Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi itu rumah keluarga Ayodhya digemparkan oleh teriakan Baskoro dari ruang tengah.
Pria paruh baya itu berdiri mematung di depan meja kaca dengan mata melotot.
Di atas meja itu terdapat sebuah pot keramik berisi pohon bonsai beringin.
Pohon yang sudah mati selama lima tahun itu kini berdaun lebat dan sangat hijau.
"Arini, apa yang terjadi pada pohon ayahku ini?" teriak Baskoro memanggil istrinya.
Arini berjalan keluar dari dapur sambil tersenyum lebar.
Dia meletakkan dua cangkir teh hangat di meja dan menatap suaminya yang masih kaget.
"Aku menemukannya di rumah kaca kemarin sore Mas," jawab Arini tenang.
"Lula sedang tidur di sebelahnya, dan tiba-tiba saja pohon ini hidup kembali."
Baskoro menyentuh daun hijau itu dengan tangan bergetar.
Pohon ini adalah peninggalan terakhir ayahnya sebelum meninggal dunia.
Dulu dia sudah menghabiskan ratusan juta untuk menyewa ahli tanaman tapi tidak ada hasilnya.
"Anak itu benar-benar keajaiban yang dikirim Tuhan untuk keluarga kita," gumam Baskoro terharu.
Dia kini sepenuhnya yakin bahwa keputusan mengadopsi Lula adalah hal terbaik dalam hidupnya.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki kecil terdengar menuruni tangga.
Lula berjalan turun mengenakan gaun kuning cerah yang baru dibelikan Arini kemarin.
Di rambut hitamnya terpasang jepit berbentuk kelinci berwarna merah muda.
"Pagi Papa, pagi Mama," sapa Lula dengan ceria.
Baskoro langsung berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.
Lula tertawa dan berlari memeluk ayah angkatnya itu.
"Pagi putri Papa yang cantik, kamu tidur nyenyak semalam?" tanya Baskoro lembut.
Lula mengangguk cepat sampai jepit kelincinya ikut bergoyang.
"Nyenyak sekali Pa, kasurnya empuk seperti roti."
Dari arah belakang, Adrian berjalan menuju pintu utama sambil merapikan dasinya.
Langkah pemuda jangkung itu terhenti saat melihat jepit kelinci di rambut Lula.
Sudut bibir Adrian berkedut menahan senyum puas.
"Wah Lula, jepit rambutmu bagus sekali," puji Arini yang baru menyadarinya.
"Kamu dapat dari mana nak? Mama rasa Mama tidak membelikan yang seperti itu."
Lula menoleh dan langsung menunjuk ke arah Adrian yang sedang berdiri kaku.
"Itu hadiah dari Kak Adrian semalam," jawab Lula polos.
Baskoro dan Arini serempak menoleh ke arah putra sulung mereka dengan tatapan menggoda.
Wajah dingin Adrian langsung memerah sampai ke telinga.
Dia buru-buru mengambil tas kerjanya di atas kursi.
"Itu cuma barang sampah yang dikasih orang, jangan melebih-lebihkan," elak Adrian ketus.
"Aku berangkat kerja dulu, ada banyak urusan di kantor."
Blam.
Pintu rumah ditutup dengan sedikit keras oleh Adrian.
Baskoro tertawa terbahak-bahak melihat tingkah gengsi anaknya itu.
"Dasar tsundere, dia persis sekali denganmu waktu muda Mas," goda Arini.
Baskoro hanya tersenyum dan kembali menatap bonsai beringin kesayangannya.
Siang harinya matahari bersinar tidak terlalu terik karena tertutup awan putih.
Cakra yang hari ini pulang sekolah lebih awal langsung mengajak Lula pergi keluar.
Mereka berjalan kaki menuju taman bermain yang ada di dalam komplek perumahan elit itu.
"Lula mau main ayunan atau perosotan?" tanya Cakra sambil memegang tangan adiknya.
Lula menunjuk ke arah ayunan besi yang kosong di sudut taman.
"Lula mau ayunan Kak Cakra, ayun yang tinggi ya."
Cakra mendudukkan Lula di ayunan dan mendorongnya pelan dari belakang.
Lula tertawa lepas menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
Sudah lama sekali dia tidak merasakan kebebasan seperti ini.
Kring kring.
Ponsel di saku celana Cakra berbunyi nyaring.
Cakra merogoh sakunya dan melihat nama teman satu tim basketnya di layar.
"Lula tunggu di sini sebentar ya, Kakak mau angkat telepon dari teman dulu."
"Tunggu di sini jangan ke mana-mana oke?" pesan Cakra serius.
Lula mengangguk mengerti.
Cakra kemudian berjalan agak menjauh ke arah bangku taman agar suaranya terdengar jelas.
Lula mengayunkan kakinya pelan sambil bersenandung kecil.
Tiba-tiba ada tiga orang anak laki-laki seumuran SD yang berjalan mendekati ayunan Lula.
Mereka memakai baju mahal dan membawa sepeda lipat yang terlihat mewah.
Anak laki-laki yang paling besar berhenti di depan ayunan dan menatap Lula dengan sinis.
"Hei anak gembel, turun dari ayunan itu," perintah anak bertubuh gendut itu kasar.
"Kami mau main di situ, kamu cari tempat lain saja."
Lula menghentikan ayunannya dan menatap ketiga anak itu dengan bingung.
"Tapi Lula duluan yang duduk di sini," jawab Lula sopan.
Anak laki-laki yang kurus maju dan menunjuk wajah Lula.
"Kamu anak pungut yang dibawa Tante Arini dari jalanan kan?" ejeknya.
"Ibuku bilang kamu itu cuma anak sampah yang beruntung, jadi jangan sok berkuasa di komplek ini."
Lula menundukkan kepalanya mendengar kata sampah.
Hatinya terasa sakit tapi dia sudah terbiasa mendengar ejekan seperti ini saat di jalanan dulu.
Lula memilih diam dan berniat turun dari ayunan untuk mengalah.
Namun saat Lula menatap wajah anak gendut itu, dia melihat sesuatu.
Ada asap tipis berwarna abu-abu yang melayang di atas kepala anak itu.
Asap itu perlahan bergerak turun ke arah lutut kirinya.
"Awan abu-abu," gumam Lula pelan.
Lula tahu itu adalah tanda kesialan yang akan segera terjadi.
"Hei anak gendut, lutut kirimu nanti bisa berdarah kalau kamu nakal," peringat Lula dengan polos.
Anak gendut itu melotot marah mendengar ucapan Lula.
"Kamu berani memanggilku gendut dan menyumpahiku berdarah?" bentaknya.
Anak gendut itu melangkah maju dan mengangkat tangannya berniat mendorong bahu Lula.
Lula memejamkan mata karena ketakutan.
Wusss. Brak!
Sebuah botol minuman plastik melayang deras dari arah belakang dan menghantam kepala anak gendut itu.
"Aduh! Siapa yang melempar botol ini?" teriak anak gendut itu sambil memegangi kepalanya yang sakit.
Lula membuka matanya dan melihat sosok tidak asing berjalan mendekat.
Itu adalah Dewa.
Pemuda berseragam SMP itu berjalan santai dengan tangan di dalam saku celana.