NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 Jejak Yang Terlihat

Raka tidak langsung bergerak cepat setelah menerima perintah dari Sagara. Ia justru membiarkan satu hari berlalu tanpa melakukan apa pun. Bukan karena mengabaikan, melainkan karena ia paham betul sifat kakaknya. Jika Sagara sampai meminta seseorang diselidiki, itu berarti ada sesuatu yang benar-benar mengganggu ketenangannya.

Keesokan harinya barulah Raka mulai bergerak. Ia memulai dari tempat paling masuk akal—mall tempat Aluna terakhir melihat perempuan yang ia panggil ummi.

Mall itu tidak terlalu besar, namun cukup ramai. Raka berjalan santai, berpura-pura hanya pengunjung biasa. Matanya mengamati orang-orang lalu-lalang sebelum akhirnya berhenti di meja informasi.

“Mas, mau tanya,” katanya ramah. “Beberapa waktu lalu ada perempuan sering ke sini. Pakai gamis warna netral, biasanya sendirian. Mbaknya ingat?”

Petugas informasi berpikir sejenak. “Kalau gamis sih banyak, Mas. Tapi yang sering datang sendiri… iya, kayaknya ada. Biasanya belanja sebentar.”

“Setelah dari sini, biasanya ke mana?” tanya Raka lagi.

Petugas itu menunjuk ke arah luar gedung. “Ke swalayan seberang, Mas. Banyak yang ke sana.”

Raka mengangguk. “Makasih ya.”

Ia melangkah keluar mall dan berdiri sejenak di depan swalayan yang dimaksud. Tempat itu tidak mewah, tapi tertata rapi dan terlihat cukup ramai. Raka masuk dan berpura-pura memilih minuman. Dari sudut matanya, ia memperhatikan sekeliling.

Hari itu perempuan yang ia cari tidak ada. Namun Raka tidak kecewa. Ia mendekati salah satu kasir.

“Kak,” ujarnya santai, “di sini sering ada pelanggan perempuan pakai gamis, belanja bulanan?”

Kasir itu mengangguk. “Sering, Mas. Orangnya rapi, sopan.”

“Biasanya datang sama siapa?”

“Sendiri. Pakai motor.”

Raka mengangguk pelan. Sendiri. Motor. Terlihat mapan.

Ia keluar dari swalayan dengan langkah tenang. Nalurinya mengatakan perempuan itu bukan orang sembarangan. Bukan perempuan dengan hidup yang kacau. Justru sebaliknya—terlalu rapi untuk sekadar kebetulan.

Di tempat lain, Naya sedang berada di salah satu kosannya. Ia berdiri di teras sambil menerima laporan bulanan dari penjaga kos.

“Alhamdulillah, Bu. Bulan ini penuh lagi,” kata penjaga itu.

“Baik,” jawab Naya singkat. “Kalau ada keluhan, langsung sampaikan.”

Naya berpindah ke kosan berikutnya, lalu berikutnya lagi. Semua berjalan normal. Tidak ada masalah berarti. Ia menyimpan map laporan di tasnya dan melanjutkan perjalanan pulang.

Baginya, hari itu hanyalah rutinitas biasa. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa namanya mulai muncul dalam pembicaraan orang-orang yang belum pernah ia temui.

Sore itu, di rumah keluarga Pramudya, suasana masih terasa berat. Aluna duduk di sofa dengan wajah murung. Makanannya tak tersentuh sejak siang.

Salma Pramudya duduk di samping cucunya, mengusap punggung kecil itu dengan lembut. “Aluna, makan dulu, Nak.”

“Aku mau ummi,” jawab Aluna pelan namun keras kepala.

Salma menahan napas. Sejak Alya meninggal, cucunya memang sering murung. Namun kali ini terasa berbeda. Ada keyakinan kuat di mata Aluna—bukan sekadar rengekan anak kecil.

Sagara keluar dari ruang kerja dengan wajah lelah. “Raka belum kasih kabar?” tanyanya.

“Belum,” jawab Salma jujur.

Sagara mengangguk pelan. Ia duduk, menatap kosong ke depan. Pikirannya melayang pada Alya—pada wajah yang selama ini hanya hidup di foto dan kenangan. Ia tidak berniat membuka luka lama, namun kemunculan perempuan itu membuatnya sadar bahwa tidak semua hal di masa lalu benar-benar selesai.

Malamnya, Raka pulang. Ia langsung menuju ruang kerja kakaknya.

“Bang,” ucapnya singkat.

Sagara menoleh. “Gimana?”

“Belum banyak,” jawab Raka. “Tapi perempuan itu nyata. Dia sering ke satu swalayan, belanja bulanan, datang sendiri. Kelihatannya mapan.”

Salma ikut menoleh. “Sederhana?” tanyanya pelan.

“Iya,” jawab Raka. “Sederhana tapi rapi. Bukan tipe perempuan yang hidupnya berantakan.”

Sagara terdiam. “Nama?”

“Belum,” jawab Raka. “Tapi kemungkinan tinggal tidak jauh dari situ.”

Sagara menghela napas. “Lanjutkan.”

Raka mengangguk. “Satu lagi, Bang. Orang-orang bilang dia sopan, nggak banyak bicara. Datang, belanja, pulang.”

“Justru itu yang bikin mencolok,” gumam Sagara.

Malam itu, Sagara tidak langsung tidur. Ia membuka laci meja kerjanya dan menatap foto Alya cukup lama.

“Kalau benar ada perempuan yang wajahnya mirip kamu,” bisiknya lirih, “apa yang sebenarnya ingin Tuhan tunjukkan?”

Ia menutup laci itu kembali.

Di rumah lain, Naya baru saja tiba. Ia mengganti pakaian, menyeduh teh hangat, lalu duduk sejenak di ruang tamu. Laporan kosan hari itu ia susun rapi di atas meja. Semua berjalan baik. Hidupnya terlihat tenang.

Namun entah mengapa, malam itu dadanya terasa sedikit sesak.

Sementara itu, di kontrakan kecilnya, Mira memeluk Rafi yang sudah tertidur. Ia menatap wajah anak itu lama, lalu berbisik pelan.

“Kita bertahan sedikit lagi ya, Nak.”

Selamat siang readers selamat membaca

Like komennya dong terimakasih

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!