Pantas saja dia tak diharapkan dan dibenci oleh keluarganya. Ternyata dia adalah anak yang lahir dari rahim orang ketiga.
Mutiara Anjani, Seorang gadis yang selalu terlihat kuat dihadapan orang lain. Tiada yang tahu bahwa gadis itu menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Semua tertutup oleh sikapnya yang ceria dan terkadang angkuh itu.
Semua orang yang pernah dekat dengannya menjauh perlahan karena hadirnya orang baru termasuk sahabatnya sendiri. Dia menjadi sendiri, Hingga seorang pria hadir menjadi pendukungnya serta satu-satunya pria yang berjanji akan selalu menjaganya sampai nanti.
••••••
"Aku selalu merasa sendiri, Aku ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat rasa sakit ini lagi.." Mutiara Anjani.
"Tapi perlu diketahui, Bahwa akulah yang akan menjagamu sampai nanti.." Muhammad Al Ghazi Maulana...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan Mutiara
"Ddrrttt.... Ddrrttt ...
"Assalamualaikum...
"Assalamualaikum warahmatullahi, Wabarakatuh...
Ddrrttt.. Ddrrttt...
Ghazi yang baru saja menyelesaikan sholat tahajudnya itu, Langsung meraih benda pipihnya yang sejak tadi bergetar diatas meja.
"Gabriel?" Ghazi melihat jam, Waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Kok tumben saudaranya itu menelfonnya di jam segini?
"Halo, Assalamualaikum..." Ghazi langsung mengangkat panggilan telepon dari saudara kembarnya itu. Ia yakin pasti ada yang penting. Karena kalau tidak penting, Mana mungkin Gabriel menghubunginya sepagi ini.
"Waalaikum salam...
"Ada apa?
"Pulanglah.. Umma jatuh dari tangga. Kondisinya cukup parah...
Deg!
"Ap..Apa? Umma jatuh?
"Iya.. Cepatlah segera pulang..."
Mendengar kabar cinta pertamanya jatuh dan cukup parah. Tanpa menunggu lagi, Ghazi langsung beranjak.
Pria itu segera mengganti pakaiannya, Lalu meraih jaketnya. Ia harus pulang sekarang, Umma jatuh dan dia harus melihat seperti apa kondisinya saat ini.
"Ghazi, Mau kemana?" Tanya salah satu temannya yang terbangun karena panggilan alam. Pria itu tersenyum tipis..
"Aku harus pulang, Ibuku masuk rumah sakit.." Ucap Ghazi dengan tenang. Temannya itu cukup terkejut.
"Pulanglah.. Tapi apa gak izin dulu sama Tuan dan Nona Tiara? Cuma kalau di jam segini mereka masih tidur kayaknya.." Kata temannya tadi.
"Aku akan izin lewat telepon saja...
"Orang dalam mah bebas.." Ucap temannya seraya terkekeh.
"Ya, Sudah kalau begitu aku pamit pulang dulu.."
"Hati-hati...
Sebelum Benar-benar pergi, Ghazi telah menghubungi Galih. Akan tetapi pria itu tidak mengangkatnya sama sekali. Terpaksa Ghazi mencoba mengirim pesan untuk meminta izin pulang sebentar.
Setelah mengirim pesan, Ghazi menghentikan langkahnya. Kepalanya medongak menatap keatas, Dimana kamar Mutiara berada.
"Assalamualaikum.. Dek, Sebelumnya Mas minta maaf. Mas izin pulang dulu, Ya.. Umma nya Mas masuk rumah sakit.. Tapi Mas janji, Secepatnya Mas akan kembali...
Tak ingin mengganggu sang pujaan hati, Ghazi memilih izin dengan mengirim pesan saja. Matanya tak lepas melihat kamar yang gelap itu..
Tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya, Ghazi sangatlah berat untuk meninggalkan gadis itu seorang diri.
"Mas, Pulang dulu ya.. Jaga diri kamu baik-baik.." Ucap pria itu sebelum Benar-benar pergi.
...***************...
Tanpa Ghazi sadari, Bahwa Mutiara tidak tidur sama sekali. Setelah mendengar cerita Bi Yani tentang kisah kedua orangtuanya. Mutiara tidak mampu berkata apapun lagi. Kisah cinta Papa dan ibunya sungguh sangat menyakitkan.
Cinta tulus mereka harus terhalang oleh restu. Karena memang tidak adanya kesetaraan antara Papanya, Yang lahir dari keluarga terpandang sementara ibu kandungnya hanya seorang pelayan.
Sedangkan Diandra. Dengan kekuatan yang ia punya bisa melakukan apapun. Termasuk membeli cinta suci Galih pada Anjani. Anjani yang hanya wanita biasa bisa apa? Demi cintanya wanita yang malang itu dengan ikhlas melepas cintanya.
Bahkan setelah sembilan tahun berlalu, Anjani masih sendiri. Bukan tidak ada pria yang ingin meminangnya, Tapi karena rasa cintanya ysng begitu besar terhadap Galih, Membuat wanita cantik itu sulit membuka hari untuk pria lain.
Begitu pertemuan itu kembali. Anjani terpaksa menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Galih dan Diandra, Sebelum kekejaman menghantamnya.
Demi cintanya pada Galih serta rasa sayangnya dengan Mutiara, Anjani tulus memberikan Jantung dan matanya untuk Wanita itu.
Di pagi-pagi buta ini, Mutiara keluar dari kamarnya. Gadis itu memakai hoodi tebal dan celana jeans panjang.
Pagi ini, Mutiara berniat hendak pergi ke wilayah A untuk mengunjungi makam Ibu kandungnya. Dengan taksi online yang telah dipesannya, Mutiara segera masuk.
Jujur, Mutiara merasa takut menaiki taksi ini seorang diri. Kejadian beberapa waktu yang lalu membuat ketakutan yang Mutiara alami bertahan sampai sekarang.
"Ke wilayah A ya, Mas..
"Baik mbak.." Kendaraan roda empat itu melaju. Mutiara juga menonaktifkan ponselnya agar dia tidak bisa dihubungi.
Gadis itu juga tidak peduli dengan pesan yang dikirim Ghazi. Yang ada dalam otaknya saat ini ialah, Dirinya sampai dimakam sang ibu.
Kemungkinan Mutiara juga tidak tahu kalau Ghazi pulang kekota kelahirannya.
Sepanjang perjalanan, Mutiara hanya diam saja. Diluar sana, Cuaca sedang mendukungnya. Langit yang biasa cerah setiap harinya itu kini berubah menjadi mendung petang. Sama seperti kondisi hati Mutiara yang terasa gelap saat ini..
Rintik hujan pun mulai turun secara perlahan membawahi buminya. Mutiara, Dia memejamkan matanya karena rasa kantuk yang mulai menyerang. Maklum saja, Semalaman ia tidak dapat memejamkan matanya.
"Mas..
"Iya mbak..
"Saya mau tidur. Kalau udah sampai, Tolong bangunin ya.. Mas gak punya niat jahat kan ke saya?" Pria yang merupakan supir taksi online itu hanya terkekeh dengan pertanyaan Mutiara.
"Mana berani saya macam-macam, Mbak.. Saya juga punya rasa takut. Apalagi saya punya anak gadis.. Kalau saya punya niat buruk, Takut karma Allah bukan terbalas ke saya, Melainkan ke keluarga saya.." Jawan pria itu. Mutiara mengangguk, Ia mulai memejamkan matanya hingga tak lama mulai terlelap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mbak, Mbak.. Sudah sampai. " Mutiara mulai mengerjabkan matanya secara perlahan. Gadis itu terbangun karena supir taksi tadi telah membangunkannya.
Mutiara duduk sebentar, Kepalanya terasa pening. Mungkin karena semalam tidak tidur, Sekalinya tidur hanya sebentar saja.
"Udah sampai, Ya?
"Sudah..
Mutiara meraih beberapa lembaran merah kemudian langsung diberikan pada supir taksi online tersebut.
"Mbak, Ini uangnya kebanyakan..
"Gapapa.. Ambil aja.."
"Terima kasih ya, Mbak..
"Iya" Ucap Mutiara berlalu turun. Mutiara melihat sekeliling tempat itu, Kata Bi Yani perjalanan menuju makam ibunya akan memakan waktu sekitar dua jam an lebih.
Dia sampai keempat ini kurang dari dua jam. Mungkin karena pagi hari, Kendaraan masih sepi dan Kendaraan pun berjalan dengan lancar.
"Ibumu suka bunga mawar putih.. Dia pasti senang melihat putrinya datang dengan membawa bunga itu..
"Bibi tahu letak makam Ibu disebelah mana?
"Tempatnya paling pojok dan paling mewah sendiri.. Karena Tuan selalu memberikan yang terbaik..
Mutiara berjalan dengan santai menuju tempat pemakaman umum yang akan menjadi tujuannya. Gadis itu mampir ditoko bunga yang letakkan tak jauh dari area pemakaman.
Padahal ini masih pagi, Tapi toko tersebut sudah buka. Mungkin karena dekat dengan pemakaman, Makanya sepagi ini sudah siap melayani pembeli.
Mutiara memesan beberapa tangkai bunga mawar putih yang katanya adalah kesukaan ibunya.
Mutiara benar-benar pergi mencari makam sang ibu. Hingga, Gadis itu berhenti ketika nama Anjani Rahayu terpampang nyata dihadapannya.
Ia yakin, Kalau makam itu adalah makam ibunya. Dengan perasaan yang campur aduk, Gadis itu segera duduk bersimpuh dihadapan makam tersebut.
"Assalamualaikum, Ibu..." Ucap Mutiara seraya meletakkan bunga mawar putih itu.
"Ini, Tiara.. Maaf, Putrimu ini baru datang berkunjung." Ucap Mutiara, Air matanya mengalir deras. Setelah dua puluh satu tahun berlalu ini baru bernama kalinya Mutiara datang ke makam ini mengunjungi ibunya.
Gadis itu menangis memeluk rumah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir wanita yang telah mengandung dan melahirkannya itu.
Mutiara memeluk makam Anjani dengan rasa rindu yang teramat dalam. Gadis itu juga mencurahkan segala isi hatinya disana seolah ibunya bisa mendengarnya.
Memang benar, Pengorbanan seorang ibu itu sangatlah besar. Seperti Anjani, Wanita itu rela pergi dari dunia ini selama-lamanya demi kebaikan sang putri.
Bahkan sebelum mendonorkan mata dan jantung nya untuk Diandra. Anjani berniat, Bahwa meskipun dia tidak bisa hidup. Tapi lewat Diandra, Anjani bisa melihat putrinya serta bisa merasakan kedekatan mutiara dari dekat.
Namun sayangnya, Diandra yang memang punya dendam tidak sadar akan semua itu. Semuanya tertutup oleh rasa benci..
•
•
•
TBC
😏😏😏 ,,
semoga ghazi bisa cepat menemukan mutiara ,
lanjut thor ditunggu kelanjutannya, semangattttt💪💪