NovelToon NovelToon
Aura Clarissa

Aura Clarissa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:675
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.

Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.

Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Undangan Makan Malam

"Aw... sakit!" ringis Aura saat jemari Darrel mengoleskan salep di luka sayatan kecil pada lehernya.

Darrel merawatnya dengan sangat telaten dan hati-hati. Usai meratakan salep, pria itu meniupnya perlahan. Sensasi hembusan napas hangat Darrel di lehernya membuat dada Aura berdesir hebat, jantungnya berdetak jauh lebih kencang dari biasanya. Refleks, Aura mendorong dada Darrel dengan lembut untuk memberi jarak.

"Te... terima kasih, Pak," ucap Aura gugup dengan wajah memerah.

Darrel mengalihkan pandangan, menutupi senyum tipis yang terulas di bibirnya melihat reaksi tegang Aura.

"Sini..."

"A... apa?"

Tanpa menanti jawaban, Darrel meraih jemari Aura. Pergelangan tangan wanita itu tampak lecet membiru bekas jeratan tali. Dengan kapas, Darrel mengoleskan salep yang sama secara perlahan.

Aura meringis menahan perih. Namun di balik rasa sakit itu, matanya menatap lekat paras tegas Darrel yang begitu fokus merawatnya. Cengkeraman tangan pria itu terasa sangat hangat dan protektif. Begitu Darrel mendongak dan menangkap pandangannya, Aura buru-buru memalingkan wajah ke jendela.

"Aku kan sudah mengenal mu dengan baik, tidak usah secanggung itu. Bahkan kita sudah pernah—"

"Itu bukan aku!" potong Aura cepat dengan napas tertahan.

Darrel terkekeh pelan. Pria itu melanjutkan membalut pergelangan tangan Aura menggunakan perban kasa. "Tapi kamu bisa merasakannya kan, Aura? Apa kamu tidak merasa berdebar saat itu?"

Dada Aura makin bergemuruh mendengar pertanyaan godaan itu. Ia memilih melipat bibir, berpura-pura sibuk menatap deretan bangunan di luar kaca mobil dan mengabaikan Darrel.

Beberapa menit kemudian, SUV hitam milik Darrel berhenti tepat di pelataran apartemen. Darrel turun dan membukakan pintu untuk Aura.

"Apa botol di dalam tong sampah itu obat yang biasa kamu minum?" tanya Darrel tiba-tiba sebelum Aura melangkah pergi.

Aura tersentak, menghentikan langkahnya. "Obat?"

Darrel mengangguk pelan. "Kamu membuangnya?"

Aura terdiam sejenak. Ia merasa tak pernah membuang botol obat penenangnya sendiri. Namun, ia menyadari kepalanya memang kerap berdenyut hebat belakangan ini, disertai ingatan yang terputus-putus. Aura paham, pasti sisi dirinya yang lain yang telah membuang obat itu saat menguasai tubuhnya.

Tak ingin merepotkan Darrel lebih jauh dan enggan membongkar terlalu banyak rahasia pribadinya, Aura memilih berbohong.

"Bukan... mungkin itu cuma botol vitamin yang sudah kedaluwarsa," ujar Aura mencoba tersenyum wajar. "Ya sudah, saya masuk dulu. Terima kasih sudah mengantar."

Tanpa menunggu balasan Darrel, Aura berbalik cepat dan berlalu memasuki koridor gedung.

.

.

.

Ruang makan di mansion megah keluarga Gorge dipenuhi nuansa kemewahan yang dingin. Malam itu, Robert Gorge duduk berwibawa di ujung kursi utama meja makan marmer mengkilap yang membentang luas. Berbagai hidangan mahal racikan koki mancanegara tersaji sempurna di hadapan Daffa dan Sofie.

Robert berdehem pelan. Seorang pelayan dengan sigap mendekat seraya menunduk, menyajikan beberapa pil obat dan vitamin di hadapan Robert.

"Kek, biarkan Daffa saja yang mengurus Gorge Company. Kakek cukup beristirahat saja di rumah," cetus Daffa membuka suara.

Dua tablet diteguk cepat oleh Robert, disusul seteguk air putih.

Duk!

Gelas kaca itu dihempaskan cukup keras ke atas meja, memutus keheningan.

"Mengurus bisnis kecilmu saja kamu tidak becus, apalagi kalau harus menyerahkan Gorge Company padamu!" pangkas Robert tajam dan dingin.

Sofie di samping Daffa mendadak tegang dan menyenggol pelan lengan suaminya.

"Kek, Darrel sendiri bahkan belum pulang sejak siang. Dia asyik berpacaran dengan Aura Clarissa—penulis yang naskahnya minta difilmkan itu," sergah Daffa mengadu, mencoba mengalihkan titik serangan.

Robert menghentikan denting garpunya di atas piring. Selera makannya mendadak menguap hanya dengan mendengar nama wanita itu.

Sejak pesta malam itu, Robert merasa kehilangan muka akibat pengumuman sepihak Darrel di hadapan para wartawan yang membuat nama perusahaan diserbu media.

"Sofie, hubungi Lyora. Bujuk dia agar segera kembali ke sini," perintah Robert tanpa membantah.

Bibir Sofie seketika mengulas senyum puas. "Baik, Kek. Aku akan menghubunginya nanti."

Daffa pun ikut tersenyum sinis melihat respons tegas kakeknya.

Tak berselang lama, derap langkah kaki terdengar. Darrel bergabung di meja makan. Pria itu sudah berganti pakaian menggunakan kaus kasual hitam, rambutnya tersisir rapi dan tampak segar usai membersihkan diri.

Saat Darrel menduduki kursinya, suasana meja makan seketika membisu. Suara benturan sendok dan garpu mendadak lenyap.

"Ada apa? Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Darrel santai seraya menyuap santapannya.

Robert menatap cucunya datar. "Ajak penulis itu untuk makan malam bersama di sini besok."

Mendengar instruksi itu, Daffa dan Sofie seketika saling lempar pandang penuh keterkejutan.

.

.

Usai makan malam, Sofie menghempaskan tubuhnya ke sofa kamar dengan wajah cemberut. Matanya menatap kesal ke arah Daffa yang sedang menyesap rokok di balkon.

"Aku tidak sudi melihat wajah wanita penggoda itu lagi di rumah ini!" omel Sofie luapan emosi.

Daffa tetap berdiri di sana, menghembuskan asap rokoknya ke udara malam yang ditaburi bintang.

"Sofie, kamu kan tahu bagaimana aku," sahut Daffa halus seraya berbalik. "Mana mungkin aku punya hubungan khusus dengan perempuan kelas bawah seperti dia? Kamu cuma salah paham. Zaman sekarang kan maraknya foto rekayasa kecerdasan buatan... foto AI."

Sofie bangkit, melangkah mendekat dan memeluk pinggang suaminya dari belakang. "Kali ini aku mempercayaimu. Tapi kalau sampai aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku... aku tidak akan pernah memaafkanmu lagi."

Daffa melepaskan pelukan Sofie perlahan, berbalik lalu merengkuh tubuh istrinya kembali ke dalam dekapan. Jemarinya membelai lembut pucuk kepala Sofie, sementara bibirnya mengulas senyum tipis—sebuah senyum misterius penuh arti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!