NovelToon NovelToon
DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

runtuhnya benteng terakhir

"Kami sudah mengunci seluruh pergerakan tim pengacara rahasia Helena malam ini, Mbak Sora."

Suara tegas Perwira Polisi Senior itu memecah keheningan di dalam ambulan. Sinar merah-biru dari lampu sirine yang berputar memantulkan pendar dramatis pada garis-garis wajah Bima dan Sora.

Sora menatap perwira tersebut, napasnya perlahan mulai teratur. Jemari tangannya masih menggenggam erat tangan Bima, seolah menyerap sisa-sisa keberanian dan kekuatan dari pria yang telah mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya.

"Apakah... apakah Helena bisa kembali memerintahkan orang dari dalam penjara setelah ini, Pak?" tanya Sora dengan nada suara yang dalam dan sarat ketegasan.

Perwira polisi itu menggelengkan kepala secara mantap. "Sama sekali tidak. Penggeledahan malam ini membuahkan hasil besar. Kami menemukan pemancar sinyal satelit ilegal dan beberapa ponsel enkripsi yang diselundupkan oknum sipir ke dalam sel isolasi Helena. Semua oknum yang terlibat sudah ditahan, dan Helena kini dipindahkan ke ruang isolasi tingkat maksimum tanpa akses komunikasi apa pun."

Sebuah helaan napas lega yang luar biasa panjang akhirnya mengalir keluar dari dada Sora. Rasa sesak yang membayanginya sejak kedatangan Helena beberapa hari lalu mendadak luntur sepenuhnya.

Bima meremas lembut jemari Sora, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menenangkan. "Kamu dengar itu, kan, Sora? Semua sudah benar-benar berakhir."

"Terima kasih, Bima..." bisik Sora penuh rasa haru. "Kalau bukan karena kamu..."

"Jangan katakan itu lagi," potong Bima hangat. "Kita lewati ini bersama-sama."

Dua minggu kemudian.

Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dipadati oleh puluhan awak media dan wartawan. Sidang putusan tingkat akhir atas kasus konspirasi kejahatan finansial, pengancaman, dan percobaan pembunuhan yang melibatkan jaringan Helena Kusuma digelar secara terbuka.

Sora duduk di barisan depan ruang sidang, didampingi oleh Bima dan Siska. Sora mengenakan setelan blazer berwarna putih bersih, rambut hitamnya disanggul rapi, memperlihatkan keanggunan dan ketegaran dari seorang wanita yang tak lagi bisa diruntuhkan oleh ketakutan.

Di kursi terdakwa, Helena Kusuma duduk kaku dengan pakaian tahanan oranye. Wajahnya yang dulu selalu memancarkan keangkuhan dan dominasi dingin kini tampak pucat, tirus, dan ringkih. Tidak ada lagi gaun mahal, tidak ada lagi perhiasan berlian, dan tidak ada lagi pengacara mahal yang sanggup membela perbuatannya.

Hakim Ketua mengetukkan palunya tiga kali, memecahkan keheningan ruang sidang.

"Memutuskan, mengadili, menyatakan Terdakwa Helena Kusuma terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana konspirasi kejahatan finansial, pencucian uang, dan percobaan pembunuhan berencana..." tegur Hakim Ketua dengan suara menggelegar. "Menjatuhkan pidana penjara terhadap Terdakwa Helena Kusuma dengan hukuman Penjara Seumur Hidup."

TOK! TOK! TOK!

Ketukan palu hakim bergema keras di seluruh sudut ruangan. Suara riuh tepuk tangan dan kilatan lampu kilat kamera wartawan langsung membanjiri ruang sidang.

Helena tertunduk pasrah saat petugas kepolisian memborgol kedua tangannya dan membimbingnya keluar dari ruang sidang. Ketika melangkah melewati barisan Sora, Helena sempat menghentikan langkahnya sejenak. Wanita paruh baya itu menatap Sora dengan tatapan yang penuh kekalahan.

Sora tidak memalingkan pandangannya. Ia menatap Helena lurus-lurus dengan kedamaian dan ketegasan mutlak—sebuah bentuk kemenangan atas seluruh rasa takut yang pernah mengurung jiwanya.

Tiga bulan kemudian.

Atmosfer di kompleks galeri seni di Jakarta Selatan terasa begitu meriah dan hangat. Balon-balon bunga, karpet merah, dan deretan karangan bunga ucapan selamat memenuhi halaman depan.

Hari ini adalah acara Pameran Tunggal Seni Lukis Sora bertajuk "Matahari di Balik Hujan".

Ratusan kolektor seni, kritikus, dan pengunjung umum berdatangan memenuhi ruangan galeri. Deretan kanvas karya Sora—yang menceritakan perjalanan dari kegelapan menuju kebebasan dan harapan baru—menjadi pusat perhatian utama para pengunjung.

Sora berdiri di tengah galeri, mengenakan gaun terusan simpel berwarna kuning keemasan yang sangat anggun. Ia menyapa para pengunjung dengan senyuman tulus yang terus memancar dari bibirnya.

Siska, yang kini bekerja sebagai manajer operasional galeri milik Sora, melangkah mendekat sambil membawa secangkir minuman dingin.

"Mbak Sora! Semua lukisan di ruang utama sudah terjual habis dalam waktu dua jam!" seru Siska dengan mata berbinar bahagia.

Sora tertawa tawar, rasa haru memenuhi dadanya. "Benarkah, Siska? Terima kasih banyak atas semua kerja kerasmu..."

"Ini semua karena karya Mbak Sora punya jiwa yang sangat luar biasa," puji Siska tulus. "Mbak pantas mendapatkan semua kebahagiaan ini."

Di sudut galeri dekat jendela besar tempat favoritnya dulu, Sora melihat Bima berdiri memandangi lukisan kanvas terbesar di pameran itu—sebuah lukisan yang menggambarkan sosok seorang wanita berdiri di tepi pantai, menatap matahari terbit yang membakar sisa-sisa awan hitam.

Sora melangkah mendekati Bima, berdiri di samping pria yang telah menjadi bagian penting dari penyembuhan jiwanya itu.

"Suka dengan lukisan yang ini?" tanya Sora lembut.

Bima menoleh, menatap Sora dengan mata yang penuh rasa kagum dan kehangatan yang jujur.

"Ini lukisan favoritku dari seluruh pameran," jawab Bima tulus. "Karena aku tahu betul betapa beratnya perjuangan wanita di dalam lukisan ini untuk bisa berdiri tegak menatap matahari itu."

Sora tersenyum, menyandarkan kepalanya pelan di bahu tegap Bima. Bima merangkulkan lengannya di bahu Sora, memeluknya dengan rasa menghargai yang teramat dalam.

Tidak ada manipulasi, tidak ada syarat, dan tidak ada kebohongan. Hanya ada ketulusan murni dari dua jiwa yang saling menemukan kedamaian di bawah langit yang sama.

Sora memandangi pendar sinar matahari sore yang menerobos masuk melalui jendela galeri, menghangatkan kulit wajahnya dan menyinari seluruh isi ruangan.

"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Sora..." bisik Bima lembut di balik rambut harum Sora.

Sora mendongak, menatap mata Bima yang jernih, lalu memberikan jawaban yang menjadi penutup sempurna bagi seluruh perjalanan hidupnya yang penuh cobaan.

"Aku tidak pernah menyesali badai itu lagi, Bima... karena tanpa badai itu, aku tidak akan pernah tahu seberapa indahnya melangkah bebas di bawah sinar matahari milikku sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!