NovelToon NovelToon
Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.

Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Di sisi lain, Su Yuhan juga telah mengambil keputusan bulat di dalam kepalanya.

"Asisten Lin, cari tahu semua latar belakang pemuda bernama Jiang Chen itu besok pagi," bisik Su Yuhan pada asistennya yang baru tiba.

"Aku ingin tahu di mana dia tinggal, apa kesukaannya, dan siapa saja musuhnya."

Su Yuhan tersenyum tipis membayangkan wajah jengkel pria itu saat mereka bertemu lagi besok.

Sementara itu, di sebuah jalanan sepi tidak jauh dari rumah sakit.

Jiang Chen berjalan dengan langkah lebar sambil memegangi perutnya yang berbunyi sangat nyaring.

Hembusan angin malam terasa sangat segar menerpa wajahnya.

Dia baru menyadari bahwa panca inderanya menjadi jauh lebih tajam setelah mendapatkan warisan energi mistis itu.

Dia bisa mendengar suara gemerisik daun yang jatuh sejauh belasan meter.

Bahkan hidungnya bisa mencium aroma bumbu masakan dari pedagang kaki lima yang berjarak dua blok dari tempatnya berdiri.

"Sreng sreng."

Suara spatula besi yang beradu dengan wajan baja terdengar sangat merdu seperti alunan musik surga di telinga Jiang Chen.

Dia segera berlari kecil menuju sebuah gerobak nasi goreng yang masih buka di pinggir trotoar jalan.

"Paman! Pesan dua porsi nasi goreng daging sapi porsi kuli, jangan pakai sayur!" teriak Jiang Chen dengan penuh semangat.

Pedagang tua yang sedang memasak itu tersenyum ramah melihat pelanggannya.

"Siap Anak Muda, tunggu sebentar ya, daging sapinya akan paman perbanyak khusus untukmu."

Hanya dalam waktu sepuluh menit, dua piring besar nasi goreng mengepul panas sudah tersaji di atas meja kayu.

Tanpa mempedulikan rasa panas yang membakar lidahnya, Jiang Chen langsung menyuap nasi itu dengan rakus.

Nyam nyam nyam.

Mulutnya penuh dengan nasi dan daging, membuat pipinya menggembung seperti tupai kelaparan.

Saat makanan itu masuk ke dalam perutnya, dia bisa merasakan energi aneh bekerja di dalam tubuhnya.

Sari pati makanan itu diproses dengan kecepatan tidak wajar, mengubah kalori menjadi energi hangat yang mengalir ke meridiannya.

"Wow, ternyata orang yang punya tenaga dalam gampang lapar karena tubuhnya membakar energi seperti mesin jet," gumam Jiang Chen takjub.

Dia menghabiskan dua porsi raksasa itu dalam waktu kurang dari lima menit.

Setelah membayar dengan selembar uang seratus Yuan dan memberikan kembaliannya sebagai tip, Jiang Chen kembali melanjutkan perjalanannya.

Tujuannya sekarang adalah kembali ke rumah kos kumuhnya yang berada di pinggiran kota.

Jaraknya cukup jauh, tetapi dengan stamina barunya, Jiang Chen memutuskan untuk berjalan kaki sambil melatih pernapasan.

Satu jam kemudian, dia tiba di depan sebuah bangunan tua berlantai dua yang catnya sudah banyak terkelupas.

Ini adalah kos-kosan termurah di distrik ini, tempat berkumpulnya para buruh pabrik dan mahasiswa miskin.

Lampu pijar kekuningan berkedip-kedip redup di lorong pintu masuk.

Saat Jiang Chen baru saja melangkah melewati pintu gerbang berkarat, sebuah bayangan besar tiba-tiba menghadangnya.

"Mau menyelinap masuk tengah malam, hah, dasar gembel?!"

Suara melengking yang sangat familiar itu membuat bulu kuduk Jiang Chen langsung merinding seketika.

Seorang wanita paruh baya bertubuh tambun berdiri berkacak pinggang di tengah lorong.

Dia adalah Bibi Wang, ibu kos paling ganas dan tidak kenal ampun di seluruh kawasan ini.

Di tangan kanannya, wanita itu memegang sebuah sapu ijuk yang siap dipukulkan kapan saja.

"Bibi Wang yang cantik, kenapa kau belum tidur jam segini?" sapa Jiang Chen mencoba berbasa-basi.

"Cantik kepalamu! Mana uang sewa tiga bulan yang kau janjikan di telepon tadi?!" bentak Bibi Wang tanpa ampun.

"Kalau kau tidak bawa uang malam ini, malam ini juga kau tidur di trotoar depan sana!"

Wanita tambun itu melangkah maju dan mendorong dada Jiang Chen dengan ujung gagang sapunya.

Biasanya Jiang Chen akan langsung memohon ampun dan berlutut meminta keringanan waktu.

Tapi malam ini, pemuda itu hanya tersenyum congkak sambil merogoh saku kemejanya.

"Berapa total utangku padamu, Nyonya Wang?" tanya Jiang Chen dengan nada angkuh yang sengaja dibuat-buat.

"Sewa tiga bulan, denda keterlambatan, dan uang air, totalnya tepat seribu dua ratus Yuan!" jawab Bibi Wang galak.

Jiang Chen mendecakkan lidahnya dan menarik satu gepok uang merah dari balik bajunya.

Dia sengaja melepaskan pita kertas bank itu dan menghitung dua belas lembar uang seratus Yuan di depan wajah ibu kosnya.

Srak srak srak.

Mata Bibi Wang yang sipit langsung membelalak sebesar piring terbang melihat tumpukan uang tunai di tangan pemuda itu.

"Ini seribu dua ratus Yuan milikmu, ambil dan jangan pernah menagihku dengan berteriak lagi," ucap Jiang Chen sambil menempelkan uang itu ke telapak tangan Bibi Wang.

Wanita paruh baya itu mematung seolah jiwanya baru saja dicabut oleh malaikat maut.

Dia membolak-balikkan lembaran uang merah itu ke arah cahaya lampu redup untuk memastikan keasliannya.

"Ini uang asli? Dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini, Jiang Chen?!" tanya Bibi Wang dengan nada yang tiba-tiba berubah sangat sopan.

"Apakah kau baru saja merampok bank atau menjual ginjalmu di pasar gelap?"

Jiang Chen hanya mendengus sombong sambil melipat kembali sisa uangnya yang masih sangat tebal.

"Aku diterima bekerja sebagai konsultan medis di sebuah keluarga konglomerat, gajiku dibayar di muka," bohong Jiang Chen tanpa berkedip.

Dia merogoh lima lembar uang seratus Yuan lagi dan menyelipkannya ke kantong daster wanita itu.

"Itu lima ratus Yuan untuk sewa bulan depan, mulai besok jangan berani mengetuk pintuku saat aku sedang tidur."

Tanpa menunggu balasan dari ibu kosnya yang masih syok berat, Jiang Chen melangkah pergi menaiki tangga menuju kamarnya.

Bibi Wang hanya bisa menatap punggung pemuda itu dengan mulut ternganga lebar.

"Konsultan medis? Sejak kapan bocah pengangguran itu mengerti soal obat-obatan?" gumam Bibi Wang kebingungan.

Di lantai dua, Jiang Chen membuka pintu kamarnya yang sempit dan berbau apek.

Ruangan itu hanya berisi sebuah kasur lipat tipis, lemari plastik yang sudah melengkung, dan kipas angin usang yang berisik.

Tapi malam ini, ruangan kumuh itu terasa seperti istana bintang lima bagi Jiang Chen.

Dia mengunci pintu rapat-rapat dan melemparkan tubuhnya ke atas kasur lipatnya.

Jiang Chen mengeluarkan kelima gepok uang dari balik bajunya dan menyebarkannya di atas kasur.

"Empat puluh delapan ribu tiga ratus Yuan," gumam Jiang Chen sambil menatap tumpukan uang itu dengan senyum lebar.

"Mulai besok, hidupku tidak akan pernah sama lagi."

Dia memejamkan matanya, membiarkan energi warisan ilmu medis di dalam tubuhnya perlahan menyembuhkan rasa lelahnya.

Jutaan baris teks medis dan teknik bela diri perlahan kembali berputar di dalam benaknya, bersiap untuk dipelajari secara mendalam keesokan harinya.

1
watno antonio
lanjut thorrrrr ceritanya rame.up yang banyak thor
Abady Ehm
cerita sampah juga nih,.....
ARay
ini cowok mulutnya lemez banget, pake rok aja sekalian
syarif ibrahim
orang lugu cuman ada di komik dan novel saja🤭😄tidak ada di dunia ini🤭😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!