Cover by @Iqbald26
Butuh waktu untuk menyadari sebuah perasaan,bahkan tidak jarang kita terluka bahkan melukai.
Sebatas Pengganti mengajarkan kita untuk bermain rasa, menikmati sebuah kebahagiaan dari luka kecil. Sampai akhirnya kita benar-benar tau apa itu kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama
Kevan menarik Kirana,yang masih duduk terdiam,sampai akhirnya Kirana jatuh ke pelukan Kevan. Kirana semakin deg-degan dengan apa yang suaminya lakukan,ada perasaan bahagia yang saat ini menyertainya,seolah tak ingin berakhir begitu saja,Kirana mencoba menerima setiap perlakuan suaminya.
Kini wajah keduanya saling bertatapan,Kirana semakin salah tingkah saat Kevan memajukan wajahnya untuk mendekat pada wajah Kirana.
"Kak,apa yang kakak,lakukan?,"
"Hhhmhh, memangnya apa yang akan kulakukan?,"
"Kenapa kita sedekat ini?,"
"Apa kamu tidak suka kalo aku dekat dekat dengan istriku sendiri?,"
"Ya boleh kak,hanya saja aku belum terbiasa,"
"Mulai saat ini kamu harus terbiasa,karena aku ingin melakukan hal ini setiap hari,"
"Apa maksud kakak,setiap hari?,"
"Ahh,kau ini masa tidak tau, pokonya aku ingin melakukan hal ini setiap hari,"
"Kenapa harus setiap hari?,"
"Kamu banyak tanya! intinya jika kita ingin membangun keluarga yang penuh cinta,maka kita harus menumbuhkan rasa itu dengan seperti ini,"
"Benarkah?,"
"Kamu ini, cantik cantik kok lemot sekali,"
"Wah,ternyata aku cantik ya hehe,"
"Ya,tentu kamu cantik,jika tidak mana mau aku memeluk mu seperti sekarang,"
"hhhmhh menyebalkan!,"
Seolah tak peduli dengan ocehan Kirana,Kevan malah semakin menarik tubuh Kirana keperluannya. Wajah mereka sudah sangat dekat,tanpa persetujuan Kirana,Kevan mencium bibir istrinya itu,kecupan lembut Kevan berikan,membuat Kirana bingung harus bagaimana.
Kevan beralih posisi hingga kini Kirana berada dibawah tubuhnya,Kirana semakin berkeringat dibuatnya.
"Sayang,aku belum melakukan apapun terhadap mu,kenapa kamu sudah berkeringat,apa aku menakutkan untuk mu?,"
"Ti ... tidak,kak. Aku hanya merasa belum siap saja,karena ini pertama kalinya untukku,"
Kevan semakin mengerutkan keningnya.
"Memangnya menurut kamu aku udah pernah!. Aku pun ingin melakukan hal ini,tapi dengan seseorang yang aku cintai,jadi kamu tidak perlu khawatir," ucap Kevan yang membuat Kirana sedikit bersedih.
"Aku lupa kalau kak,Kevan . Belum memiliki perasaan sama aku. Aku terlalu percaya diri kalau kak Kevan aku melakukan hal itu, sadar Kirana sadar," gumam Kirana dalam hatinya.
"Kak,aku mau ke kamar mandi," ucap Kirana beralasan karena tidak ingin terus berharap banyak dengan perlakuan Kevan.
Kevan yang sedang menindih tubuh Kirana,pun langsung bangun dan membiarkan kirana pergi ke kamar kecil yang berada di dalam kamar mereka. Kevan masih santai karena tidak menyadari perubahan wajah Kirana.
Di dalam kamar mandi,Kirana mencuci wajahnya,padahal sebelumnya dia sudah membersihkan diri,karena dia menangis dan ingin menutupi mata sembabnya untuk itu Kirana mencuci muka kembali.
Di tempat tidur,Kevan sedang sibuk dengan handphonenya,dia tertawa ketika menerima telpon dari seorang wanita,yang tak lain adalah sekertaris sekaligus sahabatnya itu. Kenapa Kirana,yang baru datang dari kamar mandi tidak disadari oleh Kevan,dia masih asik mengobrol dan melupakan keberadaan Kirana. Suara perempuan itu terdengar jelas di pendengaran Kirana,tanpa sadar air matanya kembali luruh.
Tidak mau terus berharap banyak,Kirana merebahkan tubuhnya di tempat tidur,dengan perlahan karena ia tidak ingin keberadaannya disadari oleh Kevan. Kirana mencoba memejamkan matanya, melupakan setiap kejadian yang begitu pahit dalam hidupnya,dia menutup tubuhnya sampai ke atas kepala dengan selimut.
Setelah hampir setengah jam akhirnya Kevan, menyudahi telpon dari sahabatnya itu. Sebenarnya gadis itu sedang menceritakan sosok Kenan ,adik kembar kevan. Beberapa kali bertemu dengan sang adik membuat Larissa merasa tertarik,gadis periang dan cantik itu memang selalu terbuka mengenai apapun dengan Kevan,yang membuat Kevan,tertawa adalah ketika Larissa berencana akan melamar Kenan. Pada kenyataannya bukan kah laki-laki yang seharusnya melamar perempuan.
Kevan, melirik kesampingkannya,dan disana sudah ada Kirana yang terlelap dengan tidurnya,ya dia berhasil tertidur setelah memikirkan banyak hal. Kevan menarik selimut yang menutupi tubuh kecilnya.
"Kau bisa berhenti bernafas,jika menutupi seluruh tubuhmu dengan ini," ucap Kevan berbicara dengan Kirana yang sudah tertidur beberapa menit yang lalu,Kevan mencium kening Kirana ,lalu ia pun ikut membaringkan tubuhnya dan langsung memeluk Kirana,mereka terlelap dalam mimpinya masing-masing.
Pukul 5 pagi Kirana terbangun, tidak seperti biasanya,kali ini tubuhnya terasa menopang beban,dan benar saja,kalau Kevan sedang memeluknya sangat erat.
"Ya ampun kenapa sedekat ini? apa aku terlalu banyak berharap jika suatu saat ini kak,Kevan akan menerima ku sepenuhnya,aku takut jika terlalu banyak berharap," Gumamnya
Kirana mencoba melepaskan pelukan Kevan dari tubuhnya,lalu ia beranjak untuk menjalankan kewajibannya, setelah itu ia membangunkan suaminya.
Seperti biasanya,Kirana menyiapkan sarapan untuk semua orang yang ada di rumahnya, termasuk kedua pekerjanya. Setelah selesai menata makanan di atas meja,Kirana pun kembali memanggil Kevan di kamarnya. Kevan sedang asik dengan telepon genggamnya,lagi lagi Kirana datang pun tidak disadari oleh Kevan,hal itu membuat Kirana berpikir apa segitu tidak pedulinya Kevan pada Kirana.
Setelah cukup lama berdiri, akhirnya Kirana membuka suara .
"Kak,sarapan dulu, semuanya sudah siap,"
Kevan melihat kearah sumber suara,lalu tanpa mendengar jawaban Kevan,kirana meninggalkan kamarnya.
"Kenapa dia?," tanyanya pada diri sendiri.
Kevan segera menyusul Kirana ke meja makan,Kevan melihat sosok wanita yang begitu cantik dan anggun,dalam diamnya Kevan berjanji akan mencintai Kirana. Suasana begitu hening,Kirana fokus dengan nasi yang akan ia suap kan kedalam mulutnya .
Kirana selesai lebih dulu,ia langsung pergi ke dapur untuk menaruh piring kotor dan mencucinya, setelah itu ia kembali ke meja makan.
"Kak,aku berangkat duluan ya?," ucap Kirana meminta izin
"Memangnya hari ini kamu mau kemana?,"tanya Kevan penasaran
"Aku mau mau ke Kafe kak,".
"Lah kalo tujuan kamu ke kafe,bareng kakak, saja kita satu arah,"
"Aku belum terbiasa kak,lebih baik aku berangkat sendiri saja,"
"Kenapa,apa kamu ngga suka berangkat bareng saya?, " ucap Kevan dengan nada sedikit tinggi
"Bu ...bukan seperti itu kak,aku tidak ingin membuat kakak malu saja,lagi pula aku sudah terbiasa melakukannya sendiri," ucap Kirana gugup
"Mulai saat ini kita akan selalu berangkat bareng,aku tidak menerima penolakan," ucap Kevan tidak ingin menerima bantahan
Setelah selesai sarapan Kevan masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaian,tak lama disusul oleh Kirana dengan wajah sedikit murung.
"Ada apa dengan wajahmu,apa segitu tidak inginnya kamu berangkat bareng?," ucap Kevan sarkas
"Tidak kak,aku sangat senang bahkan aku menantikan hal ini,aku berharap kakak tulus melakukannya,"
"Apa kamu meragukan ketulusan ku,apa aku begitu menakutkan di matamu?," ucap Kevan dengan mengeratkan rahangnya
Kevan melangkah ke arah Kirana mendorong tubuh gadis itu hingga terjatuh ke atas tempat tidur,Kevan dengan segala kesadaran bercampur sedikit emosi karena keraguan Kirana, kembali melakukan adegan semalam yang sempat tertunda. Kali ini Kevan berhasil melakukannya dan mengambil ciuman pertama Kirana dengan penuh gairah,namun masih bisa ia kontrol.
***
Dunia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja,jangan lupa jaga kesehatan kita, lakukan setiap anjuran yang bisa mencegah kita terkena virus tersebut. Selalu berdoa untuk keselamatan kita semua,dan selalu tanamkan keyakinan bahwa badai pasti berlalu.
l