Seorang gadis miskin yang terjebak dalam kehidupan duda kaya berdarah Jerman. Bukan atas keinginan Naina mau menikah dengan duda yang super dingin dan cuek ini. Tetapi keadaan dan juga rasa terima kasih yang membuatnya mau tidak mau menerima pernikahan tersebut.
Awalnya Naina pikir hidupnya akan tenang setelah menikahi bule berstatus duda ini. Namun Naina salah besar!
Suaminya bahkan tidak pernah memandangnya sebagai istrinya sedikit pun. Bule dingin itu menganggapnya hanya sebagai baby sitter putranya yang sudah berusia tujuh tahun
Tidak hanya itu, Steven, putra sambungnya, juga tidak pernah menganggap dirinya sebagai ibu sambungnya.
Semuanya begitu rumit baginya, menghadapi dua makhluk dingin yang setiap harinya mengolok-olok dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novia Butera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghilang
Steve memperhatikan Naina yang hanya diam saja selama perjalanan menuju sekolahnya. Steve bisa merasakan dengan jelas perubahan sikap Naina sejak pagi tadi. Naina lebih banyak diam, dibanding kemarin-kemarin. Naina pasti selalu mengajaknya bicara meski dirinya tidak menanggapi.
Steve juga melihat saat Reygan, Papanya bicara dengan Naina. Dia memang tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi dapat Steve pastikan, hal itu menyakiti hati Naina.
Steve merasa aneh. Dengan sikap Naina yang menjadi pendiam seperti ini, hatinya menjadi tidak nyaman. Rasa bersalah seketika menyeruak dalam hatinya. Apalagi melihat Naina saat ini, dia terlihat pucat dan lesu.
Steve ingin bicara, tapi lidahnya terasa kelu. Hingga akhirnya mobil sampai di depan sekolah.
"Sudah sampai." ucap Naina.
Tapi Steve masih belum beranjak. Dia menatap Naina lamat-lamat.
"Steve?" panggil Naina.
"Bagaimana perutmu? Apakah masih sakit? Kata Elisa kamu tidak makan satu hati kemarin." tiba-tiba bibir mungil itu berucap membuat Naina terperangah.
Ada apa dengan anak ini?
Tapi mengingat kata-kata Reygan tadi, Naina enggan menanggapinya, dia hanya hanya tersenyum tipis. "Aku tidak papa. Dokter sudah memberikan resep obat." ucapnya.
Steve diam, kemudian mengangguk. "Aku pergi." ucapnya sambil membuka pintu mobil.
Setelah pintu tertutup, Naina masih memperhatikan Steve yang masuk ke dalam sekolah. Ada yang aneh dengan anak itu. Steve tiba-tiba ramah dan penurut sejak tadi pagi.
Naina kembali ke rumah. Di rumah dia istirahat, Elisa tidak membiarkannya melakukan aktivitas lainnya.
***
Steve buru-buru keluar dari kelasnya setelah bel pulang berbunyi. Dia tidak ingin dihadang oleh teman-temannya yang selalu merundung dirinya.
Seperti inilah Steve setiap harinya. Jika dia beruntung maka dia bisa pulang dalam keadaan baik-baik saja. Dan sebaliknya, dia tidak akan baik-baik saja jika teman-temannya menangkapnya.
Dan hari ini, sepertinya keberuntungan berpihak kepadanya. Steve berhasil lari dari teman-temannya dan sampai ke mobil baik-baik saja.
Steve masuk ke dalam mobil. Mata bulatnya mencari-cari sosok cantik yang selalu menjemput dan mengantarnya setiap harinya.
Tapi nihil, di dalam mobil hanya ada supir, tanpa ada Naina di sana. Steve mengedipkan matanya, memikirkan kenapa Naina tidak ikut menjemputnya.
"Dimana Naina?" tanya Steve pada supir.
Pria itu menggeleng, "Saya tidak tahu Tuan Muda." jawabnya.
Mobil mulai melaju. Steve menyenderkan kepalanya. Entah kenapa rasa bersalah itu masih bersarang dalam hatinya.
Steve bingung, kenapa sekarang dia memikirkan perasaan Naina. Bukankah dulu dirinya tidak peduli sama sekali? Memaki dan merendahkan Naina adalah hal kesukaannya. Tapi sekarang, mengingat semua itu seolah memperbesar rasa bersalahnya.
Mobil sampai di pekarangan rumah. Dia buru-buru turun dari mobil. Mengingat Naina yang masih pucat dan kesakitan tadi pagi, membuatnya cemas.
Tanpa mengganti seragamnya, Steve menuju kamar Reygan dan Naina. Steve membuka pintu dengan pelan. Kepalanya muncul dibalik pintu, demi melihat ke dalam sana.
Tidak ada orang. Steve membuka pintu kamar semakin lebar. Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Steve bingung. Namun dengan langkah cepat turun ke lantai bawah. Bocah itu menyusuri seluruh ruangan di sana. Sampai Steve menemukan Rudi yang tengah memberi makan ikan koi di kolam yang ada di pinggir taman.
"Kakek." panggilnya.
Rudi menoleh, tersenyum padanya. "Steve. Kamu sudah pulang sekolah?"
Steve mendekat, mencium tangan Rudi.
"Ganti seragam dulu. Baru datang kemari temani Kakek." ucap Rudi masih sibuk menaburkan pakan ke kolam mini tersebut.
Steve diam. Melihat Rudi, dia ingin menanyakan sesuatu.
"Kenapa masih di sini? Sebentar lagi kita akan makan siang." ucap Rudi.
Dengan langkah terpaksa, Steve pergi dari sana. Mengubur rasa penasarannya untuk sementara.
Rudi melihat kepergian Steve, bibirnya menyeringai, "Naina, kamu berhasil Nak." lirihnya.
Malam menjelang, Steve masih belum melihat keberadaan Naina di rumah ini. Steve kepikiran, sampai tidak fokus ketika guru privatnya mengajarinya sore tadi.
Seseorang mengetuk pintunya, Steve langsung melihat ke arah pintu, "Tuan Muda, Tuan Besar memanggil untuk makan malam." panggil Elisa
Wajahnya kembali suram. Dia mengira Naina yang datang. Steve mengangguk pelan, turun dari kursi belajarnya tidak semangat.
Keesokan harinya, ketiga pria beda generasi keluarga Dos Santos sudah berkumpul di meja makan. Steve dan Reygan, ayah dan anak itu terlihat tengah mencari-cari seseorang.
Dan Rudi menyadari hal itu, tapi hatinya tidak tergerak untuk bicara. Tanpa ada yang menyadari dia tersenyum. Dia senang melihat putra dan cucunya seperti saat ini.
Kali ini Elisa yang melayani Steve, dari bangun tidur tadi sampai menyiapkan sarapan. Steve setengah hati memakan sarapannya. Tidak ada semangat pergi ke sekolah.
Beberapa menit kemudian, Steve menghabiskan sarapannya.
"Sudah selesai? Pergilah, jangan sampai terlambat." ucap Rudi.
Steve enggan beranjak, dia menatap Rudi.
"Kakek, Mama Naina dimana?" bibir mungil itu akhirnya berucap.
Rudi tersenyum, pertanyaan ini yang dia tunggu-tunggu dari kedua makhluk es ini.
"Bukannya Mamamu sudah permisi padamu?" tanya Rudi.
Steve menggeleng. "Reygan, kamu tidak memberitahu putramu kalau Naina pulang ke panti?" beralih pada Reygan.
Padam sudah rasa penasaran itu. Berganti dengan keterkejutan di hati kedua ayah anak itu.
Reygan termangu, dia tidak tahu Naina pergi. Kemarin malam saat dia pulang dan tidak menemukan Naina di kamar, pria itu menebak Naina sedang ada di kamar putranya, Steve.
"Pulang?" ulang Steve. Jantungnya berdegup kencang. Ada ketakutan yang tidak dia mengerti, begitu pun dengan Reygan.
"Iya. Kemarin Naina sudah pamit pada Papa. Katanya ibu panti itu sedang sakit. Jadi Naina akan di sana untuk sementara membantu mengurus anak-anak panti." jelas Rudi.
Steve menghela nafas diam-diam. Dia mengira Naina pergi untuk selamanya.
"Berapa lama Kek?" tanya Steve.
"Kakek tidak tahu. Mungkin cukup lama. Karena Kakek dengar sakit ibu panti mereka cukup parah. Mamamu akan tinggal di sana sampai ibu mereka sembuh." ucap Rudi.
TBC
ngaca lah dikit,sok sokan mo nyuruh nyuruh dia sendiri aja sama!! bahkan lebih buruk, kekasih!!👿😈
sudah kau punya istri seindah itu bak bidadari turun kayangan Masih aja lu ya SAIPUL!!!👿