NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.4k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 - Klien Bernama Bu Laras

Safira datang ke ruko dua jam sebelum jadwal pertemuan.

Pukul delapan pagi, pintu kaca masih belum dipasangi stiker nama. Cat dinding memang sudah kering, tetapi bau tipisnya masih tertinggal. Lantai sudah dipel dua kali. Meja konsultasi sementara berupa meja kayu lipat yang ditutup kain putih. Di atasnya ada contoh batik, tenun, lace, moodboard warna, dan sketsa awal yang ia kerjakan sampai lewat tengah malam.

Arga membuka jendela lantai dua.

"Diffuser tidak jadi?"

Safira menatapnya dari bawah. "Aku bilang jangan mahal."

"Saya beli yang wajar."

"Wajar versi kamu mencurigakan."

Arga mengeluarkan botol kecil dari paper bag. Labelnya sederhana, aroma serai dan melati.

Safira menciumnya. "Ini enak."

"Berarti boleh?"

"Berarti harganya masih harus ditanya."

Arga meletakkan diffuser di sudut ruangan. "Hari ini jangan bertengkar dengan harga dulu. Fokus ke klien."

Safira menghela napas. "Aku gugup."

"Bagus."

"Kamu suka sekali bilang takut itu bagus."

"Karena biasanya setelah kamu takut, kamu bekerja dua kali lebih rapi."

Safira ingin membantah, tetapi moodboard di depannya memang sudah ia susun ulang empat kali.

Pukul sembilan lewat empat puluh lima, sebuah mobil hitam berhenti di depan ruko. Bukan mobil terlalu mewah, tetapi cukup berkelas. Dari kursi depan turun perempuan muda dengan tablet di tangan. Lintang, asisten Bu Laras, tersenyum sopan.

"Mbak Safira?"

"Iya. Silakan masuk."

Safira sadar telapak tangannya dingin. Arga berdiri di dekat tangga, tidak ikut menyambut, hanya memberi ruang. Ia memakai kemeja putih sederhana dan celana gelap. Tidak ada jas, tidak ada jam mencolok. Tetap saja, kehadirannya membuat ruangan terasa lebih tenang.

Bu Laras masuk setelah Lintang. Usianya mungkin awal lima puluhan, berhijab satin warna navy, wajahnya lembut tetapi matanya tajam. Perempuan seperti itu tidak perlu bicara keras untuk membuat orang duduk tegak.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, Bu. Terima kasih sudah datang ke tempat saya. Maaf, rukonya masih dalam proses penataan."

Bu Laras melihat sekeliling. "Justru saya suka melihat tempat yang sedang tumbuh."

Kalimat itu membuat Safira sedikit bernapas.

Mereka duduk. Safira menyajikan teh melati dan kue kecil dari toko dekat rumah. Ia sempat khawatir kurang pantas, tetapi Bu Laras mengambil satu dan berkata, "Ini enak. Bukan dari hotel, kan?"

"Bukan, Bu. Dari toko langganan dekat rumah."

"Bagus. Saya suka yang tidak pura-pura."

Safira merasa kalimat itu seperti ujian pertama.

Lintang membuka tablet. "Bu Laras akan menghadiri acara amal yayasan pendidikan di Jakarta. Ada makan malam formal dan sesi siang. Beliau ingin dua busana. Satu lebih resmi, satu lebih ringan."

Bu Laras menatap Safira. "Saya melihat kebaya yang kamu buat untuk Bu Maya dan ibu pengantin di Grand Manggala. Garis desainmu bersih. Tidak terlalu ramai. Saya butuh itu."

"Terima kasih, Bu."

"Tapi saya tidak mau terlihat seperti pengantin."

"Saya mengerti. Untuk acara malam, saya membayangkan kebaya panjang modern dengan struktur halus, bukan ekor gaun. Bisa memakai tenun warna gelap sebagai aksen, dipadukan bahan polos agar tidak terlalu berat. Untuk acara siang, mungkin outer batik kontemporer dengan celana palazzo atau rok lurus, lebih mudah bergerak."

Bu Laras mengangguk, tetapi belum tersenyum.

"Kamu berani menolak kalau saya meminta sesuatu yang menurutmu tidak cocok?"

Safira berhenti.

Lintang ikut menatapnya.

Pertanyaan itu tidak ada di daftar persiapan.

Safira menarik napas. "Berani, Bu. Tapi saya akan jelaskan alasannya."

"Kalau saya tetap memaksa?"

"Saya akan cari jalan tengah. Tapi kalau hasilnya berisiko membuat Ibu tidak nyaman atau tidak sesuai acara, saya tidak akan diam."

Bu Laras akhirnya tersenyum.

"Bagus. Saya tidak butuh penjahit yang hanya mengangguk. Saya butuh desainer."

Kata itu menghantam dada Safira.

Desainer.

Bukan tukang jahit rumahan. Bukan anak keluarga Santoso yang kebetulan bisa menjahit. Bukan perempuan yang harus memberi desain gratis karena diminta kakaknya.

Desainer.

Arga melihat perubahan kecil di wajah Safira dari sudut ruangan. Ia tidak tersenyum, tetapi matanya melembut.

Pertemuan berlangsung hampir dua jam. Safira mengukur, mencatat preferensi, menunjukkan bahan, menolak dua pilihan warna dengan alasan jelas, dan menawarkan jadwal fitting. Bu Laras beberapa kali menguji dengan pertanyaan tajam, tetapi Safira tidak jatuh. Ia gugup, namun semakin lama, suaranya makin stabil.

Setelah selesai, Bu Laras berdiri.

"Saya suka cara kerjamu. Lintang, urus DP hari ini."

Safira hampir menjatuhkan meteran. "Hari ini, Bu?"

"Kamu keberatan menerima uang?"

"Tidak, Bu. Hanya saja..."

"Biasakan. Profesional menerima pembayaran profesional."

Safira mengangguk cepat. "Baik, Bu."

Sebelum pergi, Bu Laras menoleh kepada Arga.

"Suaminya?"

Safira ikut menoleh.

Arga mendekat. "Iya, Bu."

Bu Laras mengamatinya sebentar. "Kamu beruntung punya istri yang tangannya hidup."

Arga menjawab tanpa ragu, "Saya tahu."

Safira menunduk, pura-pura merapikan kain.

Bu Laras tersenyum kecil seolah melihat semuanya.

Setelah mobil Bu Laras pergi, Safira berdiri di tengah ruko. Ia memegang bukti transfer DP di ponsel. Angkanya cukup untuk membayar sebagian renovasi tambahan.

Tangannya gemetar.

Arga mendekat. "Selamat."

"Dia bilang aku desainer."

"Memang."

"Jangan jawab terlalu mudah."

"Saya tidak suka mempersulit fakta."

Safira tertawa kecil, lalu tiba-tiba menutup wajah.

Arga panik sedikit. "Safa?"

"Aku tidak menangis."

"Kamu jelas menangis."

"Aku cuma... tidak tahu. Rasanya aneh. Ada orang besar datang ke ruko yang belum jadi, melihat pekerjaanku, dan tidak menawar sampai aku merasa kecil."

Arga menunggu.

"Di rumah, kalau aku minta biaya jahit saja dibilang perhitungan. Hari ini, Bu Laras membayar DP tanpa aku minta dua kali."

"Karena dia tahu nilaimu."

Safira menurunkan tangan. Matanya basah, tetapi ia tersenyum.

"Aku ingin Kakek tahu."

"Telepon dia."

"Nanti. Dia harus istirahat."

Ponsel Safira berbunyi sebelum ia sempat menyimpan bukti transfer.

Pesan dari nomor tidak dikenal.

`Saya Arya, pemilik Sinar Kain. Dengar Mbak Safira mulai terima klien besar. Kalau butuh supplier premium, saya bisa bantu. Kita bisa saling menguntungkan.`

Safira membaca pesan itu dua kali.

Arga melihat namanya, lalu wajahnya berubah tipis.

"Kamu kenal?" tanya Safira.

"Tahu sedikit. Hati-hati dengan dia."

"Kenapa?"

"Dia suka mencampur urusan bisnis dan pribadi."

Safira menyimpan ponsel.

Hari yang baru saja terasa seperti kemenangan ternyata langsung memberi pintu baru.

Dan tidak semua pintu terbuka menuju tempat aman.

Malamnya, Safira membuka katalog Arya di meja makan. Kertasnya tebal, foto kainnya cantik, dan daftar harganya memang menggoda. Beberapa bahan bahkan lebih murah daripada supplier yang selama ini ia pakai.

Arga meletakkan teh di sampingnya. "Kamu masih memikirkan dia?"

"Aku memikirkan kainnya."

"Kainnya datang bersama orangnya."

"Aku tahu."

Safira membalik halaman. Ada lace warna champagne yang cocok untuk Bu Laras. Kalau ia bisa mendapat harga bagus, margin pesanan akan lebih aman.

"Mas Arga, kalau aku menolak semua orang yang punya reputasi sulit, bisnisku tidak akan berkembang."

"Saya tidak menyuruhmu menolak. Saya menyuruhmu jangan sendirian."

"Aku bisa bawa Dinda."

"Bawa saya."

"Kamu akan membuat semua supplier takut."

"Bagus."

"Itu bukan strategi bisnis."

"Itu strategi perlindungan."

Safira menutup katalog. "Aku butuh dua-duanya."

Arga duduk di seberangnya. "Maka kita buat aturan. Semua meeting supplier di atelier, jam kerja, ada kontrak, ada catatan harga, tidak ada makan siang pribadi."

Safira perlahan tersenyum. "Kamu terdengar seperti Bu Nadia."

"Saya belajar dari sumber yang mahal juga."

Ia tertawa, lalu mengambil buku kerja dan menulis aturan itu. Arya mungkin pintu yang belum jelas. Tapi kali ini Safira tidak akan masuk tanpa lampu, tanpa peta, dan tanpa jalan keluar.

Sebelum tidur, pesan Arya masuk lagi.

`Besok saya bisa mampir ke atelier. Bawa sampel khusus. Jam berapa Mbak kosong?`

Safira menunjukkan layar kepada Arga.

"Balas jam kerja," kata Arga.

Safira mengetik, `Silakan datang pukul dua siang. Semua pembicaraan kerja sama akan dicatat dan dibandingkan dengan vendor lain.`

Balasan Arya hanya emoji senyum.

Safira tidak suka emoji itu.

Untuk pertama kalinya, ia senang Arga akan ada di ruangan yang sama.

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!