Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Arunika melangkah menuju bangku di barisan tengah, tempat Risa sudah menunggunya dengan mulut setengah terbuka. Risa bahkan sampai menjatuhkan pulpennya saat Arunika duduk di sampingnya.
"Wow! Ada apa ini? Ada angin apa sampai sahabatku yang paling anti-ribet ini berubah jadi secantik ini?" tanya Risa dengan mata membelalak, memperhatikan wajah Arunika dari jarak dekat.
"Hanya ingin." jawab Arunika singkat sembari mengeluarkan buku catatannya. Ia mencoba bersikap acuh tak acuh, namun binar di matanya tidak bisa berbohong.
Risa menyipitkan mata, tidak percaya begitu saja. "Jika sudah begini, pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan! Ayo, katakan ada apa? Kamu naksir anak fakultas sebelah? Atau jangan-jangan..." Risa terus mendesak, menyenggol bahu Arunika dengan rasa penasaran yang memuncak.
Arunika menghela napas panjang, menoleh ke sekeliling untuk memastikan tidak ada telinga lain yang mendengar.
"Huuuffhh... aku dijodohkan, Ris." bisik Arunika lirih namun tajam.
"What?! Serius? Kamu pasti lagi prank aku, kan?" seru Risa cukup keras hingga beberapa mahasiswa menoleh ke arah mereka. Risa segera menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu berbisik heboh, "Hari gini masih ada jodoh-jodohan? Sama siapa? Om-om kaya atau gimana?"
Arunika memijat pelipisnya, merasa kepalanya mulai pening. "Lebih parah dari itu. Kamu lihat dosen yang baru saja masuk ke kelas sebelah?"
Risa mengernyit, mencoba mencerna kode dari sahabatnya itu. "Maksudmu... Pak Abimana?"
Arunika hanya mengangguk pelan, membuat Risa hampir terjatuh dari kursinya untuk kedua kali.
"Sama Pak Abimana?! Dosen yang mukanya kayak tembok itu?" Risa bertanya dengan suara tertahan yang bergetar hebat. "Nika, kamu nggak bercanda kan? Itu—"
Brak!
Pintu kelas terbuka dengan hentakan yang cukup tegas. Seluruh penghuni kelas seketika bungkam. Sosok tegap dengan kemeja abu-abu gelap masuk dengan langkah berwibawa. Itu adalah Abimana.
"Dosen pengampu mata kuliah ini sedang berhalangan hadir, saya yang akan menggantikan untuk satu jam ke depan." ucap Abimana dingin tanpa basa-basi.
Risa hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Ia menyikut lengan Arunika dengan keras. "Panjang umur... calon suamimu datang, Nika." bisiknya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Arunika hanya bisa membeku di kursinya. Ia lupa bahwa dalam jadwal fakultas, Abimana memang sering menjadi dosen pengganti. Kini, dengan penampilannya yang baru—tanpa kacamata dan rambut terurai—Arunika harus duduk di sana, menjadi pusat perhatian pria yang tadi pagi ia tantang lewat tatapan mata.
Abimana meletakkan tasnya, lalu pandangannya menyapu seisi kelas. Matanya berhenti tepat di satu titik: Arunika.
Abimana membuka laptopnya, namun matanya tetap tertuju pada baris tengah, tepat di mana Arunika duduk. Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak menjadi sangat sunyi, seolah oksigen di ruangan itu tersedot habis oleh aura dingin Abimana.
"Karena saya hanya menggantikan, saya tidak akan memberi materi baru. Saya ingin menguji sejauh mana kalian memahami materi minggu lalu." ucap Abimana datar. Ia bersedekap, bersandar pada meja dosen dengan gaya yang sangat mengintimidasi.
"Saudari Arunika." panggilnya tiba-tiba.
Risa di sebelah Arunika tersentak kaget, sementara jantung Arunika berdegup kencang. Namun, ia menolak untuk terlihat gemetar. Arunika mendongak, menatap langsung ke mata pria yang secara hukum adalah calon suaminya itu.
"Iya, Pak?" jawab Arunika dengan suara yang sangat tenang dan stabil.
"Bisa jelaskan bagaimana kaitan antara risiko pasar dengan keputusan investasi dalam jangka panjang? Dan tolong, berikan analisisnya dari sudut pandang seorang manajer, bukan hanya sekadar teori buku teks." tanya Abimana. Pertanyaan itu sangat sulit, jauh di atas level mahasiswa semester mereka.
Mahasiswa lain mulai berbisik. Mereka tahu itu adalah pertanyaan jebakan. Risa tampak panik, mencoba mencari jawaban di buku, tapi Arunika justru menutup bukunya perlahan. Ia berdiri dengan anggun, memperbaiki posisi berdirinya hingga semua mata tertuju padanya.
"Investasi tanpa pemahaman risiko pasar adalah perjudian, Pak." mulai Arunika. Ia menjelaskan dengan sangat lancar, kalimat demi kalimat meluncur dengan cerdas. Ia bahkan menambahkan sedikit sindiran yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
"Seorang manajer yang bijak tidak akan mengambil keputusan hanya berdasarkan 'kesepakatan di atas kertas' tanpa melihat realita di lapangan. Sama seperti sebuah komitmen; jika tidak ada fundamental yang kuat, investasi itu hanya akan berakhir dengan kerugian bagi salah satu pihak. Bukankah begitu, Pak Abimana?"
Hening.
Seluruh kelas terpaku. Jawaban Arunika bukan hanya benar, tapi mengandung kekuatan yang tidak biasa.
Abimana terdiam sejenak. Ia tidak menyangka mahasiswi yang ia remehkan itu bisa menjawab dengan begitu tajam, sekaligus memberikan "pukulan balik" melalui metafora tentang komitmen mereka.
"Jawaban yang cukup... berani." ucap Abimana pelan, suaranya sedikit lebih berat. Ia tidak melepaskan pandangannya dari Arunika. "Silakan duduk."
"Saudari Arunika, setelah ini tolong ke ruangan saya. Ada beberapa poin dari tugas Anda yang perlu kita diskusikan lebih lanjut terkait nilainya." ucap Abimana saat ia merapikan berkas-berkasnya.
Risa menyikut lengan Arunika dengan ekspresi antara ngeri dan antusias. "Habis kamu, Nika. Si Kutub itu pasti mau memakanmu hidup-hidup." bisiknya.
Arunika hanya tersenyum tipis. "Atau mungkin dia yang akan kedinginan karena aku, Ris."
Arunika melangkah menuju ruang dosen dengan jantung yang berdegup, namun ia menolak untuk terlihat lemah. Begitu sampai di depan pintu kayu bertuliskan "Abimana Permana, M.Acc." ia mengetuk pelan lalu masuk.
Abimana duduk di kursi kebesarannya, melepaskan jasnya dan menyisakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku—tampak sangat maskulin namun juga sangat mengintimidasi. Ia menunjuk kursi di hadapannya tanpa menatap Arunika.
"Duduk." perintahnya singkat.
Begitu Arunika duduk, Abimana memajukan tubuhnya, menatap lurus ke mata Arunika yang kini tak lagi terhalang kaca. "Apa maksud jawabanmu di kelas tadi? Kamu sedang mencoba memancing saya?"
Arunika mengangkat sebelah alisnya, bersikap sangat tenang. "Saya hanya menjawab pertanyaan Bapak sebagai mahasiswi yang kompeten. Bukankah Bapak sendiri yang meminta analisis seorang manajer?"
"Jangan bermain kata-kata dengan saya, Arunika." desis Abimana tajam. "Perubahan penampilanmu, sikap beranimu di depan mahasiswa lain... kamu sedang mencoba menarik perhatian saya karena perjodohan konyol itu? Saya sudah bilang, jangan berharap apa pun."
Arunika terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan hingga membuat Abimana tertegun.
"Bapak terlalu percaya diri." sahut Arunika dengan nada dingin. "Saya merubah penampilan untuk diri saya sendiri, bukan untuk Bapak. Dan soal 'jangan berharap apa pun'... tenang saja, Pak. Setelah melihat Bapak bersama perempuan bernama Claudia itu tadi pagi, saya sadar bahwa berharap pada Bapak adalah investasi yang paling merugikan."
Wajah Abimana mengeras saat nama Claudia disebut. Ada kilat kemarahan, namun juga ada sesuatu yang mirip dengan rasa bersalah yang tersembunyi rapat.
"Jadi," Arunika berdiri, mencondongkan tubuhnya ke arah meja Abimana hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Jika Bapak tidak ada urusan lagi soal 'nilai', saya permisi. Masih banyak hal yang lebih penting daripada mengurusi harga diri Bapak yang terusik."
Semangaaaaaat.... 💪💪💪