-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1
****
Pagi itu, langit di atas kota masih diselimuti warna keemasan yang lembut. Di depan pelataran gedung pencakar langit bernuansa futuristik dengan plang cermin raksasa bertuliskan Rumah Sakit Utama Wigunadi, seorang gadis berdiri terpaku. Matanya yang jernih memantulkan kemegahan bangunan di hadapannya.
Aini Zahra Wijaya menahan napas sejenak. Tangannya yang sedikit gemetaran bergerak merapikan jas putih khas mahasiswa program profesi dokter—atau yang lebih akrab disapa koas—yang baru pertama kali melekat sempurna di tubuhnya. Hijab segiempat berwarna nude yang ia kenakan terbingkai sangat rapi di wajah ayunya, memberikan kesan anggun sekaligus bersahaja.
Aini melangkah mendekati salah satu pilar berlapis kaca di dekat pintu masuk utama. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di sana. Wajah cantiknya memang menyiratkan raut sendu yang alami, namun pagi ini, ada binar semangat yang meluap-luap dari matanya.
"Kamu pasti bisa, Aini," bisiknya lirih pada pantulan dirinya di kaca, menyunggingkan senyum tipis untuk memompa keberanian. "Ini awal dari impian kamu selama ini. Jangan mengecewakan Bunda, jangan mengecewakan diri kamu sendiri. Hari pertama koas di RS Wigunadi... dimulai!"
Aini mengepalkan tangan kanannya di udara dengan pelan, mengembuskan napas panjang, lalu memutar tubuhnya untuk melangkah masuk melalui pintu kaca otomatis yang terbuka lebar.
Atmosfer di dalam RS Wigunadi terasa begitu megah sekaligus menekan. Aroma antiseptik yang khas bercampur dengan dinginnya pendingin udara yang menembus hingga ke tulang. Langkah kaki para perawat, dokter, dan staf lalu lalang dengan tempo yang sangat cepat. Semua orang terlihat memiliki urusan penting, membuat Aini semakin menyadari bahwa dunia nyata kedokteran sama sekali berbeda dengan bangku kuliah.
Karena ingin memberikan kesan pertama yang sempurna dan tidak ingin terlambat di hari pertamanya, Aini bertekad untuk menjadi anggota koas paling rajin. Setelah menerima lembar penugasan awal dan tumpukan map berkas riwayat pasien dari bagian administrasi lantai dasar, Aini langsung bergegas menuju Departemen Bedah Saraf di lantai empat.
"Satu Jam sebelum jam orientasi dimulai. Bagus, Aini! Kamu datang sangat awal," gumamnya pada diri sendiri sambil mendekap erat tumpukan berkas pasien yang cukup tebal di dadanya.
Langkah kakinya yang terbalut sepatu pantofel hitam semakin dipercepat. Saking semangatnya, ia setengah berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang bernuansa putih bersih dan temaram di beberapa sudut. Ia terus memperhatikan papan petunjuk jalan di atas kepala tanpa terlalu fokus pada persimpangan lorong di depannya.
Satu belokan lagi ke kiri, lalu—
BUGH!
Sensasi benturan keras tak terelakkan. Aini merasa seperti baru saja menabrak tembok batu yang dilapisi kain tebal.
"Auw!" pekik Aini spontan.
Keseimbangannya hilang seketika. Tumpukan berkas di tangannya terlepas dan melayang di udara sebelum akhirnya meluncur liar, melayang berserakan memenuhi lantai marmer yang mengilap. Aini sendiri hampir saja jatuh terlentang jika tidak dengan cepat berpegangan pada pinggiran meja koridor di dekatnya.
Napas Aini memburu. Jantungnya berdegup kencang karena kaget. "Maaf! Maafkan saya! Saya benar-benar tidak sengaja!" ucapnya panik tanpa berani mengadah, langsung berlutut di lantai untuk mengumpulkan lembaran-lembaran kertas yang berantakan.
"Punya mata digunakan untuk melihat, bukan hanya untuk pajangan."
Sebuah suara berbariton berat, dingin, dan sangat dalam terdengar tepat di atas kepalanya. Suara itu tidak keras, namun sarat akan penekanan yang sanggup membekukan udara di sekitar mereka.
Tangan Aini yang sedang meraih selembar kertas langsung terhenti di udara. Aura intimidasi yang begitu pekat mendadak menyelubungi tempat itu. Dengan perlahan dan penuh rasa takut, Aini mendongakkan kepalanya.
Pandangannya bergulir dari sepatu kulit hitam yang mengilap, celana kain berpotongan rapi, jas putih dokter yang terawat sempurna, hingga akhirnya tertuju pada wajah pria yang berdiri menjulang di hadapannya.
Pria itu bertubuh jangkung dengan rahang tegas yang memikat. Namun, ketampanannya tertutup rapat oleh ekspresi wajahnya yang sangat datar, kejam, dan tanpa emosi. Tatapan matanya yang tajam menancap lurus ke arah Aini, seolah-olah gadis di bawahnya ini adalah sebuah serangga yang sangat mengganggu jalannya.
Sebuah stetoskop mahal melingkar di leher pria itu, ditunjang oleh postur tubuh tegak dan wibawa yang luar biasa kuat. Dari penampilan dan gesturnya yang dominan, Aini langsung menyadari satu hal: pria di hadapannya ini jelas bukan dokter sembarangan, melainkan seorang dokter konsultan atau spesialis senior yang sangat disegani di rumah sakit ini.
"S-saya benar-benar mohon maaf, Dokter," tutur Aini dengan suara yang agak gemetar, berusaha menata kembali keberaniannya di bawah tatapan membunuh pria itu. "Saya tadi agak terburu-buru karena tidak ingin terlambat di hari pertama—"
"Saya tidak butuh alasan ceroboh kamu," potong dokter senior itu dingin. Kalimatnya tajam seperti pisau bedah. Pria itu bahkan tidak menunjukkan gestur sedikit pun untuk membantu mengambil satu lembar kertas pun yang berserakan di dekat kakinya.
Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap jas putih bersih yang dikenakan Aini dan papan nama akrilik kecil yang tersemat di sana.
"Aini Zahra ... Koas baru?" gumamnya dengan nada meremehkan yang sangat jelas. "Hari pertama, dan kamu sudah menunjukkan ketidakdisiplinan dasar. Berlari di lorong rumah sakit, membahayakan keselamatan orang lain, dan merusak kerahasiaan berkas pasien."
"Maafkan saya, Dokter. Ini sepenuhnya kesalahan saya dan tidak akan saya ulangi lagi," ucap Aini cepat, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil mempercepat tangannya merapikan sisa kertas di lantai. Wajah cantiknya tampak kian sendu dan pucat karena malu dan terintimidasi.
Dokter senior itu melipat kedua tangannya di dada, berdiri tegak tanpa mengubah posisi kakinya sedikit pun dari kertas-kertas yang berserakan. Tatapan matanya tetap berjarak, seolah Aini adalah makhluk asing yang sama sekali tidak layak mendapatkan kesopanannya.
"Rumah sakit ini adalah tempat menyelamatkan nyawa, bukan area bermain untuk anak kecil yang ingin berpura-pura menjadi dokter," ujarnya dengan nada rendah namun amat menusuk. "Jika kompetensi dasarmu hanya sebatas berlari dan menabrak orang di koridor, lebih baik kamu lepaskan jas putih itu sekarang juga dan pulang."
Kata-kata itu menghantam dada Aini dengan keras. Rasanya sangat menyakitkan, terutama di hari pertama ia menaruh harapan besar pada karirnya. Namun, Aini menahan air mata yang mendadak menumpuk di sudut matanya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan dokter senior yang memiliki wibawa sebesar ini.
Aini akhirnya berdiri tegak dengan tumpukan berkas yang telah kembali terpeluk rapat di dadanya. Ia mengatur napasnya yang tidak teratur dan menatap lurus ke arah mata dingin pria itu.
"Terima kasih atas tegurannya, Dokter," sahut Aini berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar tenang dan profesional, meski raut mukanya memancarkan kesedihan yang mendalam. "Saya akan menerima evaluasi Anda dan membuktikan bahwa saya layak berada di rumah sakit ini."
Pria itu tidak merespons ucapan Aini dengan kata-kata. Ia hanya memberikan tatapan menilai yang teramat dingin dari ujung kepala hingga ujung kaki Aini—memperhatikan hijab yang membingkai wajah cantiknya yang merona merah akibat menahan malu, serta pancaran mata sendu yang secara aneh tampak begitu keras kepala.
Tanpa mengujarkan satu kata patah pun lagi, pria itu melangkah maju, sengaja melintasi bahu Aini hingga mantel dokternya berkibar dan sedikit mengibas lengan Aini. Langkah kakinya terdengar tegas dan berirama menggelegar di sepanjang koridor, meninggalkan Aini yang masih berdiri sendirian di tengah dinginnya lorong.
Aini mengembuskan napas panjang yang terpendam sejak tadi. Tangannya yang memeluk berkas meremas pinggiran kertas dengan cukup kuat.
"Aura dokter itu benar-benar menakutkan..." bisik Aini pelan pada koridor yang kini sepi. "Pasti dia salah satu dokter spesialis senior yang sangat berpengaruh di sini. Semoga aku tidak perlu berurusan lebih banyak lagi dengannya selama masa koas."
Namun, Aini sama sekali tidak menyadari bahwa pria berhati dingin itu adalah dr. Ivandra Arya Wigunadi, Sp.BS., sang dokter spesialis bedah saraf jenius sekaligus penerus utama pemilik rumah sakit ini. Dan pertemuan penuh trauma di lorong dingin itu hanyalah awal dari benang merah rumit yang akan mengikat hidupnya dengan pria tersebut selamanya.
Bersambung....
mampir ya ke novel ku