Selama lima tahun, Bayu telah mengorbankan segalanya untuk merawat Vira dan membesarkan anak dari mantannya, namun ia justru diusir dan dicap sebagai sampah begitu Rama,pria kaya yang dulu mencampakkan Vira,kembali dengan jabatan mentereng sebagai manajer perusahaan besar.
Dihina habis-habisan di depan pintu keluar kantor catatan sipil usai meneken surat perceraian, hidup Bayu berputar 180 derajat saat sebuah Sistem Pengubah Jalur Hidup bangkit di kepalanya dan memberinya kartu-kartu kekayaan mutlak.
Dari seorang pria melarat berhati tulus, Bayu kini melangkah ke dunia para elite kota besar, siap membalas setiap tetes air mata dengan kekuasaan yang membuat orang-orang yang dulu merendahkannya berlutut memohon ampun.
Bantu Cherlly dengan LIKE,KOMENTAR & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Kami selalu balas komentar yang kaka pertanyakan🥰🥰💋
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Sinar matahari pagi menyinari sisa-sisa genangan air hujan di jalanan kota metropolitan.
Udara pagi terasa sangat dingin menusuk tulang setelah badai semalam suntuk melanda.
Di sebuah sudut lorong sempit dekat pasar tradisional, sesosok tubuh wanita meringkuk lemas di atas lantai semen yang basah.
Vira membuka matanya perlahan dengan pandangan yang buram dan berkunang-kunang.
Wajah wanita itu tampak sangat pucat pasi seperti mayat hidup dengan bibir membiru.
"Dingin..." bisik Vira dengan suara serak parau yang hampir tidak terdengar sama sekali.
Tubuhnya gemetar hebat menahan demam tinggi akibat kehujanan semalaman di jalanan.
Perutnya terasa melilit sangat sakit karena tidak ada asupan makanan selama beberapa hari terakhir.
Vira mencoba menggerakkan kedua tangan dan kakinya untuk bangkit berdiri.
Namun otot-otot tubuhnya sudah kehilangan seluruh tenaga akibat kelaparan dan kelelahan ekstrem.
Bruk!
Tubuhnya kembali terjatuh lemas di atas lantai lorong yang kotor dan lembap.
"Tolong..." rintih Vira lirih sambil meneteskan air mata keputusasaan yang terakhir.
Beberapa orang pedagang pasar yang mulai beraktivitas pagi itu melintas di dekat lorong tersebut.
Mereka melirik sekilas ke arah Vira dengan tatapan jijik dan iba bercampur curiga.
"Hei, wanita itu sepertinya pingsan karena kelaparan," bisik seorang pedagang sayur kepada temannya.
"Jangan ikut campur urusan orang lain, nanti kita malah direpotkan urusan kepolisian," balas temannya menarik lengan sang pedagang untuk terus berjalan.
Tidak ada satu pun orang yang sudi mengulurkan tangan menolong wanita malang tersebut.
Karma atas kesombongan dan pengkhianatan yang ia perbuat kini berbalik menghantamnya tanpa ampun.
Di tempat terpisah, jauh dari kotornya lorong pasar, suasana di dalam The Crown Penthouse terasa sangat hangat dan mewah.
Bayu duduk di meja makan pribadi sambil menikmati secangkir kopi hitam hangat.
Kirana berdiri tegap di samping meja sambil merapikan jadwal kegiatan harian atasannya.
"Selamat pagi, Tuan Bayu," sapa Kirana dengan senyum profesional yang menawan.
Bayu mendongak perlahan, menatap sekretaris pribadinya dengan tatapan tenang.
"Pagi, Kirana," jawab Bayu santai.
"Bagaimana laporan situasi pagi ini?"
"Semua berjalan sangat kondusif, Tuan," lapor Kirana cepat.
"Maya melaporkan bahwa tingkat hunian Hotel Grand Horizon meningkat drastis minggu ini."
Bayu mengangguk pelan mengecap rasa kopinya yang pekat.
"Bagus," ujar Bayu singkat.
"Maya membuktikan bahwa pilihanku tidak salah."
"Anda memang selalu memiliki pandangan yang tepat dalam menilai orang lain, Tuan," puji Kirana tulus.
Bayu berdiri dari kursi makan lalu merapikan jas hitam yang melekat di tubuhnya.
"Hari ini kita tidak perlu terburu-buru pergi ke kantor," kata Bayu melangkah menuju ruang keluarga.
"Baik, Tuan," jawab Kirana mengikuti di belakang langkah atasannya.
Melalui dinding kaca raksasa penthouse, pemandangan kota metropolitan terbentang luas menyambut pagi yang cerah.
Lalu-lalang kendaraan di bawah sana tampak berjalan tertib di bawah sinar matahari pagi.
Bayu menarik napas panjang, menikmati kebebasan dan kekuasaan mutlak yang kini berada di dalam genggamannya.
Lima tahun penderitaan dan pengkhianatan kini telah terbayar tuntas lunas tanpa sisa.
Di sisi lain kota, sebuah mobil ambulans umum akhirnya datang setelah seorang warga menelepon layanan darurat.
Petugas medis bergegas mengangkat tubuh Vira yang sudah tidak sadarkan diri ke atas brankar.
"Kondisinya sangat kritis akibat dehidrasi parah dan kelelahan ekstrem," ucap petugas medis kepada rekannya.
"Cepat masukkan ke dalam mobil, kita harus segera membawanya ke rumah sakit umum terdekat!" perintah rekannya sigap.
Pintu mobil ambulans ditutup dengan cepat, lalu meluncur membelah jalanan kota diiringi suara sirine yang nyaring.
Wiiiiu... wiiiiu...
Di dalam ruang darurat rumah sakit umum yang berbau obat antiseptik menyengat, Vira terbaring lemah di atas ranjang pesakitan.
Selang infus terpasang di punggung tangan kanannya yang kurus kering.
Beberapa jam kemudian, Vira membuka matanya perlahan di bawah cahaya lampu neon putih yang menyilaukan.
Seorang dokter wanita berjas putih berdiri di samping ranjang sambil memegang catatan medis.
"Kamu sudah sadar, Nyonya?" tanya dokter itu dengan nada suara datar namun sopan.
Vira menolehkan kepalanya lemah ke arah dokter tersebut.
"Di... di mana saya?" tanya Vira dengan suara parau nyaris hilang.
"Kamu berada di rumah sakit umum," jawab dokter itu menjelaskan.
"Kamu pingsan di jalan karena kelaparan dan kelelahan berat."
Vira terdiam, menatap langit-langit ruangan rumah sakit yang putih bersih.
"Lalu... bagaimana dengan..." Vira tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Dokter wanita itu menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan tersebut.
"Maafkan saya, Nyonya," ucap dokter itu dengan nada menyesal.
"Kondisi fisik Anda yang terlalu lemah membuat kehamilan Anda tidak dapat diselamatkan."
Deg!
Jantung Vira seolah copot mendengar vonis kejam tersebut.
Air mata penyesalan kembali tumpah deras membasahi bantal rumah sakit.
Suami tulus dibuang, bayi dalam kandungan hilang, dan harta kekayaan sirna dalam sekejap.
Vira menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis histeris seorang diri tanpa ada satu pun keluarga di sisinya.
Rama sang kekasih impian sudah melarikan diri entah kemana meninggalkan tumpukan hutang.
Ibu kandungnya sendiri enggan menjenguk karena malu dan kecewa.
Ia benar-benar sebatang kara menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.
Kembali ke The Crown Penthouse, Bayu sedang berdiri di dekat jendela kaca besar sambil merapikan manset jasnya.
[Sistem Pengubah Jalur Hidup: Resmi Diselesaikan dengan Sempurna.]
[Mendapatkan Gelar Tetap: Penguasa Mutlak Kota Besar.]
[Mempersiapkan Transisi Menuju Ekspansi Kekaisaran Bisnis Nasional dan Kemunculan Tokoh Baru.]
Suara sistem berdengung merdu di dalam kepala Bayu memberikan konfirmasi akhir.
Bayu tersenyum tipis menatap bayangan dirinya di balik kaca jendela.
"Permainan baru di tingkat nasional akan segera dimulai," gumam Bayu pelan penuh keyakinan.
Kirana melangkah mendekati atasannya dengan membawa sebuah tablet digital baru.
"Tuan, ada pesan masuk dari kantor pusat nasional," lapor Kirana serius.
Bayu menoleh ke arah sekretaris setianya itu.
"Pesan apa?" tanya Bayu santai.
"Mereka melaporkan bahwa para investor besar di ibu kota mulai melirik kehadiran kita," jelas Kirana.
Bayu mengangguk pelan, menyambut tantangan baru dengan kepala tegak.
"Biar mereka datang," ujar Bayu tegas.
"Kita siap menyambut mereka kapan saja."
Babak baru kehidupan Bayu sebagai konglomerat sejati baru saja dimulai, meninggalkan masa lalu yang kelam jauh di belakang.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰