NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Malam Badai di Tepi Sungai

Hujan turun sejak sore, Hujan itu sangat deras dan tanpa jeda seolah langit di atas Desa Karang Sewu sedang menumpahkan seluruh dukanya.

Andien menyeret keranjang cuciannya menyusuri jalan setapak yang licin. Rambutnya yang dikepang satu basah kuyup, kain jaritnya menempel di betis. Ia seharusnya sudah pulang sejak tadi, tetapi Mbok Darmi sang pemilik warung tempatnya membantu memintanya menunggu hujan reda. Namun meski Andien tengah lama menunggu hujan reda hujan malah bukannya reda tetapi semakin deras turun. Andien memikirkan ibu-nya dirumah yang sudah pasti cemas.

Karena hujan tak kunjung reda, Andien nekad untuk menerobos hujan tersebut.

"Sedikit lagi, Dien," gumamnya pada diri sendiri. "Sedikit lagi sampai."

Jalan yang Andien lewati sangat sepi, Bagaimana tidak sepi jalan itu melewati tepi sungai serta malam yang kian bergemuruh, airnya pun cokelat keruh dan meluap menjilat akar-akar bambu. Andien biasanya tak pernah menoleh ketika melewati sungai itu, Namun Entah mengapa pada malam itu Andien mengabaikan pesan almarhum sang ayah yang mengatakan: *sungai itu baik hati kalau siang, tapi jangan percaya kalau malam.*

Andien yang mendengar seperti deru air, Tetapi bukan suara air. Semakin lama Andien berjalan, Suara itu terdengar semakin nyata. Hal itu bukannya membuat Andien semakin ketakutan tetapi membuatnya semakin penasaran. Saking penasarannya, Andien berjalan semakin mendekat ke arah suara itu. Semakin lama Andien berjalan suara itu semakin jelas.

Suara itu terdengar seperti sebuah erangan. Lirih, patah-patah, nyaris tenggelam oleh hujan.

Andien yang mendengar suara itu semakin jelas seketika menghentikan langkahnya. Setelah langkahnya terhenti, Jantungnya tiba-tiba berdegup keras. Semakin lama Andien berada disana, Suara yang Ia dengar semakin jelas. Mendengar suara itu semakin jelas, Andien pun menajamkan telinganya.

Erangan itu terdengar semakin jelas dari arah rumpun bambu di tepi sungai tersebut.

"Apa aku pulang saja!"bisik logikanya. "Mungkin cuma angin atau mungkin binatang."

Meski awalnya Andien ragu untuk melangkahkan kaki kembali, Namun tina-tiba kakinya bergerak sendiri. Lalu Andien pun meletakkan keranjang di bawah pohon randu, menyibak semak-semak, dan menahan napas.

Di sana Andien melihat seorang pria tergeletak dengan tubuh setengah terendam lumpur dan air.

"Ya Allah!" Andien terpekik, lalu buru-buru menutup mulutnya sendiri.

Pria itu mengenakan kemeja putih yang kini merah kecokelatan oleh darah dan lumpur. Wajahnya tampak pucat, bibirnya membiru, dan di bahu kirinya ada luka yang menganga. Rahangnya tegas, alisnya tebal, Namun sayangnya pria itu dalam kondisi sekarat.

Andien yang syok melihat pria yang tengah sekarat itu Lalu seketika berlutut, tangannya gemetar ketika menyentuh leher pria itu. Ada denyut, lemah tetapi masih ada.

"Mas? Mas, dengar saya?"

Kelopak mata pria itu bergetar. Perlahan terbuka, memperlihatkan sepasang mata gelap yang kosong dan penuh kesakitan. Mata itu menatap Andien, seperti menatap sesuatu yang jauh.

"Jangan..."Terdengar suara pria itu serak, nyaris tak terdengar. "Jangan... panggil siapa pun... Mereka... ingin aku mati..."

"Siapa, Mas? Siapa yang..."

"Jangan percaya... siapa pun..."

Kepalanya terkulai. Tubuhnya lunglai.

"Mas! Mas!" Andien mengguncang pelan bahu pria itu namun nyaris tak ada jawaban.

Ia Lalu terdiam sesaat. Hujan yang terus menerus turun tanpa henti itu mengguyur punggungnya. Di kejauhan, petir menyambar dan sekilas menerangi hamparan sawah.

Seharusnya Andien memanggil Pak Lurah, atau Mantri Sapto di ujung desa. Tetapi kalimat terakhir pria itu menggema di kepalanya: "Jangan panggil siapa pun." Menurut Andien seseorang yang sekarat tidak berbohong tentang hal seperti itu.

Kemudian Andien tampak menggigit bibir, lalu mengambil keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.

"Tahan ya Mas," bisiknya. "Saya bawa Mas pulang."

 

Gubuk bambu itu hanya berdinding anyaman dan beratap seng berkarat, berdiri di ujung desa, agak terpisah dari rumah-rumah lain. Tak lama kemudian Andien pun tiba dengan napas tersengal di sebuah gubuk bambu miliknya. Sebelum sampai ke gubuk miliknya itu, Andien membawa pria itu dengan cara memapah dan setengah menyeret tubuh sang pria itu sejauh hampir satu kilometer. Bahunya perih, lututnya lecet, tetapi ia tak berhenti.

"Ibu!" serunya dari ambang pintu.

Bu Rukmini, yang sedang menyalakan pelita di dipan, hampir menjatuhkan korek apinya melihat Andien pulang dengan membawa seorang pria yang tak berdaya. Perempuan paruh baya yang kurus dan batuk-batuk itu terbelalak melihat putrinya terhuyung masuk membawa seorang lelaki asing berlumuran darah.

"Dien! Siapa itu? Apa yang kamu..."

"Nanti Dien jelaskan, Bu. Tolong, ambilkan air hangat dan kain bersih! Cepat sedikit bu!"

Dengan cepat, Ibu Rukmini pun segera Ia bergegas mengambilkan air hangat dan kain yang diminta sang putri.

Setelah itu, Mereka pun membaringkan pria itu di balai-balai bambu. Andien merobek kemeja yang lengket oleh darah, Lalu menahan napas sesaat ketika mengobati luka pria itu. Luka pria itu tak seperti luka jatuh atau terkena batu karena Luka yang terlihat pada pria itu tepinya rapi, tetapi agak dalam luka itu dan cenderung lurus.

"Ini luka bacok Dien," Kata Bu Rukmini pelan, wajahnya menegang. "Atau tusukan, Orang ini bukan korban kecelakaan."

"Dien tahu, Bu."

"Kita harus lapor ke..."

"Bu, Jangan dilaporkan!" Andien menatap ibunya dengan tatapan yang tampak memelas, matanya basah namun teguh.

"Nak, Nanti apa kata orang kalau ada yang tahu akan hal ini! " Ujar bu Rukmini dengan lembut

"Ibu Percaya kan sama Andien?" Andien tampak menyakinkan sang Ibu

"Bukan Ibu enggak percaya, Tetapi ini bukan hal sepele".

"Bu Andien yakin semuanya akan baik-baik saja, "Andien berbicara begitu bukan tanpa alasan, Ia sangat yakin pria yang tengah sekarat itu dalam bahaya besar sehingga berniat untuk melindunginya.

Melihat keyakinan sang putri membuat hati bu Rukmini perlahan luluh sehingga beliau percayakan semuanya pada Andien, Meskipun dalam hati masih was-was untuk menyimpan orang asing dalam gubuk miliknya itu.

Setelah itu, Bu Rukmini menatap putrinya sangat lama, Wanita tua itu sangat menghawatirkan putrinya itu. Keputusan yang diambil putrinya itu suatu saat akan jadi membawa masala, Hal itu yang sangat ditakutkan oleh bu Rukmini.

Seusai menatap sang putri dengan waktu yang lama, Ibu Rukmini pun berbalik menatap pria yang tergeletak itu. Melihat pria yang tengah terbaring lemah tak berdaya, Tiba-tiba ingatan bu Rukmini tertuju pada mendiang almarhum suaminya. Wanita tua itu masih ingat betul sebuah peristiwa ketika sang suami menghembuskan napas terahir. Saat itu Ibu Rukmini benar-benar merasa kehilangan separuh hidupnya, Sehingga bu Rukmini tak mau pria itu bernasib sama dengan almarhum suaminya meskipun pria itu hanyalah orang asing yang tiba-tiba masuk dalam kehidupan putrinya.

"Ambil daun sirih dan kunyit di belakang," Perintah bu Rukmini "Ibu yang bersihkan lukanya. Kamu rebus air."

"Baik bu, " Andien menganggukkan kepalanya lalu segera berjalan ke arah belakang untuk merebus air sekalian mengambil daun sirih serta kunyit.

Sepanjang malam terlihat dua perempuan itu bergantian menjaga. Karena luka pria itu sangat parah, Pria itu mengalami demam. Lalu Andien pun mengompres dahi pria yang tengah demam itu.

Menjelang subuh, ketika hujan mulai reda dan ayam jantan pertama berkokok, Andien tertidur di lantai tanah dengan kepala bersandar di tepi balai-balai.

Saking pulasnya Andien tertidur, Bahkan Ia tak sadar pada saat itu jari-jari pria asing itu bergerak pelan, lalu menggenggam ujung kain jaritnya, seolah takut ditinggalkan.

 

Tiga hari berlalu sebelum pria itu benar-benar sadar. Andien terlihat sedang menumbuk jamu ketika ia mendengar suara dari dalam.

"Di mana... ini?"

Ia berlari masuk, Lalu terlihat Pria itu sudah setengah bangkit, tangannya mencengkeram tepi balai-balai, matanya liar seperti tengah menyapu ruangan sempit itu. Selain itu, Otot rahangnya mengeras seperti binatang yang terpojok.

"Jangan bergerak dulu Mas, nanti lukanya terbuka." Andien mengangkat kedua tangan lalu bergerak pelan berjalan mendekat ke arah pria itu. "Mas aman di sini! Ini rumah saya, di Desa Karang Sewu. Saya yang menemukan Mas di tepi sungai."

Tatapan tajam pria itu menelitinya dari ujung kepala sampai kaki. Pria itu terus memperhatikan gadis kurus berkulit sawo matang, berkebaya lusuh, rambut dikepang, tangan penuh ampas jamu. Namun Perlahan-lahan, ketegangan di bahu pria itu mengendur.

"Kamu... yang membawaku ke sini?" Tanya pria itu tiba-tiba. Lalu Andien hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.

"Kamu tinggal dengan siapa disini? "

"Dengan Ibu saya, Mas."

"Kamu tidak memanggil polisi kan? Tidak ada yang tahu aku di sini?"

"Mas bilang jangan panggil siapa pun." Andien menunduk, tiba-tiba malu. "Jadi saya tidak panggil."

Pria itu terdiam lama, Tiba-tiba Ada sesuatu yang aneh melintas di wajahnya, antara keheranan dan sesuatu yang lebih dalam, seperti seseorang yang sudah lupa rasanya dipercaya.

"Siapa namamu?"

"Andien, Mas."

"Andien." Ia mengucapkannya dengan sangat pelan kata itu. "Aku Carlo."

Hanya itu yang diucapkan pria itu, Pria yang baru sadar itu tak menjelaskan tentang keluarganya, tak memberikan penjelasan tentang siapa yang melukainya, Terlebih pria itu tak memberi tahu kan Andien tentang tempat tinggalnya. Oleh karena sang pria tak memberitahukan Andien apa-apa selain nama sehingga Andien pun tak bertanya apa pun pada pria itu. Setelah itu Andien pun mengambil mangkuk bubur dari tungku dan memberikannya pada pria yang baru sadar itu.

"Makan dulu Mas Carlo,Sudah hampir tiga hari mas tidak makan! " Ucap Andien

Carlo pun menerima bubur yang diberikan Andien itu, Namun tangan Carlo masih terlihat gemetar ketika Andien melangkah mendekatinya. Apalagi Saat jari mereka bersentuhan sekilas, Andien merasakan getar aneh yang merambat di lengannya. Andien pun dengan cepat menarik tangan dan berbalik, Lalu pura-pura sibuk dengan tumbukan jamu, berharap pria itu tak melihat pipinya yang memerah.

Sementara itu di belakangnya, Terlihat Carlo yang terus menerus menatap punggung gadis itu sambil menyendok bubur pelan-pelan. Pandangan matanya sulit dibaca.

Di dunia yang baru saja mencoba membunuhnya, gadis desa ini adalah satu-satunya orang yang menolongnya tanpa meminta apa pun.

Hal itu entah mengapa membuatnya takut. Bukan karena gadis itu berbahaya, tetapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Carlo Prasetya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan tanpa menghancurkannya.

 

*Bersambung ke Bab 2...*

 

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!