Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Mesin mobil hatchback hitam kesayangan Alana menderu halus, memecah kesunyian jalanan kompleks perumahan elit yang baru saja ia tinggalkan. Tangan Alana yang menggenggam kemudi terasa begitu kokoh, meski di dalam dadanya ada guncangan emosi yang luar biasa dahsyat. Mobil ini bukan sekadar alat transportasi; ini adalah kendaraan yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri sewaktu toko kuenya mulai berkembang, sebuah simbol kemandirian kecil yang pernah ia perjuangkan di tengah impitan kedinginan rumah tangga bersama Gema.
Spion tengah mobil memantulkan gerbang tinggi rumah berarsitektur tropis itu yang makin lama makin mengecil, lalu akhirnya lenyap di balik tikungan jalan.
Alana tidak meneteskan air mata sama sekali. Rasanya aneh. Setelah enam tahun menampung seluruh rasa sakit, penolakan terselubung, dan rasa tidak dianggap, air matanya seolah telah mengering sepenuhnya saat ia melangkah keluar dari pintu jati rumah tersebut. Yang tersisa di dalam dirinya hanyalah ruang kosong yang hampa, namun anehnya terasa sangat lega.
Alana menepi sejenak di bahu jalan raya yang agak lengang. Ia mematikan mesin mobil, menyandarkan punggungnya ke jok kulit, dan memejamkan mata rapat-rapat. Suara bising kendaraan yang lalu-lalang di luar terdengar seperti bisikan jauh.
Dalam keheningan itu, wajah Tania mendadak terbayang di pelupuk matanya. Senyum polos gadis kecil itu, tawa renyahnya saat Alana membuatkan kue kesukaannya, dan pelukan hangat jemari mungilnya setiap kali Alana membacakan dongeng sebelum tidur.
Dada Alana mendadak teremas hebat. Rasa nyeri yang teramat sangat menjalar dari ulu hati hingga menembus tenggorokannya.
Ia tahu betul, keputusannya untuk pergi dan menghilang sementara waktu adalah sebuah langkah yang sangat kejam bagi Tania. Tania tidak bersalah dalam perang dingin antara dirinya dan Gema. Tania adalah jiwa suci yang selama ini menyinari harinya yang kelam. Namun, Alana juga sangat sadar akan posisinya. Jika ia tetap menampakkan diri di hadapan Tania saat ini, jika ia tetap hadir sebagai sosok 'Bunda' yang mengusap kepalanya setiap malam, ketetapan hatinya akan runtuh dalam hitungan detik.
Keluarga Gema yang rumit, serta ibunya sendiri yang selalu menuntut, pasti akan menggunakan Tania sebagai senjata emosional utama untuk merantai Alana kembali ke dalam sangkar emas itu. Mereka akan memanipulasi rasa bersalah Alana, memaksa Alana mengalah demi kebaikan anak dan menyuruhnya mengubur impian serta martabatnya kembali.
Maafkan Bunda, Tania... batin Alana menjerit pilu. Bunda butuh waktu untuk menjadi utuh. Bunda tidak bisa terus-menerus memberikan kasih sayang dari jiwa yang hancur dan berdarah.
Alana mengepalkan tangannya di atas lingkar kemudi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya setelah bertahun-tahun selalu mengalah, selalu mendahulukan kebahagiaan orang lain, selalu menjadi anak yang menurut dan istri yang penurut Alana ingin memilih dirinya sendiri. Ia ingin menjadi manusia yang egois, walau hanya untuk sementara waktu. Ia butuh mengisolasi dirinya dari dunia, menyelesaikan seluruh proses hukum perceraian dengan Gema secara tuntas, dan memantapkan hatinya agar tidak ada lagi celah untuk kembali ke masa lalu yang merusak.
Alana menghela napas panjang, lalu membuka matanya. Ia merogoh tas tangannya, mengambil ponsel, dan menekan satu nama di daftar kontak.
Maya.
Maya bukan sekadar Kepala Koki di Lumiere Bakehouse. Bagi Alana, Maya adalah benteng pertahanan, sosok sahabat sejati yang paling memahami setiap tetes keringat dan air mata yang Alana curahkan untuk membangun toko kue itu dari nol. Maya adalah orang pertama yang melihat bagaimana Alana menangis sesenggukan di dapur belakang toko saat perlakuan dingin Gema berada di titik terparah.
Nada sambung hanya berbunyi dua kali sebelum suara ramah di ujung telepon menyapa.
"Halo, Mbak Alana? Ada apa Mbak? Dapur aman kok, pesanan chiffon cake untuk sore ini sudah masuk oven semua," panggil Maya renyah.
Alana menggigit bibir bawahnya, menahan getaran di suaranya. "Maya... kamu lagi di toko atau di mana?"
Di ujung telepon, pendengaran tajam Maya langsung menangkap nada bicara Alana yang tidak biasa. Suara Alana terlalu pelan, terlalu berhati-hati, dan menyimpan beban berat.
"Aku di dapur belakang, Mbak. Kenapa Mbak? Mbak Alana posisi di mana sekarang? Suaranya kok beda?" tanya Maya, nadanya berubah serius dan penuh perhatian.
"May... aku baru saja keluar dari rumah Mas Gema. Surat gugatan cerai sudah aku serahkan," tutur Alana lirih.
Hening sejenak di saluran telepon. Maya menahan napasnya di ujung sana. Sebagai orang yang menyaksikan sendiri betapa Alana tersiksa secara mental selama bertahun-tahun, Maya tahu hari ini pasti akan tiba, namun ia tidak menyangka hari ini datang begitu cepat dan tegas.
"Mbak... Mbak Alana serius?" bisik Maya pelan.
"Iya, May. Aku benar-benar sudah selesai," kata Alana. "Tapi aku butuh bantuan kamu, May. Sebenarnya aku bisa saja tinggal di lantai dua Lumiere Bakehouse, tapi... kalau aku tinggal di toko, orang-orang rumah, keluarga Mas Gema, atau bahkan Mas Gema sendiri pasti akan sangat mudah melacak aku di sana. Aku butuh tempat yang benar-benar asing. Aku mau menyendiri, May. Aku tidak mau bertemu siapa pun dulu."
Maya langsung mengerti. Tempat tinggal di atas toko kue memang nyaman, tetapi terlalu terbuka untuk dilacak.
"Mbak Alana ingat kamar kos kosong di sebelah kamarku?" tanya Maya cepat. "Ibu kos baru bilang kemarin kalau kamar nomor 04 di lantai dua baru diisi seminggu tapi penghuninya mendadak pindah tugas keluar kota. Kamarnya sudah bersih, kunci serepnya ada di aku karena aku yang minta tolong pegangkan."
Mata Alana berkaca-kaca mendengar jawaban Maya. "May... boleh aku tinggal di sana untuk sementara? Aku bayar berapa pun sewanya."
"Mbak Alana ngomong apa sih pakai bayar-bayar segala?!" potong Maya dengan nada mengomel yang hangat. "Mbak langsung jalan ke kosan aku sekarang. Aku kirim lokasinya lewat WhatsApp. Aku minta izin sama supervisor dapur sebentar, lalu aku langsung pulang ke kosan menyambut Mbak!"
"Terima kasih ya, May... terima kasih banyak," bisik Alana tulus.
"Jangan nangis dulu, Mbak. Jalan pelan-pelan, nyetir mobilnya yang hati-hati. Aku tunggu di depan gerbang kosan."
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....