Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesona Cataleya
“Halo,” ujar Leya lagi karena masih belum ada jawaban dari seberang.
“H-Halo,” jawab Pradipta gugup. “A-Apa Giana sudah tidur?” tanya Pradipta dengan suara sedikit tergagap.
“Giana sudah tidur. Tadi aku kasih dia obat penenang supaya bisa tidur.”
“Syukurlah. Tapi dia nggak apa-apa, kan? Maksudku, badannya nggak ada yang luka, kan?”
“Luka fisik nggak ada. Tapi pasti dia trauma.”
“Tolong kamu temani dia malam ini. Besok pagi, aku dan Gilang akan langsung menjenguknya.”
“Baiklah.”
Karena tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Leya langsung mengakhiri panggilan. Sejenak, Pradipta memandangi ponselnya. Jantungnya masih berdetak tak karuan. Kehadiran Leya benar-benar sudah mengusik akal sehatnya.
Gadis yang baru ditemuinya sekilas dua tahun lalu tiba-tiba muncul di hadapannya malam ini. Pikiran Pradipta terus tertuju pada Leya.
“Bang, malah bengong,” tegur Gilang saat melihat Pradipta melamun. “Kita mau ke mana sekarang? Mau nengok Gia, nggak?”
“Gia udah tidur. Besok aja kita nengoknya. Sekarang kita pulang aja.”
Pradipta segera menyalakan mesin mobil. Perlahan roda mobil bergerak meninggalkan area parkir kantor Polda.
Hari sudah lewat tengah malam begitu mereka sampai di rumah. Pradipta dan Gilang langsung masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Peristiwa tadi cukup banyak menguras energi mereka.
Setelah membersihkan tubuh, Pradipta merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pandangannya tertuju ke langit-langit kamar.
Senyum tersungging di bibirnya begitu membayangkan wajah cantik Leya. Sejak kemunculan gadis itu, Pradipta lebih banyak tersenyum hari ini.
Perlahan, Pradipta memejamkan matanya. Pria itu berharap bisa bertemu Leya di dalam mimpi.
***
Keesokan paginya, Pradipta segera mengajak Gilang menjenguk Giana. Selain ingin mengetahui keadaan Giana, Pradipta juga ingin bertemu Leya lagi.
Di perjalanan, Pradipta menyempatkan diri membeli sarapan dan kue-kue kesukaan Giana.
Setelah membeli sarapan dan kue-kue, Pradipta kembali melanjutkan perjalanan. Jantung pria itu kembali berdebar tak karuan saat mereka semakin dekat dengan kos Giana.
Pradipta memarkir mobilnya tidak jauh dari kos Giana. Gilang membawa bungkusan berisi sarapan dan kue. Kedua pria itu segera menuju kos Giana.
Senyum Pradipta mengembang saat melihat motor trail milik Leya terparkir di garasi kos iut. Artinya, gadis itu masih bersama Giana.
“Pagi, Bu,” sapa Gilang kepada Ibu Kos sambil melemparkan senyuman manis.
“Pagi-pagi udah ke sini. Mau apa?” tanya Ibu Kos dengan nada ketus.
“Kita mau jenguk Giana, Bu,” jawab Gilang dengan sopan, meski pria itu dongkol melihat sikap jutek Ibu Kos bertubuh tambun itu.
“Jangan lama-lama!” serunya sambil masuk ke dalam rumah.
Gilang segera mengirimkan pesan kepada Giana lalu menunggu gadis itu di teras. Gilang tidak mau masuk ke dalam rumah. Dia malas melihat Ibu Kos yang tidak ramah lingkungan.
Beberapa menit kemudian, Giana keluar bersama Leya.
“Kalian udah sarapan belum?” tanya Gilang.
“Belum,” jawab Leya cepat. Perutnya memang sudah keroncongan. Tadinya dia bermaksud mengajak Giana mencari sarapan. Ternyata, Pradipta dan Gilang datang lebih dahulu dengan membawa makanan pemadam kelaparan.
“Mau makan di mana? Di sini aja?” tawar Gilang.
“Jangan. Aku malas makan sambil dilihatin dugong,” jawab Leya pelan sambil melirik Ibu Kos yang terus mengawasi mereka.
“Makan di mobil aja gimana?” usul Pradipta.
Semua menyetujui usulan Pradipta. Mereka segera meninggalkan kos Giana lalu masuk ke mobil.
“Gi, kamu udah baikan?” tanya Pradipta setelah mereka berada di dalam mobil.
“Iya, Pak,” jawab Giana pelan.
Gilang membuka bungkus makanan, lalu memberikannya kepada Giana. Leya terharu melihat kepedulian Pradipta dan Gilang terhadap Giana.
“Mau konsul ke psikolog, nggak?” tawar Pradipta. Pria itu khawati jika Giana akan mengalami trauma berkepanjangan.
“Nggak usah, Pak,” jawab Giana pelan. Gadis itu yakin bisa melupakan peristiwa menakutkan itu dalam beberapa hari ke depan.
“Oh ya, Le. Makasih ya buat pertolongannya,” celetuk Gilang.
“Le?” tanya Leya dengan kening berkerut.
“Nama kamu, kan, Leya. Kalau aku panggil Le, nggak salah, kan? Biar singkat, padat, dan hemat energi.”
“Berasa kayak Lele dipanggil Le, doang,” gerutu Leya.
Perdebatan antara Gilang dan Leya membuat Giana tersenyum. Gilang memang selalu bisa menghidupkan suasana.
“Nama lengkap kamu siapa?” Pradipta memberanikan diri untuk bertany, meski jantungnya semakin berdebar kencang.
“Cataleya Aurelia,” jawab Leya sambil tersenyum.
“Kalau gitu, enaknya gue panggil Katel ye?” celetuk Gilang.
Sebuah jitakan langsung mendarat di kepala Gilang. “Aduh! Buset, lo jadi cewek bar-bar amat!” sungut Gilang,
“Daripada elo, jadi laki nggak bsia berantem,” balas Leya.
“Weh, sembarangan. Lo nggak lihat semalam, gue udah kayak Jet Lee.”
“Heleh. Lo bisa berantem karena ada hantu yang ngerasukin elo, kan?”
“Bentar. Lo indigo juga?” tanya Gilang.
“Nggak. Gue nggak bisa lihat mereka, tapi gue bisa merasakan kehadiran mereka. Pas gue ada di dekat kalian, bulu kuduk gue berdiri. Itu artinya ada makhluk astral di tubuh kalian.”
“Ooo ….” Hanya itu yang keluar dari mulut Gilang.
Leya dengan cepat memasukkan donat ke mulut Gilang yang setengah terbuka.
Meski terkejut, Gilang tetap menghabiskan donat tersebut.
Giana terus tertawa melihat interaksi antara Gilang dan Leya. Sekilas, keduanya sudah seperti Tom and Jerry. Entah siapa yang menjadi Tom, dan siapa yang menjadi Jerry.
Saat sarapan yang diselingi perdebatan Leya dan Gilang berlangsung, ponsel Pradipta berdenting. Sebuah notifikasi bank muncul.
Orang tua Alma baru saja mentransfer pembayaran sesuai jumlah yang disepakati. Pasangan itu membayar jasa PRADA TRACE sebesar 100 juta.
Notifikasi lain muncul. Kali ini, orang tua Anjani yang mengirimkan bayaran. Dari orang tua Anjani, Pradipta menerima uang sebesar lima puluh juta rupiah.
Terakhir, Nelly yang mengirimkan pembayaran. Wanita itu juga membayar 50 juta rupiah. Total, mereka mendapatkan bayaran sebesar dua ratus juta rupiah.
Pradipta memang tidak memasang tarif yang harus dibayar oleh klien. Dia membebaskan klien untuk membayar sesuai nominal yang mereka sanggupi.
“Kenapa, Bang? Cerah banget tuh muka,” tanya Gilang. “Bayaran udah keluar, ya?” terka Gilang.
“Iya. Nanti setelah dihitung berapa pengeluarannya, seperti biasa, bakal dibagi rata,” ujar Pradipta.
Gilang dan Giana tampak senang karena pundi-pundi uang mereka akan bertambah lagi.
“Gi, lo nggak ada niatan pindah kos gitu? Betah amat sama Ibu Kos yang judes itu.”
“Mau sih. Aku lagi cari kos yang enak dan fasilitasnya lengkap,” jawab Giana.
“Kamu tinggal sama aku aja,” celetuk Leya.
“Tinggal sama kamu?” tanya Giana terkejut. Namun, ada rasa senang yang menyusup ke dalam hatinya. Bukan karena mendapat tempat tinggal gratis, melainkan karena dia memang menyukai Leya.
“Iya. Aku tinggal sendiri di sini. Orang tuaku tinggal di Jakarta. Kakakku juga bertugas di Magetan.”
“Kakak kamu kerja di mana?” tanya Gilang penasaran.
“Kakakku TNI AU. Dia dan istrinya tinggal di sana. Papaku juga tinggal di Jakarta. Papa masih jadi TNI AD aktif.”
“Wah, ternyata kamu anak tentara. Pantas kamu bisa bela diri,” ujar Gilang dengan nada kagum.
Berbeda dengan Gilang yang merasa kagum, Pradipta justru merasa minder. Pria itu tiba-tiba saja pria itu merasa minder saat mengetahui bahwa Leya berasal dari keluarga tentara.
***
Jangan minder, Dip. Maju terus pantang malu😂
gian bs x y trus pantau mereka🤭
biarpun dia itu istrinya ....sapa tau dia ingin menguasai harta suaminya....dan juga polis asuransi jiwa yang sangat besar.....kan selama ini dia selalu berselisih paham dgn adik iparnya Khalisa .... hubungannya gk baik....bisa aja setelah semua di miliki di kuasai dia akan usir Khalisa 😔