Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: PERINGATAN RAHASIA DARI KOTA ASAL
Dua hari menjalani perawatan intensif di kamar VIP, warna di kulit Clara perlahan kembali. Infus nutrisi dan vitamin penambah darah yang diinstruksikan oleh Dokter Hendra bekerja efektif meredakan gejolak anemianya.
Sore itu, suasana kamar VIP begitu lengang. Arsen sedang meninggalkan rumah sakit sejenak untuk menghadiri rapat darurat direksi di kantor pusat keluarganya.
Clara duduk bersandar di ranjang medis, menatap keluar jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan langit senja kota Jakarta. Di tangannya, sebuah ponsel pintar tua—satu-satunya barang peninggalan almarhumah ibunya—tergeletak bisu di atas pangkuan.
Bzzzt... Bzzzt...
Getaran panjang dari ponsel itu membuat Clara terlonjak kaget. Layar ponsel menunjukkan sebuah nomor tak dikenal yang berasal dari kode area kota asalnya.
Dengan tangan gemetar dan jantung berdebar aneh, Clara menggeser tombol hijau.
"H-halo?" panggil Clara pelan.
Hening sejenak di ujung telepon, sebelum suara seorang wanita paruh baya yang terdengar serak dan cemas berbicara dengan tergesa-gesa.
"Clara? Ini kamu, Nak? Puji Tuhan... akhirnya nomor ini tersambung..."
Clara mengerutkan dahi, berusaha mengenali suara itu. "Maaf... ini siapa ya?"
"Ini Bu Salmah, tetangga sebelah rumah kontrakan lamamu di desa..." jawab wanita itu setengah berbisik, seolah takut pembicaraannya disadap. "Clara, dengarkan Ibu baik-baik. Kamu harus sangat berhati-hati..."
Dada Clara berdegup makin kencang. "Ada apa, Bu Salmah? Ada masalah dengan kontrakan lama ibuku?"
"Dua hari lalu... ada beberapa pria berjas hitam dengan mobil mewah datang ke desa kita," tutur Bu Salmah dengan nada bergidik ngeri. "Merek menggeledah bekas rumah kontrakan ibumu! Mereka membongkar lemari tua dan menginterogasi warga sekitar tentang masa lalu almarhumah ibumu!"
Wajah Clara mendadak pucat. "Pria berjas hitam? Siapa mereka, Bu?"
"Ibu tidak tahu pasti, tapi salah satu warga sempat mendengar mereka menyebut nama 'Keluarga Baskara'!" bisik Bu Salmah panik. "Mereka mencari dokumen kelahiranmu dan surat-surat tua peninggalan ibumu! Ibu meneleponmu cuma mau mewanti-wanti... Ibu merasa ada rahasia besar yang sedang ditutupi orang-orang kaya itu dari kamu, Clara!"
DEG!
Ponsel di genggaman Clara hampir saja terlepas. Nama 'Baskara'—nama belakang Arsen dan ayahnya—terngiang-ngiang bising di dalam kepalanya.
Kenapa keluarga Baskara sampai mengirim orang untuk menggeledah masa lalu ibuku di desa? Apa yang sebenarnya mereka cari? batin Clara dengan dada bergemuruh hebat.
"Clara? Kamu masih di sana, Nak?" suara Bu Salmah memecah kebuntuan.
"I-iya, Bu Salmah... terima kasih banyak atas informasinya," bisik Clara serak. "Tolong jangan beritahu siapa pun bahwa Ibu sempat meneleponku."
"Iya, Nak. Kamu hati-hati di sana..."
Panggilan terputus. Clara meremas ponsel tua itu rapat-rapat ke dadanya. Pikiran dan benaknya kini dipenuhi kecurigaan dan tanda tanya besar.
Sebelum Clara sempat mencerna semuanya, pintu kamar VIP mendadak terbuka.
Arsen melangkah masuk. Jas hitam mewahnya tersampir rapi di lengannya, dan tatapan mata pekatnya langsung menancap pada ekspresi pucat dan gelisah di wajah Clara.
"Ada apa?" tanya Arsen dingin seraya mendekati ranjang, menyipitkan mata saat melihat ponsel di tangan Clara. "Siapa yang baru saja meneleponmu?"
Clara dengan cepat menyembunyikan ponselnya di bawah selimut, berusaha menguasai raut wajahnya di hadapan Tuan Muda yang menyimpan begitu banyak misteri itu.
Clara menggenggam erat ponsel tua di balik selimut. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyiksa dada, namun ia berusaha keras menjaga raut wajahnya agar tetap datar. Di hadapannya, Arsen berdiri dengan porsi dominasi yang utuh, menatapnya penuh selidik.
"Hanya... bibi pemilik kontrakan lama," bohong Clara dengan suara yang sebisa mungkin dibuat tenang. "Dia menanyakan kapan barang-barang almarhumah ibuku yang tersisa akan diambil."
Arsen menyipitkan mata pekatnya. Ia melangkah mendekati ranjang, menundukkan tubuhnya hingga jarak wajah mereka hanya tersisa belasan sentimeter. Hawa dingin dan aroma cendana yang khas dari tubuh Arsen mengurung indra penciuman Clara.
"Jangan pernah mencoba berbohong padaku, Clara," bisik Arsen rendah, nada suaranya sarat ancaman yang sangat halus namun mematikan. "Matamu selalu bergerak ke kiri bawah setiap kali kamu menyembunyikan sesuatu."
Clara menahan napas, tak berani berkedip maupun memalingkan wajah. "Aku tidak bohong, Arsen. Untuk apa aku membohongimu?"
Arsen menatap lekat-lekat mata cokelat Clara yang bergetar tipis. Ada gejolak dorongan emosional yang amat familiar merebak di dadanya—rasa ingin memiliki, mengunci, dan memastikan gadis ini berada dalam jangkauan kekuasaannya tanpa ada rahasia sedikit pun.
Namun, begitu jemari Arsen terangkat hendak mencengkeram dagu Clara, benteng penolakan batin yang tebal itu kembali membentang kokoh. Sensasi penolakan yang janggal itu membuat dada Arsen bergemuruh sesak. Arsen menarik tangannya kembali secara lambat, mengepalkan jarinya kuat-kuat di dalam saku celana.
"Bagus kalau begitu," cetus Arsen seraya menegakkan tubuhnya kembali. "Ingat, semua hal tentang dirimu adalah milikku. Kamu tidak punya alasan untuk berhubungan lagi dengan orang-orang dari masa lalumu."
Arsen berbalik melangkah menuju sofa kulit di sudut ruangan, menyandarkan tubuh tegapnya di sana tanpa berniat pergi.
Clara menyembunyikan tangannya yang gemetar di bawah selimut. Tatapannya tertuju pada punggung Arsen. Pria di hadapannya ini adalah orang yang menyelamatkan nyawanya, melunasi utang ibunya, dan merawatnya di kamar VIP ini. Namun di saat yang sama, Arsen dan keluarganya adalah misteri besar yang kini menebarkan benih ancaman yang sangat mengerikan.