Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
.
Mobil Rolls-Royce milik Alvino berhenti tepat di depan lobi Hotel Mahendra Palace. Lampu kristal yang berkilauan dan hamparan karpet merah membuat suasana malam itu tampak begitu mewah.
Rania menelan ludah pelan, karena semakin dekat dengan ballroom, jantungnya berdebar semakin kencang.
Alvino yang berdiri di sampingnya melihat kegelisahan itu. Tanpa berkata apa-apa, pria itu mengangkat sikunya perlahan ke hadapan Rania.
Rania mengerutkan keningnya. “Pa-Pak?”
Tapi Alvino hanya menatapnya dalam dan isyarat mata tanpa suara agar Rania melingkarkan tangan pada lengannya.
“Tidak perlu, Pak. Saya jalan sendiri saja.” Rania tentu saja tak seberani itu menggandeng tangan Alvino.
“Rania.” Alvino menatapnya lebih dalam. Sorot matanya terlihat begitu tegas,.sama sekali tidak menerima penolakan.
Rania menjadi salah tingkah. Sekaligus bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
“Tapi Pak, nanti orang-orang bisa salah paham,” ucap wanita itu pelan dengan mata melirik ke sekeliling di mana mata semua orang sedang menatap ke arah mereka.
“Salah paham ya sudah, biarkan saja. Itu urusan mereka.”
Rania terdiam. Berhadapan dengan Alvino saat ini benar-benar mendebarkan, jauh lebih tegang dari pikirannya saat akan melihat Arga di atas pelaminan dengan wanita lain.
Jantung wanita itu berdebar lebih cepat. Dan akhirnya dengan sedikit rasa gugup, wanita itu pun melingkarkan tangannya di lengan Alvino. Rania merasa wajahnya begitu panas saat matanya menatap tangannya sendiri.
Dan Alvino…
Pria itu diam-diam mengangkat sudut bibirnya. Tipis. Sangat tipis hingga tak ada satu pun bisa melihat.
Mereka berjalan memasuki ballroom bersama. Semua orang menoleh dan menyapa. Namun, Alvino tetap melangkah dengan wajah datarnya. Sementara wajah Rania berjalan di sampingnya dengan kepala tertunduk.
“Tuan Alvino datang bersama seorang wanita?"
“Jangan-jangan mataku yang salah."
“Siapa wanita itu? Beruntung sekali dia bisa menggandeng Pak Alvino."
Bisik-bisik itu terdengar jelas, namun Alvino seakan tak mempedulikannya. Berbeda dengan Rania yang wajahnya semakin merah merona.
Sambil melangkah menuju panggung pelaminan, Alvino sedikit memiringkan kepalanya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Rania.
“Angkat wajahmu tinggi,” bisiknya pelan.
Rania spontan menoleh karena terkejut. Dan… Sret.
Tanpa sengaja hidung Rania menyentuh pipi Alvino, dan kedua orang itu langsung membeku.
Mata Rania membelalak lebar, sedangkan Alvino terdiam beberapa detik. Jantung pria itu seolah berhenti berdetak sesaat. Sedangkan wajah Rania semakin memerah.
Beberapa tamu yang melihat adegan itu menutup mulut mereka yang terbuka lebar. Mata mereka terpesona bagai melihat adegan dalam drama.
“Ma-maaf, Pak!” Rania yang lebih dulu tersadar berbisik gugup dan panik.
Alvino sama sekali tidak menjauh. Pria itu justru tersenyum kecil membuat Rania semakin salah tingkah.
“Angkat wajahmu tinggi-tinggi!” titah Alvino lagi. "Tunjukkan pada mereka bahwa kamu masih bisa berdiri tegak..Kalau kamu terus menunduk seperti itu, orang hanya akan melihat kamu sebagai wanita yang lemah!”
Wajah Rania semakin merah. Namun kali ini bukan karena malu lagi. Melainkan karena kata-kata yang baru saja meluncur dari mulut Alvino. Tidak! Dia tidak mau dianggap lemah. Dia juga tidak mau orang beranggapan dia masih mengharapkan Arga.
Saat itu juga Rania mengangguk tegas. Wanita itu mulai mengangkat wajahnya.
"Bagus!” ucap Alvino. "Tetaplah seperti itu. Kamu wanita yang hebat. Jangan biarkan orang membuatmu lemah!”
"Huum!” Sekali lagi Rania mengangguk tegas. “Saya mengerti," ucapnya lalu mengeratkan genggaman tangannya yang melingkar di lengan Alvino.
Alvino tersenyum tipis lalu membalikkan badannya membawa Rania melangkah maju.
Di atas panggung pelaminan, kedua mempelai dan juga kedua orang tua masing-masing pengantin sedang menerima ucapan selamat dari para tamu.
Arga berdiri dengan wajah datar. Sama sekali tak terlihat rona bahagia di wajahnya. Bahkan pria itu tampak menyalami para tamu dengan setengah hati. Berbeda dengan Angelina yang berdiri di sampingnya dengan senyum manis yang tak pernah surut dari sudut bibirnya. Begitu juga dengan Bu Ratih. Kedua wanita beda usia itu terlihat menjadi orang paling bahagia dalam acara itu.
Namun sesaat kemudian…
Senyum di wajah Bu Ratih perlahan sirna saat melihat siapa yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Ra… Rania?” gumamnya terkejut.
Begitu pula Angelina. Kedua wanita beda usia itu tanpa sadar saling pandang penuh tanya.
Bu Ratih dan Angelina memang sudah mengira Rania akan datang. Karena memang merekalah yang mengundangnya. Itu karena mereka ingin Rania melihat bahwa kini Arga telah menikah dengan wanita sederajat. Mereka ingin melihat Rania datang dengan hati hancur.
Namun…
Pemandangan yang terlihat di depan mata mereka saat ini malah membuat mereka kesal.
Rania memang datang, tetapi wajahnya sama sekali tidak terlihat sedih. Wanita itu justru tersenyum cerah. Dan yang membuat mereka tidak percaya adalah, wanita itu datang tidak seorang diri.. melainkan dengan seorang pria yang sangat mereka kenal…
ALVINO MAHENDRA.
Putra tunggal keluarga Mahendra. Pewaris Mahendra Grup. Pria yang status, kekayaan, dan pengaruhnya bahkan jauh di atas Arga.
Tanpa sadar, jemari Angelina mengepal kuat. Mengapa bisa seperti itu? Padahal ia mengundang Rania agar wanita itu melihat kebahagiaannya bersama Arga? Karena ia ingin melihat Rani yang menangis. Tetapi mengapa yang terjadi malah sebaliknya? Rania datang bersama pria yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Arga.
Sebagai putri keluarga Wijaya, Angelina sangat tahu siapa Alvino Mahendra. Bahkan hotel tempat di mana saat ini mereka sedang melangsungkan pernikahan, juga merupakan salah satu bentuk kekayaan dari keluarga Mahendra. Angelina bahkan mengingat saat ayahnya pernah berkata,
“Seandainya saja kita bisa menjalin hubungan bisnis lebih dekat dengan putra dari keluarga Mahendra, itu akan menjadi sebuah keberuntungan besar. Sayangnya sangat sulit sekali mendekati pewaris Mahendra itu.”
Dan sekarang…
Pria yang dipuja banyak wanita itu datang dengan menggandeng Rania?
Sementara Bu Ratih, rahang wanita tua itu mengeras. Kedua tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Rencananya untuk mempermalukan Rania terpaksa harus gagal. “Dasar jalang murahan!" makinya dalam hati. Emosinya meluap hingga ke ubun-ubun, bahkan nyaris menyerang Rania jika tangannya tidak ditahan oleh Tuan Surya Pratama.
Tanpa sadar wanita itu mengalihkan tatapannya pada putranya, Arga Pratama.
Pria yang sejak tadi hanya memasang wajah datar itu, bahkan lebih dulu menyadari kedatangan Rania sebelum keluarganya yang lain. Dan seketika itu juga raut wajahnya berubah sendu.
Rania datang di hadapannya dan mengulurkan tangan. "Selamat atas pernikahannya, Mas Arga. Semoga bahagia dengan keluarga baru!” ucapnya sambil tersenyum manis. Meskipun tidak ada yang tahu, dalam hatinya rasa perih itu masih terasa.
Tubuh Arga membeku, pria itu bahkan tak sanggup untuk mengangkat tangannya menerima ucapan selamat dari mantan istrinya itu. Hatinya bagai disayat sembilu saat melihat wanita yang pernah hidup bersama dengannya selama tiga tahun itu tersenyum begitu manis. Karena satu hal yang kini ia ketahui, senyum manis itu bukan lagi untuknya.
Dengan tangan kirinya, Alvino mengambil kembali telapak tangan Rania yang masih berhenti di udara tanpa sambutan, lalu menggenggamnya erat. Rania menoleh ke arahnya dan tatapan keduanya bertemu. Alvino mengangguk kan kepalanya pelan, dan wanita itu membalasnya dengan senyuman.
Sakit… hati Arga berdenyut nyeri. Apalagi ketika kemudian Alvino mewakili mereka berdua mengucapkan selamat, dan berlalu meninggalkan panggung dengan tangan Rania dalam genggamannya.
“Secepat itukah hatimu menghadirkan pengganti?"
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.
tp dtggu penjellasan ny di bab berikut ny ,, 😁😁😁😁😁