-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
****
Keheningan yang pekat merayap di area dining utama seusai dua keluarga besar itu akhirnya menyepakati tanggal dan teknis pernikahan. Nyonya Rosalia Wigunadi menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada kursi berukir mewah dengan binar kelegaan yang terpancar jelas dari matanya.
Tuan Arya Wigunadi mengusap bahu istrinya lembut, lalu menatap Ivandra yang masih berdiri mematung di samping meja dengan kedua tangan masuk ke saku celana.
"Akhirnya, Ivan..." bisik Nyonya Rosalia dengan suara yang bergetar haru, walau raut mukanya menyiratkan rasa bersalah yang tersembunyi. "Janji puluhan tahun antara keluarga kita dan keluarga Handoko akhirnya bisa terwujud. Mama merasa beban besar di pundak Mama terangkat."
Tuan Wigunadi mengangguk setuju. "Handoko itu sahabat terbaik Papa. Aini adalah anak gadis yang sangat baik, berpendidikan, dan santun. Kamu beruntung mendapatkan dia, Ivan."
Ivandra tidak memberikan respons manis. Ia hanya memutar tubuhnya datar, menatap dingin ke arah pintu keluar restoran tempat keluarga Aini baru saja pamit beranjak.
Nyonya Rosalia mendadak menghela napas berat, teringat akan kejadian di ruang VIP setengah jam yang lalu. "Tapi, Pa... Mama mendadak merasa agak kasihan dan bersalah sama Clarissa dan keluarganya. Tadi kan kita sebenarnya mengundang mereka untuk perkenalan awal... tapi malah berakhir seperti ini gara-gara Ivan yang langsung menolak di depan umum."
Tuan Wigunadi menggelengkan kepala tegas. "Jangan disesali, Rosalia. Karakter Clarissa yang manja dan menuntut itu sama sekali tidak cocok mendampingi dokter seperti Ivandra. Lagi pula, sejak awal prioritas utama kita adalah menepati janji pada Handoko. Nanti Papa sendiri yang akan bicara dan minta maaf secara pribadi pada Ayah Clarissa."
Ivandra terkekeh sinis, sebuah suara rendah tanpa gairah. "Kalian yang sibuk berjanji, tapi saya yang harus menanggung akibatnya."
"Ivandra!" tegur Papanya dengan nada berat. "Jaga bicaramu. Pernikahan ini bukan cuma soal kamu, tapi soal kehormatan dan hubungan dua keluarga besar."
Ivandra tidak membalas lagi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pamit pun, ia berbalik dan melangkah lebar meninggalkan restoran mewah tersebut, membawa serta sejuta kejengkelan dan kekakuan batin yang membakar dadanya.
**
Sementara itu, di sepanjang jalan protokol kota yang temaram, sebuah mobil sedan putih meluncur pelan membelah heningnya malam.
Di dalam kabin mobil, Aini cengkeram lingkar kemudinya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapan matanya yang jernih lurus menatap jalanan di depannya, namun otaknya benar-benar kosong. Ia bahkan tidak sadar sudah melewati beberapa lampu lalu lintas tanpa fokus.
Pikiran Aini masih belum sanggup mencerna seluruh kejadian gila yang baru saja menghantam hidupnya.
Menikah? Dengan Dokter Ivan?!
Kalimat-kalimat dingin dan menusuk yang diucapkan Ivandra di meja makan tadi kembali bergema liar di dalam kepalanya: "Jangan mengira saya tertarik dengan drama pernikahan ini... Pernikahan ini hanyalah ikatan hukum dan janji antarkeluarga yang harus diselesaikan."
"Hah..." Aini menghembuskan napas panjang yang gemetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan di depan orang tuanya akhirnya lolos menetes, membasahi pipinya yang tertutup kain hijab segiempat.
Aini meminggirkan mobilnya sejenak di tepi jalan yang sepi, menekan tombol lampu darurat, lalu menyandarkan dahinya di atas lingkar kemudi. Bahunya bergetar pelan menahan tangis yang membuncah.
"Kenapa harus Dokter Ivan...?" bisik Aini lirik pada keheningan malam. "Kenapa harus pria paling dingin dan kejam di rumah sakit itu yang jadi suami Aini?"
Rasa takut akan masa depannya sebagai dokter muda menumpuk begitu berat. Ia membayangkan bagaimana respons teman-teman koasnya jika sampai rahasia ini terbongkar. Tuduhan bahwa ia memanfaatkan posisi Ivandra sebagai anak pemilik rumah sakit untuk melancarkan masa koas pasti akan melayang tanpa ampun.
Aini menyapu air matanya dengan lengan bajunya, mencoba menguatkan kembali hatinya yang remuk. Ia menegakkan tubuhnya, memandang pantulan dirinya di cermin tengah. Wajah cantiknya memang selalu memancarkan kesenduan alami, namun malam ini, ada kepasrahan yang mendalam terpatri di sana.
"Kamu harus kuat, Aini..." bisiknya pada diri sendiri dengan suara parau. "Kalau pernikahan ini memang jalan yang harus kamu tempuh demi berbakti pada Ayah dan Bunda... kamu harus siap. Kamu akan buktikan pada Dokter Ivan bahwa kamu tidak pernah membutuhkan atau memanfaatkan jabatannya!"
Aini kembali menekan pedal gas, mengarahkan mobilnya menuju bangunan kos-kosan tempatnya tinggal. Roda takdir telah berputar, dan esok hari, ia harus kembali menapakkan kaki di rumah sakit—menghadapi kenyataan bahwa pria yang paling ia hindari kini telah resmi terikat janji sebagai calon suaminya.
**
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menyapu koridor utama RS Utama Wigunadi dengan hangat. Hari ini adalah hari pertama rotasi stase baru, dan Aini melangkah menyusuri lorong dengan jas putih yang terpasang rapi. Meski dari luar ia berusaha tampil tenang dan profesional seperti biasa, di dalam dadanya bergemuruh rasa cemas yang teramat sangat.
Begitu melintasi persimpangan koridor lantai tiga, rombongan visite gabungan dokter spesialis dan konsultan senior tampak berjalan dari arah berlawanan. Di posisi paling depan, berdiri menjulang sosok dr. Ivandra Arya Wigunadi, Sp.BS. dengan mantel dokternya yang berkibar pelan. Pria itu tampak angkuh, tampan, dan dingin—sama sekali tidak menyiratkan bahwa semalam ia baru saja menjatuhkan vonis pernikahan pada gadis berhijab di depannya.
Langkah kaki kedua kelompok itu saling mendekat. Atmosfer di sepanjang koridor seketika membeku.
Aini langsung menundukkan kepalanya sedikit, meremas papan jalan di tangannya untuk menutupi gemetar di jemarinya. Ketika jarak mereka tinggal dua langkah, Ivandra menghentikan langkah kakinya mendadak. Seluruh rombongan dokter dan perawat ikut berhenti serentak.
Ivandra menatap Aini dari atas ke bawah dengan manik mata elangnya yang tak berdasar. Tidak ada riak emosi sedikit pun di wajah tegas itu, seolah pertemuan dramatis di restoran semalam hanyalah ilusi belaka.
"Dokter Muda Aini," panggil Ivandra dengan suara berbariton berat yang terlampau formal dan berjarak.
"S-saya, Dokter Ivan," sahut Aini pelan namun berusaha menjaga ketenangannya.
"Laporan rekapitulasi data pasien bedah saraf di ruang intermediate untuk stase baru sudah diserahkan ke sekretariat?" tanya Ivandra dengan nada dingin yang mengintimidasi, persis seperti instruksi medis tanpa cela.
"Sudah, Dokter. Seluruh dokumen sudah lengkap dan terverifikasi," jawab Aini lancar.
Ivandra hanya mengangguk tipis tanpa mengendurkan ekspresi kerasnya. "Bagus. Pastikan kamu tidak membuat keteledoran sekecil apa pun di stase baru ini."
Tanpa menunggu balasan Aini, Ivandra kembali melangkah maju, melintasi bahu Aini begitu saja dengan aura dingin yang membekukan udara di sekitarnya.
Beberapa perawat dan dokter residen di belakang Ivandra bertukar pandang penuh rasa prihatin. Mereka menatap Aini dengan tatapan iba yang sangat jelas.
"Duh, kasihan banget ya Dokter Aini..." bisik Suster Lina pelan pada perawat di sebelahnya saat rombongan mulai menjauh. "Padahal stase Bedah Saraf udah selesai, tapi tetep aja harus berurusan dan kena semprot sama Dokter Iblis itu lagi di koridor."
"Iya, padahal Dokter Ivan kan ganteng banget, yang punya rumah sakit pula... tapi mulut dan kelakuannya bener-bener gak ada manis-manisnya sama koas sekecil Dokter Aini," timpal perawat lainnya miris.
Mendengar bisik-bisik prihatin dari para staf medis di sekitarnya, Aini tidak membantah atau mengeluh. Gadis itu hanya menghentikan langkahnya sejenak, memutar tubuhnya, lalu menyunggingkan sebuah senyum karir—senyuman tipis, sopan, dan sangat profesional yang biasa ia tampilkan untuk menjaga martabatnya. Sebuah senyuman yang menyembunyikan rapat-rahat betapa rumitnya takdir yang kini mengikat dirinya dengan sang Dokter Iblis.
Bersambung....
mampir ya ke novel ku