Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALUR RODA SALING MENGIRINGI
Di pagi yang masih dibalut kabut tipis seperti kain sutra yang lembut, suara mesin motor kecil Khem mulai menggelegar dengan irama yang hangat seperti nyanyian ayah pada anaknya. Cahaya matahari baru mulai menyelinap melalui celah pepohonan aren yang menjulang di atas jalan raya aspal yang licin seperti kain kasur. Murni sudah siap berdiri di depan pintu kostnya, mengenakan seragam pabrik berwarna biru muda yang bersih seperti langit pagi, rambutnya diikat rapi dengan jepit rambut berbentuk bunga melati yang pernah diberikan Khem pada hari ulang tahunnya yang lalu.
“Naik dengan hati-hati ya sayang,” ucap Khem dengan suara yang dalam seperti getaran mesin pabrik yang sudah siap bekerja. Dia membuka jok belakang motor dengan tangan yang sedikit kasar karena bekas luka besi, tapi gerakannya penuh dengan kelembutan. “Kamu membawa bekal makan siang kan? Aku sudah menyiapkan air kelapa muda yang kamu suka di dalam tas plastik yang kedap udara.”
Murni mengangguk dengan senyum yang merayap di bibirnya seperti embun yang menutupi dedaunan. “Sudah sayang… Aku membuat nasi bakar ikan patin dengan bumbu rujak yang kamu suka, dan juga keripik singkong yang baru saja keluar dari mesin pabrikku kemarin sore.”
Ketika motor mulai melaju dengan kecepatan yang stabil, angin pagi menyapu wajah mereka seperti tangan yang lembut menyapa. Jalan raya yang menghubungkan dua pabrik bertetangga tampak sepi, hanya ditemani oleh suara burung perkutut yang berkicau dari atas cabang pohon dan aroma kopi yang mengapung dari warung kecil di pinggir jalan. Murni duduk di belakang Khem, tangannya lembut menyandar pada pinggangnya yang kokoh seperti tiang bendera—rasanya seperti bersandar pada sebuah gunung yang akan selalu melindunginya dari segala badai.
Pabrik makanan ringan tempat Murni bekerja berdiri berdampingan dengan pabrik besi dan baja Khem, seperti dua saudara yang saling menguatkan. Di pagar pembatas antara keduanya, tumbuh rimbunan bunga kantan yang berwarna merah menyala seperti nyala api yang hangat. Setiap pagi mereka berangkat bersama, setiap jam istirahat mereka bertemu di taman kecil di tengah antara dua pabrik—di mana kursi kayu yang sudah lapuk menjadi tempat mereka berbagi bekal dan cerita tentang hari mereka.
“Hari ini di departemen pengemasan ada rekan baru lho sayang,” ucap Murni sambil memberikan sepotong nasi bakar pada Khem. Mereka sedang duduk di bawah teduhan pohon jambu air yang buahnya sudah mulai memerah seperti pipi anak yang bahagia. “Namanya Tenri… dia bekerja di departemen kualitas kontrol. Kamu pernah melihatnya tidak?”
Khem menggeleng sambil mengunyah makanan dengan lahap. “Belum sayang… tapi aku pernah dengar namanya dari rekan kerja ku yang bilang dia sering keluar masuk pabrik dengan mobil yang berbeda-beda.”
Murni hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Beberapa minggu yang lalu, dia pernah melihat Tenri di belakang warung makan dekat pasar, sedang asyik berbincang dengan seorang pria yang bukan Aksa—tangannya saling berpegangan seperti dua ranting yang saling melilit. Murni tahu bahwa Tenri dikenal sebagai wanita yang suka berpindah-pindah pasangan seperti bunga yang menyambut setiap lebah yang datang menghampirinya. Tapi dia tidak merasa perlu untuk memberitahu hal itu pada siapa pun, termasuk Khem. Setiap orang memiliki jalan mereka sendiri, dan Murni sudah memilih untuk tidak lagi terlibat dalam cerita orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kehidupannya.
Sore itu, setelah pulang kerja bersama dan menyelesaikan pekerjaan rumah di kost, Murni membuka ponselnya untuk memeriksa pesan dari keluarga di kampung halaman. Tiba-tiba, ikon media sosialnya berkedip seperti bintang yang sedang berkelip di langit malam. Ketika dia membukanya, halaman beranda nya penuh dengan postingan dari Akhsanth Pratimes—alias Aksa—yang sedang menunjukkan diri bersama Tenri.
Foto demi foto muncul dengan cepat seperti kilas balik dalam sebuah film. Ada foto mereka sedang makan malam di restoran mewah dengan lampu lilin yang menyala seperti mata yang memandang, foto mereka sedang naik kapal cepat di sungai dengan latar belakang hutan yang hijau menyatu, dan foto mereka sedang berdiri di depan mobil mewah dengan pose yang dibuat-buat seperti selebriti. Caption pada setiap foto penuh dengan kata-kata sok romantis: “Cinta yang sesungguhnya akhirnya datang padaku bersama dirimu, Tenri… kamu jauh lebih baik dari semua orang yang pernah aku kenal.”
Di bagian komentar, Aksa sengaja menyebut nama Murni: “@MurniSri kamu lihat kan? Ini yang aku bilang… kamu rugi banget tidak memilihku.”
Murni hanya melihatnya sebentar, kemudian dengan lembut menggulir layar ke bawah tanpa memberikan komentar apapun. Dia tahu bahwa Aksa sedang berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya cemburu—menggunakan pertemanan mereka di media sosial sebagai alasan untuk menunjukkan kebahagiaannya yang sok nyata. Tapi hati Murni sudah seperti danau yang dalam dan tenang, tidak akan pernah lagi terganggu oleh batu yang dilempar ke permukaannya.
Baru saja dia akan menutup aplikasi itu, pesan dari Khem muncul dengan cahaya yang hangat seperti sinar matahari sore: “Sayang, besok pagi kita berangkat lebih awal ya… aku mau ajak kamu mampir ke warung penjual kuih lapis yang baru buka dekat simpang jalan. Mereka bilang kuih nya dibuat dengan resep nenek yang sudah ratusan tahun. Setelah itu kita bisa berhenti sebentar di danau untuk melihat matahari mulai terbit ya.”
Murni mengetik balasan dengan senyum yang meriah seperti bunga yang mekar di pagi hari: “Baik saja sayang… aku tunggu ya. Jangan lupa bawa kamera kecil kamu juga, aku ingin kita berdua berfoto di tepi danau dengan latar belakang matahari yang terbit.”
Ketika malam mulai menyelimuti kost dengan kain malam yang hitam pekat, Murni duduk di depan jendela yang terbuka lebar. Dia melihat ke arah langit yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar seperti permata yang tersebar di atas kain hitam. Di dalam hatinya, dia berdoa dengan lembut—bukan untuk Aksa atau Tenri, tapi untuk dirinya sendiri dan Khem, agar cinta mereka tetap erat seperti akar pohon yang saling melilit di dalam tanah, tetap mesra seperti air dan pasir yang saling mengiringi di pantai.
Aksa dengan semua postingan sok bahagia nya dan Tenri dengan sikapnya yang suka berubah-ubah, kini hanya menjadi bayangan yang lewat di permukaan hidupnya—tidak akan pernah mampu menyentuh kedalaman cinta yang dia bangun bersama Khem. Mereka berdua telah menemukan jalur mereka sendiri, jalur yang dipenuhi dengan rasa saling menghargai, perhatian yang tulus, dan janji untuk selalu bersama dalam suka maupun duka.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Jam lima pagi, ketika dunia masih tertidur dalam pelukan kegelapan yang lembut seperti kain katun hitam, suara bunyi dering jam tangan Khem berbunyi dengan irama yang tetap seperti getaran hati yang tidak pernah berhenti berdetak. Cahaya lampu kecil di kamar kost mereka yang kini sudah sering dihabiskan bersama—karena Khem mulai menghabiskan malam di kost Murni setelah shift malamnya selesai—bersinar lembut seperti bintang yang turun ke bumi.
“Bangun sayang… sudah jam lima,” ucap Khem dengan suara yang lembut seperti angin pagi yang menyapu dedaunan. Dia sudah siap berdiri dengan seragam kerja nya yang bersih, rambutnya masih sedikit basah karena baru saja mandi dengan air dingin yang menyegarkan. “Kuih lapis nya biasanya habis cepat lho… kalau kita terlambat, hanya akan tinggal bagian bawahnya yang sudah tidak hangat lagi.”
Murni mengerang lembut, menarik selimut katunnya yang hangat seperti pelukan Khem ke arah wajahnya. “Sebentar lagi sayang… aku masih ingin menikmati kehangatan tempat tidur ini.” Namun dia segera membuka mata dengan perlahan, mata nya yang masih sedikit mengantuk bersinar seperti bintang yang baru saja terbit. Dia bangkit dengan cepat, mengambil baju kerja nya yang sudah disiapkan di kursi kayu, sambil menyanyi lagu rakyat dengan suara yang lembut seperti nyanyian burung pipit.
Setelah siap berangkat, mereka naik motor dengan hati-hati melalui jalan raya yang masih ditutupi kabut tebal seperti kain sutra yang menutupi wajah dunia. Khem mengendarai motor dengan kecepatan pelan, seperti seseorang yang sedang membawa barang berharga yang tidak boleh jatuh. Murni duduk di belakangnya, tangannya erat menyandar pada pinggangnya, merasakan getaran mesin yang hangat seperti denyut nadi bumi yang hidup.
Ketika mereka sampai di warung kuih lapis yang terletak di tepi jalan raya yang menghadap ke danau, aroma gula merah dan santan yang harum sudah mengapung di udara seperti doa yang manis. Warung itu hanya sebuah gerobak kayu yang dihiasi dengan kain batik merah muda seperti warna bunga mawar, dengan tungku kecil yang menyala pelan di bawahnya. Ibu penjualnya yang berusia lanjut dengan wajah yang penuh dengan keriput seperti peta jalan yang panjang, tersenyum ramah ketika melihat mereka datang.
“Ah, kamu kan anak muda yang selalu datang bersama ya?” ucapnya dengan suara yang lembut seperti aliran air mata air. “Hari ini aku membuat kuih lapis dengan tambahan ubi ungu lho… rasanya lebih manis dan lembut seperti kapas.”
Khem membeli dua bungkus kuih lapis yang masih hangat seperti pelukan ibu, sementara Murni berdiri di sampingnya, melihat ke arah danau yang masih tertutupi kabut tipis. Ketika mereka menyelesaikan pembelian, matahari mulai perlahan muncul dari balik kabut—memberikan warna jingga dan emas pada permukaan air yang tenang seperti cermin raksasa.
“Ayo kita pergi ke tepian danau saja sayang,” ajak Murni dengan mata yang bersinar seperti anak kecil yang melihat mainan baru. “Aku ingin makan kuih lapis sambil melihat matahari terbit.”
Mereka berjalan menyusuri jalan tanah yang sedikit licin karena embun pagi, sampai akhirnya tiba di tepian danau yang dikelilingi oleh rimbunan bunga teratai yang putih dan merah seperti permata yang tersebar di atas air. Mereka duduk di atas batu besar yang sudah licin akibat dipijak air selama bertahun-tahun, menyantap kuih lapis yang lembut di lidah seperti awan yang meleleh di mulut.
“Lihat sayang,” ucap Khem dengan suara yang penuh dengan kagum. “Rainbow kecil muncul di balik awan lho… seperti hadiah dari langit untuk kita berdua.”
Betul sekali. Sebuah rainbow kecil dengan warna-warni yang lembut seperti kain songket muncul di ufuk timur, menyilang langit yang mulai berubah warna menjadi biru muda seperti mata Murni. Murni mengambil kamera kecil yang dibawa Khem, mengatur pengaturan dengan hati-hati sebelum mengambil foto mereka berdua dengan latar belakang matahari yang terbit dan pelangi yang indah. Suara klik kamera terdengar seperti irama yang menyempurnakan pemandangan indah itu.
Sementara itu, di layar ponsel yang terlupakan di dalam tas Murni, postingan baru dari Aksa muncul dengan cepat. Kali ini foto nya menunjukkan wajahnya yang murung, sedang duduk di tepi jalan dengan mobil yang tampak kotor seperti kendaraan yang telah melalui jalanan yang buruk. Caption nya penuh dengan kata-kata kesal: “Semua itu bohong… Tenri sudah pergi bersama orang lain lagi. Mengapa aku selalu mendapatkan hal yang salah?” Dia kembali menyebut nama Murni: “@MurniSri kamu pasti senang melihat aku seperti ini kan?”
Tetapi Murni tidak mengetahuinya. Dia sedang asyik menikmati momen indah bersama Khem—berbicara tentang rencana mereka untuk membangun rumah kecil di pinggiran kota beberapa tahun lagi, tentang taman bunga yang akan mereka tanam di halaman rumah, tentang anak-anak yang mungkin mereka miliki nantinya. Hati nya penuh dengan kedamaian yang dalam seperti danau yang tenang, cinta yang erat seperti akar pohon yang tidak akan pernah patah.
Ketika sudah waktunya untuk berangkat kerja, mereka berjalan kembali ke tempat parkir motor dengan langkah yang senang hati. Murni menyadari bahwa dia sudah benar-benar melupakan Aksa dan semua masalah yang pernah dia bawa. Dia telah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya bersama Khem—kebahagiaan yang tidak perlu ditunjukkan di media sosial atau dibanggakan di depan orang lain, melainkan kebahagiaan yang tumbuh perlahan seperti pohon yang menjulang tinggi, kokoh dan kuat di atas tanah yang subur.
Di pabrik, ketika mereka berpisah di pagar pembatas antara pabrik makanan ringan dan pabrik besi, Khem menarik Murni dengan lembut untuk memberikan ciuman ringan di dahinya. “Kerja baik-baik ya sayang… aku akan datang menemani kamu saat jam makan siang.”
Murni mengangguk dengan senyum yang meriah. “Baik saja sayang… aku akan menunggu kamu dengan bekal yang sudah aku siapkan.”
Saat mereka berjalan ke arah departemen masing-masing, matahari sudah bersinar terang di atas langit—menyinari jalan mereka dengan cahaya yang penuh dengan harapan dan cinta yang akan selalu tetap erat dan mesra.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Ketika jam istirahat tengah hari mulai tiba, matahari sudah bersinar terang seperti mata raksasa yang sedang memandang ke bawah dengan penuh semangat. Udara di sekitar pabrik makanan ringan terasa hangat dengan bau tepung dan minyak kelapa yang khas, sementara suara mesin yang berhenti sejenak membuat suasana terasa lebih tenang dari biasanya. Murni baru saja meletakkan nasi bakar yang sudah dipersiapkan di atas meja kayu di taman kecil antara dua pabrik, sedang menunggu Khem yang akan datang dari pabrik besi dan baja.
Baru saja dia menghapus keringat yang menetes di dahinya dengan sapu tangan katun putihnya, sebuah sosok wanita dengan rambut panjang yang diikat rapi dengan pita hitam mendekatinya dengan langkah yang kasar seperti kuda yang sedang berlari cepat. Tenri dengan wajahnya yang memerah seperti buah manggis yang terlalu matang, matanya terbakar seperti bara api yang sedang menyala besar.
“Kamu itu Murni kan?” ucapnya dengan suara yang keras seperti guntur yang tiba-tiba menyambar. Dia berdiri di depan Murni dengan tubuh yang sedikit menggeliat, seperti hewan yang sedang bersiap menyerang. “Jangan kamu pernah ganggu Aksa lagi ya! Dia sudah milik ku sekarang, dan aku tidak suka kalau kamu masih mengganggunya melalui media sosial atau cara lain apa pun!”
Murni melihatnya dengan mata yang tenang seperti permukaan danau yang masih belum terganggu oleh angin. Dia berdiri perlahan dengan tubuh yang tegak seperti pohon palem yang tidak akan mudah roboh. “Tuan rumahnya kamu yang datang ke tempat ku dan berkata seperti itu, Tenri,” ucap Murni dengan suara yang tetap lembut tapi penuh dengan keyakinan. “Aku tidak pernah mengganggu Aksa atau kamu sama sekali. Malahan dia yang terus menggangguku dengan postingan dan pesan di media sosialnya.”
Tapi Tenri tidak mau mendengarkan. Dia mengangkat tangan nya dengan cepat seperti kilat yang menyambar, menepuk meja kayu dengan keras sehingga piring makan yang ada di atasnya sedikit bergoyang. “Jangan buat alasan dong! Aksa bilang kamu selalu mengirim pesan padanya dan mencoba membuat dia pergi dariku! Kamu itu tidak tahu diri ya, pekerja pabrik seperti kamu tidak layak untuk seseorang seperti Aksa!”
Sekarang Murni merasakan kemarahan yang mulai muncul di dalam hatinya seperti api yang mulai menyala di tungku kosong. Wajahnya yang biasanya lembut seperti bunga melati, kini menjadi tegas seperti batu yang dipahat dengan rapi. “Kamu salah orang Tenri,” ucapnya dengan suara yang lebih keras dari biasanya, seperti ombak yang mulai menghantam pantai dengan kekuatan. “Aku sudah tidak punya hubungan apapun dengan Aksa sejak lama. Aku sudah punya orang tersayang yang mencintaiku dengan tulus, tidak seperti kamu yang hanya melihat pada apa yang bisa kamu dapatkan dari orang lain!”
Murni mengambil napas dalam-dalam, seperti seseorang yang sedang mencoba menenangkan badai yang ada di dalam dirinya. “Aku pernah melihatmu dengan pria lain di belakang warung makan dekat pasar, Tenri. Kamu sendiri yang tidak setia pada Aksa, tapi kamu malah menyalahkan aku yang tidak pernah melakukan apa-apa! Aksa mungkin bilang kamu adalah yang terbaik, tapi sebenarnya dia hanya menggunakan kamu untuk membuat aku cemburu. Dan kamu… kamu hanya menggunakan dia untuk apa yang bisa kamu dapatkan darinya!”
Kata-kata Murni menusuk seperti pisau yang tajam, membuat wajah Tenri menjadi semakin memerah seperti bara yang terbakar. Dia ingin membantah, tapi tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Bibirnya bergoyang seperti daun yang terkena angin kencang, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Hanya pada saat itu Khem datang dengan cepat seperti angin yang menghampiri setelah badai. Dia melihat wajah Murni yang sedikit memerah karena kemarahan dan Tenri yang sedang berdiri dengan wajah yang bingung, langsung mengerti apa yang terjadi. Dia berdiri di sisi Murni dengan tubuh yang kokoh seperti tembok yang melindungi istananya.
“Ada apa sini?” tanya Khem dengan suara yang dalam seperti gemuruh bumi. Matanya yang biasanya hangat seperti cahaya matahari, kini menjadi tajam seperti pisau besi yang baru saja diasah. “Jika kamu punya masalah dengan Murni, datanglah padaku saja. Jangan kamu menyakiti dia atau berkata-kata yang tidak benar padanya!”
Tenri melihat Khem dengan mata yang mulai penuh dengan rasa takut. Dia tahu bahwa dia telah salah kaprah, bahwa Murni tidak pernah melakukan apa-apa yang salah. Dengan wajah yang merah dan penuh dengan rasa malu, dia berpaling dan berlari pergi dengan langkah yang tergesa-gesa seperti kelinci yang sedang dikejar oleh singa. Suara tapak kakinya perlahan menghilang di antara lorong pabrik yang mulai ramai kembali dengan pekerja yang akan kembali bekerja.
Murni menghela napas panjang seperti orang yang baru saja melewati sungai yang deras. Dia bersandar pada dada Khem yang hangat seperti tempat perlindungan yang selalu dia cari. “Terima kasih sayang… aku tidak tahu kenapa dia bisa berkata seperti itu padaku.”
Khem memeluknya dengan erat seperti pelukan yang akan menghilangkan semua rasa sakit dan kemarahan. “Jangan pikirkan dia lagi sayang… dia hanya orang yang tersesat dan tidak tahu apa yang dia inginkan dalam hidupnya. Kita punya cinta kita sendiri, cinta yang tidak akan pernah bisa dirusak oleh orang lain.”
Mereka kembali duduk di atas kursi kayu yang sudah lapuk, menyantap nasi bakar yang masih hangat. Matahari masih bersinar terang di atas langit, menyinari mereka berdua dengan cahaya yang penuh dengan kebaikan dan cinta yang tetap erat meskipun telah diuji oleh badai yang datang tanpa pemberitahuan. Murni tahu bahwa dia tidak akan pernah lagi membiarkan orang lain menyakiti dirinya atau merusak kebahagiaan yang dia bangun bersama Khem. Hati nya sudah seperti batu yang dipoles dengan sempurna—keras, kuat, dan penuh dengan kilauan yang hanya bisa dilihat oleh orang yang benar-benar mencintainya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Beberapa hari setelah peristiwa di taman kecil pabrik, dunia maya kembali dihebohkan dengan postingan dari Akhsanth Pratimes. Kali ini foto-fotonya penuh dengan warna-warni yang mencolok—Aksa dan Tenri berdampingan di depan taman bunga yang penuh dengan kembang sepatu berwarna merah dan kuning seperti lautan bunga yang sedang mekar. Mereka berdua saling memeluk dengan pose yang dibuat-buat, wajahnya membawa senyum yang sok bahagia seperti aktor dalam sebuah film yang tidak pernah berakhir.
“Kita balikan lagi sayangku Tenri,” captionnya begitu saja muncul di layar ponsel Murni yang sedang dia gunakan untuk memesan bahan baku kue yang akan dia jual di warung kecil yang sudah mulai dia rencanakan. “Yang penting cinta kita kuat kan sayang? @MurniSri kamu lihat ya? Aku lebih bahagia dengan dia daripada dengan kamu yang cuma bisa membuatku kesal!”
Rekan kerja Murni yang sedang berdiri di sebelahnya melihat layar ponsel dengan wajah yang sedikit marah. “Murni, kok dia terus-terusan kamu ganggu ya? Padahal kamu sudah jelas tidak peduli dengan dia lagi.”
Murni hanya tersenyum lembut seperti embun yang menutupi daun kelapa di pagi hari. Dia menyimpan ponselnya ke dalam tas kerja dengan gerakan yang tenang seperti orang yang sedang meletakkan barang yang tidak diperlukan lagi ke dalam lemari. “Dia hanya sedang mencoba mencari perhatian, Bu Lina,” ucap Murni dengan suara yang tetap stabil seperti aliran sungai yang tidak pernah berhenti mengalir. “Aku sudah tidak melihatnya sebagai seseorang yang bisa mempengaruhi hidupku lagi. Hanya sebagai bayangan yang pernah lewat di jalan hidupku saja.”
Ketika jam kerja selesai, Khem sudah menunggu di depan gerbang pabrik dengan motornya yang bersih seperti baru dicuci. Dia membawa bungkus kuih lapis yang masih hangat dari warung yang mereka kunjungi beberapa hari yang lalu, serta botol air kelapa muda yang dingin seperti es batu.
“Kamu sudah tahu kan tentang postingan mereka?” tanya Khem dengan suara yang penuh dengan perhatian ketika mereka mulai melaju menuju kost. “Kalau kamu merasa tidak nyaman, aku bisa menghubungi dia dan bilang supaya dia tidak mengganggumu lagi.”
Murni menggeleng dengan lembut, tangannya menyandar erat pada pinggang Khem yang hangat seperti bara yang selalu menyala. “Tidak perlu sayang… aku sudah benar-benar tidak peduli lagi. Biarkan mereka saja dengan dunia mereka sendiri. Kita punya dunia kita sendiri yang jauh lebih indah dan nyaman daripada mereka.”
Ketika mereka sampai di kost, matahari sudah mulai menyembunyikan wajahnya di balik hamparan pepohonan aren, meninggalkan warna jingga dan oranye yang memercik di langit seperti cat yang disemprotkan ke atas kanvas besar. Murni dan Khem duduk di teras kecil kost yang diberi alas tikar bambu, menyantap kuih lapis sambil melihat anak-anak kecil yang sedang bermain layang-layang di lapangan dekat kost. Layang-layang mereka berwarna-warni seperti pelangi yang terbang di udara, melayang dengan bebas seperti hati Murni yang sudah tidak lagi terikat oleh apa pun.
Di layar ponsel yang terlupakan di atas meja, postingan baru dari Aksa muncul lagi—kali ini dengan foto mereka sedang makan malam di restoran yang sama dengan sebelumnya. Tapi Murni tidak lagi merasa perlu untuk melihatnya. Dia sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya bersama Khem—kebahagiaan yang tidak perlu ditunjukkan di depan orang lain atau dibanggakan di media sosial.
...