
Di dalam sujudnya malam itu, Naya menumpahkan seluruh sisa air matanya. Air mata penyesalan atas kebohongan masa lalu, air mata kerinduan untuk ibunya yang telah tiada, dan air mata rasa syukur atas cinta murni yang kini menopang hidupnya. Di balik dinding kaca kehidupan yang penuh dengan badai dan manipulasi, Naya tahu bahwa ia telah menemukan pelabuhan terakhirnya—sebuah pernikahan yang diawali oleh kepalsuan, namun diselamatkan oleh ketulusan dan iman yang teguh.
Namun, saat shalat dua rakaat itu usai dan Gavin berbalik untuk memimpin doa, suara denting bel di pintu depan rumah mereka mendadak berbunyi nyaring di tengah heningnya malam.
Denting bel itu berbunyi berulang kali—tergesa-gesa, keras, dan penuh desakan.
Gavin dan Naya saling bertukar pandang. Kerutan cemas kembali menghiasi wajah Gavin. Pria itu perlahan berdiri, merapikan baju kokonya, dan menatap Naya dengan pandangan waspada.
"Tetap di sini, Naya," bisik Gavin tegas. "Aku akan memeriksa siapa yang datang malam-malam begini."
Naya mengangguk pelan, jantungnya kembali berdebar kencang. Ia menyaksikan Gavin melangkah keluar dari kamar utama menuju lantai bawah.
Naya berdiri di dekat pintu kamar, memegang mukenanya yang melambai ditiup angin pendingin ruangan. Dari lantai atas, ia bisa mendengar suara langkah kaki Gavin yang menuruni tangga kayu, diikuti oleh suara pintu utama yang dibuka berat.
Keheningan sempat tercipta selama beberapa detik, sebelum akhirnya terdengar suara teriakan keras Pak Danu dari arah luar yang memecah malam:
"Pak Gavin, awas! Itu jebakan—!"
BLAR!
Suara ledakan kecil yang disertai dentuman keras pintu terhempas bergema dahsyat dari arah lobi bawah, disusul oleh suara pecahan kaca yang memekakkan telinga.
Naya menjerit histeris, "GAVIN?!"
Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, Naya melepas mukenanya dan berlari kencang menuju tangga, menatap ke arah lantai bawah yang kini mulai dipenuhi oleh kepulan asap hitam yang pekat dan bau hangus yang menyengat. Di balik kepulan asap itu, bayangan beberapa orang berstratur tegap berpakaian serba hitam tampak melangkah masuk melintasi pecahan kaca pintu utama yang hancur berantakan.
Permainan Eleanor belum berakhir. Justru malam ini, di rumah mereka sendiri, babak terkejam dari perang ini baru saja dimulai.
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘