Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Suasana di ruang tamu masih sangat tegang ketika Rian tiba di rumah.
Ia baru saja membuka pintu ketika mendengar suara ribut dari dalam. Begitu masuk, pemandangan yang menyambutnya membuatnya membeku sejenak. Mia berdiri di dekat pintu kamar dengan pipi yang memerah, sementara Lukman berdiri tegak dengan napas yang masih memburu. Sang ibu berdiri di samping Lukman wajahnya penuh amarah.
Rian langsung menghampiri mereka. Suaranya lembut, tapi ada ketegangan yang jelas.“Kenapa kamu menamparnya?” tanya Rian, menatap adiknya.
Lukman tidak mundur. Ia menatap kakaknya tajam. “Istrimu perlu diajari sopan santun. Dia berbicara sama Ibu seperti berbicara dengan musuhnya. Kurang ajar sekali. Kalau kau tidak bisa mendidiknya, maka biar aku yang mendidik dia.”
Rukmini segera menimpali, suaranya tinggi. “Iya, Rian! Dia sudah kurang ajar sama Ibu. Baru pulang sudah berani melawan, berani bilang rumah ini miliknya sendiri, berani mengusir kami! Kalau tidak ditampar, dia tidak akan jera!”
Rian menghela napas panjang. Ia menatap keduanya secara bergantian, ibunya yang masih marah, dan adiknya yang merasa berhak mendidik istrinya. Di dadanya bercampur antara rasa kesal, kecewa, dan kebingungan. Ia tidak menyangka situasi sudah sampai sejauh ini.
Tanpa banyak berkata, Rian berbalik. Ia meninggalkan ibu dan adiknya di ruang itu, lalu masuk ke kamar utama.
Di dalam kamar, Mia duduk di tepi ranjang. Pipinya masih terasa perih, dan air matanya sudah mengering, digantikan oleh tatapan kosong yang dingin. Kayla masih tertidur di sisi lain ranjang, tidak tahu apa-apa tentang kekacauan di luar.
Rian mendekati istrinya pelan. Ia berjongkok di depan Mia, mencoba menatap wajahnya.
“Sayang, kamu tidak apa-apa?” tanyanya lembut, tangan mencoba meraih tangan Mia.
Tapi Mia langsung melengoskan wajahnya ke arah lain. Ia menarik tangannya, menolak sentuhan suaminya. Dadanya sesak. Ia sudah muak. Muak dengan suami yang selalu diam saja ketika melihat dirinya di tindas keluarganya.
Rian terdiam. Ia melihat jelas perubahan di wajah istrinya, bukan lagi kesedihan yang biasa, tapi kekecewaan yang dalam dan dingin.
Di luar kamar, suara Rukmini masih terdengar samar sedang mengomel. Sementara di dalam, keheningan di antara suami-istri itu terasa lebih menyakitkan daripada teriakan apa pun.
Mia tidak bilang apa-apa. Ia hanya duduk memunggungi suaminya, memeluk lututnya, dan membiarkan air mata yang sempat tertahan kembali jatuh dalam diam.
Rian merasa benar-benar kehilangan istrinya, bukan secara fisik, tapi secara hati. Di dalam kamar yang sunyi, hanya terdengar napas mereka berdua dan detak jam di dinding.
Rian masih berjongkok di depan istrinya, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Tapi sebelum ia sempat berbicara lebih lanjut, Mia sudah menoleh dengan tatapan tajam.
“Kenapa kamu bertanya? Kan kamu melihatnya sendiri,” ketus Mia. Suaranya datar, tapi penuh kekecewaan. “Kamu lihat kan dia menamparku"
Rian menghela napas. Ia mengusap tengkuknya, terlihat kesulitan. “Sayang, aku kaget. Aku tidak menyangka Lukman sampai menamparmu. Harusnya kamu tidak usah meladeni Ibu. Biarkan saja, nanti reda sendiri—”
Kalimat itu belum selesai diucapkan oleh Rian, Mia langsung memotongnya dengan suara yang lebih tinggi.
“Maksudmu biarkan saja mereka menindasku terus-menerus?” kesalnya, menatap suaminya tajam. Mata Mia berkaca-kaca, tapi air matanya tidak jatuh. Yang ada hanya kemarahan yang sudah terlalu lama dipendam. “Aku sudah diam berbulan-bulan, Rian. Aku sudah mengalah terus. Aku masak untuk mereka, aku nyuci baju adikmu dan istrinya, aku bersih-bersih rumah. Makanan habis, aku masak lagi. Disuruh-suruh mertua, aku kerjakan. Sekarang aku diludahi kata-kata, ditampar adikmu, dan kamu bilang jangan diladeni’? Jadi aku harus terus jadi karpet di rumah ini sampai kapan?” tanya Mia.
Rian terdiam. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia menatap istrinya yang sekarang berdiri, tubuhnya tegang, tangan mengepal di sisi tubuhnya.“Kamu selalu bilang mau bicara dengan mereka, tapi apa hasilnya? Lukman masih malas. Sonya masih seenaknya. Ibumu semakin berani. Dan kamu? Kamu selalu di tengah, tidak pernah benar-benar membela aku. Setiap kali aku dilukai oleh mereka, kamu hanya bilang sabar. Sabar sampai kapan, Rian? Sampai aku benar-benar hancur?” lanjut Mia dengan suara meninggi.
Rian berdiri perlahan. Wajahnya pucat. “Aku tidak pernah bilang kamu harus ditindas. Aku hanya… Ibu itu orang tuaku. Aku tidak enak—”
“Tidak enak sama Ibu, tapi enak saja melihat istrimu ditampar?” potong Mia pahit. “Kamu lebih takut mengecewakan ibumu daripada melihat aku terluka. Itu yang membuatku muak, Rian. Bukan cuma tamparannya. Tapi karena kamu selalu memilih diam ketika aku butuh dibela.”
Keheningan kembali mengisi kamar. Di luar, samar-samar terdengar suara Rukmini masih mengomel di ruang tamu. Kayla menggeliat di ranjang, tapi belum terbangun.
Mia memalingkan wajah, mengusap air mata yang akhirnya jatuh. Ia duduk kembali di tepi ranjang, memunggungi suaminya.
“Aku sudah tidak kuat,” bisiknya pelan, hampir tidak terdengar. “Kalau kamu masih ingin membela mereka terus, bilang saja. Aku akan pergi. Kali ini benar-benar pergi.”
Rian berdiri kaku di tempatnya. Kalimat terakhir istrinya menusuk lebih dalam dari apa pun yang pernah ia dengar. Ia ingin meraih Mia, ingin memeluknya, ingin bilang maaf. Tapi lidahnya kelu. Yang ia bisa lakukan hanya duduk diam, menatap istrinya.
"Keluar Rian. Aku mau sendiri" Mia mengusir suaminya.
"Aku akan keluar, tapi tolong jangan tinggalkan aku" ucap Rian dengan tatapan memohon.
"KELUAR RIAN!" Sentak Mia membuat Rian segera keluar dari kamar itu.
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.