NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Dokter Dingin

Istri Kontrak Dokter Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dydy_ailee

Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB-18 Pengagum Lain

Sementara itu, di sisi lain rumah sakit, Damian kembali mengenakan jas putih kebanggaannya. Ruang dokter bedah pagi itu tak seramai biasanya, tapi seperti biasa, jadwal operasinya padat. Ia menatap daftar pasien di tangannya sebelum mengenakan sarung tangan steril.

“Dokter Damian, pasien tumor lambung jam sepuluh. Anda yang pegang kan?” tanya Reza junior yang berada satu tim bersama Damian.

Damian mengangguk. “Iya. Sudah aku pelajari semua riwayatnya.”

Fokus dan presisi kembali menguasai pikirannya. Tapi sesekali, bayangan gadis berambut gelombang dengan senyum polos itu menyelip di sela kesibukannya. Senyum yang kemarin begitu yakin saat menunjukkan surat pelunasan utang, mata yang bersinar bangga meski jelas menyimpan banyak kisah dalam diam. Dan entah kenapa, hal itu mulai mengganggu pikirannya—lebih dari yang seharusnya.

Di luar, Amora sedang menyusun gelas dan menyambut pelanggan dengan senyum profesional. Tapi saat tidak ada pesanan, ia sempat melirik ke arah rumah sakit.

“Sudah jam sepuluh,” gumamnya lirih. “Pasti lagi megang pisau bedah tuh si dokter sok cool.”

Ia terkekeh kecil sendiri sebelum kembali pada pekerjaannya.

Dua dunia yang berbeda itu kembali berjalan di jalurnya. Namun benang takdir sudah mulai menenun mereka dalam permainan yang tak lagi bisa ditebak akhirnya.

*********

Siang itu, setelah dua operasi berturut-turut, Damian akhirnya bisa duduk tenang di kantin. Suasana masih ramai oleh para perawat dan dokter lain yang baru sempat makan siang. Reza datang dengan nampan di tangan, lalu duduk di hadapan Damian.

“Lega banget akhirnya bisa duduk,” Reza mengeluh, menyenderkan punggung. “Tadi pas operasi kedua, saya seperti mau tumbang, Dok.”

Damian hanya mengangguk ringan sambil menyeruput teh hangat. “Makanya biasakan sarapan.”

“Siap, Dok.” Reza tertawa kecil, lalu mulai menyendok nasi.

Suasana kantin rumah sakit tak pernah benar-benar ramai, tapi siang itu cukup banyak staf medis berlalu-lalang. Damian duduk di sudut ruangan, mengenakan kaus polos setelah operasi panjang. Sepiring ayam bakar, nasi, dan sayur asem terhidang di depannya, sementara teh hangat menunggu di sisi tangan kanan.

Reza, junior sekaligus rekannya, duduk berhadapan. Usianya jelas lebih muda, tapi sudah cukup terbiasa bekerja di bawah tekanan bersamanya.

“Dokter Damian, saya masih tidak habis pikir, bagaimana bisa tumor sebesar itu diangkat tanpa komplikasi. Benar-benar clean cut,” ucap Reza sambil menyendok nasi ke mulut.

Damian hanya mengangguk ringan. “Itu sudah sesuai protokol. Tim kita juga solid.”

Reza tertawa kecil. “Bapak ini memang selalu merendah.”

Damian menoleh dengan senyum tipis. “Saya cuma bilang kenyataan.”

Sesekali matanya melirik Damian, lalu tersenyum menyeringai. “Eh, ngomong-ngomong, Dok... Saya lihat dokter sering banget ke kafe sebelah belakangan ini.”

Damian menatapnya datar. “Ada masalah?”

“Bukan... cuma penasaran aja.” Reza mencondongkan tubuh sedikit. “Apalagi... di sana ada satu pelayan yang... yah, lucu juga sih. Namanya Amora, kalau nggak salah.”

Damian tidak langsung merespons. Wajahnya tetap datar, hanya sedikit mengernyit.

“Pernah ngobrol, Dok?” Reza lanjut. “Dia tuh beda. Nggak kayak gadis pada umumnya. Gayanya ceplas-ceplos. Senyumnya tuh nyegerin banget, apalagi kalau habis shift panjang begini. Saya sempat ngobrol sebentar waktu pesen kopi. Suaranya juga enak didengar.”

Damian kembali menyendok makanan tanpa bicara.

Reza tertawa kecil, merasa seperti ngomong sendiri. “Nah, itu dia... Manis, ya?” Reza mulai menyeringai.

“Kalau suka, tinggal bilang,” sahut Damian datar. “Untuk apa kamu bicara panjang lebar padaku?”

Reza tertawa kecil, agak kikuk. “Ya, saya cuma cerita aja, Dok. Siapa tahu dokter juga notice.”

Damian menatap Reza sejenak. “Bukan tipeku juga.”

“Wah, dokter memang beda ya... semua cewek kayaknya kalah duluan sebelum mulai.”

Damian akhirnya buka suara, tenang dan dingin. “Jaga fokus kerja. Jangan sampai pasien dicuekin cuma karena kopi.”

Reza terkekeh, mengangkat tangan tanda menyerah. “Siap, Dokter Kepala.”

Damian tak menanggapi. Ia kembali melanjutkan makan dengan tenang.

Reza pun ikut diam, tapi dalam hati ia senang karena Damian tidak terlalu tertarik. Artinya, peluangnya terbuka. Ia mulai berpikir, mungkin nanti bisa mampir ke kafe itu lagi. Siapa tahu bisa ngobrol lebih banyak dengan Amora.

1
Suhartini hartini
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!