NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Kemenangan dan Semangat yang Tak Pernah Padam

Sorak-sorai penonton memenuhi halaman sekolah yang sejak siang telah dipadati pendukung dari berbagai tim. Suasana pertandingan perempat final terasa jauh lebih menegangkan dibandingkan pertandingan sebelumnya. Setiap tim datang dengan persiapan yang lebih matang, strategi yang lebih terukur, dan ambisi yang semakin besar untuk melangkah ke babak berikutnya.

Bagi Mita dan rekan-rekannya, pertandingan hari itu bukan sekadar ajang untuk membuktikan kemampuan. Ada harapan yang harus mereka perjuangkan, ada kerja keras yang tidak ingin mereka sia-siakan, dan ada kebanggaan yang ingin mereka bawa pulang. Karena hari ini akan menentukan tim mana yang akan maju ke babak final.

Ia berdiri di antara anggota timnya sambil mengencangkan tali sepatu. Wajahnya terlihat tenang, tetapi Budi yang berdiri tidak jauh darinya dapat menangkap kegugupan yang berusaha disembunyikan perempuan itu.

Sejak mengenal Mita, ia menyadari bahwa perempuan tersebut memiliki kebiasaan memendam kegelisahan di balik senyum tipisnya. Mita bukan tipe orang yang mudah mengeluh, apalagi menunjukkan kelemahan di hadapan orang lain. Namun, justru itulah yang membuat Budi semakin ingin mengenalnya lebih dekat.

Peristiwa penyelamatan yang mereka lakukan di jalan perbatasan tempo hari, meninggalkan kesan yang cukup mendalam baginya. Ia pun melihat kerapuhan yang tergambar jelas di wajah Mita saat ia dan Kapten Reihan menemukannya terkapar di tengah jalan berbatu.

Sorot matanya kosong bersimbah air mata. Tidak ada semangat yang terpancar saat Kapten Reihan mengangkatnya ke dalam mobil patroli.

Saat melihatnya kali ini, semua yang tergambar pada saat itu hilang. Sekarang ia begitu bersinar dalam pakaian olahraga dan menjadi tumpuan timnya untuk membawa mereka menuju kemenangan.

Rasa ingin mendekat bahkan membina hubungan yang serius adalah targetnya saat ini. Kalau Mita menerima ungkapan perasaannya, Budi berharap ia akan menjadi seseorang yang bisa diandalkan ketika perempuan itu membutuhkan tempat bersandar.

"Sudah siap, bu Mita?" tanya Budi sambil mendekat.

Mita mengangkat wajah. "Harus siap. Karena ini perjuangan bersama?"

Budi tertawa kecil. "Nah, begitu dong! Itu baru bu Mita yang kukenal."

"Memangnya selama ini?" Mita mengernyitkan dahi mendengar perkataan prajurit yang sangat ramah dalam pandangannya.

"Kalau yang sekarang, bu Mita-nya kelihatan lebih galak."

Mita melotot pura-pura kesal. "Om Budi!"

"Siap, Komandan!" Budi mengangkat kedua tangannya, membuat beberapa anggota tim yang mendengar percakapan mereka ikut tertawa.

Suasana yang semula menegangkan menjadi sedikit lebih cair.

Budi menyukai momen seperti itu. Ketika Mita tertawa, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa lebih ringan. Ia tidak tahu bahwa perempuan itu sedang berusaha memulihkan diri dari luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Tapi, setiap kali melihat Mita tersenyum tulus, Budi merasa seolah-olah telah memenangkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Dan Budi tidak ingin salah mengartikan kesopanan Mita sebagai sebuah kesempatan.

"Bu Mita," panggilnya lagi ketika perempuan itu hendak bergabung dengan anggota tim lainnya.

"Apa lagi?"

"Main yang bagus. Jangan terlalu memikirkan hasil akhirnya. Fokus saja pada permainanmu. Kalian sudah berlatih keras, jadi tunjukkan apa yang bisa kalian lakukan."

Mita terdiam sesaat. Berusaha mencerna kata-kata yang diucapkan prajurit itu.

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa menenangkan. Belakangan, ia terlalu sering memikirkan banyak hal di luar kendalinya. Tentang masa depan, tentang kepercayaan yang pernah ia berikan kepada seseorang, dan tentang bagaimana rasanya mengetahui bahwa orang yang pernah berjanji akan menua bersama justru mengkhianati kepercayaannya.

Ada hari-hari ketika ia merasa sudah baik-baik saja. Namun, pada hari-hari lainnya, kenangan itu datang tanpa permisi, membuat dadanya kembali sesak.

Hari ini, ia tidak ingin membiarkan hal yang menyakitkan menguasai pikirannya.

"Terima kasih, Om Budi. Saya akan berusaha sebaik mungkin." Mita berkata dengan senyum tipis yang terbit di ujung bibirnya.

Ia menepis dugaan atas keramahan dari seorang prajurit yang baru ia kenal belakangan ini.

Budi mengangguk mantap, “Saya yakin, bu Mita bisa."

Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik. Ada sesuatu yang ingin Budi katakan, tetapi ia menahannya. Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Mita sebelum pertandingan dimulai. Lagi pula, ia masih harus memikirkan percakapannya dengan Yanto beberapa waktu lalu.

Ucapan sahabatnya itu terus terngiang di kepala, “Kalau memang suka, perjuangkan. Jangan menunggu sampai orang lain datang lebih dahulu. Tapi ingat, memperjuangkan seseorang bukan berarti memaksanya menerima perasaanmu.”

Saat itu Budi hanya tertawa, menganggap Yanto terlalu banyak mencampuri urusan hatinya. Namun, semakin dipikirkan, semakin ia menyadari bahwa sahabatnya benar. Ia tidak tahu apakah Mita akan  membalas perasaannya seperti apa yang ia inginkan, atau bahkan menolaknya karena sudah memiliki orang lain di sisinya.

Yang ia tahu, selama ini ia terus menyimpan perasaannya sendiri, seolah-olah diam akan membuat semuanya lebih mudah. Padahal, semakin lama ia mengenal Mita, semakin sulit pula baginya untuk berpura-pura biasa saja.

Peluit panjang terdengar. Pertandingan penentu ke partai final segera dimulai.

Sejak menit-menit awal, pertandingan berlangsung ketat. Lawan mereka tampil lebih agresif dibandingkan tim yang dihadapi pada putaran pertama. Serangan demi serangan datang silih berganti, memaksa Mita dan rekan-rekannya bekerja lebih keras untuk mempertahankan keunggulan.

Mita berusaha menjaga fokus. Ia bergerak mengikuti strategi yang telah disusun bersama tim, sesekali memberikan aba-aba kepada rekannya ketika melihat celah dalam pertahanan lawan.

Di pinggir lapangan, Budi berdiri bersama Yanto dan beberapa anggota lainnya yang tidak bertugas. Penonton sangat ramai, sehingga keriuhan untuk mensuport timnya terdengar silih berganti.

"Semangat, bu Mita!" teriak Budi ketika melihat perempuan itu berhasil melewati penjagaan lawan.

Mita sempat melirik ke arahnya.

"Fokus, Om! Jangan cuma teriak!" balasnya.

Yanto langsung terkekeh, "Wah, dibalas juga. Sepertinya suaramu cukup berpengaruh, Bud."

Budi mengibaskan tangan. "Diam, Yan. Daripada kamu, cuma bisa mengomentari orang."

"Aku ini pengamat profesional."

"Profesional membuat orang kesal, maksudmu?"

Yanto tertawa semakin keras.

Namun, ketika kembali menatap lapangan, senyumnya perlahan berubah menjadi perhatian. Ia melihat bagaimana Mita terus berusaha memberikan yang terbaik meskipun lawan mereka beberapa kali berhasil menekan pertahanan timnya.

Pada satu momen, Mita hampir kehilangan keseimbangan setelah berebut bola dengan pemain lawan. Jantung Budi seketika berdegup kencang.

"Hati-hati Bu Mita!"

Perempuan itu berhasil menjaga keseimbangan dan kembali melanjutkan permainan.

Budi mengembuskan napas lega.

Yanto yang berdiri di sampingnya mengangkat alis, “Tenang, Bud. Bu Mita sedang bertanding, bukan sedang berangkat ke medan perang."

"Aku tahu."

"Tapi wajahmu seperti sedang menunggu hasil pemeriksaan kesehatan orang tersayang."

Budi menoleh tajam. "Kamu sengaja, ya?"

"Memang. Lumayan, hiburan gratis."

Budi menggeleng, tetapi tak mampu menyembunyikan senyum kecilnya.

Pertandingan semakin mendebarkan menjelang akhir. Kedua tim saling mengejar angka, membuat penonton bersorak setiap kali terjadi perubahan kedudukan.

Mita mulai merasakan kelelahan. Napasnya memburu, keringat membasahi pelipis, dan otot-otot kakinya terasa semakin berat. Namun, ia menolak menyerah.

Ia teringat latihan panjang yang telah mereka jalani. Ia teringat rekan-rekannya yang telah bekerja keras. Ia juga teringat bahwa dirinya datang ke tempat itu bukan untuk membuktikan sesuatu kepada lelaki yang telah mengkhianatinya, melainkan kepada dirinya sendiri.

Bahwa ia masih mampu berdiri. Bahwa pengkhianatan seseorang tidak berhak menghancurkan seluruh bagian hidupnya.

Ketika peluang terakhir terbuka, Mita bergerak cepat, memberikan umpan kepada rekannya yang berada dalam posisi lebih menguntungkan. Serangan itu berhasil diselesaikan dengan baik.

Peluit akhir berbunyi beberapa saat kemudian. Tim Mita memenangkan pertandingan kedua. Sorak-sorai langsung memenuhi area pertandingan. Para anggota tim berpelukan, saling menepuk bahu, dan mengucapkan selamat atas kemenangan yang mereka raih.

Mita berdiri sambil terengah-engah, kemudian tertawa ketika rekan setimnya memeluknya dengan penuh semangat.

"Kita menang!" seru salah seorang dari mereka.

Mita mengangguk. "Kita menang!"

Dari pinggir lapangan, Budi ikut bertepuk tangan dengan wajah berseri-seri.

"Hebat, bu Mita! Kalian hebat!"

Mita menoleh ke arahnya, mengangkat kedua ibu jari, kemudian tersenyum lebar.

Senyum yang kali ini terasa berbeda. Tidak ada kesedihan yang berusaha disembunyikan di baliknya. Tidak ada kepura-puraan bahwa dirinya baik-baik saja. Untuk beberapa saat, Mita benar-benar menikmati kebahagiaan yang hadir di hadapannya.

Budi menyaksikan senyum itu dengan dada yang terasa hangat.

Ia tahu kemenangan tersebut bukan akhir dari perjuangan. Masih satu pertandingan lagi yang harus mereka lalui untuk menentukan tim terkuat. Setiap pertandingan akan menghadirkan tantangan yang berbeda, dan tidak ada jaminan bahwa jalan mereka akan selalu mulus. Namun, setidaknya hari itu mereka berhasil membuktikan bahwa kerja keras tidak pernah sia-sia.

Ketika Mita berjalan menghampiri mereka setelah menyelesaikan pertandingan, Budi segera menyodorkan sebotol air mineral.

"Untuk atlet kebanggaan kita," katanya.

Mita menerima botol itu sambil tertawa, "Terima kasih, Pak Sponsor."

"Kalau sponsor, nanti saya tagih tanda tangan eksklusif."

"Memangnya anda siapa?"

"Penggemar nomor satu," ucapan itu meluncur begitu saja dari mulut Budi.

Mita terdiam sejenak, sedangkan Yanto yang mendengarnya langsung menoleh dengan ekspresi tertarik.

Budi sendiri baru menyadari apa yang telah dikatakannya. Namun, kali ini ia tidak buru-buru menarik ucapannya. Ia hanya tersenyum, sementara Mita menggeleng kecil dan melanjutkan minum.

Mungkin bagi perempuan itu, ucapan tersebut hanyalah candaan biasa. Tetapi bagi Budi, kalimat sederhana itu menyimpan perasaan yang sudah terlalu lama ia pendam. Dan setelah kemenangan hari itu, ia mulai berpikir bahwa mungkin inilah saatnya untuk berhenti bersembunyi di balik candaan.

Ia ingin Mita mengetahui isi hatinya. Apa pun jawaban yang akan diterimanya nanti, ia siap. Berani bertindak, dan siap konsekuensi yang datang menghadap.

1
Lenita Vernandes
mantap lanjut
Farida Dalle
Ternyata cinta dan cemburu itu berjalan seiring, hehe🤭
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
Farida Dalle: Duh.... si Rayhan, masih kcl sdh baca novel jg, hehe🙏✌️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!