Kia dan Bimo, dua orang yang berusaha bersatu, Tetapi halangan yang mereka hadapi tidak mudah. Bisakah mereka melewatinya? Kenapa Bimo meninggalkan Kia? Apa alasan Kia sangat membenci Bimo? Rahasia apa yang mereka simpan ? Apa ada orang lain yang sama dengan Bimo mencintai Kia? Dengan siapa Kia bisa bahagia? Temukan disini di "Rahasia hati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maylazee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sweet Race
Aku melihat senyum Bimo. ketika kami berjalan ke arah tenda timnya.
Luthfi menjemput aku dan Rima jam 9 pagi. Ketika kutanya dimana Bimo. Dia menjawab Bimo sudah dari tadi malam di sana.
Aku minta bantuan kak Yaya serta Rima, membuat sandwich buat bekal.
Banyak sekali yang menonton padahal hanya kejuaraan daerah.
"Panas!"
Teriakku sambil mempercepat langkah.
"Datang juga," kata Bimo, tersenyum padaku.
"Iyalah...menemani Rima pacaran," bisikku, di telinga Bimo.
Aku membuka bekal yang kubawa dan memberikan sandwich padanya.
"Memang Luthfi sudah menyatakan perasaannya?" tanya Bimo. Dia mengambil sandwich yang kuberikan.
"Iya! Tadi malam," jelasku, sambil membersihkan remahan sandwich di mulut Bimo.
"Luthfi di sini tadi malam sampai jam dua belas, kok bisa?" tanya Bimo, sambil memandang mereka yang duduk berdua di ujung tenda.
Aku memberikan, air mineral. "Minum nanti keselek," suruhku.
"Aku kalah sama Rima, dia dapat pacar duluan," keluhku.
"Kamu pacarku," tegas Bimo, sambil menghabiskan sandwichnya.
"Kamu tidak pernah menyatakannya," kataku, sambil tersenyum.
"Tidak usah dinyatakan juga tahu sendiri," jawabnya.
"Hmm, tidak afdol! Kalau begitu katakan, aku cinta padamu!" Kataku, sambil menatapnya dan menunggu dia bicara.
"Ahhh! Aku tidak bisa," katanya. Langsung berdiri dan menghampiri teman temannya yang sedang sibuk di depan motor.
Waktunya race.
Bimo bersiap sebelum race dia menghampiri aku dan Rima, yang sedang berdiri memperhatikannya.
"Nanti berdiri jangan dekat-dekat lintasan," ujarnya sambil memperbaiki sarung tangan.
Aku tidak bisa berkata-kata gugup sekali rasanya. Aku lalu memegang tangannya
"Hati hat!i" kataku dengan lirih.
"Kenapa seperti ini, sih?" tanyanya kelihatan agak kesal.
"Bimo semangat! Nanti aku teriak keras-keras, kalau sudah mulai," kata Rima.
Bimo sudah memakai baju balap. Aku menatapnya, dengan ekspresi gugup. Dia langsung memelukk, sambil mengelus rambutku.
"Heey...semua baik saja, Coklat," kata Bimo, mencoba menenangkanku.
"Benarkah baik saja?" tanyaku sambil menatapnya.
"Bim, bersiap!" Luthfi berteriak dari jauh.
"Tunggu di sini saja kalau takut," suruhnya sambil berlari mendatangi timnya.
"Tidak asyik kalau nonton di sini, yuk... kedepan," ajak Rima.
"Aku takut!!!"
"Tidak apa, ada aku," ucap Rima.
"Mau ke depan? Ikut aku," ajak Luthfi dan kami pun mengikuti Luthfi.
**************
Kami berdiri dekat lintasan di depan tenda tim Bimo. Aku sangat khawatir, karena pernah melihat kecelakaan saat Race.
"Tahu begini, aku tidak ikut tadi," batinku.
Luthfi sangat serius sambil memegang papan. Aku tidak tahu untuk apa itu.
Dari jauh aku melihat Nisa. Bersama seseorang cowok menonton juga.
"Luthfi ada Nisa," kataku
Luthfi melihat ke arah Nisa.
"Ohh, itu cowok barunya," kata Luthfi.
Aku sangat kaget hebat sekali dia. Belum satu bulan sejak kejadian itu Nisa sudah punya pacar.
Kulihat Luthfi berbicara dengan Rima. Dia menolong Rima naik ke atas gundukan tanah supaya bisa melihat lebih jelas.
"Sini Kia...kelihatan sangat jelas," ajak Rima.
Aku menggeleng kepala.
"Di sini saja, aku takut," kataku pelan.
Race sudah dimulai, aku tidak bisa menenangkan perasaanku. Rasanya aku seperti mau pingsan saja .
Kudengar Bimo memimpin race. Tapi saat putaran terakhir. Terdengar suara keras. Seperti sebuah benturan. Terjadi insiden Bimo terjatuh.
Luthfi langsung berlari ke arah lintasan. Rima terpekik sambil menutup mulutnya.
Hatiku sudah tidak karuan. Aku langsung naik ke atas gundukan tanah menyusul Rima.
Kulihat Bimo terjatuh menghantam pagar pembatas. Tapi masih bisa berdiri dan menyelesaikan race.
Kepalaku langsung terasa pusing aku terduduk memegang tangan Rima. Rima langsung memeluk dan menolongku. Kami kembali ke tenda tim. Kudengar Bimo masih juara dua. Masih lumayan hasilnya.
****************
Sampai di tenda, semua kru langsung menolong Bimo.
"Dislokasi!"
Teman Bimo berteriak dan langsung memanggil tim medis.
Kulihat Bimo meringis sambil memegang tangan kirinya.
"Bir!"katanya pada Lutfi.
Luthfi langsung membuka botol dan menyerahkan pada Bimo. Seseorang memyemprotkan, cairan ke tangan Bimo.
"Tahan!" katanya, langsung menarik.
"Aahhhh....!!!"
Bimo mengerang, kesakitan.
Bimo kemudian memutar tangan kirinya sambil meringis menahan sakit dan menghabiskan minuman di botol. Beberapa orang datang berbicara dengan Bimo. Mungkin mereka ingin tahu keadaan Bimo.
Tangan Bimo masih diobati. Disemprot cairan dan dipijat.
Aku mengatur napasku yang mulai tadi sesak. Luthfi datang membawa minuman soda kaleng memberikan padaku dan Rima.
"Tidak apa-apa Kia, semua sudah baik," jelas Luthfi.
Rima memelukku sambil mengusap bahuku. Aku cuma mengangguk menatap Bimo dengan cemas. Rima mengajakku duduk di depan tenda.
***************
Bimo menghampiriku dan duduk di sebelahku. Sambil menahan sakit pergelangan tangan kirinya.
Seorang temannya datang menghampiri dan mengoleskan salep pada tangan Bimo.
"Jatuh juga akhirnya," ledeknya.
Bimo tertawa sambil menepuk bahu temannya.
Bimo menatapku, tapi aku menunduk. Dia mendekati wajahku. Aku menghindari tatapannya.
Dia langsung menurunkan lututku. Berbaring menaruh kepala di pahaku. memandangku lekat dari bawah.
Aku menatap wajahnya, memegang tangan Bimo yang terkilir.
"Masih sakit?"
Dia menggeleng lemah. Aku mengelus tangannya. Dan menempelkan ke dahiku. Menutupi mataku supaya tak telihat. Air mataku jatuh menetes.
Aku tidak pernah sekhawatir ini. Kalau tidak banyak orang aku sudah menangis, berteriak sambil memukulinya. Tega sekali dia membuatku hampir pingsan karena cemas.
Bimo tersenyum sambil mengusap air mataku
"Aku janji, tidak akan membuatmu seperti ini lagi," ucapnya pelan. Tapi janji itu akan dilanggarnya nanti.
Aku berusaha mengendalikan diriku. Luthfi datang duduk di sebelah Bimo. Menyerahkan sebotol minuman seperti tadi.
"Setelah ini aku mau pijat," kata Bimo pada Luthfi. Sambil memghabiskan, minumannya
"Oke!" kata Luthfi, sambil memgangguk. Aku menatap Bimo dan menarik napas panjang.
"Aku tidak mau nonton race lagi, jantungku sakit," kataku sambil cemberut.
"Aa...ah...!!" kata Bimo, sambil kembali berbaring di pahaku.
"Bim, kita dilihat banyak orang." Aku risih jadinya Bimo tidak perduli.
"Biar saja...pacarku juga," godanya.
Aku langsung, memencet hidungnya.
"Katakan! Aku cinta padamu."
"Ya!"
"Katakan!"
"Iya ..iya..10 kali," jawabnya, sambil tertawa. Melepaskan tanganku dan menciumnya.
"Udah... cium aja , lama amat!"
**************
Heri datang berdiri di belakangku. Sambil mendorong badanku kedepan. Bibirku hampir kena bibir Bimo.
Aku langsung panik dan berteriak pada Heri.
"Dasar otak kotor!"
Heri dan Bimo tertawa bersama. Aku langsung, menjewer telinga Bimo.
"Sama!" Bmo meringis kesakitan. Telinganya jadi merah. Aku bertanya pada Heri.
"Kenapa baru saja datang?"
"Aku di belakang, mau kesini tapi kalian lagi mesra- mesraan," jawab Heri sambil duduk di sampingku.
"Ada yang menangis tadi saat aku jatuh, Her!"
Bimo menatapku dengan wajah meledek.
"Ohhh, yaaa?"
Heri menjawab sambil memonyongkan bibirnya.
Aku langsung mengambil botol yang sedang dipegang Bimo. Ingin aku melemparkan pada Heri.
"Ehh... masih ada isinya," kata Bimo.
Dia mengambil dan meminum habis. Lalu menyerahkan lagi padaku.
"Lempar!" katanya sambil menunjuk dagunya ke arah Heri. Heri langsung menghindar.
"Biiimm, tidak asiik ahh..," kata Heri, kemudian menjauh dari kami.
"Bangun, aku capek!" Aku mencoba mengangkat kepalanya, Bimo langsung bangun.
Dia melambaikan tangan pada Luthfi yaang sedang duduk bersama Rima.
"Kita pulang duluan aja, deh," ajak Bimo.
"Hadiah bagaimana?"
Luthfi mengambil botol di tangan Bimo.
"Bang Jek, yang terima," kata Bimo sambil berdiri. Menuju ke teman-temanya diikuti Luthfi.
"Kapan Heri datang?" Aku bertanya pada Rima.
"Saat Bimo jatuh tadi, sudah lama datangnya, cuma di tempat lain," jawab Rima.
*************
Kami pulang bersama, Heri ternyata ikut dia duduk di sebelah Bimo.
"Geser sedikit atau kalau perlu, Kia dipangku saja, Bim," katanya.
Aku langsung, mendelik tajam.
"Siapa yang izinin kamu ikut?"
"Bimo!" katanya sambil tersenyum.
Aku memandang Bimo kesal.
"Sudah, jangan ribut," ucap Bimo sambil memegang tanganku,
semua orang di mobil diam. Kami mengantar Heri terlebih dulu. Karena rumahnya lebih dekat.
Mobil sampai di depan rumahku. Ketika aku mau turun tanganku ditarik Bimo.
Dia mencium dua jarinya dan meletakan di bibirku, aku melakukannya juga sambil tersenyum manis.
Ternyata Race ini. Berbuah manis untuk Bimo dan Kia. Meski Bimo tidak juara satu.
**Pacaran nggak sih , belum jelas masih abu abu nih, episode depan kita buat lebih jelas deh.
**Ketahuan nggak ya sama Papa Kia? nanti aja deh ,masih mau lihat kemesraan mereka dulu...
malas terima nasib jadi wait reader 😓
gadis sakit
rahasia miko kebuka
kia marah
mereka bercerai
kia bantu gadis
miko kecelakan
staga aaa kenapa otakku traveling thor
lama banget update
bab baru kapan terbit
i ok i fine
not bad not bd
-----------
kumerasa sakit----sakit
😂😂😂😂