Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. ALEA MERAPIKAN BARANG
Pada pagi hari yang cerah, sementara Rian dan Hadian kembali ke rumah panggung untuk melanjutkan pekerjaan perbaikan, Alea memutuskan untuk membuat tempat tinggal sementara mereka milik Pak Soleh terasa lebih seperti rumah. Dengan bantuan Nenek Siti, dia mulai merapikan barang-barang kecil yang mereka bawa dari kota, menyusunnya dengan rapi di lemari kayu kecil yang disediakan Pak Soleh.
“Nenek, bolehkah aku meletakkan boneka-boneka ku di rak ini ya?” tanya Alea dengan suara yang lembut, menunjukkan ke arah rak kecil di sudut kamar yang sudah dibersihkan dengan baik. Dia membawa boneka Kiki-nya yang sudah lusuh beserta beberapa boneka kayu kecil yang ditemukan di rumah panggung beberapa hari yang lalu.
“Tentu saja sayang,” jawab Nenek Siti dengan senyum hangat, sedang membantu menyusun baju anak-anak di dalam lemari. “Kamu bisa menata boneka-boneka mu seperti yang kamu mau. Semakin rapi dan indah kamunya, semakin nyaman kita tinggal di sini.”
Dengan senyum ceria, Alea mulai menata boneka-boneka nya dengan sangat hati-hati. Dia menempatkan boneka Kiki di tengah rak sebagai “kepala keluarga” boneka, kemudian menyusun boneka kayu lainnya di sekitarnya seperti sedang dalam sebuah pertemuan. Setelah itu, dia mengambil beberapa buku cerita kecil yang mereka bawa dan menyusunnya dengan rapi di bawah rak boneka, membuat sudut kecil yang tampak seperti perpustakaan pribadinya.
Setelah merapikan barang-barang di dalam kamar, Alea melihat sekeliling ruangan yang masih terlihat cukup polos dan kosong. Ide muncul di benaknya – dia ingin membuat dekorasi sederhana dari bahan-bahan alami yang bisa dia temukan di sekitar pekarangan rumah Pak Soleh. Dengan izin dari Nenek Siti, dia segera keluar rumah dengan membawa keranjang kecil yang biasanya digunakan untuk membawa sayuran.
Di pekarangan rumah Pak Soleh, Alea menjelajahi setiap sudut dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. Dia mengumpulkan daun-daun yang memiliki bentuk unik dan warna menarik – daun kelapa yang sudah kering dan memiliki pola cantik, daun pepaya yang masih segar dengan warna hijau cerah, serta daun jambu yang memiliki bentuk bulat yang lucu. Selain itu, dia juga mengumpulkan bunga-bunga liar yang tumbuh di sekitar pekarangan – bunga kamboja dengan warna putih dan merah muda, bunga melati yang harum wangi, serta beberapa bunga kecil berwarna kuning yang tumbuh di tepi jalan.
“Sungguh cantik ya, sayang,” ujar Nenek Siti yang mengikuti dari belakang, melihat hasil kumpulan Alea dengan senyum kagum. “Kamu bisa membuat banyak dekorasi cantik dari bunga dan daun ini.”
Alea mengangguk dengan senyum lebar, kemudian mulai berpikir bagaimana cara mengatur semua bahan yang dia kumpulkan menjadi dekorasi yang indah. Pertama, dia membuat karangan bunga kecil dengan menggunakan bunga kamboja dan melati, mengikatnya dengan rerumputan yang lentur sehingga tidak mudah putus. Dia menempatkan karangan bunga itu di atas meja kecil di tengah ruangan, memberikan sentuhan warna dan aroma yang harum pada ruangan yang tadinya cukup polos.
Setelah itu, Alea mulai membuat kerajinan dari daun-daun yang dia kumpulkan. Dengan bantuan Nenek Siti yang mengajarkannya cara melipat dan menyusun daun, dia membuat beberapa bentuk yang menarik – burung kecil dari daun kelapa, bunga dari daun pepaya, dan bahkan sebuah rumah kecil dari daun jambu. Dia menempatkan kerajinan-kerajinan itu di atas rak dan di sudut-sudut kamar, membuat ruangan terlihat lebih hidup dan penuh dengan warna.
“Lihat dong, Nenek!” teriak Alea dengan suara yang ceria ketika berhasil membuat burung kecil dari daun kelapa. “Burungnya seperti sedang terbang ya? Aku akan menempatkannya di dekat jendela agar bisa melihat luar.”
Nenek Siti tertawa lembut dan menepuk kepala cucunya dengan penuh kasih sayang. “Benar sekali, sayang,” jawabnya dengan suara yang hangat. “Burungnya sangat cantik. Kamu memang pandai membuat kerajinan dari bahan-bahan alami seperti ini.”
Tidak hanya itu, Alea juga mengambil beberapa daun besar yang masih segar dan membuat alas meja sederhana dengan menyusunnya secara rapi di atas meja makan kecil. Dia juga menempatkan beberapa bunga kecil berwarna kuning di antara daun-daun itu, membuat meja makan terlihat lebih menarik dan menyenangkan untuk digunakan.
Ketika tengah hari tiba dan matahari mulai terik, Alea sudah berhasil mengubah tempat tinggal sementara mereka menjadi ruangan yang penuh dengan warna dan keindahan. Setiap sudut ruangan dipenuhi dengan dekorasi sederhana yang dia buat sendiri – karangan bunga di meja tengah, kerajinan daun di rak dan sudut kamar, serta alas meja yang indah di atas meja makan. Bau harum dari bunga melati memenuhi ruangan, membuat suasana menjadi lebih nyaman dan hangat.
Ketika Rian dan Hadian kembali dari rumah panggung pada sore hari, mereka langsung terkejut melihat perubahan yang terjadi pada ruangan. Hadian berlari ke arah rak yang dihiasi dengan kerajinan daun yang dibuat oleh adik perempuannya, melihatnya dengan mata yang penuh kagum.
“Wah, Kakak Alea benar-benar pandai membuat kerajinan ya!” teriaknya dengan suara yang penuh kegembiraan. “Burungnya sangat cantik! Kamu membuat ruangan ini jadi lebih indah dari sebelumnya.”
Rian juga merasa sangat terkesan dengan hasil kerja keras putrinya. Dia mendekat dan mencium dahi Alea dengan penuh cinta. “Kamu sudah membuat rumah kita menjadi sangat cantik, sayang,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan bangga. “Aku sangat bangga padamu. Dekorasi yang kamu buat membuat ruangan ini terasa lebih hangat dan seperti rumah yang sebenarnya.”
Alea tersenyum lebar mendengar pujian dari ayah dan kakaknya. Dia mengajak mereka untuk melihat setiap dekorasi yang dia buat, menjelaskan dengan bangga bagaimana cara dia membuatnya dan dari mana dia mendapatkan bahan-bahannya. “Aku ingin rumah kita selalu terlihat cantik dan nyaman, Papa,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Seperti rumah lama kita dulu ya?”
Rian merasa mataharinya berkaca-kaca mendengar kata-kata putrinya. Meskipun mereka harus meninggalkan rumah lama dan melalui banyak kesulitan dalam hidup, namun keinginan Alea untuk memiliki rumah yang indah dan nyaman membuatnya merasa bahwa semua usaha yang dia lakukan adalah sebanding. “Ya, sayang,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Rumah kita yang baru nanti akan jauh lebih cantik dan nyaman dari rumah lama kita. Dan kamu bisa membuat dekorasi sebanyak mungkin untuk membuatnya semakin indah.”
Pada malam hari itu, mereka makan malam bersama di atas meja makan yang dihiasi dengan alas daun dan bunga kecil yang dibuat oleh Alea. Makanan yang sederhana terasa lebih nikmat karena suasana ruangan yang hangat dan penuh dengan keindahan. Pak Soleh yang melihat hasil karya Alea juga sangat terkesan dan memuji kecerdikan serta keahlian kecilnya dalam membuat dekorasi dari bahan-bahan alami.
“Kamu harus mengajarkan aku cara membuat kerajinan seperti itu, ya Alea,” ujar Pak Soleh dengan senyum hangat. “Aku bisa membuatnya untuk menghiasi rumahku juga lho.”
Alea tersenyum dan mengangguk dengan senyum ceria. “Tentu saja, Pak Soleh,” jawabnya dengan suara yang jelas. “Besok aku akan mengajarkan kamu cara membuat burung dari daun kelapa ya. Sangat mudah kok!”
Setelah makan malam selesai, Alea membantu membersihkan meja dan menyimpan sisa makanan dengan rapi. Kemudian dia mengambil boneka Kiki-nya dan duduk di dekat jendela, melihat langit malam yang penuh dengan bintang-bintang sambil membayangkan bagaimana rumah panggung mereka akan tampak setelah selesai diperbaiki – sebuah rumah yang penuh dengan dekorasi yang dia buat sendiri, tempat di mana mereka bisa hidup bahagia bersama-sama sebagai keluarga yang utuh.
Rian melihat putrinya dari kejauhan dengan hati yang penuh dengan cinta dan rasa syukur. Dia menyadari bahwa meskipun mereka tidak memiliki banyak hal dalam hidup, namun anak-anaknya masih bisa menemukan cara untuk membuat kehidupan mereka lebih indah dan penuh dengan kebahagiaan. Dengan semangat yang ditunjukkan oleh Alea dan kerja keras dari Hadian, dia yakin bahwa mereka akan bisa membangun rumah yang indah dan kehidupan yang layak di desa yang penuh dengan cinta dan kebersamaan ini.