Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Ngiing.
Pedang itu merespons energi iblis dengan sangat rakus, mengeluarkan dengungan yang mirip dengan jeritan mematikan.
Karat-karat di permukaan bilah pedang itu mulai rontok satu per satu, memperlihatkan baja hitam yang memancarkan cahaya merah darah.
"Sayang sekali, pedangku ini sangat suka memakan jiwa-jiwa arogan seperti milikmu," lanjut Yang Zhen dengan senyum iblis.
Proyeksi Jian Tian menyipitkan matanya, merasakan ada sesuatu yang sangat salah dengan pedang hitam tersebut.
"Aura dari pedang itu... mungkinkah itu pusaka legendaris peninggalan kota ini?" batin Jian Tian mulai merasa terancam.
Master Sekte itu tidak mau mengambil risiko lebih lama lagi dan langsung mengayunkan pedangnya secara vertikal.
"Pemusnahan Langit Membelah Bumi!" teriak Jian Tian melepaskan jurus pamungkasnya untuk membelah Yang Zhen menjadi dua.
Bilah pedang raksasa itu meluncur turun layaknya meteor hitam yang siap menghancurkan seluruh pelataran istana.
Yang Zhen menarik napas panjang dan memegang gagang pedangnya menggunakan kedua tangan.
Ia memusatkan teori ruang hampa dan gaya tarik bumi tepat di mata pedangnya, menciptakan sebuah titik singularitas berwarna merah gelap.
"Singularitas Penghancur," gumam Yang Zhen dengan suara yang sangat tenang namun membawa teror absolut.
Wush.
Pemuda itu mengayunkan Pedang Meteoritnya ke atas, menyambut pedang raksasa milik Jian Tian secara langsung.
Tidak ada suara ledakan keras saat kedua pedang dengan ukuran yang sangat berbeda itu saling berbenturan di udara.
Yang terjadi justru fenomena yang sama sekali tidak masuk akal bagi siapa pun yang melihatnya.
Sring.
Bilah pedang raksasa milik Jian Tian terpotong dengan sangat mulus saat bersentuhan dengan ujung pedang Yang Zhen.
Singularitas merah di ujung pedang itu melahap sisa energi hitam tersebut dan menghancurkannya menjadi ketiadaan.
"A-apa yang terjadi dengan seranganku?!" jerit proyeksi Jian Tian menatap pedangnya yang kini hanya tersisa setengah.
Yang Zhen tidak membuang momentum emas tersebut sedikit pun.
Pemuda itu melompat tinggi ke udara, menentang gaya tarik bumi dengan sangat mudah menggunakan gravitasinya sendiri.
Syuut.
Yang Zhen melesat ke arah dada raksasa proyeksi Jian Tian dengan kecepatan kilat.
"Kau sudah terlalu lama melayang di langit kotaku, Kakek Cacat," bisik Yang Zhen tepat di depan wajah proyeksi tersebut.
Ia mengayunkan Pedang Meteoritnya secara horizontal, menciptakan sayatan merah darah yang membelah ruang dan waktu.
Cras.
Tubuh raksasa proyeksi Jian Tian itu terbelah menjadi dua bagian dari perut hingga ke punggungnya.
Seketika itu juga, ribuan jeritan jiwa yang tersegel di dalam pedang Yang Zhen keluar dan melahap sisa-sisa energi proyeksi tersebut.
"T-tidak mungkin! Proyeksi Tahap Langitku dihancurkan oleh pedang seukuran jarum?!" raung Jian Tian dengan suara yang mulai memudar.
"Aku akan mengingat ini, Yang Zhen! Pasukan utamaku akan meratakan kotamu besok malam!"
Itu adalah kutukan terakhir yang diucapkan oleh sang Master Sekte sebelum seluruh proyeksinya hancur menjadi serpihan cahaya hitam.
Prang.
Cahaya hitam itu lenyap ditiup angin, mengembalikan warna langit pagi Kota Awan Merah menjadi cerah kembali.
Yang Zhen mendarat di tanah dengan sangat elegan, menyarungkan kembali Pedang Meteoritnya ke dalam cincin dimensi.
Tap.
Pemuda itu merapikan kerah jubah putihnya seolah ia baru saja selesai memotong rumput di halaman.
Di tengah pelataran, Jenderal Zhao menatap pemandangan itu dengan mulut ternganga lebar.
Akal sehat pria kekar itu benar-benar telah hancur melihat proyeksi dewa pujaannya ditebas dengan begitu mudahnya.
"M-master Sekte... kalah?" gumam Jenderal Zhao dengan air mata keputusasaan mengalir di pipinya.
Yang Zhen berjalan santai menghampiri jenderal yang sedang berlutut mematung tersebut.
"Tuanmu hanyalah seekor kucing tua yang kebetulan memiliki tubuh besar," ucap Yang Zhen berhenti di samping pria itu.
Pemuda itu mengangkat kaki kanannya dan menendang wajah sang jenderal dengan cukup keras.
Bugh.
Jenderal Zhao terpelanting ke samping dan memuntahkan dua buah giginya ke lantai.
"Sekarang, merangkaklah kembali ke ibu kotamu, Jenderal Anjing," perintah Yang Zhen dengan tatapan paling merendahkan.
"Katakan pada tuanmu itu, aku sangat menantikan kedatangan pasukan utamanya besok malam."
Jenderal Zhao tidak berani mengucapkan satu kata pun untuk membantah.
Pria kekar yang dulunya sangat arogan itu kini benar-benar merangkak menggunakan kedua tangannya menjauhi istana, menyeret lututnya yang telah hancur.
Su Lin berjalan mendekati Yang Zhen dan melihat kepergian sang jenderal dengan senyum tipis.
"Kau sengaja melepaskannya agar rasa takut ini menyebar ke seluruh pasukan mereka, bukan?" tebak Su Lin dengan akurat.
Yang Zhen menganggukkan kepalanya sambil menatap punggung menyedihkan musuhnya.
"Sebuah pasukan yang datang dengan ketakutan di hati mereka sudah kalah sebelum pertempuran dimulai," jawab Yang Zhen dengan rasional.
Kemenangan telak hari itu telah mengukuhkan nama Yang Zhen sebagai penguasa mutlak yang tidak bisa lagi diremehkan oleh ibu kota.
Namun, badai yang sesungguhnya baru akan tiba saat Master Sekte yang sesungguhnya datang membawa kemurkaannya.