Leona harus menghadapi cobaan hidup yang berat sejak usia dini. Ketika berusia lima tahun, orangtuanya, yang merupakan sepasang perwira yang teguh, tewas dalam pembantaian mengerikan karena ikut mengusut sebuah kasus besar yang terjadi di kota X.
Ditinggalkan tanpa keluarga, Leona harus belajar bertahan dan menghadapi kehidupan yatim piatu. Meskipun begitu, kekuatan batinnya yang luar biasa membantu Leona melawan rasa kehilangan dan kesepian. Pada usia enam tahun, hidupnya berubah secara tak terduga ketika dia diadopsi oleh seorang pria kaya bernama Willson Smith.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama ketika Leona mengetahui bahwa Willson Smith sebenarnya adalah seorang ketua mafia yang kuat dan berpengaruh di kota C. Terpapar oleh dunia gelap kejahatan, Leona harus menemukan keberanian dan keteguhan untuk menjaga integritasnya sendiri.
Sanggupkah dia menemukan pembunuh kedua orang tuanya dan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arlingga Panega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Calvin Steward
Calvin Steward sudah tak kaget lagi dengan sikap yang ditunjukkan oleh Marlina, 5 tahun pernikahannya membuat pria itu mengetahui dengan sangat jelas, bagaimana tindak tanduk serta pemikiran dari wanita yang di masa lalu pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Meskipun pernikahan antara Calvin dan Marlina tidak didasari oleh cinta, namun keduanya tetap mencoba untuk bertahan, meski pada akhirnya biduk rumah tangga yang dibangun atas dasar perjodohan itu harus kandas, ketika Calvin Steward jatuh cinta pada Carina Marvin.
"Ciiih! Aku tak sudi hidup satu atap dengan wanita ja*ang itu!" ucap Marlina sambil membuang wajahnya, hingga saat ini hatinya masih menyimpan kebencian pada Carina yang telah merebut suami dan juga salah seorang putri kembarnya.
"Cukup! Carina tidak bersalah dalam hal ini! Aku yang salah, aku yang terlalu mencintainya, hingga tak mampu melihat kesedihan di wajah Carina. Maaf." ucap Calvin sambil menunduk.
Tap...
Tap...
Tap...
Terdengar suara langkah kecil, tak lama kemudian muncul seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun dihadapan mereka, wajahnya terlihat begitu polos dan juga sangat tampan, namun sorot matanya dan sikap yang ditunjukkan oleh bocah laki-laki itu terlihat sangat dingin. Apalagi saat netranya tanpa sengaja melihat keberadaan Calvin Steward yang tidak dia kenali.
"Mama..!" bocah itu langsung berlari ke arah Liora, dia pun duduk di pangkuan wanita itu.
"Dia anakmu? Kau sudah menikah tanpa mengabariku?" kali ini Calvin menatap tajam ke arah Liora, namun anak yang dulu diabaikannya itu sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun dari mulutnya.
"Berhenti bersikap seolah kau itu seorang ayah yang baik, Liora tidak pernah membutuhkanmu!" ucap Marlina.
Calvin hanya bisa menarik nafas perlahan, kemudian menghembuskannya dengan kasar. "Aku tahu hubungan kita telah renggang sejak lama, tapi tak bisakah kau mengabariku jika memang Liora akan menikah? Aku masih ayah kandungnya, wali yang sah untuknya."
Marlina melotot, kemudian segera mendekat dan menyeret tubuh Calvin, dia tak ingin Liora dan Kendrick mdndengarkan apa yang ingin dibicarakannya. Sementara Liora segera menggendong Kendrick dan membawanya ke dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Calvin sambil melepaskan cekalan tangan Marlina, saat ini keduanya telah duduk di sebuah kursi yang berada di taman, tak jauh dari rumah yang ditempati oleh Kendrick dan juga Liora.
"Apa kau merasa telah menjadi ayah yang baik, tuan Calvin? Kali ini biarkan aku memberitahumu, bahwa kau telah gagal menjadi seorang suami dan juga ayah yang baik. Sebagai suami, kau telah menduakan istrimu, membawa wanita lain ke dalam pernikahan, kemudian merebut putri yang baru saja dilahirkannya. Sebagai seorang ayah, kau mengabaikan putrimu dan tak pernah mendatanginya sekalipun. Kau bahkan tak pernah memberikan kasih sayang maupun materi untuk Liora." ucap Marlina, kali ini matanya terlihat berkaca-kaca.
"Maaf.." Calvin tak lagi bisa berdebat, dia memang telah melakukan kesalahan besar, sehingga sangat wajar jika Liora maupun Marlina sangat membencinya.
Hanya saja saat ini dia ingin sekali memberikan perlindungan kepada dua orang wanita yang begitu berarti bagi hidupnya, meskipun Calvin bahagia bersama Carina, nyatanya dia juga masih menyimpan perasaan sayang terhadap Marlina, hanya saja keegoisan pria itu membuatnya tidak ingin kalah dalam mempertahankan wanita kedua dalam hidupnya.
"Lebih baik kau pergi dari tempat ini, lagi pula Liora telah bahagia meskipun tidak memiliki ayah sepertimu." ucap Marlina.
"Cukup Marlina! Sampai kapan kau akan terus menyudutkanku? Aku harus melindungi Liora saat ini!" ucap Calvin sambil bangkit dari kursi yang didudukinya.
"Melindungi? Bagaimana caramu melindungi Liora? Sedangkan selama ini kau tak pernah memperdulikannya. Dimana kau saat kami kelaparan? Dimana kau saat Liora sakit? Dan dimana kau saat Liora mengalami pelecehan oleh seorang pria, hingga akhirnya dia harus memiliki seorang anak tanpa suami?" teriak Marlina, matanya mulai memerah saat ini.
Deg...
Deg...
Deg...
Jantung Calvin langsung berdetak sangat kencang, dia begitu kaget mendengar pernyataan dari Marlina. Bagaimana bisa selama ini dia begitu acuh terhadap Liora? Sementara putri keduanya itu ternyata mengalami nasib buruk, bahkan dia tak pernah ada di saat Liora sakit atau pun bersedih.
Bruk...
Tubuh pria paruh baya itu kembali terduduk di atas kursi, nafasnya serasa tercekat di tenggorokan. Bagaimana bisa dia mengabaikan begitu banyak hal tentang Liora? Bahkan selama ini Laura hidup dalam gelimangan harta dan juga kasih sayang.
"Maaf.." cicit Calvin dengan suara perlahan, matanya terlihat berkaca-kaca sambil menatap Marlina, betapa besar kesalahan yang telah diperbuatnya kepada mantan istri dan juga putrinya itu.
Marlina hanya bisa menggelengkan kepala sambil mencibir pria yang dulu pernah menikahinya itu, pria yang pernah menorehkan luka begitu dalam di saat dia mulai merasakan binar-binar cinta di dalam hatinya, pria yang telah menghancurkan kehidupannya dengan memberikan talak, satu hari setelah melahirkan kedua orang putrinya, pria yang telah merenggut kebahagiaannya dan memisahkan Marlina dengan salah satu putrinya.
"Aku berharap, suatu hari nanti kau bisa merasakan sakit yang sama seperti yang kuderita selama ini, bahkan di saat itu tidak sedikitpun rasa simpati di hatiku, kau pantas mendapatkan hukuman yang begitu besar, setelah seluruh kesalahan yang kau perbuat terhadapku dan juga Liora." ucap Marlina, kali ini wanita paruh baya itu tak bisa lagi membendung air mata yang mengalir di pipinya.
Sakit dan perih kembali terasa menyayat relung jiwa, setelah sekian lama dia berusaha untuk mengobati kesakitan, akibat pengkhianatan dari mantan suaminya itu. Marlina bahkan berharap Calvin menuai karma atas semua tindakannya terhadap Liora, dia tak akan pernah memberikan maaf dengan sangat mudah, setelah selama 25 tahun berjuang membesarkan putri kecilnya sendirian, tanpa bantuan materi maupun kasih sayang dari Calvin Steward.
"Jika kau masih manusia dan memiliki hati, pergilah! Jangan pernah tunjukkan wajahmu kembali di hadapanku maupun Liora. Kami tidak pernah membutuhkan pria badjingan sepertimu! Kau tak pantas dipanggil ayah oleh Liora, dia terlalu berharga jika harus disebut sebagai seorang putri dari keluarga penghianat Steward.
Calvin tak bisa berkata-kata, dia telah terlambat menyadari kesalahannya, bahkan untuk sekedar mendapatkan maaf saja mustahil untuknya. Sedangkan Marlina kembali tersulut kemarahannya akibat Calvin yang terus bungkam, hingga ingin rasanya dia menghancurkan wajah pria paruh baya yang kini menunduk dihadapannya itu.
"Tidak bisakah kau memberi maaf untukku?" tanya Calvin, dia tak lagi mampu membendung rasa sakit yang kini menggunung di hatinya, kata-kata Marlina begitu menohok, hingga menghujam jantungnya.
"Maaf? Bahkan jika aku harus mati, aku tak sudi memberikan maaf pada pria brengsek sepertimu!" ucap Marlina, sambil melangkah untuk menjauh dari Calvin.
Entah kenapa hatinya juga merasakan sakit, saat dia melontarkan kata-kata tajam terhadap Calvin. Namun dia tak ingin menjadi wanita yang lemah, sehingga kembali bisa ditindas oleh pria itu.
"Kuharap setelah ini kita tak perlu bertemu lagi!" ucap Marlina, tubuhnya semakin menjauh, tak lama dia pun menghilang dari hadapan Calvin.