“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Hari yang ditunggu itu akhirnya tiba.
Langit sore terlihat cerah. Matahari mulai condong ke barat, menyinari halaman rumah dengan cahaya keemasan yang hangat. Angin sore berhembus pelan, menggerakkan dedaunan pohon mangga yang berdiri di sudut halaman rumah Kayla.
Ba’da Ashar. Suasana rumah itu terasa berbeda dari biasanya.
Ruang tamu sudah dirapikan sejak siang. Karpet digelar dengan rapi. Meja tengah diberi taplak bersih. Di atasnya tersusun beberapa piring berisi kue dan minuman yang tadi disiapkan oleh pembantu rumah tangga.
Eyang Narti sudah duduk di kursi ruang tamu dengan kebaya sederhana berwarna cokelat muda. Rambutnya yang memutih disanggul rapi. Tongkat kayunya bersandar di samping kursi.
Meskipun tubuhnya sudah renta, wajahnya terlihat tegas dan berwibawa. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini cucunya akan dilamar.
Di sisi lain, Arman duduk tak jauh dari ibunya. Ia tampak lebih tenang, tetapi dari sesekali gerakan tangannya yang merapikan lengan kemeja, terlihat bahwa ia juga sedikit tegang.
Sementara itu… Arfin benar-benar tidak bisa diam.
Remaja itu berjalan mondar-mandir dari ruang tamu ke jendela, lalu kembali lagi ke pintu depan, lalu ke jendela lagi. Seperti satpam tidak resmi yang terlalu bersemangat.
“Fin, kamu bisa duduk gak sih?” tegur Arman akhirnya.
‘Kook Arfin deg deg an ya Om?’’ katanya polos sambil memegangi dadanya.
“Yang mau dilamar itu kakak kamu, bukan kamu.” Kata Arman menggelengkan kepala.
“Justru itu!” Arfin mengangkat kedua tangannya frustasi. “Aku jadi bingung.’’
‘’Sudah, kamu mending lihat dapur sana, masakan udah siap belum!’’ kata eyang narti.
‘’Oh kalau itu, siapp eyang!’’
Tanpa komando dua Kali, arfin segera melangkah ke dapur untuk mengecek masakan yang akan di hidangkan nanti.
**
Berbeda dengan Arfin yang sibuk mencicipi makanan. Maka Di lantai atas, Kayla juga terlihat sangat sibuk, suasana di kamar nya jauh lebih kacau.
Kamar itu benar-benar terlihat seperti baru saja diterjang badai. Baju berserakan di mana-mana.
Beberapa baju tergeletak di atas tempat tidur. Ada yang jatuh sampai ke lantai. Bahkan kursi di dekat meja rias sudah tertumpuk oleh pakaian yang tadi sempat dicoba Kayla lalu dilempar begitu saja.
Kayla sendiri berdiri di depan lemari. Wajahnya terlihat sangat bingung. Tangannya memegang satu baju yang baru saja ia keluarkan. Ia menempelkannya ke tubuhnya di depan cermin. Lalu mengerutkan dahi.
“Terlalu ketat !’’
Tanpa ragu ia melemparnya ke kasur. Ia mengambil gamis lain.
“Yang ini… kayak mau dugem !’’
Dilempar lagi. Kayla menghela napas panjang.
‘’Astaga, aku mau pakai apa ini!!!” Tangannya naik ke kepala, mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi.
“Kenapa gue jadi gugup gini sih.” Ia menatap pantulannya di cermin. Jantungnya berdetak cepat.
Deg.
Deg.
Deg.
Telapak tangannya bahkan terasa sedikit dingin. Padahal selama ini Kayla bukan tipe orang yang mudah gugup. Ia selalu terlihat santai, cuek, bahkan kadang terlalu berani.
Tapi hari ini… Memikirkan Hanan akan datang ke rumahnya membuat dadanya terasa aneh.
Campur aduk.
Takut.
Gugup.
Dan entah kenapa… sedikit berharap. Kayla menutup wajahnya dengan kedua tangan.
‘’Pakai rok, astaga adanya rok kaya gini. Pakai dres ini, gak pantes banget,’’
Tak lama, pintu kamarnya dibuka dari luar.
Cklek.
Eyang Narti masuk dengan langkah perlahan sambil bertopang pada tongkatnya. Begitu melihat keadaan kamar Kayla… Wanita tua itu langsung berhenti di depan pintu.
“Astaghfirullah…” Ia menghela napas panjang. “Ini kamar apa kapal pecah nduk?”
Kayla langsung menoleh. “Eyang…”
Eyang Narti berjalan masuk perlahan. Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Baju di kasur, kursi bahkan lantai. Ia menggeleng pelan. “Kenapa kamar kamu kayak pasar loak gini?”
Kayla menggaruk tengkuknya canggung. “Kayla bingung mau pakai apa…”
Eyang menatap cucunya lama. Lalu tersenyum kecil. “Cuma gitu aja sampai kamar kayak kena badai?”
“Eyang gak ngerti sih…” kata Kayla cemberut, ‘’Baju Kayla banyak yang kurang bahan Eyang !’’
Wanita tua itu berjalan menuju lemari Kayla. Tangannya yang mulai keriput membuka lemari perlahan. Ia mulai melihat satu per satu pakaian di dalamnya.
“Cucu Eyang cantik,” gumamnya lembut. “Pakai apa saja juga tetap cantik.”
Kayla hanya berdiri di belakangnya. Sesekali menggigit bibir bawahnya gugup. Tiba-tiba tangan Eyang berhenti pada satu pakaian.
Ia menariknya keluar. Sebuah gamis dengan warna lembut. Tidak terlalu mencolok. Namun terlihat sangat anggun.
“Pakai ini,”
‘’Eyang yakin, kayla pakai ini ?’’
Eyang mengangguk. “Yakin, baju ini sopan dan tidak kurang bahan.’’
Kayla menerima gamis itu perlahan. Tangannya mengusap kainnya. Masih sangat bagus. Masih seperti baru.
Lalu Eyang membuka laci kecil di meja rias. Ia mengeluarkan sebuah kerudung putih.
“Pakai ini juga.”
Kayla menatap kerudung itu lama. Kerudung putih sederhana. Tapi entah kenapa… terasa sangat berbeda baginya.
Beberapa menit kemudian, Kayla berdiri di depan cermin. Ia sudah mengenakan gamis pilihan Eyang.
Kerudung putih menutupi kepalanya dengan rapi. Pantulan dirinya di cermin membuat Kayla terdiam.
Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Gadis yang biasanya memakai jeans robek, kaos longgar, bahkan kadang jaket kulit…
Sekarang terlihat sangat berbeda.
Lembut, Tenang, Anggun. Kayla menatap bayangannya lama.
“Ini… aku?” gumamnya pelan.
‘’Masyaallah, cantik kan Nduk kalau tertutup begini ? Gak akan masuk angin,”’ ucap eyang narti terkekeh.
**
Suara mobil yang berhenti di halaman rumah membuat suasana di dalam rumah berubah seketika. Arfin yang sejak tadi mondar-mandir di ruang tamu langsung melongok ke arah jendela.
“Mereka datang!” serunya dengan suara setengah berteriak.
Om Arman yang sedang duduk di sofa ikut berdiri. Ia merapikan kerah kemejanya sambil melirik ke arah pintu.
Di sisi lain, Eyang Narti yang masih berada di kamar Kayla menoleh ke arah cucunya yang berdiri kaku di depan cermin.
Wajah Kayla terlihat pucat. Tangannya dingin. Napasnya terasa sedikit berat.
Deg… deg… deg…
Jantungnya berdetak cepat. Eyang Narti memperhatikan perubahan itu. Dengan lembut, wanita tua itu mendekati Kayla lalu menggenggam tangannya.
“Kenapa, nduk?” tanyanya lembut.
Kayla menelan ludah pelan. “Kayla… deg-degan, Eyang.”
Eyang tersenyum hangat. “Wajar.”
Kayla menunduk. “Aku takut salah ngomong… takut mereka gak suka sama aku…”
Eyang mengusap punggung tangan cucunya perlahan.
“Nduk,” katanya lembut. “Orang yang datang kesini bukan untuk menghakimi kamu.”
Kayla mengangkat wajahnya sedikit. “Mereka datang karena ingin menerima kamu.”
Air mata hampir saja jatuh dari mata Kayla. Eyang kemudian menggandeng tangan Kayla.
“Ayo,” katanya pelan. “Jangan buat tamu menunggu.”
Kayla mengangguk pelan. Tangannya masih digenggam oleh Eyang saat mereka berjalan keluar dari kamar.
Langkah Kayla terasa sangat pelan. Setiap anak tangga yang ia turuni membuat jantungnya berdetak semakin kencang.
Dari lantai bawah terdengar suara percakapan laki-laki. Arman sedang menyambut tamu.
“Assalamu’alaikum,” terdengar suara laki-laki yang lembut dan tenang.
“Wa’alaikumussalam, silakan masuk,” jawab Arman ramah.
Kayla langsung tahu suara itu.
Hanan. Hanya mendengar suaranya saja membuat dada Kayla terasa hangat sekaligus gugup. Arfin yang berdiri dekat tangga langsung menoleh ke atas ketika melihat mereka turun.
Matanya membesar.
“Wih…”
Kayla menatapnya bingung. Arfin langsung mendekat sambil berbisik.
“Kak… kakak cantik banget sumpah.”
Kayla langsung memukul bahu adiknya pelan. “Apaan sih kamu…”
Arfin terkekeh dan tak bisa ia pungkiri bahwa kakaknya semkain cantik memakai pakaian tertutup.
Sementara itu di ruang tamu, Hanan duduk bersama keluarganya. Di sampingnya ada seorang wanita paruh baya yang wajahnya lembut Umi Anisa.
Ada juga seorang pria dewasa yang tenang, Abahnya Hanan, Kyai Hasan. Fatimah duduk di samping Umi dengan wajah cerah sejak tadi. Namun saat Arman melirik ke arah tangga, ia langsung berdiri.
“Hanan,” katanya pelan. “Kayla sudah turun.”
Secara refleks Hanan ikut berdiri. Matanya langsung tertuju ke arah tangga.
Dan di sana… Kayla sedang berjalan turun perlahan sambil digandeng oleh Eyang Narti.
Langkahnya pelan. Wajahnya menunduk. Gamis cream yang ia kenakan membuatnya terlihat jauh berbeda dari biasanya.
Lebih anggun. Lebih lembut. Hanan sampai terdiam beberapa detik. Ia hampir tidak mengenali Kayla. Fatimah langsung tersenyum lebar.
“MasyaAllah…” bisiknya pelan pada Umi.
Umi Anisa juga tersenyum hangat melihat Kayla. Sementara Hanan masih berdiri diam.
Dadanya terasa hangat melihat perempuan yang beberapa hari lalu ia selamatkan kini berjalan pelan menuju ruang tamu.
Kayla akhirnya sampai di ruang tamu. Ia menunduk sopan.
“Assalamu’alaikum…” ucapnya pelan.
“Wa’alaikumussalam,” jawab semuanya hampir bersamaan.
Kayla lalu mencium tangan Umi Anisa terlebih dahulu. Umi langsung memeluknya hangat.
“MasyaAllah… cantik sekali kamu, nduk.”
Kayla sedikit terkejut dengan pelukan itu, sangat Hangat dan lembut.
Sudah lama sekali ia tidak merasakan pelukan seorang ibu. Setelah itu Kayla menyalami Abah Hanan dengan sopan.
Terakhir…
Matanya tanpa sengaja bertemu dengan Hanan. Beberapa detik mereka saling diam. Kayla langsung menunduk lagi dengan wajah memerah.
Hanan hanya tersenyum kecil. Sementara Fatimah yang melihat itu langsung menyenggol kakaknya pelan.
“Mas,” bisiknya pelan membuat Hanan langsung melirik adiknya sekilas, “Gimana… calon istri mas cantik kan?”