Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Belum Terungkap
Pagi itu, Aira sedang duduk di ruang tengah ketika ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Rendra masuk, menanyakan kesediaannya untuk bertemu dan membicarakan rencana kerja sama Galeri Nusantara dengan sanggar tenun keluarganya.
Aira membaca pesan itu sebelum membalas.
Selamat pagi, Pak Rendra. Saya bersedia bertemu. Kapan dan di mana Bapak ingin membicarakannya?
Aira meletakkan ponselnya setelah membalas pesan Rendra. Tak lama kemudian, ia melihat Devan keluar dari kamar dengan pakaian kerja, bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Mas Devan, saya ingin meminta izin."
Devan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Aira.
"Izin untuk apa?"
"Pagi ini saya mendapat pesan dari Pak Rendra, perwakilan Galeri Nusantara. Dia mengajak saya bertemu siang nanti untuk membicarakan kemungkinan kerja sama dengan sanggar tenun keluarga saya."
Devan menatapnya sejenak.
"Kalian akan bertemu di mana?"
"Di sebuah kafe di Jakarta. Saya ingin mendengar penjelasannya secara langsung sebelum mengambil keputusan."
Devan mengangguk kecil.
"Kalau memang berkaitan dengan sanggar keluargamu, silakan. Tapi, pastikan kamu memahami kesepakatan yang mereka tawarkan."
"Iya, Mas Devan. Saya juga ingin membicarakannya terlebih dahulu dengan Paman dan Bibi karena mereka yang sekarang mengurus sanggar."
"Kalau begitu, bicarakan saja dengan mereka."
Aira mengangguk lega.
"Terima kasih, Mas Devan."
Devan tidak menjawab panjang. Ia kembali melanjutkan langkahnya, sementara Aira mengambil ponsel untuk menghubungi Paman dan Bibi di Bantul.
Setelah beberapa kali nada sambung, panggilan itu dijawab oleh bibinya.
"Halo, Aira. Ada apa, Nak?"
"Aira mau cerita, Bi. Kemarin ada orang dari Galeri Nusantara yang menghubungi Aira. Mereka tertarik untuk membicarakan kemungkinan kerja sama dengan sanggar kita."
"Kerja sama seperti apa?"
"Mereka ingin memperkenalkan hasil tenun sanggar kepada masyarakat yang lebih luas. Siang ini Aira akan bertemu dengan perwakilan mereka untuk membicarakan rencananya."
Bibinya terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Kalau memang ada kesempatan baik, bicarakan saja dulu, Ra. Nanti soal produksi dan persiapan sanggar bisa kita diskusikan bersama."
"Iya, Bi. Aira juga tidak akan mengambil keputusan sendiri untuk hal-hal yang berkaitan dengan sanggar."
"Bagus. Biar Paman dan Bibi yang mengurus keadaan di sini. Kamu cukup cari tahu dulu seperti apa tawarannya."
Aira tersenyum kecil mendengar jawaban itu.
"Terima kasih, Bi. Nanti Aira kabari lagi setelah pertemuannya selesai."
Setelah mengakhiri panggilan, Aira mempersiapkan diri untuk pergi. Ia belum tahu apakah pembicaraan itu akan menghasilkan sesuatu, tetapi ia berharap kesempatan tersebut bisa membantu sanggar keluarganya berkembang.
...___🍀🍀🍀🍀___...
Menjelang siang, Aira tiba di kafe yang telah disepakati. Ia memilih meja di dekat jendela, lalu mengirim pesan kepada Rendra bahwa dirinya sudah sampai.
Tidak lama kemudian, Rendra datang menghampirinya.
"Selamat siang, Aira. Maaf membuatmu menunggu."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga baru saja tiba."
Setelah memesan minuman, mereka mulai membicarakan tujuan pertemuan tersebut.
Rendra membuka sebuah map yang dibawanya.
"Seperti yang saya sampaikan melalui pesan, Galeri Nusantara sedang mencari pengrajin lokal yang memiliki karya dengan ciri khas tersendiri. Kami ingin memperkenalkan lebih banyak hasil kerajinan daerah kepada masyarakat, termasuk melalui pameran dan jaringan pemasaran yang kami miliki."
Aira mendengarkan dengan saksama.
"Untuk sanggar keluargamu, kami mendapat informasi bahwa ada beberapa motif yang dikembangkan sendiri. Salah satunya adalah motif yang dikenal dengan nama Giri Senja."
Aira sedikit terkejut mendengar nama motif itu disebutkan.
"Betul, Pak. Motif itu saya kembangkan untuk sanggar keluarga kami. Perpaduan warna nila dan tembaga menjadi ciri khasnya."
"Menarik. Apakah motif tersebut masih diproduksi?"
"Masih, meskipun jumlahnya bergantung pada pesanan dan kemampuan produksi sanggar. Saat ini, Paman dan Bibi saya yang membantu mengurus kegiatan di sana."
Rendra mengangguk sambil mencatat beberapa hal.
"Kalau begitu, kami ingin memulai dengan memperkenalkan beberapa hasil tenun sanggarmu melalui Galeri Nusantara. Untuk tahap awal, kami perlu melihat contoh produk, mengetahui jumlah yang bisa diproduksi, serta membicarakan harga dan sistem kerja samanya."
Aira mempertimbangkan penjelasan itu sebelum menjawab.
"Saya tertarik dengan rencana tersebut, Pak. Namun, saya perlu berkoordinasi dengan Paman dan Bibi mengenai jumlah produksi serta persediaan kain yang tersedia."
"Tentu. Kami tidak ingin memaksakan jumlah produksi yang justru memberatkan pihak sanggar."
Jawaban itu membuat Aira merasa lebih tenang. Ia ingin sanggar keluarganya berkembang, tetapi tidak ingin para pengrajin di sana terbebani oleh pesanan yang melebihi kemampuan mereka.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita sepakati kerja sama awal terlebih dahulu?" lanjut Rendra. "Galeri Nusantara akan membantu memperkenalkan karya sanggarmu. Setelah itu, kita bisa menentukan produk yang akan ditampilkan dan jumlahnya berdasarkan hasil koordinasi dengan keluargamu."
Aira mengangguk.
"Saya setuju, Pak. Saya akan menghubungi Paman dan Bibi untuk membicarakan persiapannya."
"Baik. Saya akan mengirimkan rancangan kesepakatan agar bisa kamu pelajari. Setelah semua pihak menyetujuinya, kita bisa melanjutkan ke tahap berikutnya."
"Terima kasih atas kesempatan ini, Pak Rendra."
"Sama-sama, Aira. Saya berharap kerja sama ini bisa memberikan manfaat bagi kedua pihak."
Pertemuan itu berakhir setelah mereka menyepakati rencana kerja sama awal. Belum ada pesanan yang ditetapkan, tetapi setidaknya sanggar keluarga Aira mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan hasil tenunnya melalui Galeri Nusantara.
Sebelum berpisah, Rendra mengantarkan Aira sampai ke pintu kafe.
"Kalau ada yang ingin ditanyakan mengenai rancangan kesepakatan nanti, silakan hubungi saya," katanya.
"Baik, Pak. Terima kasih."
...____🍀🍀🍀🍀____...
Sementara itu, di perusahaan Mahendra Group, Devan baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan ketika teringat bahwa Aira hari ini memiliki janji bertemu dengan perwakilan Galeri Nusantara.
Ia melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan lewat pukul dua siang.
Setelah berpikir sejenak, Devan mengambil ponselnya dan menghubungi Aira.
"Halo, Mas Devan?"
"Kamu sudah selesai dengan urusanmu?"
"Sudah. Pertemuannya baru saja selesai."
"Kamu di mana sekarang?"
"Masih di sekitar kafe. Saya sedang bersiap untuk pulang."
Devan terdiam sesaat.
"Tunggu di sana. Aku akan menjemputmu."
Aira sedikit terkejut.
"Tidak perlu, Mas Devan. Saya bisa pulang sendiri."
"Aku sedang tidak ada urusan di luar. Sekalian saja."
Setelah mengatakan itu, Devan mengakhiri panggilan.
Aira menatap layar ponselnya beberapa saat. Ia tidak tahu mengapa Devan tiba-tiba menawarkan diri untuk menjemputnya, tetapi akhirnya ia memutuskan menunggu.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil Devan tiba di depan kafe.
Aira segera menghampiri mobil itu dan masuk ke kursi penumpang.
"Terima kasih sudah menjemput saya, Mas Devan."
Devan hanya mengangguk. Namun, sebelum mobil bergerak, pandangannya sempat tertuju pada Rendra yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk kafe.
Pria itu masih memperhatikan kepergian Aira. Ketika pandangan mereka bertemu, Rendra mengangguk sopan sebagai tanda perpisahan.
Devan membalas anggukan itu sekilas, kemudian kembali menghadap ke depan.
"Jadi, bagaimana pertemuanmu?" tanyanya setelah mobil mulai melaju.
"Berjalan lancar. Galeri Nusantara ingin membantu memperkenalkan hasil tenun sanggar keluarga saya. Kami juga sudah menyepakati rencana kerja sama awal."
"Sepertinya dia cukup tertarik dengan sanggarmu."
"Iya. Dia bahkan sudah mengetahui motif Giri Senja."
Devan meliriknya sekilas.
"Kamu terlihat senang."
Aira menoleh, sedikit heran mendengar ucapan itu.
"Tentu saja. Sanggar itu sudah lama menjadi bagian dari kehidupan keluarga saya. Kalau hasil tenun kami bisa dikenal lebih luas, tentu akan sangat membantu."
Devan kembali memusatkan perhatian pada jalan.
"Berapa lama kalian berbicara?"
Aira berpikir sebentar.
"Mungkin sekitar satu jam lebih."
"Selama itu?"
Aira mengangguk.
"Iya. Kami membahas rencana kerja sama, kemungkinan produk yang akan diperkenalkan, dan persiapan yang diperlukan."
Devan tidak segera menjawab.
Entah mengapa, ia merasa tidak nyaman mengingat Aira duduk berhadapan dengan Rendra selama itu. Apalagi, ketika menjemputnya tadi, ia melihat pria tersebut masih berdiri di depan kafe seolah mengantarkan Aira sampai kepergiannya.
Namun, ia segera menepis pikiran itu.
Rendra adalah rekan kerja Aira dalam urusan sanggar. Tidak ada alasan baginya untuk mempermasalahkan pertemuan tersebut.
"Kalau memang kerja samanya menguntungkan, jalani saja," ucap Devan akhirnya.
Aira mengangguk.
"Saya akan mempelajari rancangan kesepakatannya terlebih dahulu. Setelah itu, saya perlu membicarakannya dengan Paman dan Bibi."
"Bagus. Jangan terburu-buru mengambil keputusan."
"Iya, Mas Devan."
Percakapan mereka berakhir. Aira kembali memandang jalan di luar jendela, sementara Devan tetap fokus mengemudi.
Meski begitu, pikirannya sesekali kembali pada pertemuan tadi.
Ia tidak mengerti mengapa pertanyaan tentang Rendra terus muncul di kepalanya. Selama ini, ia tidak pernah peduli dengan siapa Aira berbicara atau ke mana perempuan itu pergi selama masih sesuai dengan kesepakatan mereka.
Namun, kali ini berbeda.
Dan Devan tidak menyukai kenyataan bahwa dirinya mulai memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak menjadi urusannya.
...___🍀🍀🍀🍀____...
Di tempat lain, Hadi Mahendra sedang membaca laporan yang baru saja diserahkan asistennya.
"Ini hasil penyelidikan lebih lanjut mengenai istri Pak Devan, Pak," ujar pria itu.
Hadi membuka berkas tersebut. Ia membaca informasi tentang keluarga Aira di Bantul, sanggar tenun yang mereka kelola, serta keterampilan Aira dalam mengembangkan motif tenun.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa ayah Aira memiliki kebiasaan berjudi dan meninggalkan utang yang cukup besar. Ibunya sedang sakit, sementara Aira memiliki tiga adik yang masih membutuhkan perhatian.
Hadi meletakkan berkas itu di atas meja.
"Bagaimana dengan kegiatannya setelah menikah?"
"Aira baru saja bertemu dengan perwakilan Galeri Nusantara untuk membicarakan kemungkinan kerja sama dengan sanggar keluarganya, Pak."
"Apakah sudah ada kesepakatan?"
"Baru kesepakatan awal. Mereka masih perlu membahas produk, kapasitas produksi, dan ketentuan kerja sama."
Hadi mengangguk kecil.
"Apakah Galeri Nusantara memiliki hubungan dengan Mahendra Group?"
"Sejauh ini, kami belum menemukan hubungan langsung antara keduanya."
Hadi kembali memperhatikan berkas di hadapannya. Kerja sama itu belum menunjukkan sesuatu yang mencurigakan. Namun, ia justru penasaran dengan keputusan Devan menikahi perempuan tersebut.
Devan bukan tipe pria yang mengambil keputusan tanpa pertimbangan matang. Selama ini, pernikahan juga bukan sesuatu yang pernah dianggapnya mendesak.
"Menurutmu, apa yang membuat Devan memilih perempuan ini?" tanyanya.
Asistennya terdiam sejenak.
"Kami belum menemukan informasi yang menjelaskan alasan pernikahan mereka, Pak."
Hadi menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Keluarganya memiliki utang, ibunya sedang sakit, dan dia masih harus memikirkan ketiga adiknya." Ia berhenti sejenak. "Mungkin keadaan itu membuat Aira menerima pernikahan tersebut. Atau mungkin ada kesepakatan tertentu di antara mereka."
Asistennya tidak memberikan tanggapan.
"Selidiki lebih jauh," lanjut Hadi. "Aku ingin mengetahui alasan di balik pernikahan mereka. Untuk sementara, jangan mengambil tindakan apa pun sebelum kita memiliki informasi yang jelas."
"Baik, Pak."
Setelah asistennya meninggalkan ruangan, Hadi kembali menatap berkas di hadapannya.
Menjelang RUPS, ia tidak ingin mengambil langkah tanpa pertimbangan matang. Jika ada sesuatu di balik pernikahan Devan yang belum diketahuinya, ia akan menemukannya terlebih dahulu sebelum menentukan strategi berikutnya.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,