Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Binatang di Pinggir Desa
Tong! Tong! Tong! Tong!
Kentongan di gardu mulut desa itu dipukul bertubi-tubi tepat saat Satrio melangkahi palang bambu. Obor-obor menyala dari balik pagar rumah, dan belasan tombak bambu langsung teracung ke arahnya.
"Itu dia! Binatangnya datang!"
"Bukan! Aku orang!" Satrio mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi, "Aku orang, Pak! Lihat, kakiku cuma dua!"
Seorang lelaki pendek dengan sarung terselempang di bahu maju paling depan dan menyodorkan obornya ke wajah Satrio. Ujung tombak di tangannya gemetar. Ia mengamati wajah Satrio, lalu baju kebesarannya yang bernoda hitam, lalu mengernyitkan hidung.
"Baumu seperti kandang babi."
"Aku dari Pasar Kademangan, Pak. Katanya di sini ada upah untuk kepala binatang itu."
Para lelaki itu saling pandang. Satu per satu tombak mereka turun. Lelaki pendek tadi meludah ke tanah.
"Satu lagi yang mau mati," gumamnya, "Ikut aku ke balai."
Balai desa Watuputih berupa pendopo kayu beratap ijuk di tengah desa, dengan obor menyala di keempat sudutnya. Hampir seluruh warga berkumpul di dalamnya. Sejak binatang itu datang setiap malam, seisi desa rupanya memilih tidur beramai-ramai di sini daripada di rumah masing-masing. Perempuan dan anak-anak berdesakan di tengah, para lelaki duduk di pinggir dengan tombak di pangkuan, dan beberapa ekor ayam ikut diikat di kaki tiang. Di sudut pendopo, lima orang terbaring di atas tikar. Seorang gadis berselendang biru berlutut di antara mereka, di depan kuali kecil yang mengepul di atas tungku batu.
Satrio melongo.
Hidung gadis itu berkerut lebih dulu, baru kemudian ia mengangkat wajah dan menemukannya.
"Kau belum mandi juga," katanya.
"Siapa yang melemparku ke got?"
Satrio melirik ke dalam kuali. Daun-daun di dalamnya sudah layu oleh air mendidih, tapi tulang daunnya masih berkilau keperakan di bawah cahaya obor.
"Daun itu," kata Satrio pelan, "Buat mereka?"
"Memangnya buat siapa? Buat kumasak sayur?" Gadis itu menyendokkan air rebusan ke mangkuk tempurung, lalu meminumkannya pelan-pelan ke lelaki tua yang terbaring paling dekat.
Satrio menggaruk tengkuknya, "Soal daun tadi sore... kau benar."
"Aku tahu." Gadis itu terus menyuapi lelaki tua itu, "Siapa yang hampir kau racuni?"
"Belum ada. Daunnya sudah kubuang ke got."
"Tempat yang cocok."
Rahang Satrio mengeras, dan matanya melotot. Gadis itu balas melotot. Sendok kayu di tangannya terangkat sedikit, siap dilempar.
Kepala desa Watuputih, seorang lelaki tua beruban yang duduk bersandar di tiang tengah, berdeham. Ia mengetukkan tongkat kayunya dua kali ke lantai.
"Tabib kenal anak ini?" tanyanya.
"Tadi sore di pasar, dia hampir merebus Sukmawisa untuk orang sakit, Ki."
Bisik-bisik langsung menjalar di antara warga. Perempuan yang duduk paling dekat dengan Satrio menarik anaknya menjauh. Telinga Satrio memerah.
"Dan sekarang dia mau memburu binatang itu," sahut lelaki pendek yang membawanya tadi.
Kepala desa itu menatap Satrio dari ujung rambut sampai ke sandal di kakinya, lalu menghela napas panjang.
"Dua pemburu sudah datang sebelum kau, Nak. Yang satu pulang dengan bahu tinggal separuh, yang satu lagi pulang tinggal nama." Ia mengetukkan tongkatnya lagi, "Tapi upah tetap upah. Siapa pun yang membawa kepala binatang itu, dialah yang berhak. Semalam binatang itu datang ke kandangku, di belakang balai ini."
"Kalau dia sampai digigit," sela gadis itu, "Jangan suruh aku menggelar satu tikar lagi."
Satrio hendak membalas, tapi gadis itu sudah berpindah ke tikar paling ujung, ke seorang anak lelaki yang betisnya dibalut kain.
"Kau mau tahu apa yang akan kau lawan?" katanya sambil melambaikan sendok kayunya, "Kemari."
Anak itu kira-kira sebaya Jati. Seorang perempuan kurus duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya erat-erat.
"Pegangi kakinya, Mbok Rondo," kata gadis itu.
'Anak Mbok Rondo,' batin Satrio.
Gadis itu membuka balutan di betis anak itu pelan-pelan. Di baliknya ada tiga lubang berjajar, masing-masing sebesar ibu jari. Dagingnya merah dan basah, dan darah merembes sedikit demi sedikit dari tepi-tepinya.
"Dua pekan," kata gadis itu, "Luka dua pekan biasanya sudah bernanah, dan bau busuknya tercium sampai ke pintu. Yang ini masih semerah tadi pagi."
Ia mencelupkan secarik kain ke mangkuk rebusan, lalu menempelkannya di atas luka itu. Air rebusan itu menggumpal jadi butir-butir kecil di atas daging yang merah, lalu bergulir jatuh ke tikar, persis air yang dituang ke atas daun talas.
"Lukanya menolak," katanya, "Ramuan apa pun yang kutempelkan, hasilnya sama. Sukmajati cuma bisa menahan supaya darahnya tidak terus keluar. Menutupnya, tidak bisa."
"Binatang apa yang gigitannya begini?"
"Kalau aku tahu, aku tidak akan berlutut di sini sampai tengah malam."
Anak itu mendongak ke arah Satrio. Matanya merah dan sembap.
"Kakang mau membunuh binatang itu?"
"Kalau dia datang malam ini," jawab Satrio.
"Kakang bau."
Mbok Rondo buru-buru menepuk lengan anaknya. Satrio berjongkok di depan anak itu dan merapatkan lengan baju kanannya, "Justru itu. Biar binatangnya mencium aku duluan, bukan kau."
Mata gadis itu singgah sebentar di lengan baju kanan Satrio, lalu kembali ke luka di depannya.
'Eyang,' batin Satrio, 'Tiga lubang itu...'
"Hidungku masih penuh got, aku tidak bisa memastikan apa-apa," gerutu Eyang. Suaranya lalu turun, "Tapi dengar, bocah. Kalau binatang itu datang, jangan maju duluan."
Kandang kambing kepala desa berdiri di belakang balai, lima puluh langkah dari obor terdekat. Pagar bambunya baru ditambal dengan bilah-bilah yang masih hijau, bekas jebol semalam. Di dalamnya, tujuh ekor kambing berhimpitan di satu sudut, dan seekor kerbau berdiri terikat di tiang paling ujung.
Satrio duduk di atas tumpukan kayu bakar di samping kandang itu, di tempat yang paling gelap.
"Kenapa tidak menunggu di balai?" gerutu Eyang, "Di sana ada obor, ada tombak, ada tabib."
"Orang di gardu tadi bilang aku bau kandang babi," bisik Satrio, "Binatang di hutan pasti juga mencium. Kalau dia lapar, dia datang ke sini dulu. Bukan ke balai."
Eyang mendengus panjang dan berhenti mengomel.
"Tabib itu galak sekali," gumam Satrio sambil melirik ke arah pendopo.
"Dia berlutut di sana sejak sore, merebus daun yang hampir kau rebut darinya," jawab Eyang, "Kalau aku jadi dia, kau sudah kulempar ke got yang kedua."
Dari arah pendopo, sesekali terdengar tangis bayi yang ditenangkan ibunya, dan suara gadis tabib itu menyuruh seseorang menambah kayu ke tungku. Satrio menarik lututnya ke dada. Perutnya yang sejak sore hanya diisi nasi jagung mulai berbunyi lagi, dan ia menekannya dengan tangan kiri supaya diam.
Lewat tengah malam, bulan separuh itu tenggelam di balik pucuk-pucuk pohon di pinggir hutan. Desa itu langsung gelap pekat. Obor-obor di pendopo tinggal titik-titik jingga di kejauhan.
Jangkrik di sekitar kandang berhenti mengerik satu per satu.
Kambing-kambing di dalam kandang mulai mengembik dan saling dorong ke sudut yang sama. Kerbau di ujung mendengus keras dan menarik-narik talinya sampai tiang kandang bergoyang.
Satrio turun dari tumpukan kayu. Ia menarik tangan kanannya keluar dari lengan baju. Kristal di telapak tangannya mulai hangat.
Dari arah hutan, semak-semak tersibak. Sesuatu yang berat berlari menembus kebun singkong di belakang kandang, dan tanah di bawah sandal Satrio ikut berguncang.
Brakk!
Pagar bambu yang baru ditambal itu jebol ke dalam. Bilah-bilahnya terlempar ke udara, dan seekor celeng hitam menerobos masuk ke tengah kandang.
Tubuhnya lebih besar daripada kerbau di ujung kandang itu. Bulunya hitam dan kaku seperti ijuk, berdiri di sepanjang punggungnya yang melengkung. Dari moncongnya mencuat tiga taring kekuningan. Dua melengkung naik dari rahang bawah, dan satu lagi, yang paling panjang, mencuat lurus dari tengah. Matanya merah, menyala di dalam gelap seperti dua bara yang baru ditiup.
Satrio teringat tiga lubang berjajar di betis anak Mbok Rondo.
Celeng itu langsung menerjang sudut kandang. Moncongnya menyambar seekor kambing, dan rahangnya mengatup.
Krak!
Kambing itu menjerit sekali, lalu terkulai.
Dari arah pendopo, kentongan dipukul bertubi-tubi. Jeritan perempuan dan tangis anak-anak pecah bersamaan.
Satrio melangkah keluar dari bayang-bayang tumpukan kayu. Kristal di telapak tangan kanannya makin panas, dan cahaya merah mulai merembes dari sela jari-jarinya.
"Bocah," desis Eyang, "Jangan bergerak."
Rahang celeng itu berhenti bergerak. Bangkai kambing itu terlepas dari moncongnya dan jatuh ke tanah. Kepalanya yang sebesar lesung berputar pelan ke arah Satrio. Lubang hidungnya kembang kempis mengendus udara, lalu kedua mata merah itu berhenti tepat di wajah Satrio.
Dari kerongkongannya keluar geraman panjang. Geraman itu naik turun dan terputus-putus di ujungnya, persis suara lelaki tua yang terkekeh di balik giginya.