Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 Leluhur Zhang
"Bagus sekali, Xue'er!" Suara yang begitu asing membuat Zhang Xue heran. Ia berbalik dan memperhatikan orang yang berbicara. Rambut dan jenggot memutih, dan kulit keriput. Meski terlihat berusia 80 tahunan, tapi usia orang tua itu yang sebenarnya melebihi angka tersebut.
"Sekitar 200 tahun yang lalu, aku dan Leluhur Gu terikat sumpah. Jika suatu hari nanti seorang jenius terlahir dari keturunanku, maka dia akan dikirim ke wilayah tengah sebagai pengantin wanita!"
Pria tua itu sangat bahagia, sementara Zhang Xue sama sekali tidak senang. Pria tua di depannya menjadikannya sebagai pengantin jauh sebelum dirinya dilahirkan. Tentu saja ia akan menolak.
"Aku sudah menikah!"
Tiga kata yang itu membuat ekspresi pria tua itu berubah. Tatapan pria itu tertuju pada Erlang Xuan. Mata tuanya memindai pria di samping Zhang Xue. Tak ada yang istimewa, bahkan terkesan biasa-biasa saja.
"Tidak ada kata menolak! Bercerai dengannya dan pergilah ke wilayah tengah! Leluhur Gu dan Gu Liong menunggumu!" Pria tua itu bersikeras. Bahkan ia menggunakan tekanannya untuk menekan dan menundukkan Zhang Xue.
"Aku akan ke sana, tapi bersama suamiku!"
"Dasar tidak tahu diuntung!" Ia mengeluarkan cambuk langit neraka. Dahulu, cambuk itu berhasil menunjukkan cucunya yang membangkang dan tak berguna. Bahkan, di catatan sejarah kekaisaran, cambuk langit neraka adalah pusaka peringkat kedua, posisinya dibawah pedang bintang suci yang muncul puluhan tahun silam.
"Seharusnya kau muncul setelah itu dewaku terbentuk!" Erlang Xuan menatap tajam pria tua itu. Meski pria tersebut merupakan Leluhur Zhang, tetap saja pria itu tak punya hak untuk membawa paksa istrinya.
"Sampah, menyingkirlah!" pintanya.
"Sampah teriak sampah! Usia hampir 300 tahun, tapi tidak berhasil membentuk inti dewa. Heh, benar-benar membuang-buang waktu," balas Erlang Xuan dengan sedikit hinaan. Pria di depannya hampir menerobos ranah dewa. Seandainya inti dewanya berhasil terbentuk, kultivasinya akan melonjak hingga ke tahap 9 ranah dewa. Sayang sekali waktu 200 tahun lebih terbuang sia-sia.
"Tidak usah basa-basi, orang tua! Kalau mau bertarung, ya, bertarung saja!"
Pedang bintang suci muncul di depannya. Kemunculan pedang itu diikuti oleh munculnya aura misterius yang sangat kuat. Selain menakutkan, pedang bintang suci berhasil menggemparkan benua kristal 30 tahun lalu.
"Kalau bukan karena istriku dan juga ibu suri, klan Zhang sudah musnah!" ungkapnya.
Leluhur Zhang semakin marah. Pasalnya pertarungan yang terjadi beberapa saat lalu membunuh hampir seluruh anggota klannya. Bukan hanya itu, beberapa jenius muda yang seharusnya di kirim ke wilayah tengah mati dengan tubuh hancur. .
"Bocah sialan! Kamu sudah menghancurkan klan-ku. Semuanya mati dan yang tersisa hanya dua orang yang tidak berguna!" ungkapnya. Tentu saja yang dimaksud adalah Zhang Feng Hua dan Zhang Feng Huang.
"Dasar orang tua buta!" umpatnya.
"Hari ini juga, darahmu akan menjadi peringatan!" Leluhur Zhang mengayunkan cambuknya. Di udara, kilatan cahaya memotong cambuk tersebut. Hal itu menyebabkan Leluhur Zhang muntah marah hingga menyemburkan darah segar.
"Cambuk rusak!" Erlang Xuan berjongkok dan memperhatikan cambuk itu. Ia hampir tertawa saat mengetahui bahan dasar pembuatan cambuk langit neraka.
"Kulit ular berusia 1000 tahun! Kenapa bukan kulit naga?" tanyanya.
"Pantas saja mudah tebas! Rupanya kulit ular! Setidaknya kalau mau buat pusaka, minimal pakai kulit ular yang sudah berevolusi atau sisik serta tulang naga!" jelasnya, tentunya sambil menahan tawa.
"Pak Tua, kamu lemah sekali! Lebih baik istirahat saja atau menunggu ajal! Jangan sampai orang-orang menganggapku tidak berbakti karena melawan kakek-kakek!" katanya sambil duduk santai. Ia sama sekali tidak takut dengan orang tua klan Zhang. Terlebih lagi pria itu memiliki luka dalam yang tak bisa disembuhkan oleh tabib mana pun.
"Kurang ajar!" Leluhur Zhang tak bisa menahan amarahnya. Ia mengumpulkan Qi di telapak tangannya. Qi miliknya berwarna kuning, bukti bahwa kultivaisnya sudah berusia 200 tahun lebih.
"Pak Tua, kamu benar-benar menyebalkan!" Erlang Xuan mengeluarkan jarum perak. Dengan satu hentikan jari, jarum itu melesat dan menancap tepat di bekas luka lama sang Leluhur Zhang.
Puffftttt
Gumpalan darah keluar dari mulutnya. Bukan hanya itu, meridiannya terkunci, dan sisa-sisa racun di tubuhnya mulai bereaksi. Matanya memerah, bukan karena menahan sakit, tapi karena menahan amarah.
"Kakek Tua, namaku Erlang Xuan!"
"Xuan!" Mata pria itu membulat. Untuk sesaat, ia melupakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Xuan si pengacau?" tanyanya.
"Bukan, itu kakek buyutku!" jawabnya dengan santai.
"Sialan! Pantas saja dia sangat angkuh! Rupanya baj*ngan itu kakek buyutnya!" gumamnya.
"Anda terkena racun bintang kelabu. Kalau boleh tahu masalah apa yang dulu Anda lakukan?"
"Ukkkhuuk!"
Leluhur Zhang batuk darah. Dahulu, ia tanpa sengaja menantang seorang pemuda. Meski saat itu kultivasinya cukup tinggi, tapi pemuda itu mengalahkannya dengan satu hentikan jari. Saat itu juga, racun bintang kelabu tertanam di tubuhnya. Ribuan tabib ditemui dan berbagai herbal di jantung dan hatinya.
"Karena aku baik hati, kematianmu akan kupercepat!" Erlang Xuan beranjak. Hanya dengan menggunakan dua jari, racun di tubuh Leluhur Zhang semakin liar.
"Kukira mau disembuhkan, ternyata disiksa!"
Zhang Xue menggeleng pelan. Meski pria tua itu leluhurnya, ia sama sekali tidak punya niat untuk menyelamatkannya. Terlebih lagi, pria tua itu ingin mengirimnya ke wilayah tengah, wilayah tak bertuan dan sangat berbahaya.
"Haruskah dia selamatkan?"
"Tidak perlu!" Zhang Xue berbalik. Bukan hanya dia saja, Ibu Suri dan kedua anggota klan Zhang yang tersisa pun tidak berniat menyelamatkan sang Leluhur klan.
"Akkkh!" Leluhur Zhang berteriak kesakitan. Racun itu membuat kedinginan dan kepanasan disaat yang bersamaan. Bukan hanya itu, tulang-tulangnya dihancurkan perlahan-lahan, dan jiwanya seperti dicabik-cabik.
"Kamu diberi kesempatan, tapi tidak digunakan. Seandainya kamu bersembunyi selama 20 tahun lagi, racun itu akan menghilang!" Erlang Xuan berjongkok di depan Leluhur Zhang yang tersiksa. Racun bintang kelabu adalah racun kuat ciptaan kakek buyutnya. Tidak heran para tabib terkenal di masa lalu tidak mampu mengeluarkan racun itu.
"Kau dan Kakekmu sama saja! Cepat atau lambat, seseorang akan datang dan menuntut balas!" ungkapnya sebelum racun itu menghancurkan jiwa dan tubuhnya.
"Menuntut balas? Aku tidak peduli!" Ia mengibaskan tangannya, dan serbuk abu-abu yang sangat banyak memasuki dantiannya. Racun itu tidak akan menyiksa dan menyakitinya. Sebaliknya racun itu akan memperkuat tubuhnya dan menjadi senjata rahasia saat sedang terdesak.
"Hampir semua orang mati di tempat ini!" Zhang Xue melihat sekitarnya. Sebelumnya, ada ribuan orang di sana, tapi sekarang hanya beberapa orang saja yang selamat. Han Xiong dan Ling Bai selamat karena dibawa pergi oleh Zhu Feng, sementara para prajurit yang hadir kehilangan nyawa.
"Setelah membereskan kekacauan ini, kita akan ke wilayah tengah!" ucap Erlang Xuan.