NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12: Giliran Hendra yang Sakit

Setibanya di restoran Waroeng Kayoe, kami diberitahu oleh Jeje bahwa vendor untuk sayuran sudah menunggu. Mereka katanya sudah janjian dengan Jefry dari jam sepuluh tadi.

Bukan langsung menemui, Jefry justru masuk ke dalam kantor restoran yang ada di belakang, lalu minta Jeje agar membawakan makan siang untuk kami.

Lagi-lagi sikap arogan yang menyebalkan dari Jefry. Entah kenapa aku baru menyadarinya sekarang.

Kami duduk di sofa kantor restoran, sedangkan Jefry duduk di kursi utama yang biasa ditempati oleh Damar atau Sully.

“Enak banget ya kalo jadi bos, tinggal suruh-suruh doang,” ujarnya sambil menyilangkan kaki.

Tidak ada yang menanggapi seakan kami sepakat kalau Jefry melakukan hal tak sepatutnya.

“Bang, itu vendornya nggak mau ditemuin dulu?” kataku berusaha membantu.

“Tunggu dulu ah, laper gua, Gas. Nggak bisa mikir kalo perut kosong.”

Andai saja aku paham, punya wewenang, pasti aku akan menawarkan diri untuk menemui vendor tersebut. Tapi sayangnya, aku tidak paham.

Tak berapa lama, pelayan datang membawakan makanan untuk kami.

***

Sore hari, hujan turun cukup deras.

Restoran pun sepi.

Kami berinisiatif untuk melakukan karaoke yang memang tersedia di restoran sebagai fasilitas pengunjung.

Kami saling bergantian menyanyikan lagu-lagu favorit kami. Tapi setelah hampir satu jam karaoke, bosan mulai menerjang.

Kami memutuskan untuk berhenti. Selanjutnya sibuk dengan kepentingan masing-masing.

Aku melakukan video call bersama Delia dan anakku, Rafa. Sedang Jefry terlihat asik menonton cuplikan pertandingan sepak bola.

Lalu Shinta sibuk dengan laptopnya, mengejar ketertinggalan pekerjaan selama ia sakit kemarin.

Di sini tidak ada yang menyadari kalau Hendra tidak enak badan, sedang terduduk lemas di kantor restoran, sendirian.

Kondisi Hendra terungkap setelah aku selesai video call, mencari keberadaannya yang tak terlihat. Aku kemudian menemukan Hendra sedang menggigil kedinginan meringkuk dengan kaki terangkat di atas sofa.

“Gas, kayaknya gua sakit deh,” ucapnya pelan.

Aku pun langsung mendekat, “Lo kenapa nggak bilang tadi, Bang.”

“Gua panggilin dulu yang lain ya.”

Bergegas aku pergi memanggil Jefry dan Shinta yang ada di restoran.

Jefry datang lebih dulu, disusul dengan Shinta dengan membawa laptop di tangannya.

“Kenapa lu bro?” tanya Jefry singkat.

Tak menjawab, Hendra hanya menggelengkan kepala.

“Kita bawa ke klinik kemarin aja ya?” kataku.

“Iya, pucet banget muka lo, Bang,” ucap Shinta.

Kami pun membawa Hendra untuk diperiksa ke klinik tempat kemarin Shinta diobati.

Kali ini aku yang menyetir. Hendra di sebelah, Jefry di belakangku. Ia kemudian berbisik di telingaku, “Makin seru nih, Gas. Kita jadi ada bahan cerita lanjutan.”

Tidak habis pikir, aku hanya bisa menanggapi dengan getir. Bagaimana bisa ketika ada teman yang sedang kesakitan, ia justru memikirkan bahwa ini sebuah hal baik baginya.

Setelah dari klinik, kami memutuskan untuk langsung kembali ke apartemen. Masih sore, tapi matahari tidak terlihat karena langit masih mendung sehabis hujan.

Hendra terbaring di dalam kamar, tidur karena baru saja minum obat. Mungkin ada efek kantuknya.

Aku merasa gabut, alias tidak ingin berbincang dengan Jefry untuk sementara. Aku berada di momen sudah muak atas apa yang dilakukannya selama ini.

Mulai dari keegoisan, kearoganan, hingga kelicikan yang semakin terlihat.

Untuk menghindarinya, aku pergi turun ke bawah untuk membeli minuman bersoda kesukaanku. Begitu keluar pintu, berjalan menuju lorong, aku tidak merasakan hal aneh.

Begitu juga dengan perasaanku yang lebih tenang dari biasanya. Aku turun tanpa ada masalah berarti.

Ketika baru keluar dari lobi, aku melihat satpam sedang kesulitan mengangkat sebuah meja ke mobil pick up. Aku pun reflek berlari untuk segera membantunya.

Ia terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba membantu.

Setelah meja itu terangkat ke atas mobil, ia mengucapkan terima kasih, meski dengan kaku.

“Iya, sama-sama, Kang.”

“Ini mau dibawa kemana?” ujarku penasaran.

Ia menjelaskan kalau mendapat sisa meja bekas penghuni apartemen yang akan dibawanya pulang ke rumah. Masih dengan kalimat datar dari bibirnya.

“Di rumah, nanti ada yang bantu turunin meja, Kang?”

Entah kenapa aku tertarik untuk memberikan bantuan untuknya, walau sikap satpam itu selalu judes kepadaku sedari awal.

“Nte aya,” ucapnya masih tanpa ekspresi. Arti dari jawaban ini memberitahu kalau tidak ada yang membantunya.

Aku bisa paham bahasa sunda sedikit-sedikit karena sering berinteraksi dengan orang Bandung di restoran.

Tanpa pikir panjang, aku menawarkan diri ikut ke rumah satpam tersebut. Awalnya ia menolak, tapi setelah aku agak sedikit memaksa, ia pun menerima bantuanku.

Kami berangkat dengan mobil pick up yang kondisinya sudah tidak terlalu baik. AC pun sudah rusak sehingga kaca mobil dibuka setengah agar tidak pengap.

Di dalam mobil, aku memberanikan diri untuk memperkenalkan diri. “Oh iya, Kang. Kita belum kenalan, nama saya Bagas, nama akang siapa?”

Ia menjawab singkat, “Dayat.”

Tak tahu harus bicara apalagi, aku pun diam. Suasana hanya diisi dengan suara lalu lalang kendaraan yang ada di jalan. Suara menjadi lebih terdengar karena kaca mobil terbuka.

Tanpa kuduga, di tengah keheningan dari nihilnya percakapan, Dayat berbicara, “Kalian sudah berapa lama tinggal di apartemen?”

Dayat menggunakan bahasa Indonesia, sepertinya karena menganggap aku berasal dari Jakarta mungkin tidak mengerti bahasa sunda. Tapi masih terdengar dialek sunda yang kuat dari kalimatnya.

“Kayaknya sekitar satu minggu, Kang.”

Ia menganggukkan kepala sambil kembali fokus menyetir, “Lama juga ya.”

“Kalian penghuni terlama yang pernah bertahan di sana, terutama unit di lantai 8,” kata Dayat masih dengan nada bicara kaku.

“Maksudnya, Kang?”

Dayat terdiam sebentar. Ia seperti tidak ingin melanjutkan pembicaraan, tapi sudah terlanjur.

“Biasanya yang menyewa unit itu hanya bertahan satu hari, paling lama dua hari karena mereka pasti akan mengalami sakit demam tidak biasa.”

Seketika saja aku langsung teringat dengan kondisi Shinta dan sekarang yang menimpa Hendra. Apakah ini ada hubungannya?

Sore itu aku kembali masuk ke dalam unit apartemen dengan buru-buru karena ingin segera memberitahu Jefry tentang apa yang baru saja ku ketahui dari Dayat.

Ruang tengah kosong.

Aku mengetuk pintu kamar utama yang tertutup rapat.

Tak berapa lama, Shinta membuka pintu, “Kenapa, Mas Bagas?”

“Bang Jefry mana?”

Shinta memberitahu kalau Jefry sedang tidur. Ia menjelaskan bahwa Jefry juga mengalami sakit demam seperti Hendra.

Wajahku berubah menjadi lebih cemas.

“Ada apa?” Shinta penasaran.

“Kita ngobrol di sofa aja yuk,” ajakku.

Setelah kami berdua duduk, aku mulai menceritakan tentang apa yang diberitahukan Dayat tentang unit di apartemen ini.

Dayat menjelaskan asal mula kenapa apartemen mangkrak dan terbengkalai. Rupanya diakibatkan oleh wabah covid-19 yang sempat menyerang seluruh dunia.

Proses pembangunan apartemen baru selesai satu tower, saat ini kami tempati. Sedangkan bangunan apartemen lainnya belum selesai karena lockdown.

Meski baru satu tower selesai, tim marketing sudah melakukan penjualan secara penuh agar apartemen bisa segera laku dengan cepat.

Sejumlah penghuni pun sudah melakukan serah terima unit apartemen sebelum wabah covid-19 datang.

“Oh jadi itu yang bikin apartemen ini mangkrak?” kata Shinta menanggapi ceritaku.

“Iya, terus kenapa kita kalo cari di internet nggak ketemu historynya, karena dulu nama apartemen ini bukan Spring Town, tapi Garden Citywalk,” pungkasku.

Aku kemudian melanjutkan cerita. Unit apartemen di sini terkenal angker karena banyak yang meninggal dunia karena virus covid.

Salah satu yang paling angker ada di lantai 8 karena disini banyak dihuni oleh orang tua dan lansia. Mereka dibelikan unit apartemen oleh anak atau cucunya.

Ketika covid melanda, mayoritas dari mereka meninggal dunia di dalam unit apartemen. Termasuk unit tempat yang kami tempati.

“Duh, Mas Bagas. Stop dulu deh, gua jadi merinding nih. Kita cuma berdua, tunggu yang lain bangun aja,” ucap Shinta terlihat ketakutan.

Aku bisa memahami rasa takut yang dialami oleh Shinta, mengingat ia orang pertama mengalami sakit dan memang sensitif dengan hal gaib.

“Ya udah, sekarang kita ngapain nih? Nonton televisi aja kali ya?” kataku berusaha untuk mengalihkan topik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!