Dewo ceo berumur dua puluh sembilan tahun belum menikah sikapnya yang dingin di jodohkan dengan Ema wanita bar bar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa sangat cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melebihi Besarnya Kepala Gajah
Tanpa terasa Ane telah sampai di samping ranjangnya dirinya lalu memegang tasnya yang berserakan di atas ranjang namun sedetik kemudian dirinya tersadar sehingga dirinya langsung memegang tasnya yang menumpuk di lantai dengan perasaan cemas seperti ayam yang akan bertelur
"Aku melemparkan semua tas kan ke atas ranjang empuk miliknya aku kenapa malah nyangkut di atas pohon maksudnya nyangkut di atas lantai beruntung tasnya aku semuanya ngga menangis gara gara terdampar di lantai sebenarnya tangannya aku juga tadi sudah pas kan melemparkannya ke ranjang empuk miliknya aku apa mungkin tikus yang membawa tasnya aku ke lantai ? atau semut yang mungkin membawa tasnya aku ke lantai ? tapi semut dan tikus kan bentuknya lebih kecil dari tas aku lalu siapa yang melemparkan tas aku ke lantai masa tasnya aku bisa jalan sendiri memangnya tas aku ada kakinya yang bisa buat jalan beruntung lantainya sudah aku pel semalem sehingga debunya pasti menghilang dan ngga akan menempel kepada tasnya aku" gumam Ane sambil memunguti tasnya yang berserakan di lantai menuju ke ranjang empuk miliknya
Ema melangkah menuju ke lantai atas sambil menaiki anak tangga bukan anak tikus masih tetap menghentak hentakkan kakinya di sertai bibirnya yang di mengerucut sampai ribuan centi
"Mama kenapa ngancam gue lagian kenapa bukan ngajak papa yang bucin akut ke mama kenapa malah ngajaknya gue apa gue telpon papa saja supaya mengantar mama ke supermarket tapi kalau gue menelpon papa nanti kalau mama selesai dandan dan mengajak gue terus gue belum siap gimana pokoknya gue harus tetap jadi orang kaya semua fasilitas gue dan perusahaan yang gue kelola harus menjadi milik gue ngga boleh di cabut oleh papa tapi kenapa mama ngajaknya gue padahal gue bisa memilih pakaian yang cantik soalnya sudah di dukung sama mukanya aku cantik" batin Ema masih menghentak hentakkan kakinya menaiki anak tangga sambil mengerucutkan bibirnya
Aya telah melangkah mendahului Ema tadi sehingga dirinya sekarang ada di depan pintu tanpa komando Aya membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya tak lupa menutup pintu supaya ngga ada semut yang masuk ke kamarnya setelah itu Aya tertawa keras melihat tingkah Ema tapi dengan cepat Aya menutup mulutnya dengan kedua tangannya supaya tawanya tidak terdengar dengan jelas oleh orang termasuk oleh Ema
"Haha haha rencana aku sama suami aku mengancam Ema sepertinya berhasil karena Ema ketakutan saat aku mengancam semua fasilitas Ema dan perusahaan miliknya Ema akan di cabut istilah gaulnya di sita oleh suami aku membuat Ema langsung mau di ajak aku ke supermarket lagian aku mengajak Ema ke supermarket buat memilihkan dress atau gaun yang cantik dan menawan soalnya aku yakin kalau Ema yang di suruh membeli gaun atau dress dia pasti beli pakaian yang ngga feminim aku heran Ema titisannya siapa soalnya aku dari dahulu sampai sekarang itu feminim banget apa Ema kelakuannya mirip Ane yang cerewet bin bar bar tapi aku ngga terima dong soalnya Ema itu lahir dari rahim aku bukan dari rahim Ane apa aku protes sama Ane saja tapi kalau aku bilang kalau Ema anaknya aku kelakuannya mirip dia pasti Ane jadi besar kepala melebihi besarnya kepala gajah dan besarnya kepala semut kalau semut kepalanya kecil mungkin kepala gajah" monolog Aya sambil melangkah menuju ke tempat almari pakaian miliknya
Ema telah sampai di depan pintu kamarnya lalu Ema menendang pintu kamarnya tapi malah cuma membuat Ema kesakitan kakinya doang tapi pintu tetap tidak terbuka ingin sekali Ema mendobrak pintu tapi Ema belum tahu caranya bisanya Ema mencongkel pintu dan pernah Ema mencongkel pintu pakai silet tapi pintunya tetap ngga terbuka membuat Ema tidak pernah mempraktekkan cara itu lagi dengan cepat Ema membuka pintu menggunakan tangannya soalnya kalau pakai kaki malah kakinya dirinya yang agak kesakitan lalu Ema berjalan ke dalam kamarnya sesudah dirinya menutup pintu kamar
"Aku heran sama mama aku kenapa jadi tukang ngancam sih apa aku ke supermarket ngga dandan dan cuma ganti baju doang tapi kalau aku ngga dandan mukanya aku kecantikannya belum terlalu terpancar lebih baik aku ke supermarket tetap dandan tapi ngga ganti pakaian tapi kalau ngga ganti pakaian masa aku tetap pakai rok padahal lebih nyaman pakai celana lebih baik aku ganti celana atasannya ngga usah biar pakai ini saja cuma aku copot blazer doang" gumam Ema sambil melangkah menuju ke almari pakaian miliknya
Setelah beberapa jam maksudnya beberapa menit Aya berkelana Aya sekarang sudah ada di depan almari pakaian setelah itu tanpa basa basi Aya melemparkan tas yang ada di tangannya ke ranjang empuk miliknya yang ada di sebelahnya setelah itu Aya langsung membopong almari lebih tepatnya Aya membuka pintu almari pakaian lalu Aya mencari pakaian yang ada di pakai oleh tikus maksudnya oleh dirinya setelah kedua matanya menangkap pakaian yang akan di kenakan Aya langsung menangkap pakaian itu ke dalam genggaman tangannya setelah mendapatkan Aya menyampirkan pakaian tersebut ke bahunya lalu Aya mencari celana yang akan di gunakan ke supermarket setelah melihat ada yang sesuai dengan keinginannya tanpa komando Aya langsung mengambil celana tersebut setelah itu Aya menutup pintu almari pakaian sambil menenteng celana dan pakaian yang bertengger di bahunya setelah itu Aya melangkah menuju ke samping ranjangnya
"Aku sudah memilih pakaian yang akan di pakai sekalian aku memilih celana yang enak di pakai soalnya aku mau menyetir saja jangan Ema yang menyetir soalnya aku takutnya aku menyuruh Ema ke supermarket malah Ema menyetir mobilnya ke cafe atau restoran buat makan dia kan hobi makan atau yang lebih parahnya lagi malah Ema menyetir mobil ke genteng memangnya bisa mobil nyangkut di genteng ? atau Ema malah menyentir mobil dan menyangkut di pohon ?" gumam Aya sambil tetap berjalan ke samping ranjang empuk miliknya
Ema sudah sampai di depan almari pakaian miliknya lalu Ema langsung membanting tasnya ke lantai mungkin kalau tasnya bisa menangis pasti akan menangis bombay dan menangis darah gara gara sikap bar bar Ema harusnya kalau membanting itu ke ranjang ngga bakalan sakit karena ranjangnya empuk setelah itu Ema membuka kasar almari pakaian yang ada di depannya setelah itu Ema mencari celana pendek walaupun harganya mahal soalnya Ema memang kadang suka pakai celana pendek setelah matanya menatap ke segala arah almari pakaiannya Ema langsung mengambil celana pendek yang tergantung di almari pakaian lalu Ema langsung menutup almari pakaian miliknya setelah itu Ema meloncatkan celana tersebut ke ranjang empuk miliknya lalu Ema mencopot blazer yang menempel di tubuhnya dan melemparkan blazer tersebut ke lantai mungkin kalau lantai bisa teriak pasti akan teriak dengan sangat kencang bahkan teriaknya di telinga Ema dengan suara yang keras melebihi kerasnya toa supaya Ema langsung tertawa maksudnya langsung pingsan di atas kasur
"Nah kalau gue cuma ganti celana doang pasti cepat selesai lalu sisa waktunya gue gunakan buat memainkan handphone kalau make up gue cuma beri bedak tipis saja atau gue beri tepung terigu yang sangat banyak supaya muka gue tambah cantik dan tambah bersinar karena putihnya tepung terigu tanpa gue harus terlalu lama mengoles bedak" gumam Ema sambil berjalan ke arah samping ranjang empuk miliknya bukan miliknya semut
Setelah Aya sampai di samping ranjang empuk miliknya dirinya melemparkan celana dan pakaian yang ada di bahunya ke atas ranjang empuk miliknya bukan melemparkan ke kolong ranjang soalnya takut nanti pakaian dan celana malah menimpa semut yang sedang berjalan setelah itu tanpa basa basi Aya langsung mencopot pakaian yang menempel di tubuhnya setelah itu Aya melemparkan pakaian tersebut ke tempat pakaian kotor lalu Aya membuka celana yang di pakai setelah celana di copot Aya langsung meloncatkan celana tersebut ke tempat pakaian kotor setelah itu Aya mengambil pakaian yang terdampar di ranjang lalu Aya langsung memakaikan pakaian tersebut ke tubuhnya setelah itu Aya mengambil celana yang terhempaskan di ranjang miliknya setelah itu Aya memakai celana tersebut lalu Aya melangkah menuju ke meja riasnya untuk menghiasi wajahnya dengan lampu maksudnya menghiasi wajahnya Aya dengan semua make up yang menempel di wajahnya
"Aku sudah selesai memakai pakaian dan celana yang aku inginkan sekarang aku sebaiknya dandan sekarang setelah aku dandan aku langsung ke kamarnya Ema soalnya aku takut dia belum ganti pakaian atau malah dia wajahnya masih kayak jambu monyet karena belum make up aku heran padahal aku dari dulu sebelum menikah sampai sekarang aku suka banget dandan dan pakai bedak yang tebal tapi kenapa Ema jarang pakai make up malah pernah dulu mukanya Ema jadi tambah kayak badut dan ondel ondel gara gara kebanyakan menaburkan tepung terigu ke mukanya Ema heran aku di ajari sama siapa kelakuan Ema apa waktu aku hamil ada yang mengajari Ema untuk berbuat bar bar kayak gitu saat Ema masih di kandungan aku" batin Aya sambil tetap berjalan ke meja riasnya dengan langkah cepat
Ema yang telah berjalan dengan cepat malah tadi Ema bukan berjalan doang tapi berlari supaya Ema cepat sampai dan memakai celana yang sudah di pilih supaya Ema bisa bebas memainkan jari lentiknya di handphone miliknya entah kenapa dirinya sudah tidak sabar untuk mengecek handphone apakah di handphone miliknya Ema ada gajah bertelur ? atau di handphone miliknya Ema ada lebaran monyet ? atau di handphone miliknya Ema ada sapi bertelur ? hanya Ema yang tahu kenapa dirinya tidak sabaran untuk menggunakan handphone miliknya lalu Ema langsung mengambil celana yang ada di ranjang setelah itu Ema menebarkan bahasa lainnya memakai celana itu ke kedua kakinya setelah itu Ema tersenyum lebar
"Gue tinggal memainkan handphone miliknya gue kalau mama gue mengajak ke supermarket gue sudah siap apa sebaiknya gue poles mukanya gue pakai bedak tipis tapi kalau bedaknya terlalu tipis pasti mama ye kira malah gue belum pakai bedak apa gue harus pakai tepung terigu lagi supaya ketara kalau gue pakai bedak karena saking putihnya mukanya gue oleh tepung terigu yang gue pakai" batin Ema sambil tersenyum menyeringai tetap melangkah ke sofa tempatnya duduk sambil membawa handphone miliknya soalnya sebelum Ema melemparkan rok ke lantai Ema melindungi handphone miliknya supaya tidak ikut terdampar mencium wanginya lantai