NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: BAYANGAN DI BALIK DIMENSI

Setelah selesai makan dengan lahap sampai piring-piring kosong melompong, Bima Samudra pun dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan, berharap kakak-kakak seperguruannya itu melupakan pertanyaan-pertanyaan interogasi mereka tadi tentang kemana saja dia menghilang.

"Eeehhh, Kak, ngomong-ngomong, kakak-kakak yang lain kemana...? Kenapa di pendopo besar ini cuma ada Kak Sinta, Kak Laras, Kak Anjani dan Kak Sekar saja...? Mana Kak Ratih, Kak Dewi dan Kak Bulan...?" tanya Bima dengan raut wajah yang polos dan penasaran.

"Mereka bertiga sedang sibuk mengurus urusan yang sangat penting untuk organisasi di cabang lain, di luar kota," jawab Laras dengan lembut sambil mengelus kepala Bima.

"Owh, apakah mereka sudah tidak merindukan ku lagi, sehingga mereka lebih mementingkan pekerjaan daripada adiknya sendiri...?" kata Bima dengan nada yang dibuat-buat sedih dan cemberut, seperti anak kecil yang mencari perhatian.

"Heee, jangan sembarangan bicara begitu, Bima...! Mereka sangat, sangat merindukan mu, bahkan mereka menangis setiap malam menyebut nama mu," jelas Sinta dengan cepat, takut adiknya salah paham. "Tadi setelah Kakak memberi tahu mereka di grup kalau kamu sudah turun gunung dan sudah ada di markas, mereka bertiga langsung ingin tancap gas pulang ke Solo saat itu juga, tapi ada sebuah masalah besar yang menghambat mereka di sana."

"Masalah apa, Kak...? Sepertinya sangat serius sampai membuat Kak Ratih tertahan...?" tanya Bima dengan tatapan yang tiba-tiba menjadi serius dan tajam.

"Paling itu urusan klasik dengan Komplotan Kelelawar Hitam itu lagi. Sebuah organisasi preman dan pembunuh bayaran yang menguasai kawasan industri di Semarang. Mereka selalu iri dengan perkembangan Organisasi Tujuh Bidadari kita," jawab Anjani dengan nada kesal.

"Sudahlah, Bima, tak perlu kamu bahas dan pikirkan, kamu kan baru saja tiba di sini setelah lama menghilang. Kakak yakin, Kak Ratih dan yang lainnya pasti bisa mengatasi mereka sendiri, mereka kan sangat kuat," kata Sinta sambil mencoba menenangkan Bima.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara lembut dari Laras, dia memberikan Bima sebuah kotak kecil yang mewah.

"Ini, Bima, handphone baru untuk mu, iPhone terbaru. Tadi Kakak sudah belikan khusus untuk mu, biar kamu tidak ketinggalan zaman. Semua nomor kami sudah Kakak simpan di dalamnya," kata Laras.

"Sekarang kamu bisa menelepon mereka dengan panggilan video, untuk melepas sedikit rasa rindu mu kepada mereka," sambung Anjani.

Kemudian, dengan sedikit gugup karena baru pertama kali memakai handphone modern, Bima langsung menelepon nomor yang bernama Ratih. Itu adalah kakak seperguruannya yang paling tua, yang paling bijaksana dan paling disegani di antara tujuh bidadari.

Begitu panggilan video itu terhubung dan tersambung, di layar handphone yang jernih itu muncullah wajah seorang wanita yang sangat cantik, anggun, dan berwibawa, dengan tatapan mata yang teduh.

"Bimaaaaa...! Adik ku sayang...!" teriak Ratih dengan suara yang langsung pecah karena haru.

"Aku sangat merindukan mu, Bima】...! Benarkah ini kamu...? Kamu sudah pulang...?" kata Ratih sambil menangis di layar.

"Aku juga sangat merindukan mu, Kak Ratih...!" jawab Bima dengan suara yang juga ikut bergetar menahan haru.

"Tunggu Kakak pulang ya, Bima. Setelah urusan sialan ini selesai di Semarang, Kakak berjanji akan segera pulang ke Solo. Tunggu Kakak di rumah, jangan kemana-mana lagi," jelas Ratih dengan tatapan penuh kerinduan dan kasih sayang yang mendalam dari balik layar.

Setelah melihat wajah Ratih di layar dan melihat latar belakang di sekitarnya yang terlihat tegang dan banyak pria-pria berbadan kekar yang berwajah sangar, Bima merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Insting pendekarnya mengatakan bahwa masalah yang dihadapi kakaknya itu tidaklah sederhana dan tidak bisa dianggap remeh.

Bima pun segera mencari alasan untuk pergi.

"Kak, aku mau ke toilet sebentar ya, dimana toiletnya...? Perut ku agak tidak enak," tanya Bima sambil memegang perutnya.

"Di sebelah sana, Bima, belok kiri, yang ada lukisan bunga anggreknya," tunjuk Laras dengan perhatian.

Bima segera berlari kecil menuju ke arah toilet dengan gaya yang dibuat-buat lucu, para kakak-kakak seperguruannya yang melihat tingkah Bima hanya bisa tersenyum gemas.

Setelah berada di dalam toilet yang mewah dan sepi, Bima langsung mengunci pintu dan menggunakan Teknik Bayangan Ilahi, teknik rahasia dari Alam Jiwa untuk menciptakan sebuah kloningan bayangan yang persis sama dengan dirinya, yang bisa duduk diam di dalam toilet.

Setelah kloningan itu jadi dan terlihat sangat nyata, Bima mengingat dengan jelas tempat dan suasana yang tadi dia lihat sekilas saat melakukan panggilan video dengan Ratih.

"Wusssssssst..."

Dalam sekejap, tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Bima menghilang dari toilet itu dan berteleportasi lintas ruang ke tempat Ratih berada. Yang tertinggal duduk di dalam toilet hanyalah kloningan bayangannya saja yang berpura-pura sedang sakit perut.

Setelah sampai di lokasi Ratih, Bima tidak langsung keluar dan menampakkan diri. Dia bersembunyi dengan sempurna di balik celah dimensi ruang, sebuah teknik tingkat dewa yang membuat dirinya tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, dan tidak bisa dirasakan oleh siapa pun, bahkan oleh kultivator tingkat tinggi sekalipun. Dari sana, dia mengamati dengan seksama.

Dia melihat Ratih bersama dengan Dewi dan Bulan, dua kakak lainnya, sedang berhadapan dengan lima orang pria kekar bertato dan berwajah sangar. Dari pembicaraan mereka yang keras, Bima tahu bahwa lima orang pria itu adalah orang-orang suruhan dari Komplotan Kelelawar Hitam.

"Nona Ratih yang cantik, Anda harus segera menutup cabang organisasi butik dan restoran Anda yang ada di kawasan Simpang Lima Semarang ini, karena ini adalah wilayah kekuasaan kami, Komplotan Kelelawar Hitam. Jika Anda tetap ngotot bertahan di sini, itu sama saja Anda merampas rezeki dan pendapatan ekonomi kami," kata salah seorang dari komplotan itu dengan nada mengancam.

"Kalian ini sudah menguasai hampir setengah dari bisnis ilegal di Jawa Tengah, jadi jangan terlalu serakah dan jangan menginjak-injak kami terus...!" jelas salah seorang anak buah Ratih yang berani.

"Hee, kenapa wilayah industri Semarang ini bisa menjadi milik kalian...? Kami berada di sini sesuai dengan prosedur hukum yang sah dan kami sudah memiliki semua izin resmi dari pemerintah kota. Seharusnya komplotan preman dan pembunuh bayaran seperti kalian yang harus segera pergi dari sini...!" bentak Ratih dengan suara yang tegas dan berwibawa, tidak ada rasa takut sedikit pun di wajahnya.

Ketika pria kekar itu mau membalas dengan kata-kata kasar, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi dengan keras. Yang menelepon ternyata adalah pemimpin besar mereka yang bernama Bastian.

Setelah berbicara sebentar dengan pemimpinnya melalui telepon dengan wajah yang tegang, pria itu pun mengubah nada bicaranya menjadi sedikit lebih lunak.

"Baik, Bos kami baru saja memberikan perintah, kami akan mengalah untuk kali ini. Jika kalian memang tetap ingin bertahan dan membuka cabang di sini, tidak masalah, kami izinkan. Tapi ada syaratnya, Nona. Ikutlah bersama kami ke markas besar kami di kawasan pelabuhan dan bicarakan baik-baik secara langsung dengan pemimpin besar kami, Tuan Bastian."

Karena ingin masalah yang sudah berlarut-larut selama dua bulan ini cepat selesai agar bisa segera pulang dan bertemu dengan Bima, Ratih pun langsung setuju tanpa berpikir panjang dan segera menuju ke markas Kelelawar Hitam bersama dengan Dewi dan Bulan.

Bima yang mengikuti mereka secara diam-diam dari balik celah dimensi ruang hanya bisa menghela napas panjang dengan cemas.

"Sepertinya kakak-kakak ku ini sudah tidak sabar ingin masalah ini cepat selesai agar bisa cepat pulang menemuiku, sehingga mereka jadi sedikit ceroboh dan gegabah mengambil keputusan. Mereka masuk ke sarang harimau," gumam Bima di dalam hatinya.

Benar saja dugaannya.

Setelah sampai di halaman markas Kelelawar Hitam yang besar, kumuh, dan dipenuhi oleh ratusan preman yang mabuk, pemimpin mereka yang bernama Bastian sendiri yang menyambut mereka di depan pintu. Bastian adalah seorang pria berumur empat puluhan, dengan tubuh besar dan senyum yang sangat licik dan menjijikkan.

Tanpa basa-basi, Ratih langsung bertanya dengan tegas,

"Apa persyaratan yang kau inginkan dari kami, Bastian...? Cepat katakan, kami tidak punya banyak waktu...!"

"Tenang dulu, Nona Ratih yang cantik jelita, mari kita bicarakan dengan santai di dalam ruangan VIP saya sambil minum teh, jangan di sini di halaman yang panas ini," kata Bastian dengan senyum liciknya yang penuh nafsu, matanya menatap Ratih dari atas sampai bawah.

"Tidak perlu, cepat katakan saja persyaratan mu di sini sekarang juga...!" jawab Ratih dengan emosi yang mulai naik karena merasa dilecehkan.

"Wah, wah, wah, Nona Ratih, kamu semakin terlihat cantik dan seksi saat sedang marah seperti itu, membuat jantung ku berdebar," goda Bastian yang membuat Ratih merasa sangat jijik dan mual.

"Cepat katakan persyaratan mu, jangan membuang waktu ku...!" tanya Ratih yang sudah mengepalkan tangannya dan emosi.

"Baiklah, kalau Nona Ratih memaksa ingin tahu secepat itu, syaratnya sebenarnya sangat mudah. Aku ingin kamu, Ratih Maheswari, menjadi istri ku, menjadi ratu di markas Kelelawar Hitam ini. Jika kamu mau, semua masalah kita anggap selesai," kata Bastian dengan tawa yang keras.

Mendengar persyaratan yang sangat tidak tahu malu itu, Ratih langsung menghunuskan pedang tipis pusaka yang selalu dibawanya di pinggang.

"Jangan pernah bermimpi kamu, bajingan...! Lebih baik aku mati daripada harus tunduk dan menjadi istri dari sampah masyarakat seperti mu...!" bentak Ratih kepada Bastian dengan suara yang menggelegar.

"Nona Ratih yang manis, kamu sekarang ada di dalam markas ku sendiri, di wilayah ku. Kamu tidak akan pernah bisa menang di sini melawan ku. Di sini ada puluhan ribu pasukan ku yang siap mati untuk ku," kata Bastian.

"Mati pun jauh lebih baik dan lebih terhormat daripada harus tunduk kepada manusia hina seperti mu...!" jawab Ratih dengan singkat, matanya sudah memerah.

Sementara Ratih, Dewi dan Bulan sudah dalam posisi siap bertarung dengan pedang terhunus, Bima yang berada di balik dimensi ruang yang tak terlihat juga sudah mulai emosi dan darahnya mendidih, tangannya sudah mengepal.

Melihat Ratih yang tetap nekat siap bertarung, Bastian mengingatkan dengan sombong,

"Lihat sekeliling mu, Nona Ratih, markas ku ini ada puluhan ribu pasukan preman bersenjata, kamu bertiga tidak akan pernah bisa menang dan keluar hidup-hidup dari sini...!" jelas Bastian sambil tersenyum mengejek dan bertepuk tangan, memanggil semua pasukannya keluar dari dalam gudang.

"Belum dicoba, belum tahu siapa yang akan menang dan siapa yang akan menjadi mayat hari ini...!" jawab Ratih dengan gagah berani.

Melihat pertarungan yang sudah tidak bisa dihindari lagi dan akan segera pecah, Bima diam-diam mulai membantu Ratih dan yang lainnya dari balik dimensi ruang yang tak terlihat.

Bima dengan gerakan jarinya yang tak terlihat, menghujani pasukan Kelelawar Hitam yang ada di sekeliling Ratih dengan Jarum Suci Legendaris miliknya yang dilapisi dengan Api Nirvana Phoenix yang sangat kejam dan tak terlihat.

Setiap jarum kecil itu menembus jantung para preman itu, membuat jiwa dan raga mereka langsung musnah menjadi abu dalam sekejap, tanpa ada yang tahu mereka mati karena apa, mereka hanya tiba-tiba terjatuh dan menjadi debu.

Melihat puluhan pasukannya yang mengelilingi Ratih tumbang satu persatu secara misterius tanpa sebab, Bastian jadi heran dan panik, teknik apa yang sebenarnya digunakan oleh Ratih, kenapa begitu mengerikan.

Sementara Ratih sendiri juga heran dan bingung, kenapa bisa musuh-musuhnya tumbang dengan mudah seperti ini, padahal dia belum sempat menyerang.

Melihat ribuan pasukan Bastian yang lain berhamburan keluar dari dalam markas dengan membawa parang dan besi, Ratih pun tidak mau menunggu lagi, dia bersiap menggunakan teknik pamungkasnya yang paling kuat, yaitu Teknik Ledakan Phoenix Surgawi.

Seketika di atas kepala Ratih yang cantik itu terbentuk sebuah bola api raksasa berwarna merah keemasan yang sangat besar, berdiameter sepuluh meter, yang siap dihantamkan menuju ke arah Bastian dan ribuan pasukannya yang ada di depannya. Panasnya membuat besi-besi di sekitar meleleh.

Melihat bola api sebesar itu, Bastian hanya sedikit terkejut, namun dia tetap sombong.

Sementara itu, dari balik dimensi, Bima tersenyum tipis. Bima diam-diam menambahkan kekuatan serangannya itu, dia menyuntikkan dan mengisinya dengan Api Nirvana miliknya yang kejam, api yang bisa membakar jiwa, yang kekuatannya seribu kali lipat lebih kuat dari api biasa.

Sementara Bastian menggunakan teknik pamungkasnya, Teknik Amukan Kelelawar Iblis Hitam, yang membentuk ribuan kelelawar hitam dari asap untuk melawan bola api Ratih.

Tak lama kemudian, terdengar suara ledakan yang sangat luar biasa dahsyat, seperti ledakan bom nuklir mini, yang mengguncang seluruh kawasan industri Semarang.

"DUAAAAAR...!"

Debu dan asap hitam yang sangat tebal beterbangan kemana-mana, menutupi seluruh markas, pandangan menjadi gelap gulita.

Setelah beberapa saat, perlahan-lahan debu tebal itu menghilang tertiup angin.

Semua orang yang ada di sana terkejut bukan main, bukan kepalang, termasuk Ratih sendiri yang juga tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya.

Bagaimana tidak, bekas serangan bola api nya itu bukan hanya mengalahkan Bastian dan membuat Bastian menjadi abu, tapi seluruh pasukan Kelelawar Hitam yang berjumlah ribuan orang dan seluruh bangunan markas Kelelawar Hitam yang besarnya seluas lapangan sepak bola itu juga musnah total tanpa sisa, rata dengan tanah. Yang tersisa hanyalah sebuah lapangan tanah lapang yang luas yang dipenuhi dengan asap yang masih mengepul dan berbau gosong.

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi...? Aku tahu betul batas kekuatan ku, aku tidak mungkin sekuat ini. Serangan Ledakan Phoenix ku paling hanya bisa menghancurkan satu gudang saja, tidak mungkin bisa meratakan satu markas besar seperti ini. Pasti ada pihak lain, ada seorang ahli yang sangat kuat yang sedang menolong ku secara diam-diam dari suatu tempat," gumam Ratih di dalam hatinya dengan napas terengah-engah, dia melihat sekeliling dengan waspada.

"Siapa pun Anda yang telah menolong saya dan adik-adik saya hari ini, saya, Ratih Maharani, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari lubuk hati saya yang paling dalam," ucap Ratih dengan suara pelan namun tulus, sambil membungkukkan badannya memberi hormat ke arah langit kosong.

Bima yang memang masih berada di dekatnya di balik dimensi, bisa mendengar dengan jelas ucapan terima kasih yang tulus itu, dia pun tersenyum hangat di dalam hatinya.

Pasukan anak buah Ratih yang datang bersama, hanya bisa gemetar dan berlutut melihat kehebatan pemimpin mereka yang luar biasa itu. Mereka tak menyangka pemimpin mereka yang biasanya anggun dan lembut, ternyata bisa sekuat dan semengerikan ini jika sudah marah.

Setelah debu benar-benar hilang, Ratih segera memberi perintah dengan suara yang kembali tegas kepada anak buahnya,

"Kalian semua, segera bereskan tempat ini dan urus sisa-sisa masalah legalitas dan polisi yang akan datang. Sita semua aset ilegal mereka. Aku dan kedua adik ku, Dewi dan Bulan, akan pulang dulu ke Solo, ada urusan keluarga yang jauh lebih penting yang harus kami urus sekarang."

Setelah memberikan arahan yang jelas, Ratih pun lekas pergi bersama Dewi dan Bulan dengan menggunakan mobil Alphard hitam mereka, melaju dengan sangat kencang menuju ke Kota Solo, karena mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Bima.

Melihat Ratih, Dewi dan Bulan yang telah pergi dengan selamat, Bima pun tersenyum lega dan kembali berteleportasi dalam sekejap ke dalam toilet mewah di markas Organisasi Tujuh Bidadari di Colomadu, tepatnya kembali ke dalam tubuh kloningan bayangannya.

Setelah menyatukan kembali kloningan bayangan itu ke dalam tubuh aslinya dan memastikan tidak ada yang aneh, Bima pun keluar dari toilet dengan wajah yang dibuat-buat lega.

Yang langsung disambut dengan omelan manja dari Sinta yang sudah menunggu di depan pintu toilet dengan tangan terlipat di dada.

"Bima...! Apa sih yang kamu lakukan di dalam toilet sampai dua puluh menit lebih...? Kamu bikin Kakak khawatir tau...!" omel Sinta.

Mendengar omelan Sinta itu, Laras, Anjani dan Sekar yang ada di ruang tengah jadi tersenyum dengan wajah yang sedikit memerah dan menahan tawa, mereka berpikir dengan pikiran yang agak nakal, apa mungkin adik kecil mereka yang sudah dewasa ini sedang bermain solo atau melakukan hal aneh di dalam toilet saking lamanya.

Melihat tatapan dan tingkah aneh yang penuh curiga dari kakak-kakak seperguruannya itu, Bima pun langsung menjelaskan dengan buru-buru dan panik, wajahnya memerah,

"Kakak-kakak ku yang cantik, apa sih yang kalian pikirkan yang aneh-aneh tentang ku...! Tadi mungkin aku makan terlalu banyak rendang dan sambalnya terlalu pedas dan aku makannya buru-buru, sehingga pencernaan ku jadi terganggu, yang membuat perut ku jadi sakit dan sulit untuk buang air besar...!"

"Jangan berpikir macam-macam yang jorok tentang adik mu yang polos ini...!" kata Bima dengan wajah memelas.

"Heee, bocah nakal, memangnya apa yang kami pikirkan tentang mu...? Kami tidak berpikir macam-macam kok, kamu saja yang pikirannya jorok...!" balas Sinta dengan cepat sambil memalingkan wajahnya yang memerah karena tertawa.

Saat pertengkaran kecil yang penuh canda dan tawa itu sedang berlangsung dengan sangat seru dan hangat di pendopo, tiba-tiba handphone baru milik Bima berbunyi dengan keras.

Itu adalah panggilan video dari Ratih. Di layar, terlihat Ratih tersenyum dengan sangat bahagia, wajahnya sudah tidak tegang lagi.

" Bima, Sinta, Laras, urusan Kakak di Semarang sudah beres total, sudah selesai. Komplotan Kelelawar Hitam sudah tidak ada lagi. Sekarang Kakak bersama Dewi dan Bulan sedang dalam perjalanan pulang ke Solo dengan kecepatan penuh. Tunggu kami ya, sayang...!"

Mendengar kabar gembira itu, semua yang ada di ruangan itu bersorak gembira.

BERSAMBUNG

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!