Masih tahap revisi PUEBI 🙏
Andy Frederica, seorang mahasiswi magang di sebuah perusahaan multinasional. Suatu hari, ia harus berurusan dengan seorang presdir dingin yang sudah memiliki seorang istri.
Takdir mempertemukan mereka terus-menerus dan membuat Andy masuk lebih jauh ke kehidupan pribadi sang presdir. Mampukah ia bertahan dari jeratan cinta yang kapan saja bisa mengambil alih pikiran logisnya? Lantas, bagaimana dengan istri sang presdir?
"Ini bukan sembarang cincin. Bukan cincin pertunangan ataupun pernikahan. Cincin ini adalah simbol kalau aku adalah pembantunya. Dia adalah majikanku. Jangan pernah jatuh cinta pada majikanmu!"
"Apa!"
"Narsis sekali dia bicara begitu. Memang ini bukan cincin pertunangan. Apalagi cincin pernikahan. Ikatan cincin ini lebih sakral karena ini adalah cincin perbudakan!"
[ Andy Frederica ]
Genre : Adult Romance, friendship, family
Setting : Jakarta, Indonesia
Alur : Maju
Status. : Tamat 124 Episode
Cover : Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayu Assanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Lamaran Perbudakan
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya seorang wanita muda yang merupakan pramuniaga toko.
Tuan Asland diam tidak menjawab. Ia berjalan melewati wanita itu, langsung menghampiri etalase toko perhiasan.
Aku yang berada di belakangnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tampak toko itu diisi dengan banyak kaca dan CCTV. Dari pantulan kaca yang berada di depanku, dapat kulihat Tuan Asland sedang berbicara dengan pramuniaga yang menanyainya tadi.
Lalu seorang pramuniaga lain yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka dengan seksama, mulai mengeluarkan beberapa kotak perhiasan dan meletakannya di atas permukaan kaca etalase. Ia menunjukannya pada Tuan Asland.
"Silakan dilihat, Tuan."
Samar kudengar suara pramuniaga itu selagi berjalan berlawanan dari posisi Tuan Asland. Hendak kulihat perhiasan dari etalase yang lain. Banyak sekali model perhiasan di dalamnya. Dari yang terkecil hingga yang terbesar dan semuanya dibanderol dengan harga yang selangit.
Selang beberapa saat, Tuan Asland mendekatiku dengan membawa sebuah kotak cincin. Ia meraih tanganku. Berusaha menyematkan cincin berbatu safir biru di jari manis tangan kiriku.
"Eh, ada apa, Tuan?" tanyaku heran, spontan menarik tanganku dari pegangan Tuan Asland.
Tuan Asland masih diam lalu menarik tanganku lagi. Ia berusaha memasukan lingkar cincin itu ke jari manis tangan kiriku.
"Maaf Tuan." Kutarik lagi tanganku. "Kenapa Tuan kasih aku cincin?"
"Karena kamu harus memakainya," terang Tuan Asland, serius. "Berikan tanganmu!"
Ia menarik paksa tanganku lalu memakaikan lagi cincin tadi di jari manis tangan kiriku.
"Maaf aku tidak bisa menerimanya, Tuan." Berusaha kulepaskan cincin itu.
"Jangan dilepas!" seru Tuan Asland.
"Kenapa?"
"Cincin ini untukmu."
"Un-tukku? Untuk apa, Tuan? aku tidak pantas menerimanya karena aku cuma pembantu." Sungguh aku bingung menerka tujuan Tuan Asland memberiku cincin itu.
"Justru karena kamu adalah pembantuku, makanya aku memberikan cincin ini untukmu."
Tuan Asland terlihat yakin. Sedangkan aku masih dalam kebingungan yang sama.
"Tapi cincin ini untuk apa, Tuan?"
Isi otakku penuh tanda tanya besar. Tidak mengerti dengan apa yang Tuan Asland pikirkan hingga nekad memberiku sebuah cincin berharga mahal. Tak mau pusing tujuh keliling, kulepas juga cincin pemberian Tuan Asland dari jariku. Lantas ku kembalikan lagi pada tuan Asland.
Aku berjalan pergi menuju pintu keluar. Sontak keberadaanku menjadi tontonan para pramuniaga yang ada di sana. Bukan hanya memperhatikan, tetapi juga berdesas-desus membicarakan aku dan Tuan Asland.
"Andy!"
Tuan Asland berjalan cepat mengejarku yang sudah hampir sampai pintu keluar.
"Andy!" panggilnya lagi. Ia menarik lenganku ketika jarak di antara kami sudah dekat. Sekarang kami berdiri di teras toko.
"Maaf Tuan, aku tidak bisa menerimanya." Seketika kulihat tangan Tuan Asland mencekram lengan kiriku dengan kuat. Kutarik lenganku berusaha melepaskannya.
Tuan Asland menghela napas. Suara napasnya terdengar kasar. Ia memalingkan wajah dariku sebentar. Tak sampai semenit ia melihat ke arahku lagi. Lalu melepaskan tangannya dari lenganku.
"Kamu harus pakai cincin ini."
"Tapi aku tidak bisa menerimanya, Tuan."
"Apa kamu lupa kalau kita punya perjanjian?"
"Perjanjian yang mana, Tuan? Sudah terlalu banyak perjanjian yang kita buat. Bisa tolong Tuan sebutkan yang mana?"
"Perjanjian yang kamu buat sendiri. Kalau kamu akan menuruti dan mengikuti semua kata-kata dan perintahku."
Aku terdiam seraya memutar ke belakang roda ingatanku. Selanjutnya aku pun ingat pernah mengatakan akan mengikuti dan menuruti semua perkataan dan perintah Tuan Asland saat berusaha meminjam uang padanya. Dan kami juga menandatangani perjanjian itu di selembar kertas yang dibubuhi materai di apartemen Tuan Asland.
"Apa kamu sudah lupa atau pura-pura lupa? Setelah berhasil mendapatkan uangku, kamu lupa janjimu?" Sorot mata tuan Asland tajam menusuk.
"Aku ingat Tuan. Aku tidak lupa dengan kata-kata yang pernah aku katakan."
"Jadi kamu sudah mengerti?"
"Ya Tuan, sudah," jawabku lemas dan menunduk. Wajah Tuan Asland nampak puas sekarang. Aku hanya bisa pasrah kemudian mengulurkan tangan kiriku padanya.
"Sekarang dengarkan aku!"
"Ya Tuan."
Kami bersitatap muka, saling memberikan sorot mata intens.
"Aku memberikan cincin ini untukmu."
Tuan Asland berkata seraya menyematkan sebuah cincin berbatu safir biru di jari manis tangan kiriku dengan perlahan. Ku lihat cincin itu sebentar. Setelahnya pandanganku beralih melihat Tuan Asland lagi.
"Cincin ini untuk mengingatkanmu kalau kamu adalah pembantuku dan aku adalah majikanmu. Jangan pernah jatuh cinta padaku."
"A-apa...."
Mataku terbelalak. Serasa tak percaya dengan ucapan Tuan Asland barusan.
"Kamu harus selalu memakai cincin ini. Jangan pernah berpikir untuk melepaskannya. Dengan begitu aku tahu kamu adalah pembantuku dan aku sudah memperingatkanmu. Kalau kamu jatuh cinta padaku, aku tidak akan bisa menolongmu lagi."
Manik mataku menatap fokus Tuan Asland tanpa berkedip. Aku masih tidak percaya. Berpikir betapa narsisnya dia? Sungguh tidak bisa kubayangkan kata-kata konyol bisa keluar dari mulut seorang presiden direktur gagah seperti dirinya. Tidak mungkin aku akan mencintainya. Apalagi setelah tahu tentang statusnya yang sudah memiliki seorang istri.
Dan beberapa detik kemudian.
Ssiiiuuuuutttt ... Dorr ... Dorr ... Ssiiuuuuutttt ... Dorr ... Dorr ... Ssiiiuuuuutttt ... Dorr ... Dorr.
Suara kembang api tahun baru memekik di telinga. Menandakan awal pergantian tahun sudah akan dimulai. Langit jadi penuh bunga. Langit jadi berwarna biru, ungu dan merah muda. Penuh cahaya. Betapa indahnya!
Aku masih mengarahkan pandanganku ke langit yang masih ramai dengan taburan bunga kembang api.
"Eh lihat itu, ada orang lagi lamaran!" seru salah satu pramuniaga dari dalam toko perhiasan.
Suaranya yang nyaring membuatku tersadar dengan keadaanku sekarang. Tuan Asland masih memegang tangan kiriku dan dia masih menatapku. Padahal cincinnya sudah terpasang di jariku dengan sempurna.
"Mana? Mana?" sambung pramuniaga lain.
"Wahh, cepat difoto!"
Para pramuniaga itu sangat antusias melihat kami.
Cekrak! Cekrek! Cekrak! Cekrek!
Mereka mengambil banyak foto kami.
"Wah, bagus ya fotonya! Latar belakangnya bunga kembang api tahun baru."
Sementara aku dan Tuan Asland yang menjadi objek foto, saling diam. Saling berpandangan.
'Apakah menjadi seorang pembantu presiden direktur G.F Company, proses pendaftarannya seromantis ini?' Ungkapku dalam hati.
**
Indekos.
Awal tahun membuat kontrak yang baru dengan sang waktu. Kulanjutkan hidupku mengawali tahun berikutnya sebagai pembantu Tuan Asland. Sambil tidur berbaring di atas kasur single bed dengan posisi malas-malasan, sedari tadi tangan kiriku sibuk membolak-balik. Dari sisi atas dan sisi bawah. Dari sisi kiri dan sisi kanan. Mengamati cincin yang sekarang melingkar di jari manis tangan kiriku.
Biru batu safirnya sangat murni, sangat biru. Aku seperti melihat ke kedalaman samudera lepas. Kilauannya membekas di mata dan ketika cahaya lampu di kamar indekosku memantul mengenai permukaan atasnya, batu itu menjelma kilap luar biasa.
Sungguh Tuan Asland adalah sosok yang sulit ditebak. Niatnya memberiku cincin dan tujuan dari diberikannya cincin itu padaku, sudah membuatku geleng-geleng kepala berkali-kali.
***
BERSAMBUNG...
andykqn udh di katai prlacur di maluin pas tmt orang ramai di katai pembantu
coba andynya tegas sedikit thor punya harga diri gitu
jangan mudah luluh lg dengan aslannya
Apa novel nya sudah direvisi yak ?
coz aku caba dikolom komentar banyak yg bingung sama alurnya 😅
serem² nagih yg modelan begini
bisa untuk d rekom pada teman untuk d bacz