Bimatara Reza Winajaya tumbuh menjadi pria tampan yang amat di kagumi semua wanita yang melihat. Tapi kisah cintanya tidak semulus di bayangkan banyak orang. Meski fisik mendukung tapi soal wanita dia kurang beruntung.
Banyak orang yang mencintai tapi cintanya hanya untuk wanita di masa lalunya. Clara Mariana Argata.
Pertemuan dengan wanita yang mirip wanita di masa lalu menghantuinya. Ciara Hanaria Azata. Memiliki banyak rahasia yang wanita itu sembunyikan. Hingga wanita itu diam-diam mengagumi Bima saat pertemuan pertama.
Apa Bima akan melupakan sosok wanita yang di cintai selama hidupnya? Atau wanita yang mirip dengan masa lalunya yang akan mengubah segalanya, menjadi cinta baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Undangan
Update lagi
Selamat membaca
Aku bakal terus ingetin
Jangan lupa komen, Vote Ranking dan Jempolnya (👍)
#Authorbanyakmaunya 😁
***
Setelah dua jam kembali dari acara makan siang, Hana masih duduk manis di depan meja, pekerjaan Hana tidak begitu padat seperti hari sebelumnya. Tidak lama Hana berdiri melihat ada dua pria menghampirinya. Mereka tampak mengeryit akan sesuatu yang Hana tidak tahu.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Hana sopan, tidak biasanya ada orang menerobos ke atas tanpa pemberitahuan sebelumnya dari resepsionis yang memang seharusnya mengabarinya apalagi bila hal yang menyangkut tentang Bosnya.
"Kamu一maksud saya, kamu sekretarisnya Bima?" kata si pria dengan kacamata hitam yang malah menjawab pertanyaan Hana dengan pertanyaan juga. Belum lagi pria itu memakai kacamata hitam memangnya tidak bisa di buka dulu apa tidak gelap, pikir Hana malah mengomentari penampilan pria di hadapannya.
"Benar, saya sekretarisnya, Pak Bima. Saya Hana. Bapak berdua mau bertemu dengan Pak Bima? Kalau boleh tahu ada urusan apa?" tanya Hana kembali ramah tamah.
"Hai, Hana. Saya Fando. Tidak ada alasan untuk bertemu dengan sahabat kami Bima, kan. Urusan kami sangat pribadi dan penting." balas Pria yang bernama Fando menjulurkan tangan pada Hana dan disambutnya sopan. Fando membuka kacamatanya dan mengedipkan mata pada Hana.
Hana diam melihat sikap Fando. Tidak merasa kalau Hana tidak terganggu.
"Saya Arsen." kali ini pria satunya lagi mengenalkan diri.
"Pantas saja Bima betah sampai-sampai kita minta bertemu saja segala bilang sibuk, tahunya ada yang cantik di sini." seru Arsen, penampilan kelihatan sopan tapi dari segi bicara menurut Hana tidak sesuai dengan penglihatan.
Hana hanya tersenyum tidak menjawab.
"Kamu tahu sendiri dia gak mau bagi-bagi."
Hana sembari tadi hanya diam dan tersenyum, melihat tingkah keduanya Hana pastikan kalau mereka adalah pria buaya alias playboy.
Bagi-bagi apa? Memangnya Hana makanan bisa di bagi-bagi.
"Pak Fando sama Pak Arsen jadi mau bertemu Pak Bima?" tanya Hana sedikit menyindir, karena tidak nyaman akan obrolan keduanya yang kemana-mana.
"Tentu saja." keduanya bersamaan.
Hana tidak pungkiri ia berdecak kagum dengan dua pria ini begitu tampan. Hana merasa masuk kedalam dunia novel dimana pria tampan bertaburan di sana.
"Pak Bima sedang ada pertemuan dengan Manager. Kalau begitu ikut saya." ajak Hana masuk kedalam ruangan.
Mereka berdua mengikuti Hana di belakang. Dan mempersilahkan keduanya duduk di sofa. Sebelum meninggalkan ruangan Hana memberikan beberapa tawaran minuman pada mereka.
"Mau, minum apa, pak?" tanya Hana ramah.
"Tolong buatkan teh manis saja untuk kami berdua." kata Arsen dan disetujui Fando.
"Tolong panggil saja nama kami jangan dengan sebutan Bapak. Kami masih muda, Hana." seru Fando.
"Benar, kami masih muda, tampan, single, dan kaya."ucap Arsen sedikit menggoda Hana. Hana tidak habis pikir dengan keduanya begitu percaya diri.
"Tapi… "
Sebelum Hana menolak, keduanya terlihat memelas dengan raut wajah yang tidak bisa Hana tolak. Pria tampan memang kelemahannya.
"Uhm baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu." ujar Hana melengang keluar dan menyiapkan teh manis untuk mereka berdua. Hana sedikit tidak nyaman dengan permintaan sahabat Bosnya tapi bagaimana lagi mereka terus mendesak agar memanggil nama mereka tanpa embel-embel 'pak'atau 'Bapak'.
Hana meminta Mang Casmad membuatkan teh manis dan cemilan untuk mereka.
Beberapa menit Mang Casmad datang dengan nampan berisi teh manis dan cemilan masuk ke dalam. Sedangkan Hana sedang menerima panggilan masuk dari telepon interkom.
Melihat Mang casmad keluar Hana tidak lupa berterima kasih. Dan menunggu Bosnya datang.
***
Bima kembali ke ruang kerja dengan perasaan lelah. Entah kenapa hari ini ia merasa tidak bersemangat untuk kerja. Matahari sore sedikit cerah dan langit terlihat biru.
"Pak, di dalam ada sahabat anda ingin bertemu, Pak Arsen dan Pak Fando." Kata Hana melaporkan saat Bima sudah ada di depan mejanya.
"Baiklah, terima kasih."
Bima membuka pintu masuk berjalan ke dalam melihat kedua sahabatnya.
"Hai, Bi… " Fando melambaikan tangan.
"Ceo baru, apa kabar?" sahut Arsen langsung berdiri menghampiri Bima memeluknya sekilas sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu.
"Baik, ada apa kalian kemari tanpa memberikan kabar lebih dulu, bukankah Pak Pengacara dan Pak Dokter sangat sibuk?"
"Kamu menyindir kami atau diri sendiri, hah? Sok sibuk. Kamu yang sibuk. Kami berdua sibuk karena memang menjalani tugas."
"Maafkan aku, Pak Pengacara dan Pak Dokter." balas Bima meledek.
Mereka tertawa. Mengingat kembali masa-masa di sekolah. Dulu mereka masih muda dan egois. Tapi sekarang mereka berubah menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara meski dalam satu hal mereka masih sama yaitu mencintai para wanita. Diantara Gengkor Arsen dan Fando yang sangat dikenal Playboy dan Mesum. Sedangkan Bima dan Arvind termasuk pria kalem, dingin dan cuek. Tapi diantara mereka Bima lah yang paling populer.
"Kami sudah berkenalan dengan Sekretarismu, dia sangat mirip dengan―artis korea kamu tahu sama si cantik Im Yoona dari SNSD. Dia sangat manis dan lucu." Arsen yang sempat akan mengatakan sesuatu yang sensitif untuk Bima namun diurungkan karena mendapat tatapan dari Fando sebelumnya.
"Sudahlah kalian tidak usah menggoda sekretarisku dan jangan diam-diam meminta nomornya." ancam Bima tahu kalau kedua pria itu memang gatal saat melihat wanita bening sedikit.
"Bos yang posesif." seru Fando.
"Aku bukan posesif, aku hanya mencegah Hana menjadi korban kalian berdua." lontara Bima itu memang ada benarnya. Tapi keduanya melihat akan kepedulian Bima terhadap Hana.
"Padahal aku jomblo loh." kata Arsen mengakui.
"Jomblo itu tidak ada dalam kamus Arsen Candra Rahardian." Kata Bima dengan ejekan.
"Kamu benar, aku ini pencinta wanita. Bukan pria gagal move on." desis Arsen.
Bima memang gagal move on, tapi beberapa hari terakhir ia sudah tidak pernah memikirkan wanita yang membuat hidupnya kelabu.
"Aku sudah move on." tekannya tegas membuat keduanya mengangguk saja tidak ingin membahas masa kelam Bima dulu.
"Aku bawa undangan untukmu." Fando menyodorkan dua undangan.
Bima melihat undangan pernikahan dan undangan party.
"Elgar mau menikah?" tanya Bima.
"Tentu saja, itu undanganya." balas Fando.
"Aku tahu. Terus ini pesta topeng, kalian mengajak aku kesana?" tanya Bima lagi.
"Iya." singkatnya.
Fando tidak habis pikir pada Bima kenapa jadi lemot begini sejak pulang dari Jerman. Arsen saja hanya menggeleng kepalanya pelan.
"Mau datang gak?" tanya Arsen.
"Acara pernikahan Elgar aku ikut kalau pesta topeng aku pikir lagi deh."
"Bima, Bima, kamu payah banget sih, kalau kamu gak datang ke pesta topeng bagaimana kamu mau punya pacar mau jomblo terus kayak Arvind." seru Arsen.
Bima malas bila harus ikut acara seperti itu, lebih baik tiduran di kamar kalau tidak main games dan berkumpul dengan keluarganya. Tapi ia sudah lama tidak berkumpul dengan sahabatnya.
Bima sedikit ragu. "Baiklah, Arvind juga ikut kan?"
"Tentu saja, ada kamu pasti Arvind juga mau. Aku gak habis pikir sama kalian berdua. Jangan-jangan kalian berdua…"
"Jangan berpikir macam-macam, Dokter mesum. Gila kamu." cetus Bima memandang Arsen sedikit garang.
"Woi, aku bercanda."
"Terus Si Arvind kemana gak datang sama kalian?" tanya Bima baru menyadari kalau Gengkor terasa kurang personil.
"Dia ada jadwal mengajar, maklumlah Pak Dosen."
"Oh begitu… "
Mereka dua jam lamanya hanya mengobrol hingga tidak tahu waktu, untung pekerjaan Bima tidak begitu banyak dan memang meski jadwal hari ini tidak banyak tapi cukup membuat Bima lelah dan bel lagi nanti malam ada acara spesial untuk Luna, Mommy tercinta.
Bima sudah menyiapkan hadiah dan kejutan untuk Mommy-nya dan tidak lupa mengajak sahabatnya untuk datang kerumah.
***
"Hana nanti ke pesta topeng jadikan?" tanya Audy.
"Jadi, tapi gak akan lama. Ayah sudah kasih izin asal pulang jangan lewat tengah malam, Dy." balas Hana menyedot minumannya.
Hana dan Audy berada di pantry kantor perjanjian, sedangkan Bosnya setelah bersama sahabatnya ia pulang lebih dulu memang ada acara keluarga besar.
"Anak Ayah memang susah berkeliaran, macam si Cinderella aja sebelum tengah malam sudah harus balik."
"Yang penting aku ikut, memangnya kamu di izinkan sama Bang Egi?"
"Sudah dong, di izinin kok."
"Kok di izin gitu aja, biasanya kan ini gak boleh itu gak boleh."
"Tenang, aku udah kasih sesuatu sama dia kok."
Hana penasaran. "Kamu kasih apa?"
"Rahasia dong." balas Audy dengan jari telunjuk di depan bibir seakan tidak boleh ada yang tahu hanya Audy dan Egi saja.
"Main rahasiaan segala sih…"
"Dasar kepo."
"Kamu bikin aku penasaran. Makanya kepo."
Asyik mengobrol seseorang datang dari arah luar pintu menyapa Hana dengan melambaikan tangan padanya. Ia melihat dua pria yang pernah kenalan tepat di sini. Gio dan Roby kalau tidak salah nama keduanya menghampiri Hana dan Audy duduk.
"Hai, Hana." keduanya menyapa.
Hana melambaikan tangan membalas sapaan mereka dan sedangkan Audy menyenggol tubuh Hana agar tidak perlu menyapa mereka.
"Eh, ada Ibu HRD, sedang apa, Bu?" tanya Gio sok akrab dengan tatapan genitnya.
"Kalian gak liat saya sedang duduk!" balas Audy ketus.
"Galak banget Ibu HRD." seru Roby pria berbadan gemuk.
"Terus kalian mau ngapain kemari?" tanya Audy dengan wajah sangarnya. Audy memang dikenal jutek dan tegas pada karyawan yang memang susah di atur seperti kedua pria ini.
"Mau bikin kopi, Bu."
"Bukannya kalian harus menyelesaikan beberapa tender yang kalian kerjakan? Harusnya kalian cepat menyelesaikan semuanya dan bukan malah santai-santai kemari. Bukannya didalam ruangan Marketing sudah tersedia Pantry juga di sana, kenapa malah jauh-jauh kesini…"
Hana kagum akan sikap Audy begitu tegas, padahal yang ia tahu Audy sangat manja, tapi setelah Hana melihat semuanya ia harus memberi dua jempolnya.
Kedua pria itu terdiam dan sedikit menunduk akan kesalahannya. Setelah mendapat nasehat mereka kembali keruangan mereka dua lantai dari Pantry kantor.
"Gila, Dy. Anak orang tuh!" Hana sambil menepuk bahu Audy.
"Emang anak orang siapa bilang anak hewan." Kata Audy menoleh pada Hana di sebelahnya.
"Sumpah, kamu berani marahin mereka, gak takut di arah kalau balik." Hana hanya takut, tidak tahu isi pikiran orang kalau sudah tidak suka apalagi kalau sampai membuat mereka sakit hati.
"Mana berani, toh mereka tahu kalau aku udah ada pawang. Mana berani mereka ngarah aku." ucapnya santai.
"Betul juga yang ada Bang Egi bertindak." kata Hana manggut-manggut.
"Itu tahu… "
Hana dan Audy kembali ke ruangan mereka untuk mengambil tas, dan membereskan berkas yang akan dipakai besok kemudian pulang bersama-sama dan menggunakan mobil Audy.
***
Hana sampai rumah. Ia sudah mengajak Audy untuk masuk namun Audy sedang buru-buru karena harus menjemput Adik bungsunya di tempat les piano. Berjalan masuk ke dalam rumah tampak begitu sepi dan mencari sosok yang ingin dilihat, yaitu Tyana, keponakannya. Hana melangkah kakinya ke belakang halaman melihat Mbak Fani dan Tyana sedang main dengan beberapa peralatan mainan milik gadis kecil itu.
"T Y A..." teriak Hana masih di batas teras belakang.
Gadis kecil itu menoleh kemudian melambaikan tangan kegirangan dan berlarian ke arah Hana.
"Tante Perawan Jomblo…" sorak Tyana tanpa dosa, memeluk Hana yang kesal saat keponakannya malah memanggilnya dengan sebutan Perawan di tambah Jomblo lagi, ngegas banget kehidupan cinta Hana ternyata.
Tadinya senyum Hana melebar manis namun dalam sekejap berubah masam.
Pelukkan mereka mengendur, Tyana merasa ada sesuatu pada Hana yang tidak biasanya, malah terlihat cemberut.
"Tante, kenapa?" tanya Tyana menatap Hana penuh pertanyaan yang memang tidak Tyana ketahui kalau jawabannya adalah dirinya sendiri.
"Tante lagi sebel… " sahut Hana sambil bersedekap dan Tyana di depannya malah kebingungan menatap wajahnya sedikit mendongkak ke atas karena Hana sedang berdiri.
"Sebel sama siapa?" tanya Tyana polos.
"Sama kamu lah." Balas Hana mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku?" tunjuk Tyana sendiri.
Hana hanya manggut-manggut masih dalam mode cemberut.
"Salah Tya apa?"
"Gak sadar sama kesalahan kamu sendiri."
Tyana menggeleng.
"Tante sebel karena Tya panggil Tante dengan sebutan Tante Perawan Jomblo. Tya tahu orang tahu kalau Tante ini Perawan tapi mereka gak tahu kalau Tante itu Jomblo. Mereka bisa ledekin Tante kalau tahu, kamu tega liat Tante di Bully." katanya mendramatisir. Tyana tampak bersalah memeluk Hana.
"Maafin…Tya… hikh... hikh… " kata Tyana malah menangis. Niat memberi pelajaran cerdas cermat malah bikin Tyana menangis tersedu-sedu. Hana jadi ikutan bersalah.
"Tya kok nangis...maafin Tante deh. Tante yang salah. Tadi Tante cuma bercanda kok."
Tyana masih menangis namun tidak keras saat pertama tadi. Hana menyekat air mata gadis kecil itu dengan lembut di pipinya.
"Kok Tante yang minta maaf, harusnya kan Tya yang minta maaf. Tya janji gak akan sebutin kata itu lagi deh."
"Iya, Tante juga salah buat Tya menangis.Tya sudah makan?"
"Sudah."
Mbak Fani menghampiri dengan perabotan mainan milik Tyana.
"Bunda sama Ayah kemana?" tanya Hana pada Mbak Fani masih memegang mainan Tyana.
"Pergi ke Bandara, Mbak. Memangnya gak kirim pesan sama Mbak lewat ponsel."ucap Mbak Fani masih kental logat Jawanya
"Ponsel Hana lowbat, lupa charger." balas Hana kemudian menggandeng tangan Tyana sembari masuk kedalam di ikuti Mbak Fani di belakang.
Hana dan Tyana masuk ke dalam kamar untuk mandi bersama, bersiap menyambut seseorang.
Hana tahu Bunda dan Ayahnya sedang menjemput Adik Ayahnya di Bandara. Rasanya hampir sudah dua tahun pria itu tidak pulang dan tidak dijumpai Hana. Ada rasa rindu pada sosok pria yang sudah dianggapnya kakak dan hanya dia yang mengerti Hana yang selalu ada saat ia sedang menangis.
***
Bagaimana guys ceritaku masih sedikit lambat di alur memang sengaja biar panjang episode nya.
Kalau masuk konflik langsung bakal cepat selesai alias tamat.
Mohon bersabar, main tebak-tebakan terus aja hehehe 😁
Terima kasih