"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Ampun, Mayor!
"Alasan!" potong Vina seraya mengibaskan tangannya di udara, tertawa geli melihat kegugupan kaku Sang Mayor. "Beli sesuatu apaan? Om berdiri dari tadi di stan arum manis cuma ngeliatin saya lempar gelang!Ketahuan ngebuntut kan, Om? Ngaku aja Om!"
Ita yang menyusul di belakang Vina menutupi mulutnya rapat-rapat, menahan erupsi tawa konyol yang hampir meledak melihat wajah perwira Batalyon yang kini merah padam dipojokkan di tengah keramaian pasar malam.
"Saya tidak membuntut!" tegas Yudhana, suaranya sedikit melengking kaku, mencoba merebut kembali sisa wibawanya. Pria itu menyilangkan tangan di dada, memalingkan wajahnya ke arah stan arum manis. "Saya cuma ... mau beli arum manis!"
Vina membelalakkan matanya dengan raut wajah terkejut yang dibuat-buat, lalu meledak dalam tawa renyah yang sangat mengejek.
"Bwahahaha! Om-om kaku berseragam demennya makan arum manis merah jambu?!" tawa Vina membumbung tinggi, menunjuk wajah Yudhana dengan ujung boneka beruangnya. "Ya ampun, kontras amat gaya, Om! Muka kenceng kayak papan pengumuman tapi jajannya gulali kapas! Kocak banget Om!"
Beberapa warga di sekitar stan ikut terkekeh pelan mendengarkan ejekan santai Vina.
Yudhana merasa darahnya tersentak naik ke kepala. Harga dirinya sebagai perwira menengah hancur berkeping-keping di atas tanah becek pasar malam. Namun entah mengapa, di balik rasa malu dan hangat yang membakar pipinya, ada desir aneh yang mendadak getar di dalam dadanya saat menatap tawa lepas Vina dari jarak semerah ini.
Pria penjual arum manis dengan sigap membungkuskan satu tangkai gulali kapas berwarna merah jambu segar, lalu menyodorkannya pada Yudhana. "Ini Mas, arum manisnya. Dua belas ribu."
Yudhana terpaku kaku. Mau tidak mau, demi menyelamatkan alibi dan gengsinya, pria tegap itu merogoh saku celananya, menarik selembar uang lima puluh ribuan, lalu menyambar tangkai arum manis merah jambu itu dengan gerakan sangat kaku.
"Nih," sentak Yudhana, menyodorkan tangkai gula-gula kapas merah jambu itu tepat ke depan muka Vina.
Vina menghentikan tawanya, menatap gulali kapas itu lalu menatap wajah Yudhana dengan dahi berkerut heran. "Apaan nih?"
"Buat kamu," gumam Yudhana datar, memalingkan pandangannya ke samping untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. "Biar mulut kamu berhenti ngoceh dan ketawa-tawa tidak jelas di depan orang banyak."
Vina menatap tangkai arum manis itu sejenak, lalu menyambarnya dengan senyum lebar yang sangat tulus—senyum manis tanpa beban yang seketika menghentikan detak napas Yudhana selama dua detik penuh.
"Makasih ya, Om Kaku!" ujar Vina santai, langsung mencubit gumpalan gula merah jambu itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. "Lumayan, dapet jajanan gratis dari bapak kos!"
Vina lalu memutar tubuhnya, menggandeng lengan Ita seraya berjalan menjauh menuju arah keluar pasar malam. "Ta, ayo balik! Udah kenyang gue, lagian kasihan Si Om nanti makin merah mukanya kayak arum manis ini!"
Yudhana berdiri mematung di tengah kerumunan pasar malam. Matanya yang pekat menatap punggung Vina yang berjalan santai menjauh, melompat-lompat kecil menghindari genangan air dengan sandal jepit hijaunya. Pria tegap itu menyentuh dadanya sendiri yang berdetak agak kencang dari biasanya.
***
Keesokan siang hari...
Dengung halus pendingin udara berkapasitas besar mengisi keheningan kaku di Ruang Rapat Utama Markas Komando Batalyon. Lembar-lembar berkas laporan evaluasi triwulan tertumpuk rapi di atas meja kayu panjang yang dipoles mengkilap, sejajar presisi dengan papan nama akrilik para perwira staf.
Di ujung meja, Komandan Batalyon sedang menyampaikan arahan dengan nada tegas dan ritmis. Semua perwira yang duduk melingkar menyimak dengan saksama, menunduk seraya mencatat poin-poin penting di buku saku masing-masing.
Kecuali Mayor Yudhana.
Pria tegap berseragam dinas harian lengkap itu duduk kaku di kursinya. Pena berinti tinta hitam di jemari kanannya tertahan di atas kertas kosong, tak bergeser sepundak pun selama lima belas menit terakhir. Manik mata pekatnya menatap lurus ke arah tumpukan berkas di depannya, namun pikirannya mengembara jauh—terlempar ke bayangan perempuan bersandal jepit hijau yang tadi malam mengejeknya di tengah kerumunan pasar malam sambil mengunyah arum manis merah jambu.
Om-om kaku berseragam demennya makan arum manis merah jambu?!
Kalimat itu berulang-ulang bergaung di kepalanya seperti kaset rusak, membakar ujung telinganya hingga memerah panas di balik tatanan rambut perwiranya yang klimis.
"Ehem."
Bisikan halus dari kursi sebelah kiri mengejutkannya. Kapten Danu, Perwira Seksi Operasi yang duduk di sampingnya, memiringkan tubuh sedikit seraya berpura-pura meneliti berkasnya.
"Komandan," bisik Danu sangat pelan, hampir tak terdengar oleh jajaran perwira lain. "Kerah baju Komandan ... lipatan sebelah kirinya melipat ke dalam."
Yudhana tersentak tipis. Tangannya refleks terangkat menyentuh kerah kaku kemeja dinasnya. Benar saja, lidah kerah sebelah kirinya melipat canggung di bawah tanda pangkat satu melati—sebuah kecerobohan penampilan kecil yang tidak pernah sekalipun terjadi sepanjang karier militernya. Kecerobohan akibat pikirannya yang kalut saat bersiap-siap tadi pagi, membayangkan Vina yang sedang tidur terlentang di kamar utama sambil menyetel TV volume tinggi.
Yudhana buru-buru merapikan lipatan kerahnya, berusaha menguasai raut wajah kaku dan berwibawa di depan bawahannya.
Namun, derita Sang Mayor belum selesai. Usai rapat komando dibubarkan dan Komandan Batalyon melangkah keluar ruangan, beberapa perwira muda berkumpul di sudut ruangan dekat dispenser air minum. Bisikan-bisikan halus dari mereka merayap tipis, menembus pendingin udara yang dingin.
"Eh, kamu dengar cerita kemarin sore tidak?"
"Soal apa? Ibu Komandan?"
"Iya! Katanya Bu Vina kemarin santai banget duduk bersila di teras sambil makan es lilin sama anak-anak motor. Terus waktu Komandan pulang, Bu Vina cuma panggil beliau 'Om Kaku'! Para ibu Persit di komplek sampai heboh membicarakan!"
"Masa sih? Tapi Bu Vina kelihatan lebih segar dan aktif ya sekarang, tidak seperti dulu yang murung terus ...."
Klek.
Yudhana menutup map cokelatnya dengan entakan keras yang disengaja. Desah napas berat dan tajam meluncur dari hidungnya. Suara entakan map itu seketika memotong bisikan para perwira muda di sudut ruangan; mereka buru-buru berdiri tegap, memberi hormat kaku, lalu berhamburan keluar dari ruang rapat dengan raut wajah panik.
Yudhana berdiri sendirian di ruang rapat yang hampa. Wibawanya yang selama setahun ini dibangun kokoh dan steril di Batalyon kini koyak berantakan di tangan perempuan dua puluh tahun yang jiwa barbarnya kembali ke masa SMA.
Rasa malu, kejengkelan, dan gengsi yang membumbung tinggi membuat Yudhana menyambar tas komandonya kaku, melangkah tegap menuju mobil dinasnya untuk pulang lebih awal. Ia harus menuntaskan hal ini. Vina harus diberi pengertian keras soal etika dan batas-batas publik sebagai istri perwira menengah!
Alhamdulillah 🤲