Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
permintaan galen
"Tapi nanti di rumah, saya menginginkan hadiahmu untukku, Bunny," bisik Galen tepat di telinga Rea sebelum mereka melangkah keluar dari butik. Suaranya yang rendah dan dalam membuat bulu kuduk Rea meremang, bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang menggelitik hatinya.
"Hadiah? Rea kan tidak punya uang, Mas," jawab Rea polos, masih belum menangkap maksud tersembunyi dari ucapan suaminya itu.
Galen hanya memberikan seringai tipis. "Bukan hadiah yang bisa dibeli dengan uang, Rea."
Setelah selesai berbelanja dan menghabiskan ratusan juta dalam sekejap, mereka kembali ke mansion dengan mobil yang penuh dengan kantong belanjaan bermerek. Sepanjang jalan, Rea terus menatap deretan tas itu dengan pandangan tidak percaya.
Sesampainya di mansion, Leon dan beberapa pelayan membantu membawa barang-barang tersebut. Begitu tiba di dalam kamarnya yang luas, Rea segera menaruh semua barang belanjaan itu di atas ranjang.
"Wahhh... banyak sekali. Mas Galen benar-benar tukang kebun paling kaya di dunia," gumam Rea sambil menyentuh kain-kain mahal itu dengan ujung jarinya.
Ia kemudian teringat ucapan Galen di mal tadi. Dengan langkah ragu, Rea keluar dari kamarnya dan menuju kamar Galen yang berada tepat di sebelahnya. Pintu kamar Galen terbuka sedikit, memperlihatkan Galen yang baru saja melepas jasnya, menyisakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku.
"Mas Galen..." panggil Rea pelan sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Tadi Mas bilang mau hadiah? Hadiah apa? Rea cuma bisa pijit atau buatkan kopi..."
Galen menoleh, menatap istri kecilnya dengan tatapan intens yang membuat ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Ia berjalan mendekati Rea, langkahnya terdengar mantap di atas lantai kayu.
"Saya tidak mau kopi, Rea," ucap Galen sambil berhenti tepat di depan Rea, membuat gadis itu harus mendongak maksimal. "Dan saya juga sedang tidak ingin dipijat."
Rea berkedip bingung. "Lalu... apa?"
Galen membungkuk sedikit, menyamakan tingginya dengan Rea. "Saya ingin kau memakainya."
"Memakai... apa?"
"Salah satu pakaian yang saya belikan tadi. Gaun tidur sutra berwarna hitam yang ada di kotak paling kecil. Pakailah, dan datang ke sini lagi," perintah Galen dengan nada yang tak bisa dibantah, namun ada kilatan lembut di matanya.
Rea mengangguk patuh, meski hatinya bertanya-tanya kenapa Mas Galen ingin melihatnya memakai gaun tidur di jam seperti ini. "Baik, Mas Galen."
Rea berdiri mematung di depan ranjangnya, menatap kotak kecil yang tadi ditunjuk Galen. Dengan tangan gemetar, ia membuka penutup kotak itu dan menarik kain yang terasa sangat halus di kulitnya.
"Astaga!" pekik Rea, wajahnya seketika memanas hingga ke ujung telinga.
Ia mengangkat gaun tidur sutra berwarna hitam itu. Bahannya begitu tipis, lembut, dan memiliki potongan yang sangat rendah di bagian punggung. Rea yang lugu baru menyadari kalau gaun ini jauh lebih berani daripada daster katun bergambar kartun yang biasa ia pakai setiap malam.
Glek.
Rea menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya yang polos mulai menyambungkan titik-titik perkataan Galen tadi. "Hadiah yang bukan dibeli dengan uang..." gumamnya pelan. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
"Jadi... ini maksud Mas Galen?" batin Rea panik. Ia menatap cermin, membayangkan dirinya memakai kain tipis itu di depan pria sedominan Galen.
Di sisi lain, Galen sudah menunggu di kamarnya. Ia duduk di pinggiran ranjang. Ada ketegangan di udara saat ia menunggu.
Sepuluh menit berlalu, pintu kamar Galen diketuk dengan sangat pelan. Hampir tidak terdengar.
"Mas... Galen?" suara Rea terdengar mencicit dari balik pintu.
"Masuk, Rea," jawab Galen.
Pintu terbuka perlahan. Rea masuk. Langkahnya ragu. Wajahnya tertunduk.
"M-Mas... Rea sudah pakai. Hadiahnya... ini saja kan?" tanya Rea tanpa berani mendongak.
Galen bangkit dari duduknya, berjalan pelan mendekati. "Kau cantik sekali," bisik Galen. Rea akhirnya mendongak dan bertemu tatap dengan mata gelap Galen.
Jantung Rea berpacu sangat cepat, seolah-olah dentumannya bisa terdengar di seluruh penjuru ruangan yang sunyi itu. Galen pun turun dari ranjangnya dan dengan gerakan yang sangat tangkas namun lembut, tiba-tiba menggendong Rea.
"Masss..." pekik Rea tertahan, tangannya secara refleks mencengkeram bahu kokoh Galen.
"Kenapa, Bunny?" bisik Galen dengan suara bariton yang dalam, membuat getaran halus di dada Rea.
Galen pun membaringkan tubuh Rea di kasurnya. Dia mengamati Rea dengan tatapan khawatir.
"Mas Galen... kenapa lihat Rea begitu?" tanya Rea dengan suara pelan.
Galen mengulurkan tangannya, menyelipkan beberapa helai rambut Rea ke belakang telinga. "Saya hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, Rea," jawab Galen dengan lembut.
Di bawah tatapan perhatian dari Galen, Rea merasa sedikit tenang. Situasi ini memang terasa asing baginya, jauh dari kehidupan yang biasa dia jalani.
"Mas... Rea takut," bisik Rea jujur.
Galen mengecup kening Rea dengan sangat lembut, sebuah tindakan yang memberikan ketenangan di tengah badai emosi yang dirasakan Rea. "Jangan takut. Saya di sini. Saya akan menjagamu."
"Kamu sangat cantik," bisik Galen, suaranya terdengar lebih serak dari biasanya.
Jari jempol Galen mengusap lembut bibir bawah Rea yang mungil dan kemerahan. Tatapannya terkunci pada manik mata bulat Rea yang tampak berkaca-kaca karena gugup. "Boleh saya minta ini, Rea?" tanya Galen meminta izin, sebuah sisi lembut yang hanya ia tunjukkan pada istri kecilnya.
Rea yang polos berpikir sejenak. Kalau cuma ciuman sepertinya tidak apa-apa, kan Mas Galen suami Rea, batinnya mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup liar. Ia pun mengangguk singkat sebagai tanda setuju.
Mendapat lampu hijau, Galen tidak menunggu lama. Ia segera menunduk dan melumat bibir Rea dengan lembut namun penuh kerinduan.
"Emphhhmm..." lenguh Rea tertahan. Sensasi aneh menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa lemas seketika. Tangan kecilnya meremas kemeja hitam Galen, mencoba mencari pegangan.
"Masss... pelan-pelan..." cicit Rea di sela-sela tautan mereka, napasnya mulai tidak beraturan.
Galen pun memperlambat gerakannya, memberikan ciuman yang lebih dalam dan penuh perasaan, seolah ingin menyalurkan seluruh rasa protektif dan cintanya. Ia mendekap tubuh mungil Rea semakin erat di atas ranjang king size itu, memastikan tidak ada jarak di antara mereka.
Malam itu di mansion Alonso, suasana yang biasanya dingin berubah menjadi hangat. Sang mafia kejam itu benar-benar takluk dalam kepolosan dan kelembutan Rea, sementara Rea mulai menyadari bahwa "Mas Galen" adalah pria yang akan mengubah hidupnya selamanya.