NovelToon NovelToon
Isteri Sah Di Balik Bayangan

Isteri Sah Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

**Isteri Sah di Balik Bayangan**

Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.

Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.

Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaleng Biskuit Bidan Rohani

"Surat wasiat itu ada di tangannya"

Ucapan itu terus menerus terngiang dikepala Aina begitu keluar dari ruang pemeriksaan. Kalimat terahir yang diucapkan Lalu Mustiadi itu seolah tak bisa hilang dari pikirannya. Di belakangnya, Terlihat penyidik perempuan itu menutup pintu sambil membawa buku catatan yang kini penuh dengan tulisan.

Melihat Aina tengah keluar dari ruangan itu, Raka dan Sekar langsung berdiri dari kursi ruang tunggu Lalu segera mendekat ke arah Aina.

"Bagaimana, Na? Apa yang dia katakan?" tanya Raka cemas.

Aina duduk perlahan. Ia meminta segelas air, lalu menceritakan semuanya. Tawaran Mustiadi yang ia tolak. Pengakuan tentang surat wasiat Lalu Wiradana. Tanah kebun di Tanak Awu yang seharusnya menjadi milik Sumiati dan Bayu. Nama orang yang kini menyimpan surat wasiat itu.

Ketika Aina selesai, Raka terdiam lama. Ia menatap lantai dengan wajah bingung.

"Mamik Wiradana tidak pernah melupakan Ibu Sumi," ucapnya pelan. "Selama ini aku mengira dia orang yang dingin. Dia jarang bicara denganku. Dia jarang memelukku."

"Mungkin karena setiap kali melihatmu, dia teringat kesalahannya," kata Sekar lembut.

Raka mengangguk tanpa menjawab.

Sekar sendiri menunduk. Wajahnya pucat, Aina tahu pengakuan itu juga menjadi pukulan baru baginya. Ayahnya bukan hanya menyembunyikan rahasia. Ayahnya juga mengambil tanah milik orang lain selama lima belas tahun.

"Sekar," ucap Aina pelan. "Kamu baik-baik saja?"

"Tidak," jawab Sekar jujur. Ia tersenyum tipis. "Tapi aku lega. Setidaknya sekarang aku tahu semuanya. Aku tidak perlu lagi menebak-nebak."

Tepat pada pukul sebelas siang, Lale Rukmini keluar dari ruang pemeriksaan bersama Hamdan. Wajahnya lelah, tetapi tenang. Ia sudah memberikan keterangan lengkap tentang uang yang ia kirim kepada Lalu Zainuddin, juga tentang peristiwa tiga puluh tahun lalu.

"Polisi bilang aku mungkin akan dipanggil lagi," katanya. "Aku tidak keberatan."

Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, Hamdan mendengarkan cerita Aina tentang surat wasiat dengan wajah serius. Ia mencatat setiap detail di buku kecilnya.

"Kalau surat wasiat itu asli, Raka dan Ibu Sumi berhak mengajukan gugatan atas tanah itu," katanya. "Tapi kita harus menemukannya dulu. Kita harus memastikan surat itu aman."

"Di mana kita bisa mencari Bidan Rohani?" tanya Raka.

Lale Rukmini menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku tidak pernah mencarinya setelah dia diusir dari rumah mertuaku."

Aina berpikir sejenak. Lalu ia teringat sesuatu.

"Ibu Sumi," katanya. "Bidan Rohani yang menolong Ibu Sumi melahirkan. Mereka tinggal di desa yang sama. Mungkin Ibu Sumi tahu di mana dia sekarang."

Perjalanan ke Kawo siang itu terasa lebih singkat daripada perjalanan pertama. Mungkin karena kali ini mereka tidak lagi membawa ketakutan, melainkan harapan.

Sesampainya didesa Kawo, Terlihat Ibu Sumi sedang menjemur daun tembakau di halaman. Ketika mobil mereka berhenti, Ibu Sumi langsung wajah Raka dari jendela kaca mobil itu, Seketika wajah Ibu Sumi langsung berseri-seri.

"Bayu! Kamu datang lagi!"

Raka memeluk ibunya lama. Lalu, dengan hati-hati, ia menceritakan semuanya. Tentang surat wasiat ayahnya. Tentang tanah di Tanak Awu. Tentang Bidan Rohani.

Ibu Sumi mendengarkan dengan mata membesar. Ketika Raka selesai, perempuan tua itu duduk di tepi berugak dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ibu Rohani," bisiknya. "Ya Allah, Ibu Rohani…"

"Ibu kenal dia?" tanya Aina.

"Kenal?" Ibu Sumi menurunkan tangannya. Matanya basah. "Dia satu-satunya orang yang masih mau menjadi temanku setelah semua orang di desa ini menjauhiku. Setiap Jumat dia datang ke sini membawakan beras dan gula. Dia yang mengajariku membaca surat-surat dari kantor desa. Dia juga yang menyuruhku membetulkan KTP-ku bulan lalu."

Aina tertegun. "Dia yang menyuruh Ibu?"

"Iya. Katanya KTP-ku harus benar. Siapa tahu suatu hari anakku mencariku." Ibu Sumi tertawa kecil di sela tangisnya. "Aku kira dia hanya menghibur. Ternyata dia tahu sesuatu."

Aina merasakan bulu kuduknya berdiri. Kalimat yang dulu ia dengar di loket, yang ia anggap aneh, ternyata bukan hanya harapan seorang ibu tua. Kalimat itu adalah pesan dari seseorang yang selama bertahun-tahun diam-diam menyiapkan jalan pulang bagi Bayu.

"Di mana rumah Ibu Rohani?" tanya Raka.

"Di Desa Mertak. Dia tinggal bersama cucunya di dekat pantai." Ibu Sumi berdiri dengan tergesa-gesa. "Aku ikut, Aku harus ikut."

Rumah Bidan Rohani berdiri di ujung sebuah jalan kecil yang dikelilingi pohon kelapa. Rumah itu sederhana, berdinding papan bercat biru muda. Di terasnya ada sebuah kursi kayu tua, dan di kursi itu duduk seorang perempuan yang sangat tua.

Rambutnya sudah putih seluruhnya, dan tubuhnya kurus. Tetapi matanya masih tajam. Ketika mobil berhenti, Ibu Sumi turun lebih dahulu, perempuan tua itu tersenyum lebar.

"Sumi," sapanya. "Ini bukan hari Jumat. Ada apa kamu datang ke sini?"

Lalu pandangannya bergerak ke belakang Ibu Sumi. Ia melihat Raka. Senyumnya perlahan memudar. Tangannya yang keriput mencengkeram lengan kursi.

Untuk beberapa saat, ia hanya menatap wajah Raka tanpa berkata apa-apa.

"Wajahmu persis ayahmu," katanya akhirnya. "Tapi matamu mata ibumu."

Raka berlutut di depan kursi kayu itu dan mencium tangan perempuan tua tersebut. "Ibu Rohani, saya Bayu."

"Aku tahu Nak," Bidan Rohani mengusap kepala Raka dengan lembut. "Aku sudah menunggumu selama tiga puluh tahun lebih. Aku yang pertama kali menggendongmu waktu kamu lahir. Kamu menangis keras sekali. Ibumu tertawa mendengarnya."

Ibu Sumi menangis tersedu-sedu di samping mereka.

Setelah semua orang duduk di teras, Bidan Rohani meminta cucunya mengambilkan sesuatu dari dalam rumah. Gadis remaja itu kembali membawa sebuah kaleng biskuit tua bergambar bunga mawar. Catnya sudah mengelupas di beberapa bagian.

"Wiradana meninggal lima belas tahun lalu," kata Bidan Rohani. "Beberapa tahun kemudian, aku mendengar tanah di Tanak Awu tiba-tiba menjadi milik Mustiadi. Aku tidak percaya. Wiradana pernah bercerita kepadaku bahwa tanah itu ia siapkan untuk Bayu dan ibunya."

Ia membuka tutup kaleng itu perlahan.

"Jadi aku mencari tahu. Aku mengenal istri Mustiadi. Dulu aku yang menolongnya melahirkan Sekar." Ia melirik Sekar dan tersenyum. "Suatu hari, ketika aku datang memeriksa ibumu yang sedang sakit, aku melihat kunci lemari besi di bawah pot bunga. Aku tahu itu salah,Tetapi aku lebih tahu bahwa yang dilakukan ayahmu jauh lebih salah."

Sekar menunduk, Ia tidak marah. Ia hanya mengangguk pelan.

Dari dalam kaleng, Bidan Rohani mengeluarkan dua buah amplop cokelat yang sudah menguning. Salah satunya tebal, dengan cap materai di sudutnya. Yang lain tipis, tanpa tulisan apa pun di bagian depan, hanya sebuah nama yang ditulis dengan tangan.

"Untuk Bayu"

"Ini surat wasiat itu," katanya sambil menyerahkan amplop tebal kepada Hamdan. "Dan yang ini…" Ia menyerahkan amplop tipis kepada Raka. "Ini surat dari ayahmu. Surat itu terselip di dalam amplop wasiat. Aku tidak pernah membukanya. Surat itu bukan untukku."

Raka menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Ia menatap tulisan di depannya lama sekali. Tulisan tangan yang ia kenal sejak kecil. Tulisan yang dulu menandatangani rapor sekolahnya setiap akhir semester.

Raka langsung membuka amplop itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada selembar kertas yang dilipat dua.

Raka membukanya, lalu membaca baris pertama dengan suara bergetar.

"Bayu anakku, Kalau surat ini sampai kepadamu, berarti kamu sudah tahu siapa ibumu yang sebenarnya. Maafkan ayahmu. Seumur hidupnya, ayahmu terlalu takut untuk memilih."

Raka berhenti membaca. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Aina.

Kalimat itu adalah kalimat yang sama yang pernah Aina lemparkan kepadanya di ruang tamu rumah mereka. Kalimat tentang lelaki yang tidak pernah berani memilih.

1
falea sezi
si aina di jadikan ban serep saat istri. pertama gugat cerai🤣 najis amat bloon
niaww
semngat kak mampir cerita aku juga ya🥰
falea sezi
pake pengacara lah bodoh
falea sezi
🤣🤣🤣 goblok si aina suami berbagi aja dia mau
Emily: kesel ya klo ada istri oon
total 1 replies
falea sezi
cerai aina bloon🤣
falea sezi
cerai aina enak y berbagi batangan satu itu🤣🤣 cari batangan yg gk usah di bagi😒 begooo🤭
falea sezi
aina tololl menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!