NovelToon NovelToon
Sistem Kasino Realitas

Sistem Kasino Realitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.

Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.

Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.


Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Tanah liat merah di pemakaman Pesisir Tiram selalu berbau busuk setiap kali diguyur hujan lebat. Air laut pasang merembes melalui celah pematang tambak yang terbengkalai di sisi barat, menggenangi liang-liang lahat dangkal dengan air payau berwarna cokelat pekat. Di tanah buangan ini, orang-orang miskin dikuburkan tanpa nisan batu pualam atau upacara megah. Hanya patok kayu bakau yang ditancapkan terburu-buru sebelum air pasang menenggelamkan seluruh gundukan tanah.

Dua orang kuli gali kubur berkaus kutang compang-camping bekerja tergesa-gesa di bawah guyuran hujan badai. Cangkul berkarat mereka menghantam lumpur liat yang pekat, mengeluarkan bunyi debukan berat setiap kali tanah basah dilemparkan ke tepi lubang. Peluh bercampur air hujan mengalir dari pelipis mereka, mengaburkan pandangan di tengah kegelapan subuh.

“Cepetan, Man!” teriak salah satu kuli melintasi gemuruh petir yang membelah langit teluk. “Tanggul tambak sebelah mau jebol! Air udah naik sebetis di jalan setapak!”

Sora berdiri dua langkah dari tepi liang kubur. Kakinya terbenam lumpur merah hingga ke mata kaki, tetapi tubuhnya tidak bergeming sedikit pun. Kemeja katunnya yang basah kuyup menempel dingin di kulit dada, sementara jaket parka abu-abunya ia kancingkan rapat pada bagian atas untuk melindungi tonjolan syal rajut biru di saku dalam agar tidak basah oleh air hujan.

Di genggaman tangan kanannya, segenggam koin pecahan lima ratus dan seribu rupiah yang ia kais dari lipatan terdalam dompetnya bergemeretak pelan. Uang receh santunan terakhir untuk membayar kain kafan murahan dan upah dua kuli cangkul itu. Ketika peti kayu lapuk berukuran kecil itu diturunkan ke dasar liang yang tergenang air keruh, Sora melepaskan koin-koin itu ke telapak tangan kuli yang basah.

Tanpa sepatah kata pun, kedua kuli itu mulai menimbun lubang dengan gerakan cepat. Tanah liat basah berdebuk menimpa tutup peti kayu, menenggelamkan satu-satunya keluarga yang tersisa bagi Sora di kota ini. Suara debukan tanah basah itu menghantam gendang telinga Sora seperti palu godam.

Deru angin pesisir membawa uap garam tajam dan desau hujan yang menghujam nisan kayu bakau tanpa cat.

Ketika kedua kuli itu bergegas pergi mengemasi cangkul mereka demi menghindari air pasang yang kian tinggi, Sora tetap berdiri memegang nisan kayu yang masih basah dan licin.

Tangannya gemetar hebat. Gigil dari dinginnya air hujan berpadu dengan racun sepsis, menandakan daya tahan fisiknya telah menyentuh batas akhir.

Luka di pangkal kelingking kirinya berdenyut dengan panas yang membakar. Rasa sakitnya kini berganti menjadi rasa kebas yang menjalar ke pergelangan tangan, siku, hingga ke ketiak. Di bawah lilitan kain robekan kemeja yang kotor oleh air comberan dan lumpur pemakaman, tepi luka itu mulai menghitam dan mengeluarkan cairan keruh berbau asam.

Infeksi telah menyebar.

Bakteri dari air selokan Gang Comberan 14 telah memasuki aliran darahnya sejak beberapa jam lalu. Ditambah kehilangan darah dan kedinginan parah akibat berdiri berjam-jam di tengah hujan badai, organ-organ di dalam tubuh Sora mulai kepayahan menyaring racun yang kian pekat.

Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca tajam. Paru-parunya terasa berat dan perih, sementara ritme denyut jantung di dadanya melemah, tersendat-sendat seperti mesin motor perahu yang kehabisan solar di tengah laut lepas.

Sora menatap gundukan tanah merah yang menutup kubur Mila. Di balik kelopak matanya yang perih, kenangan kebersamaan mereka melintas begitu nyata.

Sejak kecil di panti asuhan pinggiran Samudra Nusa, Mila adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini. Ketika penyakit ginjal kronis mulai menggerogoti tubuh adiknya, Sora yang baru berusia delapan belas tahun rela membuang masa depannya dan melangkah masuk ke dunia kasino ruko Jerry demi menutup biaya cuci darah yang mencekik. Mereka keluar dari panti dan menyewa kamar kontrakan kayu sempit di tepi dermaga Pesisir Tiram. Mila selalu menunggunya pulang setiap subuh, menyalakan kompor minyak tanah untuk merebus air hangat, dan tersenyum lembut setiap kali Sora meletakkan selembar uang receh ke dalam kaleng biskuit tabungan operasi.

“Suatu hari nanti, Mas Sora gak usah jaga meja judi lagi,” celoteh gadis itu suatu malam sambil merapikan kaleng biskuit mereka di sela-sela rasa sakit cuci darahnya. “Kita bakal buka kedai teh kecil di pinggir pantai. Jendelanya ngadep ke laut lepas, bukan ke got.”

Dan kini, tempat peristirahatan yang didapatkan Mila hanyalah liang kubur sempit di bawah rawa payau yang bau.

Pikiran itu melintas singkat, dingin dan menghancurkan sisa tenaganya. Jerry masih duduk santai di kursi kantor ruko Tiga Naga, menghitung lembaran uang delapan puluh lima juta miliknya sambil menyesap kretek. Rusli masih memutar cincin kuningan bergeriginya dengan puas. Sementara ia, sang mantan bandar yang bangga dengan keahlian membaca kartu dan mengendalikan ritme meja kasino, kini sekarat di atas tanah makam murah sebelum fajar menyingsing.

Dengan luka membusuk, darah yang terus terbuang, dan tubuh yang kaku kedinginan di tengah badai, peluangnya bertahan hidup hampir mustahil. Tidak ada klinik atau rumah sakit di Samudra Nusa yang mau membukakan pintu bagi orang sekarat tanpa jaminan uang tunai.

Di hadapan hukum kenyataan, angka keberlangsungan hidupnya sudah menyentuh titik terendah.

Tepat pada saat kesadaran Sora mulai oleng dan pandangannya mengabur menjadi kabut abu-abu pekat, keretakan neon yang pertama kali merekah di Gang Comberan 14 tadi subuh kembali bergetar hebat di depan mata kirinya.

Retakan itu nyata.

Garis cahaya hijau pudar dan kuning amber itu memadat cepat di antara deru hujan badai, memperbarui deretan aksara bersudut tegas yang mengambang semi-transparan di bidang pandangnya.

...----------------...

...[SISTEM KASINO]...

...[Status: Penyeimbang Terpilih]...

...[Kondisi: Sepsis Akut 92% - Waktu bertahan 6 jam]...

...[Regenerasi: 1 Point Chip / 24 Jam]...

...----------------...

Papan antarmuka itu menggantung stabil di udara, bergerak presisi mengikuti pergerakan pupil matanya ke mana pun ia menoleh. Deretan aksara itu terpampang bisu dengan baris-baris keterangan yang padat dan dingin, layaknya kuitansi taruhan yang baru keluar dari mesin kasir kasino bawah tanah.

Sora menatap aksara itu dengan dada yang kembang kempis.

‘Penyeimbang?’

‘Point Chip?’

Istilah-istilah itu memicu ingatan naluriahnya sebagai bandar. Di dunia kasino, cip adalah mata uang yang mengendalikan seluruh taruhan di atas meja karpet hijau. Siapa yang memiliki cip berkuasa untuk menentukan giliran. Siapa yang kehabisan cip akan langsung diseret keluar oleh petugas keamanan.

Namun baris kedua antarmuka itu membuat darahnya tersentak saat membaca sepsis sembilan puluh dua persen.

Angka persentase itu berkedip lambat dengan warna merah pudar. Tepat di bawahnya, sebuah penghitung mundur digital berjalan mundur detik demi detik, menandakan waktu hidupnya tersisa kurang dari enam jam.

Enam jam. Tubuhnya hanya memiliki sisa waktu enam jam sebelum racun yang mengalir di pembuluh darahnya melumpuhkan detak jantung secara total.

Sora mengangkat tangan kanannya yang kotor oleh tanah liat merah, berniat menyentuh tulisan neon bercahaya itu. Namun jemarinya hanya menembus udara dingin yang basah oleh tetesan air hujan. Teks itu tidak memiliki wujud fisik di ruang luar. Pantulannya terpatri langsung ke retina matanya dari dalam sistem sarafnya sendiri.

Tiba-tiba rasa pening yang hebat menghantam kepalanya.

Pandangannya miring seketika. Lututnya kehilangan seluruh tenaga, menghantam lumpur liat merah di samping nisan kayu Mila dengan debukan keras. Pegangan tangannya pada nisan terlepas, dan pipi kirinya terhempas ke genangan air payau yang dingin membekukan.

Di sudut matanya yang setengah terpejam, antarmuka bercahaya itu masih menyala redup di tengah kegelapan yang kian merayap.

...----------------...

...[SISTEM KASINO]...

...[Denyut Jantung: 42 bpm - Menurun]...

...[Peringatan: Tekanan darah mendekati batas kritis]...

...----------------...

“Bukan sekarang…” bisik Sora parau. Air lumpur asin masuk ke sela bibirnya yang pecah-pecah. “Belum…”

Ia tidak boleh mati di sini. Jika ia membiarkan napasnya terputus malam ini di atas kuburan becek ini, pengorbanan Mila hanyalah menjadi angka di buku catatan kamar jenazah, dan Jerry akan terus menikmati kekayaannya tanpa pernah mencium bau darah yang ia tumpahkan.

Tubuhnya terlalu dingin dan racun di dalam darahnya terlalu berat untuk dilawan. Kelopak mata Sora terkulai rapat, napasnya tersengat pendek, dan tubuhnya terbujur kaku di antara nisan kayu Pesisir Tiram sementara air pasang perlahan merayap naik menyentuh ujung sepatunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!