"Slebor banget sih jadi orang?" -Delta
"Emang kayak elo? Udah jalan kek Putri Keraton, muka kayak es batu, mana galak lagi. Gak akan ada cewek yang mau sama lo, gue jamin!" -Alpha
Alpha si cewek slebor dengan bentuk super abstrak. Baju berantakan, rambut diikat asal-asalan dan yang paling penting, dia manusia paling kikir sedunia!
Delta dengan sifat batu dan antisosial, tidak ada yang boleh menyentuhnya karena bisa ditebasnya habis-habisan, wajah dingin dengan aura mencekam di sekitarnya membuat semua orang tidak mau berinteraksi cowok itu.
Hingga Alpha membalikkan semuanya.
"Gue bakal buat lo jatuh cinta sama gue! Ingat itu baik-baik!" -Alpha
"Ogah." -Delta
Ngalahin Sang Raja Es? Emang bisa?
Ice Breaker started
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blackblue_re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 | Who?
"Lepasin gue!" ucap Delta kesel karena gue malah tarik baju kaos dia, harusnya gue megangin baju Bintang tapi apalah daya, gue pikun sendiri kalau yang sebelah kanan gue itu si tembok paud.
"Kalau gue mati nyerempet aspal salah lo!" cerca gue grasak-grusuk benerin posisi, Delta main jalan aja tanpa mikir gue yang masih berpegangan sama baju dia. "Woi De! Jangan jalan dulu, BUJUG BUSET!" histeris gue nemplok di punggung dia.
ASW, eh kok nyaman ya?
"Minggir lo!"
"Oi, minggir, ck!"
"Kak Al, gak usah ngayal deh!" seru Bintang, belum sepenuhnya sadar jidat gue malah kena sentil.
"Awww! Sakit jidat gue kampret!" marah gue ke Delta, cowok itu memasang wajah sinis.
Tadi gue ingat sesuatu.
Penting, tapi gak tahu itu apa.
"Kenapa?" tanya Bintang lega tadi lihat gue selamat abis mentok di tembok paud.
"Ingat seseorang, siapa ya?"
"Ingat sama Mang Ijal kali, utang Kak Al kan udah kayak menara Pisa." gue berkelit, "Oh hebat lu Bintang, hebat. Kakak sendiri lo malu-maluin. Okeh, siyaaap!" tandas gue tanpa menunggu lama ninggalin dia masuk ke dalam warung.
"Oi Al!" panggil Delta.
Internal screaming.
Keadaan di mana muka lo kosong padahal dalam hati udah lompat-lompat gak jelas, itu yang gue rasain sekarang.
Dia manggil nama gue? Asdfghjkl!
"Nih, gue beliin buat lo sama Bintang."
BOOOOM!!!
Siapa yang ngasih bom cabe di hati gue, ngaku lo!
Rencananya gue mau kelihatan stay cool, yang ada kek orang kena bisul. Ish, malah pipi gue berkhianat lagi, memalukan..., memalukan!
"Oi! Denger gak?" ucap Delta kesel karena makanan yang dia pegang ngegantung di udara, gue menyambut canggung sambil tersenyum ala kadal eh, ala kadar maksudnya.
"Um, thanks."
"Yoi."
Delta melenggang pergi meninggalkan gue yang masih bengong.
Bibir, bisa berhenti senyum sendiri gak?!
"Suka sama Bang Delta ya, ngaku Kak! Ngaku hahahah!!!"
"Ih enggak! Gue cuma terkejut aja..." sanggah gue tapi pipi gue lagi-lagi berkhianat. "Itu pipinya kek pantat monyet, uhuy!" kata Bintang menepuk punggung gue.
"Napsu banget lu mukulin gue, ya!"
"Gak denger, gak denger."
¢¢¢
Hari ini gue terpaksa ikut remedial ulangan, nilai gue anjlok bukan kepalang gara-gara tadi malam gak sempat belajar, malah nyari uang.
Saat semua orang sekolah buat dapat kerja, gue malah kerja supaya bisa tetap sekolah. Menyedihkan ya, gue? Tapi bagian yang paling gue syukuri pekerjaan gue gak kayak pekerjaan Bunda dulu.
Bunda, maaf kalau belum sempat bahagiakan Bunda. Ayah juga gak pernah balik-balik lagi, jadi buat apa Alpha belajar mati-matian?
Tangan gue basah, gue lap mata secepat mungkin seraya membuang sampah di depan minimarket tempat gue bekerja, shift malam gue udah selesai sekitar jam 12 malam lewat. Langkah kaki gue berayun, menuntun kembali ke tempat pulang, rumah.
Bintang udah makan belum?
Seharian ini kerjaan gue mondar-mandir ke sana kemari mulu kek rentenir gak ketemu mangsanya. Berarti seharian ini juga gue gak makan sama sekali, cuma minum air mineral.
"Hah, capek," keluh gue berhenti jalan. Duduk di bahu jalan. Bodo amat gue dikirain waria, tiang berjalan, mau disangka penyelundup bodo amat. Ini pinggang udah osteoporosis kayaknya.
Mata gue melirik ke samping, melihat seorang cowok dengan balutan jaket hijau army duduk di bangku sana, wajahnya suram sembari menjauhkan handphonenya.
"Ntar juga balik," ucap dia santai. Sayup-sayup gue dengar suara melengking di handphonenya terdengar kalap, suara ibu-ibu bunting yang lagi demen makan bajigur kali.
"Delta gak lagi nyari anak panti itu, Mah!" bentak cowok itu dengan wajah merah padam, gue merasa gak enak juga menguping obrolan dia tadi.
Kaki gue melangkah menelusuri trotoar jalan sebelum teringat sesuatu.
Itu Delta?
Weh anjay nih mata beneran kemasukan katak Mesir keknya.
"Delta," panggil gue ke cowok itu buat memastikan. Dia menoleh dingin dengan kedua tangan di saku hoodienya.
"Apa?"
Hati gue gak ada yang salah kan?
Padahal dia cuma bilang apa kenapa hati gue malah berbunga-bunga? Apa ini efek samping terlalu jones ya?
"Gak. Enggak ada, cuma iseng-iseng berhadiah doang sih. Hehe," tawa gue garuk-garuk aspal.
Ya enggaklah.
"Oh."
"Yaudah, gue balik dulu," pamit gue setelah tersenyum sedikit. "Jangan lupa kangen yah, bye bye~"
"Delta!"
Gue dan Delta tersentak sembari menengok ke sumber suara, pria dalam balutan tuxedo dan perempuan yang familiar gue lihat tampil di berbagai acara televisi.
"Di sini kamu ya... Di sini! Kenapa malah lari pas acara dinner sama keluarga sahabat Papa?!" bentak pria itu sarkas.
Gue meneguk ludah susah payah, nyerong dikit bisa kena semburan lahar lapindo kayaknya.
Aheuheu.
"Aku gak mau Papa didekatin aku sama dia!" bentak Delta membuat gue tersedak. Kedua orangtua Delta melirik gue tajam seakan baru menyadari kalau gue ada di sana.
"Oh... Gara-gara perempuan ini kamu jadi membangkang?!"
Sekelebat gue teringat ucapan itu kayak sebuah dejavu.
"Kamu! Gak ada habis-habisnya yah, Pah! Ini temen Delta yang dari Panti itu!" adu perempuan di sebelahnya sambil menunjuk ke arah gue.
Di saat itu, jari gue bergetar hebat.
Kenapa mereka tahu kalau gue anak panti asuhan?
Apa gue pernah ngebuat masalah sampai mereka segitu bencinya?
Laki-laki itu mendekat ke gue yang benar-benar membisu, tangan gue mendingin seiring dengan tajamnya tatapan mereka.
Bukannya yang di dalam mobil itu cewek yang belakangan ini sering nempelin Delta? Yang waktu itu ngedrama pake acara jatuh di koridor?
Sebenarnya hubungan gue sama mereka itu apa, ck!
"Kamu... Sudah dari awal saya ingatkan, jangan dekati anak saya lagi!" bentaknya membuat langkah kaki gue mundur dengan spontan. Gue menunduk mencoba buat pergi.
"Pah, aku gak mau dijodohkan sama Zahira. Aku maunya dia."
Kaki gue berhenti sejenak.
Dia itu siapa? Cewek yang ada di dalam mobil itu, kah?
Belum sempat menengok ke Delta, cowok itu udah dipaksa masuk dalam mobil mewah milik kedua orangtuanya.
Gue berdiri, menatap ke wajah di balik kaca jendela mobil. Wajah Delta yang pias dibanding ekspresi dinginnya.
Mata kami bertemu beberapa saat sampai di ujung jalan, memang cuma kebisuan tapi ada sesuatu yang terlewatkan.
Tapi gue gak tahu itu apa.
¢¢¢
Sukses selalu thor
tapi gila keren kak karya mu👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️